Rapunzel & Obsesi Dua Pria

Rapunzel & Obsesi Dua Pria
14| Tidak Menyerah!


__ADS_3

Raka menyibukkan dirinya di depan berkas-berkas yang bertumpuk tinggi di hadapannya. Tidak sama sekali bergerak sedari sampai di kantor hingga pukul dua siang. Raka bahkan tidak menyentuh sedikit pun makanan, tubuhnya bagai di paksa untuk bekerja lebih lama tanpa istirahat.


Bukan apa-apa, Raka hanya ingin menghilangkan segala pikiran buruk tentang Pelangi di kepalanya. Pekerjaan mungkin bisa membuatnya sedikit lupa dengan fakta bahwa Pelangi pergi ke luar rumah tanpa ada dirinya di dekat gadis itu.


Tok tok tok


“Masuk,” seru Raka segera tanpa mengalihkan fokus pada berkas-berkas di hadapannya.


Ardan—sekretarisnya sekaligus orang kepercayaan Raka masuk membawa beberapa berkas di tangannya. Pria berumur dua puluh enam tahun ini duduk berjalan mendekati bos besarnya.


“Selamat siang, Pak. Ada hal yang perlu saya katakan.”


“Katakan,” jawab Raka datar seperti biasa.


“Bu Jingga sedang berada di Indonesia hari ini, Pak. Dia mengatakan ingin bertemu dengan Pak Raka namun tidak di Jakarta. Melainkan di Bali lebih tepatnya di vila bapak sendiri,” jelas Ardan tanpa tertinggal.


Fokus Raka yang tadinya hanya pada tumpukan berkas kini beralih mendongak Ardan sepenuhnya. Rautnya terlihat tidak suka, tajam dan mengintimidasi.


“Katakan bahwa aku sibuk,” sentak Raka.


Bukannya menjawab, Ardan malah memberikan satu berkas ke hadapan Raka.


Raka membukanya, membaca secepat kilat dan memahami maksudnya. Detik berikutnya, berkas itu di lempar dengan kasar. “Biarkan dia bertingkah semaunya. Aku tidak akan peduli!” kemudian Raka bangkit dan mengambil jasnya, lalu melangkah pergi membawa kekesalan yang memuncak.


Raka butuh Pelangi saat ini, hanya gadis itu yang bisa meredam api kemarahannya.


...🌈🌈🌈


...


Pukul dua siang mereka akhirnya sampai di puncak. Udara yang sejuk di tambah sinar matahari yang panas terasa sangat pas untuk cuaca di puncak. Anak-anak yang lain mulai membuat tenda agar bisa cepat-cepat rehat.


“Di sini aja kita bikinnya. Gue takut kalau di ujung,” saran Chika sambil menginjak tempat yang akan mereka bangun tenda.


“Terserah aja,” balas Pelangi dan Dira bersama.


Chika membuka satu tas yang berisi tenda. “Pelangi, lo mau kan cari batu sama kayu buat ikat tenda kita biar nggak terbang?” tanya Chika meminta persetujuan.


“Oke gue cari,” jawab Pelangi santai. Kentara sekali bahwa menyuruh Pelangi untuk melakukan apa-apa terlihat tidak enak, namun ia tidak masalah, Pelangi bahkan merasa senang. Pelangi mulai mencari kayu dan batu untuk di jadikan palu. Ia membutuhkan batu yang cukup besar.


“Nih, pakai aja punya kita,” seseorang menyodorkan apa yang Pelangi cari saat ini.


“Nggak perlu, gue bisa cari sendiri,” jawab Pelangi kemudian kembali mencari tanpa menerima pemberian cowok tadi.


Di sini ada vila ternyata, namun cukup jauh. Pelangi hanya melihat atapnya saja, terlihat kokoh dan sepi. Pelangi menggidik bahu dan kembali mencari secepat-cepatnya.


“Biar gue bantu cari.”

__ADS_1


“Nggak perlu,” sahut Pelangi langsung tanpa menatap si pemilik suara. Ia sudah sangat kenal suara itu, suara yang membuat jantungnya berdebar dan merasa waswas sekaligus.


“Kenapa?” tanya Aidan tidak peduli bahwa secara tidak langsung Pelangi menyuruhnya pergi.


