
Bab 32 Serenita
"Baiklah, silahkan duduk semua," ucap Alatas
Alatas memandang setiap orang yang hadir, diabsen satu per satu. Anand, Aisyah, Lukas, Nia(Serenia), Alin dan Hasyim. Dia tampak berfikir.
"Sepertinya masih ada yang belum hadir," imbuhnya sambil menyeruput kopi buatan bibi.
"Benar, Kek. Sebentar, saya akan hubungi Serenita," balas Hasyim.
Hasyim pun merogoh saku jasnya mengambil ponsel untuk menghubungi tunangannya, Serenita.
[Selamat sore,]
[Sore, haney. Bagaimana?]
[Bisakah kamu datangi tempat yang aku serlok setelah ini?]
Serenita melihat serlok yang baru saja di kirim Hasyim padanya, dia tidak paham akan daerah Surabaya selain tempat kerja Hasyim.
[Aku tidak tahu alamat itu, cintaku. Bisakah kamu yang menjemput aku?]
[Baiklah, bersiaplah. Satu jam aku smpai di tempat kamu.]
Hasyim mematikan sambungan teleponnya setelah mengucap selamat tinggal dan ciuman udara buat Serenita.
"Aku pamit dulu, Kek. Aku harus segera menjemput Serenita. Menjelang malam aku akan kembali lagi ke sini," jelas Hasyim.
"Baiklah, hati-hati di jalan jangan ngebut. Sekarang kalian beristirahatlah, Anand sudah menyiapkan kamar buat kalian," papar Alatas.
Setelah mendengar instruksi Alatas, para muda-mudi itu membubarkan diri untuk beristirahat.
****
Sementara di hotel tempat Serenita menginap. Terlihat sepi, ada Robert duduk di lobi sambil berbicara di ponselnya.
[Ayah, wanita itu sangat mirip dengan Bibi Laura. Apakah dia anak dari Edward?]
[Apa kamu sudah yakin? Kalau sekedar kemiripan wajah kurang akurat, Boy. Kita harus lebih detail.]
[Kita lihat ke depan saja, Pah. Jika ada hubungan dengan Aisyah dan komplotannya berarti perlu di waspadai.]
Pembicaraan itu terus berlanjut membahas beberapa kemungkinan jika Serenita cucu Kardiman, Wahono membuat sebuah rencana untuk memastikan hal itu.
[Baiklah, Pah, saya setuju dengan rencana itu. Segerakan saja pelaksanaannya, aku sudah tidak sabar menantikan kehancuran Kardiman.]
[Tunggu waktu yang tepat untuk melakukan semua itu, Boy. Lanjutkan pengintaianmu, Boy!]
__ADS_1
[Baik.]
Sambungan terputus, Robert kembali dalam mode penyamaran. Beberapa saat tampak Hasyim memasuki lobi hotel, Robert melihatnya hanya tersenyum dan menghampirinya.
"Hallo, Dokter Hasyim. Apa kabar?" sapa Robert.
"Oh, hai Bapak Robert. Baik, kabarku hari ini sangat baik." lalu mereka berjabat tangan saling menunjukkan keakrapan.
"Ada urusan apa, Dokter mampir ke hotel kami?" tanya Robert.
Hasyim hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Robert, dia lupa jika hotel itu milik D's group. Tentu saja Robert pasti ada di situ.
"Ada tunangan saya di salah satu kamar hotel ini, Pak. Maaf, saya permisi dulu," balas Hasyim dengan menundukkan kepala lalu melangkah meninggalkan Robert sendiri.
Robert tersenyum dan menganggukkan kepalanya, kemudian berjalan menuju ruang pribadinya.
Tap tap tap
Suara langkah kaki Hasyim menuju lantai dua nomer tiga puluh enam, kamar yang di tempati Serenita. Sampai depan kamar, Hasyim langsung mengetuk pintu di depannya.
Tok tok tok
Terdengar suara langkah kaki mendekati pintu dan membukanya, tampak wajah cantik menyembul mengintip dari pintu.
"Hai, masuklah segera, aku mau lanjut mandi dulu," ujar Serenita.
Hasyim memandang Serenita berjalan menuju kamar mandi hanya berbalut handuk putih, tubuhnya yang putih halus membuatnya melongo terpana.
'Aku sudah tidak sabar segera ingin memilikimu, My Love,' gumam Hasyim.
Hasyim melangkah menuju sofa, menunggu tunangannya yang belum selesai bersiap. Dia meraih remot tv dan menyalakannya. Di pilihnya chanel komedi kesukaannya.
"Sayang, aku sudah siap. Mari kita berangkat," ujar Serenita.
Hasyim berbalik melihat Serenita, matanya melotot terpana. Serenita sangat cantik dan elegan, tinggi 175cm dengan berat bedan yang proporsional membuat Hasyim menelan ludah.
