
Sepekan sudah Pelangi tidak pernah melihat Aidan di sekolah, ah, atau lebih tepatnya Pelangi yang menghindari cowok itu. Setiap jam istirahat, Pelangi selalu berada di kelas, saat bel pulang berbunyi, ia langsung berlari keluar sekolah menemui kakaknya yang menjemput. Seperti ini lebih bagus, Pelangi enggan perasaannya semakin nyata.
Hari ini adalah hari Minggu, Pelangi memutuskan bangun pagi dan membantu bunda memasak di dapur. Hanya alasan agar pikirannya tidak selalu terarah pada Aidan, juga berusaha mengelakkan tiap kata dan ancaman dari Saka dan Raka.
“Bunda, Ayah di mana?” tanya Pelangi sambil menghidangkan sarapan di atas meja.
“Di depan, lagi main sama Milo,” jawab bunda.
“Bow ke depan ya, Bun,” kata Pelangi di balas anggukkan oleh bunda. Buru-buru ia melangkah ke depan rumah, Ayah pasti sedang memandikan Milo di luar.
Ah, ternyata ayah tidak sendiri. Ada Saka yang sedang membersihkan motornya. “Ayah, Bang Saka,” sapa Pelangi pada mereka hingga menoleh.
“Eh, udah bangun ternyata,” kata Saka.
“Yee, gue bangun dari pagi tadi kali,” sergah Pelangi sambil cemberut. Melihat Saka tertawa, membuat Pelangi menendang angin tepat di belakang tubuh abangnya.
“Sini, duduk dekat Ayah,” kata ayah sambil menepuk sisi kursi yang kosong.
Pelangi berjalan mendekat , duduk di samping Ayah yang sedang mengeringkan tubuh Milo. “Ayah kelihatan lebih tampan,” puji Pelangi tiba-tiba. Ia memandangi wajah ayah yang sudah menua, namun tubuh pria itu selalu bugar. Wajah ayah juga masih terlihat begitu tampan.
“Cih! Mau minta apa lo, Bow? Sampai rayu-rayu Ayah segala,” cibir Saka sambil menyambungkan selang ke keran.
“Apaan sih, bang!” decak Pelangi kesal. “Beneran, Yah, Ayah tuh makin ganteng,” ucapnya sungguh-sungguh.
“Iya, Ayah tau,” sahut pria tersebut sembari mengusap surai putrinya. “Sebentar lagi semesteran, ya?” tanya ayah.
“Iya, bulan depan. Bow harus belajar giat biar masuk peringkat, biar Ayah sama Bunda bangga.”
“Apapun hasilnya, kami akan bangga, Nak.”
Pelangi tersenyum, ia memeluk ayah erat dan mengecup pipi pria itu penuh sayang. “Ayah memang selalu ngerti. Terima kasih sudah jadi Ayah yang sempurna buat, Bow. Bow sayang banget sama Ayah.”
“Ayah lebih menyayangimu.”
Saka yang melihat itu tersenyum, melihat senyum Pelangi saja sudah membuatnya bahagia. “Bow, sini bantuin abang bersihin motor,” panggil Saka.
Pelangi menyipitkan mata ke arah Saka, sebelum tersenyum dan mengangkat jempolnya. “Okngey!” sahut Pelangi dan bangkit menghampiri Saka.
“Hati-hati, jangan sampai tangan lo luka,” imbuh Saka sambil memberikan ember berisi sabun.
“Abang mau jemput cewekkah makanya bersihin motor?” tanya Pelangi. Tangannya mulai menyapu permukaan motor dengan sabun.
“Nggaklah! Ngapain susah-susah bersihin motor cuman buat jemput cewek,” sahut Saka dengan wajah ogah.
__ADS_1
“Kalau Bow di jemput cowok pakai motor, motornya harus bersih mengilat. Kalau nggak mengilat, Bow nggak mau jalan,” celoteh Pelangi sambil tersenyum geli. “Cewek mana mau jalan kalu motornya kolot! Dih, bikin malu aja,” decih Pelangi.
Saka menoyor kepala Pelangi hingga busa sabun nyangkut di sekitaran jidatnya. “Siapa yang berani jemput kamu? Tuh cowok harus adu kekuatan dulu sama gue!”
Pelangi memutar bola mata. “Selalu seperti ini,” sungutnya jengah. Jika Pelangi sanggup mengatakan, ia ingin berkata pada Aidan bahwa perkataan cowok itu benar. Seperti inilah jadinya jika ada yang dekat dengannya. “Ayah, Bow boleh pacaran?” tanya Pelangi penuh harap ke arah ayahnya.
“Boleh, asal lulus sekolah dulu,” jawab ayah kalem.
“Sama aja!” omel Pelangi kesal. Tidak Raka, tidak Saka, tidak ayah, semuanya melarang Pelangi berpacaran. “Kenapa sih Bow nggak boleh pacaran? Bow tahu batasan kok,” imbuh Pelangi dengan bibir cemberut.
“Karena lo masih kecil,” jawab Saka.
“Bang Saka udah besar, Bang Raka juga, tapi kenapa nggak pacaran?”
Kali ini Saka tidak menyahut, dia hiraukan perkatakan Pelangi dan kembali sibuk pada motornya.
“Ayah, Bow pacaran ya?”
Plak!
“ABANG!!” pekik Pelangi saat Saka menggeplak jidatnya. “Sakit jidat, Bow,” akunya jujur. Tangan besar Saka mengenai jidatnya cukup keras, bahkan bunyinya membuat telinga Pelangi ikut ngilu.
