
Anand masih memandang Aisyah yang berlari ke dalam rumah, senyumnya tidak segera menghilang.
"Aku sangat merindukan aroma tubuhmu, Ai. Lama sekali kita tidak berdekatan seperti tadi, tiga belas tahun lamanya aku menahan rasa ini, sayang," kata Anand yang sudah sendiri tanpa teman.
Aisyah yang sudah masuk dalam kamar, tampak ngos-ngosan dan debaran jantung yang tidak berhenti, berdegup kencang.
"Rasa ini, mengapa timbul lagi? Begitu aku inginkan dirimu, Bang?" ucap Aisyah tanpa sadar.
Aisyah melompat ke tempat tidurnya dan mulai merebahkan badannya, berusaha memejamkan matanya. Perlahan tapi pasti, Aisyah terlelap dalam mimpi.
Pagi telah tiba semua sudah bangun dan duduk di meja makan siap untuk melakukan sarapan pagi. Hanya Aisyah yang bangun kesiangan hingga sedikit terlambat datang ke meja makan.
"Oh, maaf saya terlambat bangun," ujar Aisyah dengan senyumnya.
"Mari silahkan di nikmati menu saralan paginya!" ucap bibi.
Semua menikmati hidangan yang ada tanpa membuka suara hanya suara sendok dan garpu yang saling bertubrukan.
.
"Saya sudah selesai, di lanjutkan makannya," kata Alatas kemudian berlalu pergi ke ruang tv membaca koran pagi di temani secangkir kopi hitam.
"Saya juga sudah," ucap Hasyim lalu berdiri membenarkan kursinya dan masuk dalam kamar pribadi sementara.
Setelah membawa tas kerjanya Hasyim mendekat ke Alatas untuk berpamitan memulai hari kerjanya, "Kakek, saya berangkat kerja dulu. Titip Serenita di sini, nanti sore baru saya jemput untuk ke bandara karena sore nanti jam penerbangannya ke Jerman."
"Iya, berhati-hatilah mulai dari sekarang," kata Alatas.
"Baik, Kek," balas Hasyim lalu beranjak pergi keluar rumah untuk bekerja.
Sementar di meja makan masih ada Anand, Aisyah, Nia, Serenita dan Lukas. Mereka sudah selesai sarapan tapi masih asyik berbincang.
"Kak Serenita, maafkan saya jika sore nanti tidak dapat mengantar ke bandara. Saya harus segera ke rumah lama bunda. Nenek sedang sakit," jelas Aisyah pada Serenita.
Serenita hanya mengangguk dan tersenyum, pandangannya tertuju pada Nia. Dia sangat mengagumi kembarannya itu meski hanya semalam bersama Nia, Serenita sangat bahagia.
"Apakah Kak Nia juga tidak bisa mengantar saya ke bandara?" tanyanya denga pandangan berharap.
"Saya akan ikut antar dirimu, No--nona," balas Nia terbata saat mengucap kata nona.
"Panggil saja Nita, Kak. Jangan pakai embel-embek nona. Bukankah kita saodara meski hasil dna belum keluar tapi aku yakin bahwa kita kembar,"
__ADS_1
Nia tersenyum dan menganggukan kepalanya, senyum yang sangat di rindukan Lukas. Lukas hanya mampu memandang tak kuasa untuk sentuh Nia, apalagi sekarang identitasnya tidak biasa.
"Mengapa Ka Lukas jadi senyum seperti itu, naksir sama Kak Nia, yaa," ledek Aisyah yang sukses membuat Lukas malu.
"Aisyah, kamu pergi ke rumah keluarga Hendrawan bersama siapa?" tanya Anand dengan pandangan penuh sayang.
Aisyah menolehkan kepalanya, matanya melihat sekitar berharap ada orang yang cocock untuk pergi bersamanya ke rumah orangtua sang bunda.
"Nanti aku hubungi Alin saja, agar dia mengantarku ke sana, Bang," jawab Aisyah lirih.
"Baiklah, berhati-hatilah, Jingga!"
****
Rumah Hendrawan
"Ibu, sadarlah. Sebentar lagi anak Kakak Aliya akan datang, Ibu harus segera sadar," ucap Luisa, menandu Hendrawan.
"Bagaimana keadaan ibuku, sayang?" tanya David pada istrinya, Luisa.
"Masih belum sadar, Pah. Ini masih saya coba bau bauan agar segera sadar," balas Luisa.
"Carissa, bagaimana kabar lanjutan rencana pernikahanmu dengan Anand alatas? Sudah sampai tahap berapa?" tanya Alira dengan lembut.
"Perlu Nenek ketahui, pernikahanku berakhir dalam kegagalan gegara cucu yang nenek harapkan telah mengambil Anand dariku. Padahal saat ini aku lagi mengandung anak Anand. Adik macam apa yang tega merusak dan merebut calon iparnya sendiri?" jelas Carissa dengan sedikit drama.
