Rapunzel & Obsesi Dua Pria

Rapunzel & Obsesi Dua Pria
29. Pekerjaan Aidan


__ADS_3

Malam semakin larut, namun jalanan bukannya sepi malah semakin ramai. Ini bukan malam minggu, bukan juga malam acara meriah. Ini hanya malam biasa, yang di isi banyak anak muda di tiap sudut jalan dan bangunan yang di kenal dengan nama kelab.


Dentuman musik dan lampu kelap-kelip adalah ciri khas club malam, serta teriakan bersahutan orang-orang di dalamnya. Di tiap penjuru club, tidak satu pun mata menatap wanita yang menggunakan baju tertutup minimal kedua pundaknya atau lutut. Yang ada hanya perempuan berpakaian terbuka dan rambut tergerai bebas.


Bagi Aidan, pemandangan itu sudah menjadi kesehariannya. Di goda oleh wanita mana-mana sudah menjadi langganan Aidan, namun tidak seorang pun mampu menarik perhatiannya.


“Lo liat deh, tuh cewek badannya montok banget, anjir,” seru cowok berbadan tekap serta rambut yang gondrong.


“Lo deketin terus ajak kenalan,” sahut Aidan ringan. Menjadi bartender di sini selama satu tahun cukup membuat Aidan tahu sifat-sifat orang yang datang. Tentu saja modelan cowoknya seperti Heru ini.


“Eh, dia ke sini dong!” pekik Heru mulai berlingsatan di tempat duduknya.


Perempuan yang di maksud Heru duduk begitu saja di kursi, tangannya memangku dagu sembari menatap terpesona pada Aidan. “Dari kemarim gue perhatiin lo terus, udah kerja lama, ya?” tanya perempuan itu pada Aidan.


“Satu tahun,” jawab Aidan singkat. Seperti inilah ia saat menanggapi kehadiran perempuan di kelab.


“Lama juga ternyata. Gue baru tau club ini kemarin,” ujar perempuan itu lagi. “Eh kenalin, gue Raya.” Perempuan itu mengulurkan tangan pada Aidan.


“Heru,” jawab Heru setelah menggapai tangan mulus itu, senyumnya merekah lebar.


Aidan tertawa, syukurnya ada Heru yang menanggapi cewek itu.


Perempuan bernama Raya itu langsung menarik tangannya, pandangannya masih mengarah pada Aidan. “Besok lo ada?” tanyanya.


“Ini hari terakhir gue kerja,” jawab Aidan setelah memasang jaket denim pada tubuhnya. Ia menepuk pundak Heru dan beberapa teman bartendernya di sini. “Gue cabut, thanks buat semuanya,” pamitnya sebelum berjalan pergi.


“Ah, telinga gue mau pecah rasanya,” dumel Aidan setelah kakinya menginjak area luar. Tangannya beberapa kali menepuk telinganya sebab denging itu masih terdengar.


Aidan berjalan menuju motornya, namun saat baru saja ingin memasang helm, tatapannya tidak sengaja mengarah ke bagian kursi depan kelab ini. Kedua alis Aidan menyatu, keinginan untuk segera pulang sirna begitu saja. Ia mendekati sosok yang tengah duduk gelisah di kursi tersebut.


“Pelangi?” panggil Aidan dengan raut kaget bukan main. Ia lantas berlutut di hadapan gadis itu, wajahnya kian syok saat menyadari itu benar-benar Pelangi dan gadis itu tengah menangis. “Pelangi, lo ... lo kok bisa di sini?” tanya Aidan terbata.


“Aidan?” mata gadis itu membulat, bersamaan dengan tubuh yang jatuh dalam dekapan Aidan. Pelangi semakin menangis, tubuhnya bergetar.


“Lo ngapain di sini? Sama siapa?” tanya Aidan lagi. “Kita pulang sekarang,” tegas Aidan sambil melepas paksa pelukan Pelangi. Ia menarik gadis ini untuk pergi ke motornya, namun yang ada Pelangi malah menahan tangannya.

