Rasa Masa Lalu

Rasa Masa Lalu
Bab 24 Belum terjadi


__ADS_3

Bab 24 Belum terjadi


Anand meraskan juniornya menegang sempurna akibat gesekan kulitnya dengan kulit Aisyah yang halus mulus.


"Aisyah, ada apa ini, pakai bajumu!" perintah Anand dengan lantang dan tegas.


"Baang, tolong Ais! Panas," ucap Aisyah dengan sedikit manja dan mendesah.


Hembusan nafas hangat Aisyah membuat Anand hampir hilang kendali, di bopongnya tubuh telanjang Aisyah dan di masukkan dalam bak mandi hotel bintang lima. Dengan susah payah, Anand menahan gejolak kelelakiannya melihat tubuh nan mulus dan molek di depan mata.


Pahatan yang indah dengan porsi yang pas menyebabkan air liur menetes tapi tidak bagi Anand, dia harus mampu melawan semua ini. Ini hanya akan membuatnya menyesak suatu hari nanti.


"Bang, adek sudah tidak tahan. Bantulah Aisyahmu ini!" ucap Aisyah dengan tangan terulur mencoba meraih tangan Anand tapi naas, bukan tangan yang ditarik melainkan handuk yang melilit di pinggang Anand.


"Aaah," teriak Aisyah dengan manja dan mendesah saat tangannya menyentuh perut seksi Anand.


Anand yang menyadari keadaan dirinya yang telenjang langsung berlari mengambil boxser segera dipakainya.


"Maafkan, Abang ya , Ai. Kemarilah guyur tubuhmu dengan air shower ini agar turun suhu di tubuhmu, sayang!" ucap Anand penuh cinta.


Aisyah mengikuti saran Anand segera dia berdiri di bawah shower, menengadahkan wajahnya menghadap shower dengan bibir sedikit terbuka, sesekali keluar lenguhan manja dari bibirnya dengan suara merdu.


Tubuh bawah Anand bereaksi melihat wanitanya tersiksa seperti itu, dia tidak tahan akhirnya memilih keluar dari kamar mandi itu.


"Lanjutkan sendiri, Ai. Aku ke dapur dulu menyiapkan jahe anget untuk kita berdua," kata Anand lalu melangkah pergi keluar dari kamar mandi.


Aisyah menyelasaikan ritual penurunan suhu badannya hingga dia menggigil kedinginan dan pingsan dalam kamar mandi.


Anand yang sudah berpakaian rabi dan sudah menyelesaikan membuat jahe hangat untuk dirinya dan Aisyah, merasa heran, sudah lama Aisyah dalam kamar mandi tapi belum terlihat keluar.


Anand berjalan ke kamar mandi dan membuka pintunya, tampak olehnya Aisyah tergeletak di lantai masih tanpa busana. Gegas Anand menghampiri tubuh itu, dibalutnya dengan handuk putih menutupi seluruh tubuhnya kemudian di angkat menuju pembaringan berukuran single.


"Aisyah, tubuh demam, sebentar abang ambilkan kompresan," ucap Anand.


Anand mengambil termometer untuk mengukur suhu badan Aisyah, 'empat puluh derajat, cukup tinggi,' gumam Anand.


Anand berjalan menuju meja di mana ponselnya berada, dia menghubungi Alin dan Lukas sekaligus melalui aplikasi hijau.


[Ping.]


[Iya, Bang,]

__ADS_1


[Panggilkan Dokter Hasyim sekarang!]


[Baik.]


[Ping.]


[Iya, Bos]


[Apa sudah ada hasil dari masalah ini semua?]


[Sudah.]


[Bagus, ambil bukti sebanyak mungkin!]


Setelah mengirim pesan di kedua bawahannya, Anand menghampiri tubuh Aisyah. Dikenakannya jubah mandi untuk menghangatkan tubuh Aisyah, bersiap jika sewaktu-waktu dokter datang. Suara ketokan pintu terdengar tiga kali, Anand membukakan pintu.


"Siapa lagi yang sakit, Brow?" tanya Dokter Hasyim.


Anand hanya diam tidak bersuara, dia hanya memberi kode melalui lirikan mata pada Alin. Alin mengerti akan kode itu, maka dia yang membuka suara mempersilahkan Dokter Hasyim.


"Mari, Dok, saya antar anda menemui Nona!" ucap Alin dengan nada rendah.


Hasyim mengikuti Alin dari belakang, sampai di samping pembaringan tampak olehnya wanita yang membuatnya terpana akan kecantikannya.