“Gue udah janji sama abang-abang gue buat nggak dekat-dekat sama cowok,” sentak Pelangi penuh penekanan. Ia menoleh menatap Aidan dengan sorot datar. “Bisa lo biarkan gue sendirian? Gue nggak butuh di bantu sama lo. Gue harap lo sadar diri,” kelakar Pelangi tajam.


Sorry, Dan, gue harap lo tau kecemasan gue. Bisik Pelangi dalam hati.


“Oh, oke. Sorry buat lo ganggu.” Selepas perkataan tersebut, Aidan bangkit dan melangkah pergi.


Pelangi menatap nanar kepergian cowok itu, rasa bersalah mulai menggerogoti hati Pelangi. “Aidan baik, tapi lebih baik kalau kedekatan itu nggak di mulai sejak kini,” bisik Pelangi dengan helaan nafas berat.


Setelah menemukan yang Pelangi cari, ia langsung kembali ke tenda. Ia menari nafas panjang, bersikap biasa dan mengatakan pada dirinya bahwa ia tidak salah. Seharusnya memang Aidan tahu bagaimana kedua kakaknya, Pelangi hanya tidak ingin cowok itu terluka.


Karena tidak ada yang tahu apa yang Raka lakukan selama Pelangi pergi. Raka tidak mungkin membiarkan Palangi pergi tanpa ada pengawasan.


...🌈🌈🌈


...


Malam harinya mereka membuat api unggun di tengah-tengah. Semua orang berkumpul dan duduk mengelilingi api unggun, ada juga yang memetik gitar dan mereka bernyanyi bersama-sama.


Dari tempat duduk Pelangi saat ini, Aidan terus memandangnya tanpa sama sekali hendak menghampiri Pelangi seperti biasa. Cowok itu membakar jagung namun pandangannya tak henti mengarah ke Pelangi. Membuat sang empu merasa tidak nyaman sendiri.


“Ekhem.” Dehem Fael menyinggung Aidan.


“Apaan sih kalian?” tanya Aidan pura-pura tidak tahu. Ia berjalan ke arah belakang untuk memberikan beberapa jagung tersebut ke teman-temannya yang lain.


“Kalau suka di nyatain dong perasaannya. Gantle dong, jangan ciut cuman karena abang dia,” seloroh Fael sok bijak.


“Jangan bikin baper doang. Kasian anak orang lo baperin dengan tatapan cinta lo itu,” sambung Jordan.


“Ngaca sana kalian. Jangan sok paling benar,” sindir Aidan sinis. “Kalau demen di tembak dong, jangan nebar janji doang.” Aidan tersenyum miring penuh kemenangan.


Skakmat. Wajah Fael dan Jordan pias bukan main. Sindiran Aidan benar-benar mengenai sasaran dengan tepat. Tidak panjang, namun perkataan cowok itu langsung mengenai dua orang sekaligus. Tidak heran bahwa dia di nobatkan siswa pandai dan ketua organisasi besar di sekolah.


“Nggak usah ngoceh lagi kalian. Bantu gue sini,” suruh Aidan pada kedua temannya.


“Iye-iye. Galak bener sih, Mas,” cibir Fael sebal.


Jordan menepuk pundak Fael beberapa kali. “Dia manis cuman sama cewek yang dia suka, El,” celetuk Jordan sambil tertawa.


“Senang sih dia punya cewek. Biar nggak di katai homo lagi. Lebih bagusnya lagi Aidan nggak di tempelin sama medusa. Enek gue,” omel Fael bergidik mengingat cewek yang ia ceritakan saat ini.


“Medusa siapa, hm?”


“Anying!” Fael langsung mengumpat saat mendapat bisikan di telinganya, rautnya terkejut bukan main. “Ampun mak jago!” seru Fael dengan tangan tertangkup di depan wajah. Setelah itu Fael berlari menjauh dan mendekati guru-guru.

__ADS_1


“Sini lo ketek kedelai! Jangan sembunyi di balik baju Pak Gibran!” teriak Tiara keras dengan wajah kesal dan jengah.


“Gue heran sama mereka. Di katakan cocok iya, tapi si Fael doyannya sama si Dira,” kata Jordan pun merasa bingung.


“Nggak usah mikirin orang lain. Pikiran aja diri lo sendiri bagaimana cara bayar perasaan baper Chika.” Aidan menepuk pundak Jordan cukup keras sebelum melangkah mendekati Pelangi.


