
Upacara bendera sebentar lagi akan di laksanakan, beberapa petugas sudah siap di lapangan dengan atribut lengkap. Hanya tinggal menunggu bel masuk saja berbunyi maka upacara langsung di mulai.
Namun sayangnya hari ini Pelangi akan di hukum sepertinya. Karena ia bangun kesiangan, mobil yang di kendarai Raka juga terjebak macet panjang. Alhasil gadis itu berkeringat dingin di dalam mobil sebab panik.
“Aduh, bang! Bow turun di sini aja, ya? Kalau gini terus nggak bakal sampe,” rutuk Pelangi semakin panik.
“Di luar bahaya,” jawab Raka tidak mengizinkan.
“Tapi, bang ... Bow nggak mau di hukum.” Pelangi memasang wajah sememelas mungkin, berharap Raka membolehkannya turun dan berlari menuju sekolah yang berjarak setengah dari perjalanan mereka saat ini.
“Tap—“
“Boleh ya, bang? Bow takut banget. Hari ini juga ada ulangan fisika,” mohon Pelangi dengan tangan yang memegang lengan Raka.
Raka menghela nafas berat, lalu dia anggukan kepala. “Jika sudah sampai jangan lupa kabarin abang. Hati-hati, jangan sampai kamu terluka,” pesan Raka teramat takut.
“Iya, bang. Bow janji,” seru Pelangi setelah memberikan kecupan di kedua pipi abangnya. Setelah itu ransel berwarna biru ia gendong dan langsung keluar dari mobil. Pelangi melambai singkat kemudian berlari secepat-cepatnya.
“Lima menit lagi! Huaaa gue nggak mau di hukum,” rengek Pelangi masih setia memacu kaki. Menaiki ojek pun bukan pilihan yang bagus, walau bisa menyelip di sela kemacetan, tetap saja itu semakin membuat Pelangi kalang-kabut.
“Seharusnya tadi bareng Bang Saka aja naik motor. Kalau gini yang ribet gue juga,” rutuk Pelangi masih berlangsung tanpa henti. Nafasnya sudah tidak beraturan lagi, angka di jam tangannya bahkan sudah lewat dari waktu yang seharusnya.
Kaki Pelangi mulai melambat saat melihat pagar megah SMA Harapan tertutup rapat. Namun Pelangi juga sedikit merasa lega karena ada beberapa murid yang terlambat dan terus memohon pada Pak Samsul untuk di bukakan pagar.
“Ah! Sial banget hari ini!” sungut Pelangi bahkan beberapa kali berdecak.
...🌈🌈🌈
...
Berbaris di kumpulan anak terlambat adalah hal yang paling memalukan, dan kini Pelangi pun merasakannya. Saat mereka di giring masuk, Bu Yuna selaku guru BK memarahi mereka habis-habisan. Namun belum sampai di situ, mereka berbaris di tempat biasa anak terlambat. Yang paling parahnya, saat mereka datang semua perhatian mengarah ke kumpulan itu, seakan kedatangan tersebut sebagai seorang tahanan.
Matahari menyorot mereka tepat di depan mata rasanya, saat mendongak hormat pada Sang Saka Merah Putih, matahari tertawa dan semakin memanaskan hawanya.
“Duh, udah nggak bawa topi lagi,” cicit Pelangi penuh prihatin. Namun untung saja ia berbaris di paling belakang, di hadapannya pun cowok bertubuh tinggi. Sehingga, Pelangi sedikit bersyukur.
Masa bodoh dengan topi yang tertinggal, biar bagaimana pun Pelangi akan tetap di hukum walau membawa topi sekalipun. Entah apa hukuman yang akan di berikan untuknya nanti.
“Eh?”
Pelangi langsung menoleh, matanya sedikit membulat saat melihat Aidan terkaget-kaget melihat kehadirannya. Pelangi meneguk ludah, sesaat komandan memberi perintah menurunkan tangan, ia langsung menundukkan kepala sedalam-dalamnya.
