Rasa Masa Lalu

Rasa Masa Lalu
Bab 26 Maafkan Aku


__ADS_3

Bab 26 Maafkan Aku


"A-aabaang, issh bagaimana jadi seperti ini?" tanya Aisyah. Tangannya membuka handuk mandinya, dilihat diam, dirasa apakah ada yang berbeda dengan tubuhnya. Kepalanya menggeleng.


"Apa, Abang yang membawaku ke mari? Apa yang terjadi dengan tubuhku?" tanya Aisyah sambil beringsut bersandar pada dinding.


Anand yang duduk di sofa dengan memangku laptopnya, mendengar teriakan Aisyah kepalanya terangkat seulas senyum terukir di bibirnya.


"Kamu sudah bangun, Ai? Baguslah," kata Anand lalu berdiri, berjalan mendekati meja untuk mengambil gelas berisi air putih yang di campur dengan obar penawar yang sudah disiapkan setelah Hasyim setelah memeriksa keadaan Aisyah.


"Minumlah air ini dulu, Ai. Setelahnya akan abang jelaskan!" lanjut Anand sambil menyodorkan gelas itu pada Aisyah.


Aisyah menerima gelas itu dan menimumnya hingga habis, diletakkannya gelas itu di nakas samping ranjang. Pandangannya tertuju pada pria yang berdiri di samping ranjang itu, pria yang telah mengisi relung hatinya sudah lama.


"Boleh Aisyah dengar sekarang, Bang?" tanya Aisyah dengan nada rendah.


"Sebelumnya, abang minta maaf tidak bisa menjagamu, Jingga. Semalam ada seseorang yang berniat jelek terhadapmu dengan mencampur minumanmu dengan obat perangsang, mengakibatkan suhu badanmu naik juga menginginkan kehangatan dari pihak lain," jelas Anand dengan lirih, dia berjalan mendekati Aisyah, duduk di samping kakinya.(jingga\= panggilan sayang khusus Aisyah dari Anand)


Anand memijat lembut kaki itu dan melanjutkan cerita semalam, "yang aku dengar dari Alin semalam kamu datang ke kamar ini bersama kakek saya, Alatas. Selanjutnya kamu masuk kamar mandi dalam keadaan telanjang mendekapku, kemudian kusarankan padamu untuk mengguyur seluruh badanmu dan kamu lakukan itu hingga pingsan akibat kedinginan."


"Sekarang, bagaimana keadaanmu, Ai?" imbuhnya.


Aisyah membungkam mulutnya tak percaya, dia bisa senekat itu mendekap seorang Anand.


"Tapi bagaimana dengan tubuh Aisyah, Bang? Apakah masih utuh?" tanya Aisyah dengan suara lirih.


Anand yang mendengar pertanyaan wanitanya langsung tertawa, deretan gigi putih tampak rapi membuat Aisyah terpana.


Tangannya terulur mengambil sebuah bantal kemudian dilemparkan pada Anand agar berhenti tertawa.


Usahanya berhasil, Anand berhenti tertawa. Namun, kepalanya perlahan mendekat tubuhnya bergeser maju semakin dekat, dekat hingga jarak keduanya tipis hidung saling bersentuhan dahi menempel aroma nafas saling beradu dan detak jantung berlomba.


Tangan Anand meraih tengkuk Aisyah, perlahan mata Aisyah tertutup menikmati segala rasa yang menjalar dalam aliran darahnya. Namun, sudah lama Aisyah terpejam tidak ada kejadian seperti di film romantis dengan sedikit kesal di bukanya mata indah itu dan ....


Senyum masih tampak di wajah Anand, kemudian kepalanya miring ke kanan bergerak maju dan maju ... cup cup sebuah ciuman mendarat di pipi kanan Aisyah dua kali berjalan ke mata, hidung dan sekilas di bibir yang terbuka.

__ADS_1


Semburat merah mencul di kedua pipi nan putih itu, buru-buru di tutupnya wajah yang bersemu merah itu.


"Sudah ya, semalam tidak terjadi apapun. Baru ini tadi aku lakukan, Jingga. Sudah mandilah agar tubuhmu segar dan itu ada baju buatmu!" ucap Anand lalu berdiri berjalan kembali ke sofa melanjutkan pekerjaannya tadi.


Aisyah berjalan mengambil paper bag yang berisi baju buatnya, lalu berjalan masuk kamar mandi untuk membersihkan diri agar kondisi tubuhnya kembali segar.


****


Di kamar 356


Carissa yang di bawah pengaruh obat perangsang merasa hawa panas yang teramat, dia sudah tidak tahan satu per satu kain yang melekat dalam tubuhnya terlepas dan dilempar ke segala arah menyisakan kain yang menutup aset hidupnya.


