Rasa Masa Lalu

Rasa Masa Lalu
bab 9 Masa lalu


__ADS_3

Bab 9 Masa lalu


SINGAPURA


Sudah seminggu Aisyah di Negara Singa, hari ini dia melakukan persiapan operasi wajahnya. Akhirnya hari yang di tunggu telah tiba, Nia menyiapkan kursi roda buat Aisyah. Di dorongnya kursi itu untuk Aisyah, setelah Aisyah duduk dengan nyaman, Nia mendorong kursi itu menuju ruang operasi yang sudah di siapkan tim dokter.


"Tanangkan hatimu Ai, jangan ragu ini demi kesehatanmu juga," ujar Nia.


"Iya, sungguh wanita itu seperti ular. Dia telah salah pilih lawan," decak Aisyah, kesel menghadapi kenyataan dirinya saat ini.


Memasuki ruang operasi membuat Aisyah sedikit bergetar, ingatan akan kenangan kedua orang tuanya membawa dia kembali menangis. Di ruang operasi itulah terakhir kali Aisyah melihat bahkan mencium ibu tercinta.


8 tahun lalu,


"Ais, ayah dan ibu berangkat ya nduk!" ucap sang ayah.(nduk\=panggilan anak perempuan jawa)


"Ais, tidak bolehkah ikut, Ayah?" balas Aisyah.


"Ais, di rumah sama simbok ya. Nanti ayah bawakan oleh-oleh dari kota!" bujuk sang ayah.


Aisyah kecil tersenyum dan mengangguk, kemudian mencium punggung tangan kedua orang tuanya, mencium pipi ayah dan ibu.


"Mbok, titip Ais ya, jaga dia seperti cucu simbok!" pamit ibu


"Iya neng, Ais sudah seperti anak bagi simbok. Hati-hati di jalan ya, Nak!" kata simbok.


Setelah semua siap, kedua orang tua Aisyah mencium punggung tangan simbok dengan takzim juga memeluknya. Kejadian yang tidak pernah di lakukan, biasanya mereka hanya mencium punggung tangannya tapi ini memeluk erat.


Ada desiran aneh yang menjalar di perasaan simbok, entah ada firasat apa, hati wanita tua itu sedikit resah.


Belum berganti hari, tepatnya saat sore ada mobil polisi memasuki halaman rumah Aisyah. Seorang polisi tinggi, tegap dan gagah keluar dari mobilnya menuju simbok yang kebetulan lagi menyapu halaman.


"Selamat sore, Mbok," ucapnya


"Sore, Pak, maaf ada apa ya?" tanya simbok


Kedatangan bapak polisi membuat suasana hati simbok semakin resah.

__ADS_1


"Begini Mbok, kami pihak kepolisian ingin memberitahukan bahwa mobil yang di tumpangi Bapak Edward Kardiman beserta istri mengalami kecelakaan. Beliau berdua sedang perjalanan menuju Rumah Sakit Harapan Bunda ... " ucap polisi tersebut belum selesai tiba-tiba dari arah belakang terdengar teriakan anak kecil


"Ayaah ... Ibuu ... Tidak, tidak mungkin!" Aisyah berlari ke arah bapak polisi itu, menatapnya seakan bertanya 'apakah berita itu benar adanya?'


Bapak Polisi itu sesaat memandang anak kecil, kemudian berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan anak itu untuk memudahkan dia memberikan informasinya.


"Benar adek cantik, ayah dan ibu adek sedang mengalami kecelakaan. Sekarang dalam perjalanan ke rumah sakit. Kakak bisa mengantar adek menemui mereka!" ajak polisi itu lembut.


Mendengar penjelasan tersebut, Aisyah memandang simbok dan bertanya, " mbok apakah ayah akan pergi tinggalkan Ais?"


Dipandanginya anak kecil itu penuh rasa sedih, simbok mendekap anak perempuan itu. Diciumi pipi gembul nan putih, digendong masuk rumah tidak lupa mempersilahkan Polisi tadi masuk dalam rumah.


"Mari Pak, masuk dulu. Kami akan bersiap," ujar simbok


Setelah mempersilahkan tamunya, simbok pergi ke dapur untuk menyiapkan minum, kemudian di bawanya keluar secangkir kopi untuk Polisi itu.


"Diminum dulu kopinya, saya akan mempersiapkan diri dulu," ucap simbok dan berlalu pergi.