“Panas, ya?”
Tidak ada sama sekali sahutan dari sang empu, Pelangi bagai tuli dan tidak mengindahkan kehadiran Aidan di sampingnya. Entah bagaimana bisa takdir mempertemukan mereka kembali dalam situasi yang tidak pernah Pelangi inginkan sebelumnya.
“Masih takut sama abang lo?”
Pelangi langsung melirik tajam cowok itu, menyuruhnya untuk diam dan jangan berbicara macam-macam. Karena kini mereka tengah di tatap beberapa anak OSIS dan murid di hadapan Pelangi.
Dengan santainya Aidan merespons dengan alis terangkat dan senyum tipis penuh kegelian. Namun selepas itu, Aidan tidak lagi berbicara hingga membuat Pelangi sedikit bernafas lega. Walau cowok itu tetap saja berdiri di samping Pelangi tanpa dosa.
Upacara selesai, semua murid langsung berhamburan menjauhi lapangan. Namun sayangnya itu tidak berlaku baris murid yang terlambat. Setelah mendapat omelan panjang Bu Yuna satu jam lalu, kini mereka harus kembali merasakan omelan guru BK itu lagi.
“Kalian ini, ya? Pergi sekolah saja masih terlambat. Bagaimana kalau kalian bekerja nanti? Yang ada kalian malah di geplak langsung sama atasan!” omel Bu Yuna menggebu-gebu.
__ADS_1
“Guru aja sering terlambat, nggak salah dong kalau anak muridnya terlambat juga,” celetuk seseorang di bagian belakang.
“Nyahut kamu, Bara?!” sentak Bu Yuna marah. Beliau mendekati siswa bernama Bara tersebut sembari berkacak pinggang dengan galak. “Rambut udah kayak perempuan, nggak pakai topi, nggak pakai dasi, ikat pinggang juga nggak nyantol! Kamu niat nggak sekolah?!” omel Bu Yuna frustrasi.
“Enggak. Saya sekolah biar dapat ijazah doang,” sahut Bara tanpa pikir panjang. Rautnya bahkan begitu santai, tidak sama sekali terpengaruh dengan wajah merah Bu Yuna.
“Bagus sekali isi otakmu itu, Bara!”
Pelangi yang melihat itu semua meringis ngeri, diomeli ramai-ramai saja sudah membuat bulu kuduk Pelangi merinding. Apa lagi kalau ia berada di posisi Bara saat ini, yang ada Pelangi akan pura-pura sakit saja.
“Dan ... Pelangi?” Bu Yuna terlihat terkejut selepas memarahi Bara habis-habisan. Beliau memandang Pelangi dengan pandangan heran, tatapannya pun mulai melembut.
“Maaf, Bu, saya terlambat,” cicit Pelangi sambil menunduk.
“Kenapa bisa terlambat? Kamu terjebak macet?” tanya Bu Yuna halus.
“Cih! Gue ngasih jawaban macet disebut alasan. Tapi kalau sama cewek ini, malah ditanyain!” sentak Bara dengan kekehan geli dan sinis.
“Sama kamu beda cerita!”
Pelangi menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, kepalanya kian menunduk semakin dalam. Semua orang segan padanya, namun Pelangi mulai merasa terganggu jika guru pun bersikap seperti itu padanya. Ini terasa tidak adil.
“Tadi di antar sama siapa? Sama kakak kamu yang pertama, ya?” tanya Bu Yuna keluar dari topik.
Sesaat Pelangi ingin menjawab, Aidan sudah menyelonong berdiri di hadapan guru wanita tersebut. Aidan tersenyum ramah dan sopan.
“Kayaknya langsung di hukum aja deh, Bu. Soalnya takut nggak keburu ngikutin jam pelajaran nanti,” kata Aidan menyudahi.
