Rasa Masa Lalu

Rasa Masa Lalu
bab 10 Kembali ke tanah air


__ADS_3

Bab 10 Kembali ke tanah air


Aisyah berteriak memanggil sahabat dan dokternya, memberitahukan kondisi matanya.


"Ai, apa yang terjadi? Bukankah sebelum operasi, mata kamu tidak kenapa-kenapa?" tanya Nia penuh rasa cemas, kemudian pandangan mata Nia beralih pada Dokter yang menangani operasi itu.


"Dok, apa yang terjadi dengan mata sodaraku?" imbuhnya dengan suara lirih.


Menanggapi hal ini sang Dokter hanya senyum simpul, mana ada dokter dibohongi pasiennya. Jelas dimatanya ada reaksi akan cahaya masuk, hal ini menandakan retinanya bekerja dan mata itu baik baik saja.


"Ha ha ha ...." tawa Aish lirih menyisakan senyum yang menawan, "Terima kasih Dok." lanjutnya. Aisyah tertawa melihat mimik sahabatnya yang telah berhasil dia kerjai.


"Aaiis!!" dengus Nia kesel menghadapi sikap sodaranya itu, "keterlaluan kamu yaa," cicitnya kesel, bibirnya manyun.


Aisyah tersenyum puas, sesaat setelah matanya terbuka sempurna, ada sosok yang ikut melihat proses itu, karena hal itu Ais pura-pura buta. Dan ternyata dia berhasil, melihat siapa kelaki itu.


Bibir Ais tersenyum pandangannya telah menangkap sosok yang di rindukannya, begitu sempurna sosok itu selalu menjaganya dari jauh. Ingin berlari dan memeluknya bersandar di dada bidang yang kokoh, menumpahkan segala rasa.


Setelah semua dirasa selesai dan operasi sukses dokter dan suster berpamitan.


" Permisi Nona, kami sudah selesai. Silahkan di urus administrasinya, sore ini Anda sudah boleh pulang," kata dokter menjelaskan.


"Sekali lagi terimakasih Dok," ucap Aisyah dan Nia bersamaan.


Setelah dokter dan suster keluar ruangan, Nia membereskan tempat sekitar kemudian bersiap-siap mau keluar ruangan untuk mengurus sesuatu.


"Aku keluar sebentar untuk mengurus semuanya, juga tiket kita pulang. Kau disini saja Ai!" kata Nia


Menanggapi kata sodaranya Aisyah mengangguk setuju, kemudian dia memberesi barangnya dan menunggu sodaranya selesai mengurus segala keperluan juga kepulangan mereka.


Terdengar langkah kaki mendekat dari arah belakangnya, tercium aroma maskulin wangi yang dirindu. Aisyah berbalik matanya melebar sempurna melihat sosok di depannya ....


"Abang!" lirihnya

__ADS_1


"Apa kabar cinta? Lama tidak melihatmu sedekat ini, kamu makin cantik, Jingga," ucap Anand meluapkan segala rindunya.


Aisyah masih termangu akan kehadiran sosok yang dirindukannya, sosok itu tepat berada di depannya. Di langkahkan kakinya mendekati Anand, pandangannya tak lepas dari wajah tampan milik pujaannya.


"Ini Abang bener? Adek kangen!" balas Ais.


Perlahan Anand mendekati wanitanya, disentuh pipi nan mulus pelan. Wajah Anand mendekat semakin dekat hingga jarak menyisakan satu senti, muka Aisyah memerah menunduk malu. Di raihnya dagu nan runcing, dipandang lebih instan semakin dekat hingga nafas mereka saling bertabrakan.


Aisyah menutup kedua matanya, berharap sesuatu terjadi. Lama menanti tak jua terjadi, detak jantung makin cepat.Namun semua hanya ilusi ketika dibuyarkan oleh suara Nia.


"Sudah siapkah, Ai?" ucap Nia.


"Eh, iya sudah," jawab Aisyah terbata gugup.


"Mari aku bantu bawa kopernya sampai lobi, selanjutnya aku ambil mobil dulu di parkiran."


Mereka berjalan beriringan, Aisyah menunggu Nia di lobi, sedangkan Nia mengambil mobil di parkiran. Akhirnya mobil yang di kendarai Nia telah memasuki parkiran penjemputan penumpang. Nia membunyikan klakson sebagai tanda bahwa mobil sudah siap.


"Mari berangkat," ucap Aisyah.


