Rapunzel & Obsesi Dua Pria

Rapunzel & Obsesi Dua Pria
31| Jingga


__ADS_3

“Abang!” teriak Pelangi sambil melambai saat melihat Raka dan Saka menunggunya di parkiran sekolah. Pelangi berlari menghampiri mereka. “Lama ya nunggunya?” tanya Pelangi sambil tertawa.


“Iya lama, ngapain sih lo lama banget?” omel Saka dengan wajah jengkel.


“Ada pengumuman tadi, buat ulangan minggu depan,” jawab Pelangi. “Abang, kita mau ke mana?” tanya Pelangi pada Raka.


Bukannya menjawab, Raka malah membuka pintu mobil di bagian belakang. “Masuk, ada banyak yang natap kamu,” imbuh Raka kembali pada sifatnya.


“Cih! Cemburu mulu! Heran!” sungut Saka jengah. Cowok berhoodie putih ini lantas melangkahkan kaki hendak memasuki mobil di tempat Pelangi duduk.


“Mau ke mana kamu? Depan,” titah Raka dengan pandangan tajam.


Lagi-lagi Saka berdecih jengkel. Mau tidak mau ia uruti perkataan Raka daripada di tinggal nantinya. “Gue sangsi kalau dia demen ama adek gue,” gumam Saka sembari berdecak.


Kemudian mobil melesat meninggalkan area sekolah. Jalanan tidak begitu padat syukurnya, walau kecepatan berkendara tidak bisa begitu laju.


“Ah iya.” Teringat sesuatu, Pelangi mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap Saka. “Bang Saka, abang kenal Bara?” tanya Pelangi.


“Bara?” ulang Saka dengan alis menyatu. “Kenal, dia teman satu kumpulan gue. Kenapa memangnya? Dia gangguan lo, ya? Wah parah tuh cowok, kudu gue patahin lehernya.”


“Eh?” Pelangi mengerjap, semakin terheran-heran. Ia menggaruk pipi, semakin mendekatkan tubuhnya pada Saka. “Dia teman abang? Kok Bow nggak tau?” sungguh, Pelangi semakin di buat bingung mengenai siapa sebenarnya Bara.


“Sejak kapan gue ngenalin teman gue ke elo?” balik tanya Saka. “Jujur, Bow, lo di gangguin sama dia?” ulang Saka lebih serius.


Pelangi langsung menggeleng, bahkan kedua tangannya ikut terangkat menolak. “Bow cuman nanya, soalnya Bara tuh di kenal berandal banget di sekolah. Sering gangguin teman Bow juga,” alibi Pelangi walau sepenuhnya kebenaran.


“Emang gitu dia, titisan setan.”


Pelangi kembali menjauhkan tubuhnya, ternyata Bara memang mengerjainya semalam. Namun apa motifnya, kenapa malah mengancam ingin menyakiti Saka?


“Ya ampun, bikin pusing aja,” decak Pelangi tanpa sadar.


“Apa yang buat kamu pusing?”


“Eh?” Pelangi terkesiap saat mendengar suara bariton Raka, mata Pelangi mengerjap dan meringis sambil tertawa. “Enggak, abang. Itu, ulangan semester minggu depan bikin pusing. Gimana ya cara Bow dapatin peringkat satu?” kata Pelangi kian pandai mengeles.


“Masuk dua puluh besar aja syukur lo, Bow,” celetuk Saka.

__ADS_1


“Ck!” Pelangi sontak berdecak setelah mendapat ejekan dari Saka. “Bow tau kalau Bow goblok, tapi nggak usah di jelek-jelekin amat,” omelnya sebal.


“Nanti abang bantu,” ujar Raka.


“Yes!” Pelangi bersorak, hanya sekedar mengalihkan perhatian Raka dan Saka saja. Ia tidak ingin kalau kedua abangnya tahu tentang apa yang di lakukan Bara. Cukup seperti ini saja, Pelangi juga tidak akan mengorek lebih dalam mengenai maksud cowok itu.


...🌈🌈🌈


...


Ternyata Raka membawanya ke restoran terenal di Jakarta. Pantas saja Saka repot-repot ingin menjemputnya ke sekolah, ternyata keinginannya hanya untuk makan enak dan gratis. Saka memang manusia paling picik.


Sepertinya Raka sudah memesan meja dan menu makan siang untuk mereka, buktinya saja saat masuk mereka sudah di giring menuju meja. Tak lama setelahnya hidangan mulai berdatangan dan tersaji memenuhi meja.


“Wah,” gumam Pelangi takjub melihat makanan-makanan tersebut. Yang paling penting, ada ayam di sana. Bukan malah sushi atau makanan mewah lainnya, melainkan beberapa potong ayam pedas kesukaannya. “Perut Bow meronta-ronta,” ucapnya sambil menyengir.