Perempuan itu terasa jauh untuk Aidan dekati. Langkahnya bahkan sudah sangat lebar, namun entah kenapa Pelangi terasa jauh darinya. Perempuan itu tertawa bersama teman-temannya, hingga membuat Aidan termangu cukup lama.


Tidak ada yang bisa menolak pesona Pelangi—bahkan untuk Aidan sendiri. Perempuan itu nyaris sempurna, kekurangannya hanya pada kecemasan gadis itu saja.


“Dia minta gue menjauh, maka gue akan makin mendekat. Masa bodoh siapa penjaganya,” tegas Aidan penuh tekad.


“Hai,” sapa Aidan setelah sampai di hadapan perempuan itu. “Buat lo. Gue nggak tau rasa kesukaan lo, yang gue tau cuma rasa perasaan gue doang kalau gue suka sama lo,” tutur Aidan dengan senyum penuh arti.


“Aduh, Dir, temenin gue kencing, yuk? Kebelet banget ini.” Suara Chika memecah hening di antara Aidan dan Pelangi. Langsung saja Chika menarik tangan Dira agar bisa memberi ruang pada Aidan untuk Pelangi.


Dapat Aidan lihat raut gadis itu panik dan cemas, namun tidak ada suara yang keluar dari mulut Pelangi. Dia sangat menggemaskan di mata Aidan saat ini.


“Nggak di terima jagungnya, Ngi? Gue udah capek-capek bikin, panas banget hawa baranya tadi.”


Pelangi terlihat ragu. “Kalau gue ambil, berarti kita pacaran?” tanyanya polos.


Aidan tercengang, mulutnya sedikit terbuka dan matanya menatap gemas dan terpesona pada gadis itu. Bagaimana bisa ada perempuan semanis Pelangi di dunia ini?


“Iya, itu pun kalau lo mau,” jawab Aidan akhirnya.


“Gue mau jagungnya, tapi gue nggak mau kalau kita pacaran.”


“Aduh, sakit hati gue, Ngi.” Aidan pura-pura memegangi dadanya, memperagakan gaya sakit hati dan terluka. Nyatanya cukup sakit di tolak secara langsung seperti ini padahal Aidan belum mengatakan perasaannya lebih gamblang.


“Thanks jagungnya, thanks juga sama pengakuannya. Tapi sorry, gue nggak suka sama lo,” kata Pelangi sadis setelah mengambil jagung dari tangan Aidan.


Aidan tersenyum, gadis ini benar-benar berbeda. “It's okay. Mungkin nggak malam ini, tapi siapa tahu lo suka gue besok hari. Iyakan, Bow?”


Pelangi membuang muka, membuat Aidan terkekeh gemas melihatnya. Aidan duduk di samping Pelangi tanpa izin terlebih dahulu, ia memandang bintang yang bertabur indah di langit.


“Papa sama Mama gue di bintang yang mana ya kira-kira? Banyak banget di atas soalnya, gue sampai bingung nyarinya,” gumam Aidan dengan suara yang sedikit mengecil. Senyumnya terpatri tipis, tidak ada raut sedih di wajahnya.


Berbanding terbalik dengan raut wajah Pelangi saat ini. Gadis itu terpaku menatap wajah Aidan, tertegun dengan perkataan cowok itu.


Aidan terkekeh melihat raut Pelangi yang terkejut dan iba padanya. “Santai aja liatnya, nggak usah liatin gue kayak baru liat cogan yang putus cinta deh, Ngi,” kekeh Aidan ringan.


Namun Pelangi tidak sama sekali tertawa dan mengalihkan pandangannya dari Aidan. Membuat sang empu menghela nafas dan berani mengusap beberapa detik surai panjang perempuan ini.


“Jangan lupa bersyukur ya, Ngi, sama kehidupan lo? Lo punya kedua orang tua yang sayang sama lo, juga dua abang yang selalu perhatian sama lo. Di dunia ini ada banyak yang ingin berada di posisi lo saat ini,” tutur Aidan dengan senyum tipis dan tulus.


“Eh jangan nangis. Ya ampun, pengen cepat-cepat gue halalin,” celetuk Aidan saat melihat mata Pelangi berkaca-kaca, bibir perempuan itu pun melengkung ke bawah. Tidak bisa Aidan pungkiri bahwa gadis ini sudah sangat menjungkir balikkan perasaannya.

__ADS_1


...🍁🍁🍁...


__ADS_2