“Ah, benar. Ya sudah, kamu tangani sekarang,” jawab Bu Yuna. Beliau menatap Pelangi lagi, dan tersenyum hangat. “Lain kali jangan terlambat, kamu bisa saja di omel sama guru lain,” pesan Bu Yuna.
“Ayo, lo harus menyelesaikan hukuman baru bisa masuk kelas,” ujar Aidan dengan senyum penuh arti. Setelah itu dia berjalan dahulu, seakan mengkode Pelangi untuk mengikuti langkah cowok itu.
“Sial banget ketemu dia, di hukum sama dia lagi,” decak Pelangi dengan suara kecil. Gagal sudah pertahanannya untuk mengontrol perasaan dan menekankan pada dirinya bahwa ia tidak menyukai Aidan juga.
“Lo sapu ini taman sampai bersih, sampahnya masukin ke sini,” instruksi Aidan sambil memberikan sapu dan sekop ke arah Pelangi, tak lupa juga kertas keresek berukuran besar.
“Iya,” jawab Pelangi tidak menolak. Ia mulai menyapu di area bawah pohon di mana dedaunan berjatuhan, untung saja tidak ada sampah plastik.
“Ini nih di sini,” tunjuk Aidan di dekat kakinya.
“Gue tau,” sahut Pelangi mulai mendekati tempat di mana Aidan menunjuknya tadi.
“Ini lagi, Ngi, belum bersih.”
Pelangi menyapu di area sana.
“Eh ini juga.”
Brak! Pelangi menjatuhkan sapu dan sekop itu dengan kasar hingga bersuara cukup keras. “Lo ngerjain gue, kan? Mau lo apa sih?” sungut Pelangi kelewat kesal.
“Jadi pacar gue, itu mau gue.” Sorot mata Aidan menatap lamat-lamat netra tajam itu, dia menikmati kedua mata jernih berlensa kecokelatan itu.
“Nggak mau! Gue nggak suka sama lo!” tolak Pelangi keras dan kasar. “Berhenti ganggu hidup gue!” pintanya penuh keseriusan.
“Kenapa sih lo selalu bersikap bahwa lo terganggu sama kehadiran gue? Munafik kalau lo bilang lo nggak suka sama gue!” sentak Aidan keras penuh tekanan.
__ADS_1
“Gue beneran nggak suka sama lo! Jadi gue mohon berhenti!”
Aidan terdiam, dia memandang semakin dalam sepasang mata yang memerah itu. “Lo bohong,” ucap Aidan.
“Terserah apa kata lo!” Pelangi memutar tubuh, namun Aidan menahan tangannya hingga langkah yang di hela tertahan begitu saja. “Lepas,” peringat Pelangi dengan suara rendah.
“Pelangi, dengar. Mulut lo memang bilang kalau lo nggak suka sama gue, tapi mata lo nggak bisa bohong. Gue benar-benar suka sama lo, apa pun risikonya bakal gue tanggung,” kelakar Aidan dengan suara tenang namun serius, cengkeramanya teramat lembut namun tidak sama sekali terlepas.
Pelangi tidak bisa menjawab, tenggorokannya terasa kering hanya karena rentetan kata dari cowok yang tengah menggenggam tangannya saat ini. Pelangi memutar tubuh, menatap penuh Aidan dengan netra tak terbaca.
“Kenapa lo maksa banget buat pacaran sama gue?” tanya Pelangi heran. “Kenapa lo ngotot banget buat tahu perasaan gue?”
“Karena gue mau lo terikat sama gue. Gue nggak mau lo di sukai sama orang lain selain gue!” jawab Aidan tanpa pikir panjang, suaranya yang tegas menggambarkan secara jelas bahwa cowok itu serius.
“Kita nggak kenal lama, gue bahkan nggak akrab sama lo. Kenapa kita harus jadian? Kenapa gue harus jadi pacar lo?”
“Karena hati lo berdebar untuk gue.”