__ADS_1


“G-gue ke sini sama Bara. Ponsel gue di dia,” cicit Pelangi ketakutan.


“Bara?” beo Aidan dengan alis mengerut. “Apa urusan lo sama dia?” tuntutnya serius.


“Dia maksa gue ikut sama dia, kalau enggak Bang Saka bakal di hajar,” jawab Pelangi dengan suara kecil penuh ketakutan.


“Dan lo nurut?!” pekik Aidan dengan suara keras, sungguh tidak habis pikir dengan jalan pikir gadis ini. “Lo di bohongin, Pelangi! Kenapa lo malah mentingin orang lain daripada diri lo sendiri? Saka bisa jaga diri dia sendiri, sedangkan lo?” Aidan murka, ia sangat marah mendapati fakta bahwa Pelangi pergi dengan Bara sebab ancaman cowok itu. Parahnya, ini sudah pukul sebelas.


Pelangi semakin menangis, tubuhnya kembali bergetar dan kepalanya menunduk. “Gue nggak tau kalau jadi gini. Dia bilang cuman mau ajak makan, habis itu di antar pulang,” ucap Pelangi.


Aidan membuka mulutnya, siap mengeluarkan semua makian untuk Pelangi. Namun Aidan tidak bisa, ini bukan salah gadis itu. Demi melampiaskan kemarahan, Aidan terik rambutnya dengan menghela nafas beberapa kali.


“Di mana dia sekarang?! Di mana Bara?!” tanya Aidan penuh bentakan.


Pelangi menggeleng. “Enggak tau, dia bawa handphone gue.”


“Brengsek!” sungut Aidan akhirnya. Langsung saja tangannya mengeluarkan ponsel, menghubungi nomor ponsel Pelangi. Tak lama setelahnya, panggilan di angkat. “Di mana lo sialan?!” sungut Aidan penuh amarah.


“Di sini,” jawab Bara ringan.


Aidan menatap sekelilingnya, saat matanya menangkap sosok itu, langsung saja ia tarik Pelangi untuk berdiri di belakang tubuhnya. “Maksud lo apa bawa Pelangi keluar? Mau lo apa brengsek?!”


Darah Aidan mendidih rasanya, kedua tangannya terkepal siap melayangkan pukulan bertubi-tubi di wajah cowok itu. “Jangan pernah ganggu cewek gue! Atau lo bakal ngerasain akibatnya!” kecam Aidan tidak main-main.


“Wow,” decak Bara dengan raut terpikau. “Cewek lo ternyata. Gue kira jomblo. Tapi gimana ya, tuh cewek polos banget. Gue nggak tertarik sama cewek yang nggak berpengalaman.”


Aidan merampas ponsel Pelangi di tangan Bara, setelah melayangkan tatapan penuh ancaman dan peringatan, ia langsung menarik tangan Pelangi menuju motornya berada.


“Berhenti menangis!” bentak Aidan marah. Melihat Pelangi terkesiap, membuat amarah cowok itu menghilang begitu saja. “Pelangi, lo kenapa bisa sebodoh itu?” tanyanya tak habis pikir. Suaranya mulai melembut, diiringi genggaman pada tangan bergetar gadis itu.


Pelangi tidak menjawab, melainkan terisak semakin ketakutan.


Aidan menarik nafas dan menghelanya begitu panjang, ia usap gusar wajahnya dan langsung menarik Pelangi untuk didekapnya. “Lo aman sekarang, dia nggak akan pernah ganggu lo lagi. Tapi dengar, siapa pun ngajak lo pergi, jangan mudah lo turuti. Mungkin hari ini lo bisa baik-baik aja, tapi lain kali?”


“Maaf,” cicit Pelangi tertahan.

