Rasa Masa Lalu

Rasa Masa Lalu
bab 17 Hendrawan


__ADS_3

Bab 17 Hendrawan


Keluarga Hendrawan termasuk keluarga kaya nomer delapan se-Indonesia tetapi tidak membuat seorang David silau akan harta keluarga yang bukan miliknya.


David Hendrawan terlahir dari seorang tuna susila yang berhubungan gelap dengan Hendrawan, dia merasa sangat bersyukur bisa diakui oleh istri sah Hendrawan karena ibunya meninggal saat melahirkan.


'Ibu, maafkan aku, bukan aku tidak menghormatimu sebagai orang yang mengandungku tapi ini sebagai baktiku padamu. Aku harus iklas jalani hidup bersama ibu Alira,' batin David.


David dibesarkan oleh Alira Hendrawan, istri sah Hendrawan oleh karena itu David sangat mengerti kelukaan Alira atas perginya Alya anak gadisnya. Selama Alya pergi keluar kota David selalu mencari keberadaannya untuk ibu angkat tercinta.


Tak tak tak


Terdengar langkah kaki mendekat, tampak Alira berjalan mendekati David, kemudian Alira duduk di depannya.


"Bagaimana usahamu dalam pencarian jejak dari kakakmu, Nak?" tanya Alira dengan nada rendah.


"Ibu, saya sudah mulai menemukan titik terang jejak itu. Tinggal menunggu jawaban dari anak Kak Alira. Ibu yang sabar, ya!" jelas David dengan nada halus penuh hormat.


"Benarkah apa yang kamu ucapkan, Nak. Mudah-mudahan dia mau berjumpa dengan wanita tua ini," kata Alira dengan suara parau.


Dia sangat berterimakasih pada anak buahnya yang telah berhasil menemukan ponakannya, anak dari Alya Hendrawan. David mengirimkan surat buat Aisyah lewat anak buahnya yang menyamar sebagai kurir jasa pengiriman barang.


Surat itu telah sampai di tangan Aisyah, kerena penasaran maka di bukanya surat itu


Buat Aisyah,


Apa kabarmu, Nak?


Di sini aku sebagai pamanmu memohon maaf jika melakukan kesalahan, ijinkan pamanmu ini untuk melihatmu.


Datanglah dan temui nenekmu, Alira Hendrawan. Ibu dari ibu kamu. Alya Hendrawan.


David Hendrawan


Pamanmu

__ADS_1


Aisyah terdiam, dibaca berulang-ulang surat itu. 'Mengapa baru sekarang surat ini datang, disaat aku mulai berdiri dan melupakan semua?' batin Aisyah.


Sungguh ironis hidupnya, sejak kepergian kedua orang tuanya tidak ada kabar sedikitpun dari keluarga ibu tapi saat dia sudah dewasa mengapa baru muncul. Timbul tanda tanya besar di benaknya. Apakah dia tidak berharga, atau apa alasan mereka.


Akhirnya Aisyah memutuskan untuk menghubungi seseorang yang sudah lama tidak dia dengar suaranya.


Tut tut tut


[Hallo, cantik!]


[Black, apa aku harus datangi keluarga Hendrawan?]


[Semua aku serahkan padamu, cantik. Jika sudah iklas jalani saja.]


Aisyah terdiam menghirup udara panjang, sesaat bayangan ibunya datang menghampiri dengan seulas senyum hangat. Aisyah sangat merindukan sosok ibu yang hangat, selalu ada saat dia resah dan bahagia.


[Baiklah, Black. Sepertinya aku harus jumpai keluarga itu. Terimakasih.]


Tanpa menunggu jawaban dari seberang Aisyah menutup panggilannya secara sepihak. Dia sudah mantap akan menemui kerabat dari ibunya. Namun orang yang di sebrang heran, 'ish seperti biasa selalu begini, kamu!' batin Anand, Black Jing.


Flasback 10 tahun


"Bagaimana ini, anak yang kita culik pingsan?" ucap pria gendut khawatir.


"Biarkan saja, ini keuntungan kita, jika pingsan malah tidak merepotkan untuk buang ke laut," balas si kurus.


"Siapa sebenarnya anak ini? Mengapa kita menculiknya, alasan si big bos apa ya?" tanya pria gendut lagi.