Kali ini, Pelangi tidak bisa lagi berkata. Tidak ada kata yang bisa Pelangi katakan untuk mengelak perkataan Aidan, karena itu sebuah kebenaran. Sekuat tenaga Pelangi mengenyahkan perasaan itu, semakin nyata juga rasa itu timbul di hati jika mereka bertemu seperti ini.
“Benar, kan? Gue nggak mungkin main-main, gue mau lo jadi pelangi dalam hidup gue. Karena cuman lo yang buat jantung gue berdebar, cuman lo yang bisa buat hati gue nyaman,” tutur Aidan semakin terdengar serius.
Pelangi menggigit bibir bagian dalamnya, nafasnya mulai tidak beraturan sebab jantung yang berpacu kian kencang. “Gue nggak bisa,” cicitnya kembali menolak.
“Tapi lo suka sama gue?”
“Ya, gue suka sama lo.” Sejauh apa pun Pelangi mengelak bahwa ia tidak menyukai Aidan, maka sejauh itu pula Aidan menahannya. Pelangi enggan urusan ini semakin panjang, ada banyak hal yang ia khawatirkan.
Aidan tersenyum, tangannya menggenggam langsung kedua tangan mungil Pelangi. Netranya memandang wajah jelita gadis yang menunduk itu, tidak juga Aidan berani mengangkat wajah Pelangi agar menatapnya.
“Lo nggak mau pacaran, kan? Kita bisa berteman. Sampai lo ngerasa begitu nyaman, dan aman, lo bisa bilang sama gue.”
Pelangi langsung mendongak, netranya bertabrakan langsung dengan iris pekat cowok itu. Detik berlalu, dan Pelangi terpaku dengan kehangatan kedua bola mata Aidan.
“Lo cuman punya dua pilihan. Pacaran sama gue atau jadi teman dekat gue. Jika lo nolak dua-duanya, gue bakal semakin deketin lo dan ngebuat lo sejatuh-jatuhnya sama gue,” tukas Aidan sebagai pernyataan, bukan bualan untuk menggoda Pelangi semata.
Ini pilihan yang buruk bagi Pelangi, namun tidak memilih sama sekali jauh lebih buruk. Maka, Pelangi harus memilih dengan betul saat ini, memikirkan dengan teliti dan luas. Pelangi menarik nafas, ini saatnya menentukan pilihan.
“Teman, kita bisa berteman,” tegas Pelangi tanpa ragu.
“Oke, setelah berteman, maka besar kemungkinan lo jatuh cinta sama gue. Bukan sekadar suka saja, tapi lo bakal nyaman banget sama gue,” jawab Aidan dengan senyum penuh kemenangan. Tanpa sungkan tangannya menepuk pucuk kepala Pelangi singkat, netranya menyorot dalam mata gadis itu.
“Licik!” sungut Pelangi tak habis pikir. Namun tidak bisa ia elakkan senyuman geli di bibirnya. “Lo benar-benar ular, Dan,” kata Pelangi sambil geleng-geleng kepala.
Aidan tersenyum miring, ia langsung mendekatkan wajahnya dalam sekali sentakan, berhenti tepat di leher Pelangi. “Yah, ular berbisa,” bisiknya.
Pelangi langsung menjauhkan tubuhnya, bulunya merinding mendapat perlakuan seperti ini dari Aidan. Wajah Pelangi terasa panas, dan sepertinya Aidan melihat semburan merah di kedua pipinya.
“Gue pergi,” kata Pelangi cepat-cepat memutar tumit, namun lagi-lagi ada yang menahannya. Kali ini Aidan menahan di bagian belakang kerah seragamnya.
“Hukuman lo belum selesai, Bow.” Aidan menahan tawanya.
“Ah, iya.” Pelangi meringis kemudian memungut kembali sapu dan sekop yang ia hempaskan tadi. Bersama Aidan, Pelangi membersihkan taman belakang. Pelangi tidak berbohong bahwa kini ia merasa senang.
...🍁🍁🍁
__ADS_1
...