"Aisyah Kardiman telah menjual dirinya pada calon ayah dan suamiku hingga Anand bertekuk lutut padanya. Sunggu biadap Aisyah, Nek!" imbuhnya dengan nada yang tinggi.
Akibat perkataan Carissa, Alira memegang dadanya. Detak jantungnya makin cepat dan tidak terkontrol lagi, dia pun berteriak sekuat tenaga, "tiiiidaak!"
Luisa yang saat itu berada di dapur tidak jauh dari meja makan tergesa lari menuju meja makan melihat apa yang terjadi. Matanya tertuju pada Alira yang memegang dadanya.
"Ibu-ibu ada apa? Mana yang sakit, sebentar saya ambilkan obat Ibu." Luisa berlari ke kamar ibu mertuanya. Dia langsung menuju tempat biasa menyimpan obat untuk mertuanya.
Saat Luisa pergi, Carissa kembali menyerang Neneknya, "ketahuilah, Nek. Aisyah telah menjual tubuhnya di banyak lelaki kaya hanya untuk menghidupinya selama di Surabaya dan biaya kuliahnya. Bahkan seorang Robert Kardiman, bos kedai kopi di mana Aisyah bekerja pun juga pernah menjadi pelanggan tubuhnya."
Informasi Carissa membuat Alira semakin sesak nafas, satu-satu Alira mengambil nafasnya dengan mengelengkan kepala bibirnya mengucapkan kata tidak berulang kali hingga Alira tidak kuat lagi menahan detak jantungnya.
Luisa yang sudah mendapatkan obat untuk mertuanya segera berjalan ke meja makan tapi pandangannya menggelap saat mendapati mertuanya sudah tergeletak di lantai sambil mendekap dadanya.
"Tiiiiddaak! Ibuu!"
__ADS_1
Diraihnya kepala Alira dan di bawanya dalam pangkuannya, di tepuk pelan pipi Alira tapi pandangannya tertuju pada Carissa, "apa yang terjadi, Carissa?"
Carissa hanya bergidik mengangkat kedua bahunya tanda dia tidak mengetahui sebab neneknya tergeletak di lantai.
"Papaah!" Luisa berteriak memanggil suaminya yang masih bersiap di kamar pribadi keduanya.
"Mah, apa yang terjadi?" tanya David begitu sampai di ruang makan dan melihat ibunya tertidur dalam pangkuan istri.
David mengangkat tubuh ibunya di bawa masuk ke kamar pribadi Alira, kemudian merogoh saku jasnya untuk mengambil ponselnya. Dia akan menghubungi dokter dan Aisyah melalui aplikasi hijau.
[Ping.]
[Iya, Paman,]
[Segeralah menemui ibuku, Nak. Ibuku Alira sedang mengalami serangan jantung, datanglah, Nak. Paman mohon,]
Sementara di tempat Alatas Aisyah yang membaca chat dari David, pamannya termenung. Dia tidak habis pikir, sesaat lalu dia masih mengobrol dengan neneknya mananyakan kabar tapi selang tiga jam ada kabar bahwa neneknya mengalami serangan jantung. Tubuh Aisyah bergetar hebat mendengar semua berita itu, dia tidak ingin hal seperti kejadian Kakeknya terjadi pada neneknya.
"Ada apa dengan tubuhmu, Ai?" tanya Anand yang kebetulan ada du samping Aisyah.
"Nenek Alira, Bang!" ucap Aisyah terhenti, dia tidak sanggup lagi berucap hanya air mata yang mengalir tanpa di undang.
"Oke, baiknya kita segera ke sana jangan di tunda lagi dan jangan menunggu sore, Ai!" Anand mengambil keputusan sendiri dengan cepat dan tepat
"Lukas aku titip Nia, jaga dia selama aku antar Aisyah!" imbuh Anand pada Lukas.
Setelah mempersiapkan segala sesuatu kedua sejoli itu berangkat ke rumah Hendrawan dengan membawa motor semox putih Anand.
"Bang, kita naik si semox?" tanya Aisyah dengan senyum tertahan.
"Iya, Ai. Naik ini agar lebih cepat kita ke sana tanpa terhalang mancet," jelas Anand dengan mengedipkan matanya mengoda Aisyah.
"Iihh, Abang, mesum!"
Aisyah langsung naik dibelakang boncengan si semox, Anand melajukan motor semox putihnya dengan kecepatan sedang.
"Ai, pegangan yang kuat ya. Abang mau ngebut nih, kayaknya nyaman buat ngebut," ujar Anand lalu mendapat cubitan halus di pinggangnya.
Satu jam perjalanan mereka telah sampai di depan rumah Hendrawan, Aisyah mengetuk pintu rumah itu. Terdengar langkah kaki mendekati pintu kemudian pintu itu terbuka menampakkan wajah Luisa yang penuh keterkejutan.
"Mengapa bisa sama persis?" ucap Luisa dengan mulut terbuka lebar kemudian di tutupnya dengan telapak tangan.
__ADS_1