“Saka! Apa-apaan kamu?” tegur ayah dengan wajah marah.
“Masa nyamuk, sih? Bow nggak ngerasa apa-apa.” Pelangi jadi sangsi bahwa Saka sengaja melakukannya.
“Serius ada nyamuk tadi, gede banget,” ucap Saka masih mempertahankan ada nyamuk di jidat Pelangi. “Maaf, ya? Entar gue beliin es krim deh,” tawarnya berharap bibir manyun adiknya menghilang. Saka mengecup pipi Pelangi, matanya memancar permohonan. “Maafin, ya?” pintanya lagi.
“Serius ya beliin?”
“Dua rius,” balas Saka cepat. “Maafin dulu tapinya,” pintanya sungguh-sungguh.
“Iya Bow maafin.”
Saka langsung memeluk Pelangi, ia bernafas lega akhirnya. Wajah Ayah sudah sangat merah, jika sampai Pelangi tidak memaafkannya, ada beberapa fasilitas yang di sita. Ini baru ayahnya, jangan sampai Raka juga mengetahui jika ia sudah membuat jidat Pelangi berbekas seperti ini.
“Ih, abang! Baju Bow ikut basah ini,” omel Pelangi sambil mendorong tubuh Saka menjauh. Bibirnya kembali cemberut.
“Hehehe, nggak sengaja juga, Bow.” Saka mengangkat dua jarinya berbentuk pics.
“Ayah masuk dulu, kamu jangan lama-lama main airnya,” pesan ayah sambil mengusap surai putrinya, satu tangannya menggendong Milo yang masih agak basah untuk dikeringkan menggunakan hairdryer. Tatapannya jatuh pada Saka, beliau menghela nafas lelah. “Berhenti melukai adikmu, Ka,” kata ayah mengingatkan.
Saka menunduk. “Maaf, Yah,” ucapnya menyesal.
__ADS_1
Pelangi terkekeh dan menjulurkan lidahnya mengejek ke arah Saka.
Selepas kepergian ayah, Pelangi semakin asyik memainkan busa sabun, sesekali tangannya membuat gelembung. Pelangi tertawa penuh antusias, jarang sekali ia bermain seperti ini karena setiap minggu Pelangi selalu tidur hingga siang.
“Aduh, Bow, jangan siram gue pakai sabun kali. Perih ini,” dumel Saka sambil mengusap matanya dan menyiramnya dengan air.
“Hehe, maaf abang.”
Saka berdecih, ia menyiram Pelangi dengan air hingga baju gadis itu basah. Pelangi berteriak keras, membalas perbuatan Saka dengan menyiramkan seluruh sabun di ember ke tubuh kakaknya.
“HAHAHAHAHA!!” tawa Pelangi pecah melihat keadaan Saka saat ini. Abangnya itu menatapnya kesal, dia meludah saat merasakan sabun memasuki mulutnya.
“Rasain ini!” Saka berlari mendekati Pelangi, memeluknya dan menaruh wajah adiknya di dadanya yang banyak sabun. Saka tertawa puas namun setelahnya ia meringis dan berteriak saat Pelangi menggigit dadanya.
“Hueh! Sabun rasa apa in?i!” omel Pelangi dengan wajah masam.
“Sedang apa kalian?” Raka tidak-tiba datang dengan wajah kaget melihat kedua adiknya.
“Bang Raka!” sapa Pelangi ceria. Ia melambai ke arah kakaknya dan menyuruhnya bergabung bersama. “Abang habis ke mana? Kok Bow nggak liat abang dari pagi,” tanya Pelangi setelah Raka menghampirinya dan memberi kecupan di pucuk kepalanya.
“Gym,” sahut Raka singkat seperti biasa.
Mata Pelangi langsung berbinar, tanpa ragu ia sibak baju Raka di bagian perut. Matanya kian berbinar melihat perut abangnya. “Keren bang,” kekeh Pelangi masih setia memandangi abs Raka.
“Ck! Kamu ini,” gemas Raka melihat tingkah adiknya.
“Gue juga punya, Bow!” teriak Saka membuat perhatian Pelangi teralih. Baju Saka yang basah di tekannya pada bagian perut, sehingga otot-otot bagian sana terlihat sangat jelas. “Keren juga nggak?” tanyanya penuh bangga.
“Keren juga, bang!!” Pelangi memberikan dua jempolnya ke arah Saka, bangga memiliki abang yang suka berolahraga. Pelangi juga menyibak bajunya, yang malah langsung di turunkan oleh Raka. “Bow cuman ada buncitnya doang, bang!” kata Pelangi miris sambil mengelus perutnya di balik baju.
Saka langsung terbawa keras, gemas bukan main dengan tingkah adiknya itu. “Gimana bisa gue pacaran sedangkan di rumah sudah ada moodboster,” gumam Saka sambil tersenyum teduh.
“Ayo masuk, tubuhnya sudah sangat basah. Bunda juga menyuruh untuk makan,” suruh Raka.
“Okay!” jawab Pelangi keras dan langsung berlari masuk dengan tubuh basah.
“Jangan berlari, Bow,” peringat Raka dengan wajah ngilu. Takut sekali jika adiknya itu terpeleset.
“Siyap bang!” balas Pelangi namun tidak sama sekali menghentikan larinya.
“Anak itu,” gumam Raka kewalahan.
...🍁🍁🍁...
__ADS_1