Sergah Anand saat tangan Hasyim terulur hendak memulai pemeriksaan di tubuh Aisyah.


"Aku harus bagaimana memeriksa tubuh wanita ini jika sentuh saja tidak boleh? Aish kau ini, bucinyi!" ucap Hasyim sambil tersenyum memandang Anand yang sudah menatapnya tajam.


Lukas yang datang hampir bersamaan dengan Alin ikut masuk ke dalam kamar, saat dia mendengar kata bucinyi keningnya berkerut, "apa itu bucinyi, brow?" tanyanya pada Hasyim.


"Oh hai, Brada! Apa kamu lupa? Budak cinta sembunyi bukankah itu julukan Anand sejak dulu?" balas Hasyim masih dengan senyumnya.


Mendengar ungkapan lama Lukas tertawa lepas, hanya Anand yang menampakkan muka dinginnya. Alin yang hampir tidak pernah melihat keakraban ketiga sahabat itu terpana, tawa yang hangat, senyum yang bersahabat dan hawa yang dingin terekam dalam ingatannya. Saat seperti ini jarang terjadi, ini moment yang perlu di abadikan.


"Jangan banyak omong, segera pergi setelah kau periksa keadaan wanitaku!" ucap Anand dengan tegas dan dingin.


"Baik, baik,Brow. Santai. Sudah berapa lama dia seperti ini?" tanya Hasyim.


"Dua atau tiga jam yang lalu," balas Anand singkat.


"Sepertinya efek obat perangsang dosis tinggi dalam minuman berakohol, ini aku ada obat penawar yang bagus. Minumkan ini saat dia sadar nanti!" kata Hasyim sambil memberikan dua butir obat penawar pada Alin.

__ADS_1


"Jangan lupa beri yang hangat-hangat dulu, teh hangat baik untuk menetralkan tubuhnya," imbuhnya lagi.


Setelah selesai memeriksa Aisyah, Hasyim berlalu ke ruang tamu bersama Lukas dan Alin. Jiwa keponya keluar begitu mereka sudah duduk di sofa.


"Sejak kapan Anand berani menjumpai Aisyah?" tanya Hasyim dengan pandangan mengarah ke Lukas.


"Seminggu setelah kematian Bapak Kardiman," jawab Lukas.


Hasyim terjengkit, dia tidak tahu kabar dokter favoritnya telah meninggal.


"Mengapa tidak kamu sampaikan kabar duka ini padaku, brada?" tanyanya lagi.


"Apa anda mengenal Kakek Nona, Tuan?" tanya Alin penuh hormat.


"Bukan kenal lagi, beliau pembimbingku dalam pencapaian gelar doktorku. Jangan panggil aku Tuan, aku bukan Tuan mu," papar Hasyim dengan pandangan menusuk.


"Panggil aku biasa seperti kamu panggil Lukas," lanjutnya


Alin mengangguk tanda setuju, terdengar teriakan dari dalam kamar di mana Anand dan Aisyah berada.


"Aabang! Kkeluaar!" suara Aisyah terdengar lantang dan keras hingga luat, Alin sampai terjengkit bangun dengan tergesa menghampiri pintu kamar itu.


"Nona! Anda tidak apa-apa?" suara Alin dengan menggedor pintu kamar itu.


Sementara Lukas dan Hasyim menanggapi dengan senyum santai.


"Biarkan saja mereka, Al. Kamu duduklah kembali dengan nyaman," ucap Hasyim.


"Tapi, kak ...," kata Alin bimbang.


Pandangan mata Alin tertuju pada Lukas yang hanya tersenyum dan mengangguk.


"Baiklah, Kak," imbuh Alin dengan muka cemberut melangkah kembali ke tempat di mana dia tadi duduk.


"Sudah jangan banyak dipikir, mereka sudah dewasa, Al, atau kamu juga ingin seperti mereka?" canda Hasyim pada Alin, sontak membuat Alin malu menundukkan kepalanya yang dirasa sudah merah.


Lukas tertawa melihat tingkah Alin, baginya seperti anak gadis yang di ajak nikah.


"Apa kamu belum punya kekasih, Al?" tanya Lukas.


'Pertanyaan macam apa itu, apa kakak tidak tahu apa yang kurasa?' batin Alin menjerit.

__ADS_1


Alin hanya tersenyum kecut menanggapi pertanyaan Lukas, Hasyim makin ngakak melihat interaksi kedua insan itu. Bagaimana tidak tertawa jika keduanya memiliki rasa tapi hanya diam, nasib yang sama seperti bos.


__ADS_2