Mobil perlahan meninggalkan rumah sakit itu dan menuju bandara Singapura. Aisyah kembali mengingat kejadian sesaat di ruang rawatnya tadi, seakan nyata benar-benar nyata. Bibirnya tersenyum penuh arti.


Sedangkan di ruang rawat inap Aisyah, Anand keluar dari persembunyiannya bernafas lega. Untung dia segera sembunyi saat terdengar langkah kaki mendekat dan saat Ais menutup matanya, jika tidak maka semua akan tahu tentang kehadirannya. 'Untung segera sembunyi, jika tidak pasti akan kepergok oleh Nia,' batin Anand.


Setelah dua jam, pesawat yang di naiki Aisyah telah landing di bandara Ir Djuanda, kota Surabaya. Mobil sedan hitam telah menunggu keduanya, sopir juga siap membawa mereka ke tujuan.


Aisyah dan Nia memasuki mobil jemputan yang mewah. Perjalanan lumayan lancar hingga tidak terasa telah sampai di sebuah rumah mewah Alamanda Regency. Mobil memasuki halaman mengantar sampai pintu masuk rumah itu.


"Sudah sampai Non," ucap sopir itu.


"Terimakasih, Pak Usman," kata Aisyah.


Semua barang telah keluar dari bagasi, Ais berjalan masuk dalam rumah membawa koper miliknya.

__ADS_1


"Duduklah!" perintah Ais.


"Jelaskan tentang ini semua, Ai!" cicit Nia.


Pandangan Nia menyapu semua isi ruangan yang terbilang sangat mewah, dia merasa familiar akan perabot di ruangan itu. Saat matanya melihat lukisan keluarga, bibirnya terbuka sempurna. Segera di tutup rapat bibir Nia, 'ini, belum saatnya di ungkapkah?' batinnya mulai ragu akan identitasnya.


Aisyah bergeming, berjalan meninggalkan Nia yang masih kesel dengan sikapnya.


"Aai!" sedikit meninggi suara Nia menghadapi sikap Ais kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa, duduk dengan bersilang kaki.


Terdengar suara langkah kaki menuju ruang tamu di mana Nia duduk dengan muka penuh kesal, perlahan dengan santainya Aisyah berjalan mendekat dan duduk di depan Nia.Memberikan sebuah map biru pada Nia.


"Pelajarilah ini, nanti kamu akan tau siapa pemilik ini semua, say," kata Ais sambil berdiri dan menowel pipi sahabatnya itu.


"Jelaskan sedikit saja Ai, apa maksud semua ini?" pinta Nia penuh harap.


"Ini adalah keluarga dari ayahku, Kardiman, beliau ayah dari ayahku dan aku baru berjumpa saat kerja di kedai kopi. Hanya melihat pergelangan tanganku, Bapak Kardiman sudah mengenaliku." papar Aisyah singkat.


Nia terdiam, mencerna informasi Aisyah. Bibirnya bergerak lirih, 'apa alasan menyebunyikan hal sebesar ini pada anaknya, darah dagingnya sendiri?'


Sungguh ironis hidup Ais, memiliki dua keluarga yang sangat berada tapi hidupnya harus berjuang sendiri. 'Apa maksud semua ini?' batin Nia masih penuh tanya.


"Ah, sudahlah Nia, tak perlu kamu mikir terlalu dalam. Mari kita nikmati waktu yang ada sebelum ajal menjemput." Aisyahberkata sambil melenggang pergi menuju kamar yang telah disiapkan untuknya.


Baru beberapa langkah, dia berbalik dan berkata, "kamar kamu ada di sebelah kiri dari kamarku, Nia."


Mendengar itu Nia bangkit dari duduknya, mengambil koper, dibawanya menuju kamar sesuai arahan Ais. Badannya sudah lelah, ingin segera menikmati alas tidur yang lembut.


Memasuki kamar, mata Nia berkeliling bibirnya berdecak kagum akan interiornya. Warna dominan biru laut bersih tanpa ornamen, kelambu bercorak hamparan laut luas terdapat matahari yang mulai tenggelam, senja terukir indah.


Nia berjalan ke arah tempat tidur yang tertata rapi dengan seprei bercorak sama seperti kelambu. Ini menandakan pemilik kamar dulu sangat menyukai suasana yang romantis, 'siapa pemilik kamar ini dulu?' batinnya Nia bertanya sendiri.


Sungguh nyaman tinggal di kamar ini, mungkinkah ini kamar yang di siapkan untuk Aisyah.

__ADS_1


__ADS_2