Simbok masuk ke kamar Aisyah, menyiapkan keperluannya dari kamar Aisyah, simbok melangkah menuju kamar pribadinya. Setelah semua sudah siap, simbok membawa Aisyah ikut serta keluar untuk menemui Polisi itu.


"Kami sudah siap, Pak, mari berangkat sekarang!"


Di raihnya tubuh anak perempuan itu dan di gendongnya penuh kasih, kemudian bertanya, "Siapa namamu, anak cantik?"


"Aisyah Kardiman, kalau kakak? Bolehkah Ais panggil dengan kakak?" terbata ucapan Aisyah, dia seperti ragu untuk berakrab ria.


"Panggil kakak Amar saja dek," ucap Amar


Ais mengangguk mengerti, mereka masuk mobil dan segera di lajukan menuju rumah sakit Harapan Bunda. Amar menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sepanjang jalan masih sepi jadi tidak sampai dua jam mobil sudah memasuki tempat parkir.


Mobil parkir asal tidak mangikuti aturan.


Sesampainya tempat parkir rumah sakit Aisyah segera turun dan berlari menuju lobi rumah sakit tak perdulikan panggilan simbok


"Aii ... Jangan lari!" teriak simbok


Sampai lobi Ais ngos-ngosan menunggu simbok sampai, kemudian bertanya pada pihak informasi.

__ADS_1


"Dimana ruangan untuk kecelakaan yang baru sejam lalu ?" tanya Amar.


"Maaf Pak, mereka masih di tangani di ruang IGD. Namun untuk korban pria telah meninggal begitu sampai rumah sakit ini?" jelas suster.


Mendengar korban pria meninggal, tubuh Ais yah langsung lemas seakan tak bertulang bibirnya bergumam, 'Ayah ... !'


Kemudian sekuat tenaga dia berdiri dan berjalan mendekat ke meja resepsionis untuk bertanya, "Apakah korban itu bernama Edward Kardiman beserta istri Alya Hendrawan, mbak?"


Suster bagian informasi menganggukan kepalanya, tanda membenarkan pertanyaan Aisyah. Dia tidak sanggup mendengar berita itu, akirnya tubuhnya luruh ke lantai tidak sanggup lagi berdiri. Menangis sesengukan di pangkuan simbok.


"Mbok, apakah harus seperti ini nasib Ais?" tanya Aisyah sambil memeluk simbok.


Belum sempat mendengar jawaban simbok, seorang suster keluar dari ruang IGD dan memanggil sebuah nama


"Aisyah Kardiman," lantang suaranya


"Saya," balas Aisyah.


Kemudian suster itu mendekati Aisyah, mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh anak itu. Dengan begitu memudahkan suster itu menyampaikan berita pada Aisyah.


"Adek Aisyah yang sabar ya, mari ikut kakak masuk ke dalam!" ajak suster itu lembut.


"Baik kak, mbok, Aisyah masuk dulu ya," pamit Aisyah pada simbok


Hanya pandangan penuh kesedihan yang tampak di wajah tua itu, menganggukkan kepala tanda memberi ijin untuk Aisyah masuk ruangan itu sendirian. Ibunya Aliya Hendrawan ingin menjumpainya.


"I--buu," ucap Aisyah bergetar melihat kondisi sang ibu penuh luka. Namun masih terlintas senyum di bibir cantiknya. Ibu yang selalu dia sayangi, selalu temaninya bermain kini terbaring penuh luka.


"Ais sayangnya ibu, sini!" pinta sang ibu.


Ais mendekat, diraihnya tangan ibu, diciumi semua wajah ibunya meski penuh luka. Darah segar masih mengalir dari kepala melewati ujung mata bersatu dengan air mata. Di usap perlahan aliran darah bercampur air mata, bibir hanya terkatup rapat. Tak sanggup dia berucap berusaha mencoba tersenyum untuk ibunya. Memberi semangat untuk ibunya tercinta.


"Ais, harus kuat, harus pandai, harus jadi anak yang penurut pada simbok ya. Maafkan ayah dan ibu hanya bisa temani Ais sampai di sini," lirih ibu, kemudian di genggemnya tangan mungil anak perempuannya, di ciumnya pipi nan gempil dan di bawanya tangan mungil dalam dekap hangatnya lama.


Semakin lama hingga pegangan tangan itu tak sekuat di awal, jatuh dengan sendirinya.


Merasa ada yang aneh dengan tangan sang ibu, Aisyah berjengkit dan berteriak memanggil suster juga dokter

__ADS_1


"Suster! Dokter!"


__ADS_2