__ADS_1


“Maaf ke diri lo sendiri karena mau di ajak gitu aja,” seloroh Aidan benar-benar tak habis pikir. “Udah, jangan nangis. Kita pulang sekarang,” tutur Aidan halus sembari melonggarkan pelukannya.


“Udah ya nangisnya? Mata lo bengkak banget,” pinta Aidan dengan tangan yang mengusap kedua pipi Pelangi halus. Ia lepaskan jaketnya, kemudian mengenakannya pada tubuh gadis ini. “Ayo, kita pulang sekarang.”


Pelangi menarik tangan Aidan sehingga menghentikan cowok itu lagi. “Gue nggak pulang ke rumah. Gue nginap di rumah Chika,” ucapnya.


Aidan mengangguk, ia usap kepala Pelangi halus. “Pantas bisa keluar,” sindir Aidan. Ia mengambil helm di salah satu motor di sampingnya, lalu menarik tangan Pelangi agar mendekat.


“Eh, boleh?” kaget Pelangi.


“Entar gue balikin,” jawab Aidan santai. Selepas memakaikan helm di kepala Pelangi, Aidan membantu cewek itu duduk di boncengan motornya. “Terserah mau pegangan di mana, mau peluk juga lebih bagus,” ucap Aidan dengan senyum geli.


“Modus!” cibir Pelangi sambil memukul pelan pundak Aidan. Gadis itu menaruh kedua tangannya di pinggang Aidan, berpegangan pada sisi baju cowok itu.


Motor melesat membelah jalan. Deruan angin menyapu wajah keduanya, laju motor Aidan kian bertambah cepat.


“Gimana cara lo keluar rumah?” tanya Aidan. Sedari tadi itu yang mengganggu pikirannya, mengingat gadis itu punya dua penjaga di rumahnya.


“Gue memang mau nginap di rumah Chika, abang gue bolehin. Tapi tiba-tiba, Bara telepon gue, dia bilang kalau Bang Saka bisa aja masuk rumah sakit kalau gue nggak nurutin apa mau dia,” jelas Pelangi membayar semua keheranan dalam benak Aidan.


“Dan lo percaya dia bilang begitu?”


“Iya, dia juga ngirim foto Bang Saka yang lagi duduk di kafe sama temannya,” jawab Pelangi.


“Pelangi, lo bahkan tau Saka sama temannya. Tapi kenapa lo malah nekat pergi sama dia?” Aidan benar-benar tak habis pikir, entah apa yang ada di pikiran Pelangi saat itu.


Pelangi sedikit menundukkan kepala, pipinya yang basah masih terlihat jelas saat lampu kendaraan menyorotnya. “Gue cuman mau nyelamain Bang Saka doang, gue udah sering di selamatin sama dia. Gue pikir dengan ini, Bang Saka bisa baik-baik aja.”


Aidan menghela nafas lagi, tangannya mengusap satu tangan Pelangi di pinggangnya. “Ini yang terakhir, jangan pernah berpikir kalau itu bakal berakibat baik,” pesan Aidan lagi.


“Iya, gue nggak akan lakuin hal itu lagi,” kata Pelangi berjanji.


Selepas itu, tidak ada lagi obrolan antara mereka. Aidan fokus pada jalanan di hadapannya, juga jantung yang kini mulai berpacu kencang. Tangan Pelangi terasa bergesek kan langsung dengan kulitnya, dan itu sungguh membuat jantung Aidan berdetak di atas normal.


Tangan Pelangi juga semakin erat memegang kedua sisi bajunya, dari spion saja Aidan dapat melihat wajah Pelangi yang tidak setakut tadi. Jika saja Aidan tidak punya otak, maka sudah ia bawa Pelangi ke apartemennya dan mengurung gadis itu di sana. Rasanya benar-benar gila melihat wajah Pelangi yang mulai berbinar memandang jalanan.

__ADS_1


“Dia sangat cantik,” gumam Aidan terpana untuk ke sekian kalinya.


🍁🍁🍁


__ADS_2