Dalam suasana yang sedikit gelap hanya diterangi lampu tidur tampak siluet tubuh lelaki tinggi tegap berdiri dekat jendela, matanya tajam menatap tiap gerakan tubuh Carissa. Perlahan tangan lelaki itu mengambil ponselnya, mencari aplikasi musik yang romantis kemudian di hidupkannya musik itu.


"Uuggh panas, huumm mari kita nikmati malam indah ini sayang. Putar musik itu lebih keras!" ucap Carissa dengan mendekap erat tubuh lelaki itu.


Lekaki itu hanya diam mengikuti tiap gerakan Carissa, carissa makin tidak bisa menahan segala rasa hingga terjadi pergumulan yang kedua kalinya dengan lelaki yang sama. Lelaki itu cukup tangguh bisa mengimbangi keganasan seorang Carissa di ranjang bahkan Carissa berteriak merasakan sesuatu yang sangat dahsyat menyerang tubuhnya berkali-kali sebelum akhirnya dia tepar dalam pelukan hangat seorang lelaki yang mencintainya.


'Jangan salahkan aku jika kamu bangun sayang, kamu datang sendiri ke kamarku,' batin Robert. Dia tersenyum memandang wajah yang di pujanya juga ibu dari anaknya.


Semalaman Robert tidak tidur, dia hanya memandang wajah cantik di sampingnya. Dia benar-benar mulai jatuh cinta pada Carissa sejak pertama kali bermain di ranjang beberapa bulan yang lalu, baginya hanya Carissa yang bisa mengimbanginya dalam segala hal. Obsesi cinta, tahta dan harta.


"Ugh, di mana aku?" ucap Carissa saat bangun sambil meregangkan otot badannya yang terasa pegal.


"Selamat pagi, sayang," sapa Robert hangat dengan membawa paper bag yang di siapkan untuk Carissa.


"Ka--kamu, kenapa bisa bersamamu?" tanya Carissa.


Robert hanya tersenyum, memandang Carissa lalu menggendongnya ala bridal style ke kamar mandi. Dia menyiapkan air dalam bak di sesuaikan suhu air dengan suhu Carissa, dituangkan pula aromaterapi lavender yang biasa Carissa pakai.


"Mengapa aku bisa bersamamu? Bukankah seharusnya Anand di sini?" ucap Carissa.


"Mandilah dulu, nanti saja kita ngobrol sambil sarapan!" balas Robert.


Setelah berkata seperti itu, Robert meninggalkan Carissa sendiri dalam kamar mandi. Dia memesan sarapan berdua sebagai fasilitas hotel.

__ADS_1


[Hallo, silahkan pesan makanan buat menu sarapan pagi, Anda!]


[Saya, pesan nasi goreng dua porsi dengan toping telur ceplok dan udang, jus lemon, jus apulkat dan dua botol air mineral,]


[Baik, Tuan, terimakasih mohon di tunggu!]


Sambungan terputus, sesaat kemudian terdengar suara pintu di ketuk.


Tok tok tok


Perlahan Robert membuka pintu kamarnya, ternyata layanan kebersihan kamar di pagi hari.


"Layanan kebersihan, Tuan," ucap pelayan hotel.


"Silahkan, Mbak, kamar mandi masih ada orang jadi tidak perlu di bersihkan," jelas Robert.


"Baik, Tuan."


Pelayan itu mulai membersihkan kamar yang ditempati Robert dan Carissa, mulai dari melepas alas tempat tidur, menyapu lantai dan terakhir memberesi gelas juga piring sisa semalam. Semua sudah selesai, pelayan itu langsung pamit undur diri.


"Permisi, Tuan, tugas saya sudah selesai," ucap pelayan itu.


"Terimakasi, ini untukmu," balas Robert.


"Terimakasih, Tuan," kata pelayan itu sambil membungkukkan badannya.


Pintu kembali tertutup setelah pelayan itu keluar dari kamar, selang beberapa menit terdengar lagi suara ketukan pintu. Kali ini yang datan pelayan membawa makanan yang di pesan Robert.


"Taruh meja itu, Mbak. Terimakasih," ucap Robert.


Pelayan itu pergi setelah semua makanan terhidang di meja, Robert melangkah menuju kamar mandi berniat memanggil Carissa untuk segera sarapan.


"Cariss, Carissa, cepatlah mandinya. Mari kita segera sarapan!" ucap Robert yang masih berdiri tidak jauh dari pintu kamar mandi.


Namun, berkali Robert memanggil nama Carissa tetap tidak ada sahutan dari dalam, akhirnya di dobraknya pintu itu

__ADS_1


Brak! Brak!


__ADS_2