Rasa Masa Lalu

Rasa Masa Lalu
Bab 15 Alatas


__ADS_3

Bab 15 Alatas


Semua bukti di jalan XX telah di kumpulkan Lukas, termasuk satu amunisi yang berukuran 5,56x45 mm. Sejenak Lukas mengamati lokasi sekitar, 'bagaimana ini bisa meluncur tepat sasaran, ini pasti perbuatan penembak pro' batin Lukas.


'Apa mungkin ini suruhan seseorang yang ingin kehancuran keluarga Alatas?' gumam Lukas dengan suara sangat rendah.


Setelah terkumpul Lukas segera melajukan motor semoxnya menuju mansion Tulip di mana tetua berada.


Si semox memasuki halaman mansion, diparkir asal oleh Lukas kemudian tergesa dia menemui sang penguasa bisnis negeri ini. Lukas langsung menuju ruang kerja big bos.


Tok tok tok


"Masuk!"


Terdengar suara serak dan dalam memancarkan aura dingin, maka masuklah Lukas.


"Tuan dan Tuan besar. Maaf jika mengganggu waktu kalian berdua," kata Lukas dengan suara lirih


"Apa yang kamu bawa Lukas?" Tuan besar Alatas bertanya penuh penekanan membuat Lukas sedikit bergidik, tapi Lukas segera menguasai dirinya. Menetralkan rasa agar bisa berbicara lancar.


"Saya menemukan longsong peluru bertipe 5,56x45mm, hal ini membuktikan kalau lawan tidak main-main. Mereka sudah bertindak lebih jauh," papar Lukas dengan membawa bukti longsong kosong di talapak tangannya.


Anand melihat sekilas longsong yang dibawa Lukas, dia mengenali asal longsong itu sebagai amunisi sekelas kaliber yang biasa di pakai oleh pasukan elit di negara maju.


"Benar apa yang di katakan Lukas, Kek. Ini pekerjaan penembak yang sudah profesional," tambah Anand.


Kakek Alatas termenung, keningnya berkerut dipijatnya perlahan kemudian bibirnya berucap, "jika keadaan sudah berjalan sejauh ini dan sanjata sudah bicara maka tidak salah lagi, pasti dia orangnya."

__ADS_1


Anand mencoba menebak siapa orang yang dimaksud kakek. Namun dia tidak berani membuka mulutnya. Hanya sebuah huruf W yang sempat terucap oleh bibir penguntit kemarin.


"Jika huruf awalnya W dan sudah bergerak menggunakan senjata sekelas kaliber, maka tak salah lagi. Pasti Wahono dibalik semua tindak kriminal akhir-akhir ini." jelas Alatas padat.


"Wahono," ucap Anand dan Lukas bersamaan.


"Iya, Wahono Kardiman, sepupu Kardiman," jelas Alatas dengan suara lirih.


Anand merasa pernah mendengar nama Kardiman, Lukas pun juga familiar akan nama itu. Mereka berdua saling pandang dan mengangguk bersama.


"Apa mungkin ini berarti Wahono adalah paman Nona Ais, Tuan Besar?" tanya Lukas sedikit ragu.


"Benar, dan aku telah salah menyetujuimu Anand untuk melamar Carissa Hendrawan. Seharusnya Aisyah Hendrawan. Saat itu aku kurang waspada, maafkan kakekmu ini, nak!" ucap kakek dengan nada rendah.


Anand terdiam, sebenarnya dia sudah paham ke mana alur masalah dan intinya. Namun dia tidak mau gegabah dalam bertindak karena menyangkut keluarga wanitanya.


"Anand tidak apa-apa, Kek, Anand hanya harus lebih waspada menghadapi kasus keluarga," ucap Anand lirih.


Anand menganggukkan kepala tanda setuju, kemudian dia melangkah keluar dari ruangan kerja sang kakek diikuti Lukas asistennya.


Sampai depan rumah Anand berhenti dan berkata pada Lukas, "atur jadwalku bertemu dengan Aisyah, kali ini formal dan jaga keselamatannya."


"Baik, Tuan." jawab Lukas mantap.


****


Sementara di rumah besar keluarga Hendrawan, David Hendrawan berkumpul bersama istri dan anaknya.

__ADS_1


"Bagaimana hasil pencarian anak buah papah soal anak dari mbak Alya, apa sudah ada perkembangannya?" tanya istri David, Luisa.


"Sudah, Mah. Dia bernama Aisyah Hendrawan, terakhir pencarianku berhenti di kedai kopi milik pengusaha muda Robert Kardiman," jalas David dengan suara rendah.


Carissa yang saat itu juga berada di situ hanya mendengarkan saja. Namun saat nama Aisyah di sebut tubuhnya bergetar, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, 'apakah nama ini orangnya sama?' batin Cariss


"Bagaimana jika kita ajak si Aisyah ini tinggal bersama saja, Pah? Agar kita lebih leluasa mengawasinya," papar Luisa.


"Tidak baik itu, Mah. Aisyah juga berhak atas peninggalan papa, sesuai pesan papa Hendrawan kita harus berbagi sama rata," jelas David sambil tangannya mengambil gelas berisi jus mangga kesukaannya.


"Mbak Alya pun dulu pernah bilang, gunakan saja semua harta papa,Dek. Aku tidak begitu memerlukan, bagiku cukup Abang Edward saja yang bisa buat aku bahagia. Namun bagiku tidak ada salahnya jika sekarang harta itu aku bagi, Mah," imbuh David dengan suara lirih.


Luisa tersenyum, tangannya mengusap lembut lengan suaminya. Terpancar bahagia di wajahnya, suaminya tidak dendam dan silau akan harta warisan Papa Hendrawan. Awalnya Luisa mengira suaminya masih ada dendam hingga dia menyarankan untuk mengawasi Aisyah ternyata Luisa salah.


"Tunggu, Pah! Ada apa ini, siapa Aisyah?" akhirnya Cariss bersuara menanyakan siapa Aisyah.


Carissa merasa familiar dengan nama Aisyah ini, mengapa orangtuanya menginginkan pembagian harta? Dia tidak akan mau jika harya peninggalan kakek terbagi rata, Carissa ingin warisan kakek utuh.


"Dia kakak sepupumu, harusnya dia yang bertunangan dengan Anand dan lagi kamu juga sudah bersama Robert Kardiman," papar Luisa.


Luisa terdiam sejenak menghirup nafas panjang kemudian memimun jus alpukatnya.


"Bukankah kamu sangat ingin bermarga Kardiman, keluarga terkaya se-Indonesia?" imbuh Luisa setelah meminum separo jusnya


"Itu dulu, mah. Sekarang aku ingin bersama Anand Alatas," cicit Carissa.


Luisa hanya geleng kepala melihat kelakuan putrinya. Luisa melihat ada sesuatu di mata putrinya, dia tidak mau anak kesayangannya salah jalan. Pancaran api dendam terlihat nyata di mata Carissa.

__ADS_1


"Berhati-hatilah dalam melangkah Carris, jangan kau salah ambil langkah yang menyesatkan dan merugikan. Ingat itu, Nak!" papar David yang nyata tak mau anaknya susah.


"Jangan khawatir akan hal itu, Ayah. Cariss paham kok," tutur Cariss mantap tapi hatinya berkata lain. Dia harus dapatkan Anand apa pun caranya.


__ADS_2