
Matahari mulai tenggelam, Pelangi duduk termangu di kursi bawah pohon kelapa. Ada banyak pasangan yang duduk berduaan di pasir, mereka menikmati senja sambil bercerita.
“Gue kapan kayak gitu?” gumam Pelangi sedih. Andai saja ada sihir di dunia nyata, Pelangi pasti akan meminta Aidan ada di sisinya sekarang ini. Juga, meminta Raka untuk bersikap biasa padanya.
Pelangi berharap Raka sadar dengan perbuatannya barusan, dan sadar dengan sikap memberontak Pelangi tadi. Semoga saja. Sebab Raka tidak menghampirinya padahal sudah sekitar satu jam Pelangi di sini.
“Kalau gue nekat pacaran gimana, ya? Aidan nggak jadi kayak Gara, kan?” monolog Pelangi bimbang. Ia kadang pernah berpikir untuk melakukan itu, namun sepertinya Raka tidak akan tinggal diam dengan status tersebut.
“Bang Raka tuh abang gue bukan, sih? Atau jangan-jangan gue anak pungut lagi!” pekik Pelangi heboh. “Yakali gue anak pungut. Orang darah gue sama kayak Bunda dan Bang Raka kok. Jangan ngadi-ngadi deh, Bow,” omel pelangi pada dirinya sendiri.
“Aku perhatiin dari tadi, kamu ngomong sendiri, ya?”
“Yarobun!” pekik Pelangi refleks menoleh ke samping. Ia mengelus dada melihat wanita dewasa seumuran Raka berdiri di sampingnya dengan bibir tersenyum. Pelangi meringis malu.
“Bow ngeganggu ya, Kak?” tanya Pelangi merasa tidak enak.
“Enggak kok, cuman heran aja,” kekeh perempuan itu.
“Sini, Kak, duduk.” Pelangi menepuk sisi kursi yang kosong. Namun setelahnya ia mengerjap heran, Pekangi tidak pernah seakrab ini dengan seseorang.
“Kamu sendirian di sini?”
Pelangi menoleh, ia tidak menjawab melainkan mengulurkan tangannya ke arah perempuan dewasa tersebut. “Bow nggak tau nama kakak, boleh kenalan?” tanya Pelangi. Berkenalan duluan bukan opsi yang buruk.
“Boleh,” perempuan itu menerima uluran tangan Pelangi. “Jingga,” ujarnya sambil tersenyum.
Mata Pelangi berbinar, nama yang indah. “Pelangi. Boleh panggil Pelangi atau Bow,” imbuh Pelangi ramah.
“Panggil Pelangi aja, ya? Kalau Bow kayaknya nama panggilan sayang seseorang buat kamu.”
Pelangi mengerjap, ia tersenyum kaku dan semakin merasa heran. “Aku ke sini sama abang, mereka di hotel sekarang,” jawab Pelangi pada pertanyaan Jingga tadi.
“Kamu di bolehkan keluar sendiri?”
Pelangi kian merasa bingung, perempuan ini seakan begitu tahu tentang kehidupannya. “Kak Jingga kenal abang-abang aku?” tanya Pelangi takjub.
Jingga terkekeh, dia menggeleng pelan. “Kamu cantik, aku rasa mereka nggak akan biarin kamu pergi sendirian,” tutur Jingga.
'Iya juga sih' timpal Pelangi dalam hati. Namun, ia berusaha acuh, toh Pelangi tidak akan peduli bila Raka membuntutinya dan menatapnya dari jauh. Pelangi sedang ngambek sekarang.
__ADS_1
“Kamu suka senja?” tanya Jingga membuat Pelangi menoleh.
“Suka, mereka indah,” gumam Pelangi sambil tersenyum memandang mentari yang siap kembali ke peraduannya.
“Walau mereka pergi?” tanya Jingga lagi.
“Iya, walau mereka pergi,” tukas Pelangi tanpa mengalihkan pandang dari laut. “Di dunia nggak ada yang abadi, kan? Semuanya akan pergi pada waktunya, selayaknya senja saja. Dia indah, namun jika waktunya untuk pergi, siapa yang bisa menahan?” jawab Pelangi logis. Yah, tidak rugi ia sering membaca. “Hehehe, keren kan bahasa aku, Kak?” kekeh Pelangi malu-malu.
Jingga tiba-tiba mengusap rambut Pelangi, lembut dan tatapannya hangat. “Terima kasih kata-katanya. Aku suka sekali, rasanya seperti ada yang peduli,” ucap Jingga tulus.
Pelangi tersenyum. “Sama-sama, Kak. Aku senang bisa sedekat ini sama orang lain, ramah pada orang yang baru aku kenal.” Tatapan Pelangi jatuh kembali ke laut, rasanya hangat bisa bergaul dengan orang lain seperti ini.
“Kita bisa berteman?”
Pelangi mendongak ke arah Jingga, matanya mengerjap lucu. “Kak Jingga seumuran sama abang aku yang pertama. Berteman dengan aku bakal beda alur cerita,” kekeh Pelangi ringan.
“Berteman dengan kamu bisa membuat aku berteman juga kan dengan abangmu?” ucap Jingga sok misterius.
Kini, senyum Pelangi langsung menghilang. Apa mendekati Pelangi hanya cara agar bisa menggapai abangnya? “Maksud Kak Jingga?” Pelangi berusaha berpikir positif.
Jingga akhirnya tertawa, gemas dia cubit pipi Pelangi. “Serius banget sih kamu,” katanya gemas. “Aku bercanda. Berteman dengan kamu jauh lebih baik daripada berteman dengan sosok seumuran denganku,” jelas Jingga.