Si kurus hanya mengangkat bahu tanda dia tidak tahu soal alasan big bos, yang dia tahu hanya tugas dan uang. Mereka segera menyiapkan mobil dan membawa anak remaja itu yang bernama Anand.


Mobil melaju ke arah timur Surabaya menyisir pantai utara Jawa dan melewati Alas Purwo. Sampai Alas Purwo hari sudah menjelang malam, suasana makin gelap dan seram tapi mereka tetap meluncur menuju dermaga Ketapang, Banyuwangi


Mobil telah sampai dermaga Ketapang, di sana telah menunggu kapal boat milik si gendut. Dengan mengunakan boat mereka mengarungi selat bali dan tidak lupa juga menyiapkan perahu kecil untuk Anand.


Sampai di tengah selat, boat itu berhenti, menurunkan perahu kecil juga Anand.

__ADS_1


Anand remaja usia 15 tahun yang meringkuk dalam sampan dengan keadaan terikat kedua kaki dan tangannya, tidak tahu bila dirinya berada di tengah selat Bali karena dalam keadaan pingsan. Setelah semua turun maka ditinggalkan sampan itu oleh para penculik, kemudian mereka menghubungi big bos melalui seluler.


[Hallo, Bos!]


[Bagaimana hasilnya? Apa sudah kau bunuh anak sialan itu?]


[Jujur bos, kami tidak membunuhnya hanya membuangnya di tengah selat Bali. Bukankah sangat jauh jaraknya dengan kota kita?]


Sang Big Bos hanya diam tidak menanggapi ucapan anak buahnya yang sembrono. Akhirnya di tutup panggilan itu olehnya.


"Bagaimana reaksi si bos?" tanya pria gendut.


"Hanya diam, terus di tutup begitu saja." balas si kurus.


Kedua penculik itu meninggalkan lokasi dan membuang seluler yang digunakan sebagai alat penghubung mereka dengan big bos. Dengan tujuan menghilangkan jejak dan putus hubungan dengan bos besar itu.


Sementara di tengah selat tepatnya di atas sampan tubuh Anand bergerak mulai sadar dari pingsannya. Matanya perlahan terbuka, 'bagaimana aku bisa berada di sini? Tunggu ini ....' batin Anand meragu.


Anand remaja berusaha melepas ikatan di kedua tangan dan kakinya, segala upaya telah dia coba tapi masih gagal. Matanya menyapu seluruh isi sampan, terlihat kilau cahaya dari ujung sampan.


Perlahan tubuhnya merangkak mendekati kilau tersebut dan ternyata sebuah pecahan botol minuman keras, sungguh beruntung nasib Anand. Segera tangannya meraih benda itu dan mulai digesekkan pada tali tangannya.


"Huft, akhirnya bisa juga," gumam Anand dengan suara lirih merasa lega usahanya tidak sia-sia.


Setelah semua ikatannya terlepas, Anand memandang sekitar. Tampak hanya air tanpa terlihat daratan, sejenak pikirannya menerawang kemudian pandangannya tertuju pada jam yang melingkar di tangan.


'Ternyata tidak ada sinyal, sial!' gumam Anand lirih.


Di bukanya kompas yang berada di jam itu, menentukan arah barat untuk mencapai pantai di Banyuwangi. Titik koordinat telah di temukan, di kayuhnya sampan itu menggunakan kedua tangan kecilnya.


Pelan-pelan sampan berjalan menjauh dari lokasi awal, karena Anand sangat tidak sabar dengan pergerakan sampan itu akhirnya dia memilih untuk berenang ke arah barat, berharap segera menjumpai bibir pantai.


'Apa aku berteriak minta tolong saja ya, semoga ada yang mendengar teriakanku,' batin Anand.


Anand melompat ke selat Bali, terdiam sejenak mengatur pernafasan ala perenang handal. Sekali nafas panjang mulailah Anand mengayunkan lengannya seirama, dia tidak perduli hawa dingin yang di bawa angin malam.

__ADS_1


Terus berenang dengan semamgat bahwa dia akan sampai bibir pantai, tidak memeperdulikan ikan yang ikut mengiringinya. Sungguh pemandangan yang sangat mengenaskan


__ADS_2