Raka tersenyum dan mengusap surai adiknya halus. “Makanlah.”


“Pastilah!” sahut Saka spontan dengan wajah tanpa ragu. “Tenang aja, gue nggak bakal malu-malu kok,” ujarnya penuh percaya diri.


“Dih!” cebir Pelangi geli. “Bang Saka memang nggak pernah malu, kan?”


Mereka pun makan dengan tenang, tidak ada lagi pembicaraan dari ketiga orang tersebut untuk memecah keheningan. Raka terlihat begitu tenang menyantap makanannya. Saka terlihat begitu semrawut sebab semua makanan terlalu sedap baginya. Dan Pelangi masih saja berbinar karena ayam pedas begitu banyak di hadapannya.


Sampai pada akhirnya, Pelangi menjadi gelisah di tempat duduknya. “Abang,” panggil Pelangi dengan wajah memerah.


“Kenapa?” tanya Raka dengan raut cemas.


Pelangi mendekatkan wajahnya, tangannya memegang perut. “Bow mau berak,” bisiknya dengan bibir mencebik. “Nggak tahan banget,” tambahnya sambil menggigit bibir.


“Ber—uhkuk!” Saka tersedak keras dengan mata melotot. “Mau apa?” ulangnya dengan wajah meringis.


“Bow mau buang air besar, bang! Ihh di mana toiletnya?” pekik Pelangi tak tahan.


Raka langsung bangkit. “Ayo abang temani.”


“Enggak mau! Tunjukin aja di mana!”

__ADS_1


“Bow ...”


“Abang! Ini udah di ujung!”


Raka mengusap wajah dengan kasar sebelum menunjuk toilet berada. “Jangan bicara dengan siapa-siapa,” pesannya terlalu posesif.


Tanpa menjawab, Pelangi langsung berlari menuju toilet yang di tunjukkan Raka barusan. “Kebanyakan makan cabe ini!” omelnya dengan wajah pias. “Pasti nggak di bolehin makan pedas lagi habis ini!” decak Pelangi sedikit kesal.


...🌈🌈🌈


...


“Ah, lega,” ucap Pelangi dengan helaan nafas panjang, rautnya mulai terlihat ringan. “Berapa lama ya gue di dalam?” tanya Pelangi sambil tawa geli. Ia mulai mencuci tangannya di wastafel.


Toilet lumayan sepi, hanya ada beberapa wanita yang memperbaiki riasan atau sekedar berkaca. Pelangi ingat pesan Raka, jangan berbicara dengan siapa-siapa dan cepat kembali.


“Eh, Pelangi?”


Sang empu lantas menoleh, matanya mengerjap berusaha mengingat. “Si—Kak Jingga?” pekik Pelangi dengan raut terkejut dan senang. Ia memeluk spontan perempuan itu, tidak menyangka akan bertemu lagi dengan idolanya. “Eh, hehe maaf Kak, aku sembarang peluk,” kekeh Pelangi tak enak.


“Nggak papa, aku malah senang,” kata Jingga. “Aku kira kita nggak akan ketemu lagi.”


“Maaf ya Kak nggak ada hubungi nomor Kak Jingga. Soalnya takut Bang Raka tau, dia nggak suka aku ngobrol sama orang asing,” jujur Pelangi menyesal. Hingga saat ini, Pelangi tidak punya banyak keberanian untuk bertemu dengan Jingga di kantor perempuan itu.


“Santai saja,” balas Jingga ramah dan lembut. “Nanti kalau kamu di izinin, boleh kita jalan-jalan?” ajaknya dengan wajah penuh harap.


Pelangi mengangguk mantap, ia juga tidak ingin menghilangkan senyum perempuan itu sebab tolakannya yang ragu-ragu. “Nanti kalau ada waktu, kita pergi sama-sama,” jawab Pelangi yakin.


Jingga tersenyum tulus, pelan dia usap surai Pelangi begitu lembut. “Kalau ke rumahku mau?” tanyanya dengan suara pelan


“Ya?” mata Pelangi mengerjap, takut salah dengar. “Kenapa, Kak?” ulang Pelangi.


“Ke rumahku, mau?”


Kali ini, mata Pelangi semakin mengerjap penuh keheranan. Rumah, ya? Kenapa rasanya begitu ambigu saat Jingga ingin mengajaknya ke rumah perempuan itu. Rasanya seperti punya makna lain selain rumah saja.


“Boleh, kak, kapan-kapan,” sahut Pelangi akhirnya. Ia tersenyum, ke rumah Jingga bukan masalah besar baginya. Lagipula, apa masalahnya ke rumah perempuan itu? Bukannya malah bagus, kan?

__ADS_1


“Oke, aku tunggu pesan dari kamu,” ucap Jingga dengan senyum penuh arti.


...🍁🍁🍁...


__ADS_2