“Aku bukan sembarang orang,” kata Jingga penuh percaya diri. Dia mengeluarkan kartu nama dari jaket kulit yang dia kenakan. “Hubungi aku jika kamu butuh sesuatu,” ucapnya sebelum bangkit. Jingga tersenyum kemudian berjalan pergi.
Pelangi memandang kepergian wanita itu, kemudian beralih ke kartu nama yang berada di tangannya. “CEO J Fashion,” eja Pelangi dengan raut terkejut
...🌈🌈🌈
...
“Pelangi,” panggil Raka saat gadis itu baru saja memasuki lobi hotel. Raut Raka tidak sekeras tadi, tatapannya sayu ke arah Pelangi.
Sang empu pemilik nama tidak sama sekali menggubris bahkan tidak menoleh sedikitpun. Ia tetap berjalan ke arah lift seakan Raka tidak terlihat di matanya.
“Dek, kamu dengar abang kan?” panggil Raka lagi sambil membuntuti Pelangi. Dia juga tidak menahan Pelangi seperti biasa yang dia lakukan.
Lagi-lagi Pelangi tidak menggubris. Acuh saja dengan kehadiran Raka yang tiba-tiba memunculkan wajah di hadapannya dengan raut lirih. Anehnya, Pelangi merasa tidak tega.
“Rainbow.”
__ADS_1
Dan kali ini, langkah Pelangi terhenti. Ia memutar badan, menarik kembali tangannya saat hendak memencet lift. “Apa? Bow capek, mau tidur,” jawab Pelangi tanpa menatap mata Raka.
“Kamu ke mana tadi?” tanya Raka sambil mendekat. Dia menggapai tangan Pelangi, menggenggamnya seerat mungkin.
“Ke pantai, mau bunuh diri,” kata Pelangi asal. Namun setelah itu, ia menghela nafas lelah dan melepas kurungan tangan Raka pada pergelangan tangannya. “Bow kesal karena abang bawa Bow ke Bali hanya karena pengen liburan. Bow bahkan di paksa libur sedangkan di sekolah masih ada banyak tugas. Kenapa Bow selalu di paksa menuruti keinginan abang?” ucap Pelangi mengeluarkan unek-unek yang mengganggunya.
Raka terdiam, rautnya kentara bersalah. “Abang hanya ingin kamu selalu ada di dekat abang, sayang.”
“Kenapa?” tanya Pelangi mewakilkan segalanya. Kenapa harus memaksa, kenapa harus bersikap dominan, kenapa harus bersikap berbeda dari Saka.
“Karena abang menyayangimu.”
Pelangi berdecih berani, ia memandang Raka dalam-dalam. “Kalau Bang Raka sayang sama Bow, abang nggak akan paksa Bow kayak gini. Bahkan nggak bilang dulu sama Bow kalau mau pergi,” selorohnya kian jengkel. Pelangi mengibaskan tangannya. “Udahlah, Bow capek.” Ia memasuki lift segera, Raka menyusulnya namun Pelangi enggan menganggap kehadirannya.
“Abang minta maaf, lusa kita kembali.”
Pelangi enggan percaya, bisa saja itu akal-akalan Raka agar amarahnya hilang. Lagipula, kenapa harus lusa? Kenapa tidak besok saja? Menyebalkan sekali abangnya satu ini.
“Bow tidur dengan Bang Saka malam ini. Bang Raka bisa tidur di kamar mana aja, asal jangan tidur sama Bow,” final Pelangi tak terbantah. Ia ingin menceritakan banyak hal pada Saka, namun jangan sampai Raka mengetahuinya.
“Nggak bisa, Bow. Abang juga harus tidur sama kamu,” tolak Raka kembali keras kepala.
“Bow nggak mau!” sentak Pelangi tanpa penolakan. Pintu lift terbuka, Pelangi langsung berjalan keluar. “Bow tidur sendiri, Bang Raka bisa tidur sama Bang Saka!” tegas Pelangi galak.
“Pelangi ...,” panggil Raka namun pintu langsung tertutup. Tak lama setelahnya, pintu kembali terbuka menampilkan kepala Pelangi saja.
“Kalau abang masuk, Bow bakal pulang sendiri ke rumah!” tegas Pelangi kemudian menutup pintu cukup keras.
Pelangi menarik nafas sebanyak-banyaknya, tubuhnya bersandar pada pintu enggan sama sekali beranjak dari sana. Pelangi berusaha bersikap seperti biasa, perkelahian seperti ini sangat sering terjadi.
“Dia CEO ternyata,” kata Pelangi sambil mengeluarkan kartu nama yang ia simpan di saku celananya. “Merk Fashion yang gue sukai.” Pelangi tidak percaya bahwa ia berbicara langsung dengan pemilik perusahaan Brand terkenal tersebut. Entah keberuntungan dari mana Pelangi dihampiri langsung.
“Kak Jingga cantik banget, nggak heran semua produknya bagus-bagus,” puji Pelangi takjub.
Di dunia bisnis, mungkin nama Jingga tidak asing lagi terdengar, namun berbeda jika di luar, nama Jingga tidak sama sekali terkenal di kalangan masyarakat. Maka dari itu Pelangi bersikap biasa saat wanita itu menghampirinya, sebab Pelangi memang tidak mengenalnya.
J Fashion adalah perusahaan yang besar, juga punya beberapa cabang di luar negeri. Produk yang di hasilkan bukan main-main, berbagai artis sering menggunakan hasil ciptaan J Fashion—termaksud keluarga Pelangi sendiri. Butik bunda bahkan bekerja sama dengan J Fashion, namun hingga sekarang bunda tidak tahu siapa pemilik asli perusahaan tersebut.
“Kayaknya, gue memang butuh sesuatu,” gumam Pelangi sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
__ADS_1
...🍁🍁🍁...