"Kamu terlihat sangat cantik, honey. Maukah kamu segerakan pernikahan kita? Jika perlu malam ini?" ujar Hasyim dengan senyum menawan.
Serenita tersenyum menanggapi celotehan Hasyim, tangannya masih sibuk merias wajahnya, memulas lipstik merah bata di bibir tipisnya menambah kecantikan parasnya.
"Jangan tebal seperti itu, Honey. Aku enggak tahan melihatnya, kamu selalu membuatku seakan naik roler coster. Jiwaku meronta," ujar Hasyim sambil memeluk pingga ramping Serenita yang berdiri di depan cermin.
Serenita membalikkan badannya, kedua tangannya di lingkarkan ke leher Hasyim. Matanya menatap lekat mata Hasyim, wajahnya mendekat semakin mendekat hingga nafas mereka saling bertabrakan menimbulkan sensasi bagi Hasyim.
Tidak sabar, Hasyim langsung ******* bibir merah bata milik Serenita yang menggoda jiwanya. Hanya sesaat tapi sudah membuat serenita melayang.
"Sudah cukup, ya. Jangan bikin aku berbuat lebih, honey. Nanti saat itu tiba akan ku reguk semua madumu," ujar Hasyim saat melepaskan pagutannya.
__ADS_1
"Aku selalu menunggu saat itu tiba, sayang. Mari segera kita berangkat, mereka pasti menunggu kedatanganku," balas Serenita lalu mengambil tas dan menggandenf lengan Hasyim dengan manja.
Keduanya melangkah keluar dari kamar hotel menuju lift, sampai depan lobi mobik jemputan sudah siap mengantar kedua sejoli itu ke rumah Alatas.
"Apakah mereka akan menerimaku dengan baik, Kak?" tanya Serenita dengan nada rendah.
"Bukankah dari awal tujuan kamu datang ke Indonesia ingin mencari kerabatmu sesuai pesan mendiang Mama Erwina?"
"Benar, mama sangat inginkan itu. Sebelum meninggal, dulu dia ingin berjumpa dengan kakek dan kerabat yang lain. Namun, sayangnya mama telah meninggal setahun yang lalu," balas Serenita denga derai air mata.
"Jangan menangis lagi, Honey. Sebentar lagi kamu akan bertemu dengan kerabatmu," ujar Hasyim dengan mengusap pucuk kepala Serenita.
Tidak terasa mobil memasuki mansion Tulip, beberapa bangunan mewah berjajar rapi dengan ukuran berbeda. Serenita memandang takjub melihat arsitektur tiap mansion yang berbeda, sungguh tidak sesuai bayangannya.
"Mengapa di sini sangat berbeda bangunannya, Cinta. Sangat indah, seperti bangunan Eropa kuno," ujar Serenita.
"Iya, ini bangunan kelas atas. Hanya orang tertentu yang bisa memiliki hunian di sini," papar Hasyim.
Mobil memasuki mansion Alatas menjelang malam, terdengar langkah kaki mnedekati pintu saat Hasyim keluar dari mobil.
"Oh, hai. Kalian sudah datang, mari segera masuk, kakek menunggu kalian!" kata Aisyah saat membuka pintu.
Hasyim menggandeng tangan Serenita masuk ke dalam mansion, begitu masuk ruang makan semua yang sudah duduk di tempatnya masing-masing terkejut dengan kedatangan Serenita. Tidak ada yang berucap hanya pandangan mata masing-masing menatap Serenita dan Nia bergantian. Sungguh membuat semua terpana akan kemiripan dan kecantikan keduanya .
"Ka--kamu, mengapa bisa sangat mirip denganku?" ucap Nia terbata saat matanya bertabrakan dengan mata Serenita.
"Mari, silahkan duduk!" ajak Alatas.
Serenita duduk depat di depan Nia sisi kanan meja dari duduk Alatas. Para wanita duduk di sisi kiri dan pria di sisi kanan, saling berhadapan pasangan masing-masing. Sisi kiri mulai dari Aisyah, Nia dan Alin, sisi kanan ada Anand, Serenita dan Hasyim. Untuk Lukas duduk di ujung yang lain berhadapan dengan Alatas.
"Kita sudah berkumpul, Kek. Mari kita makan dulu, membahas masalahnya nanti saja setelah makan malam," ucap Anand.
Aisyah berdiri mengambilkan nasi buat Alatas dan Anand, yang lain mengambil sendiri nasi dan lauk. Serenita memandang setiap gerakan Aisyah yang terlihat biasa dan lembut dalam melayani Anand dan Alatas.
Mereka makan dalam suasana hening tanpa suara, hanya denting sendok dan garpu saat bertemu. Setelah semua selesai makan, Alatas mengaja semua untuk bersantai di halaman belakang yang sudah di tata senyaman mungkin.
"Sekarang kita sudah berkumpul, silahkan siapa yang akan mengungkap identitasnya?" ucap Alatas mengawali pembicaraan dengan singkat dan jelas.
"Baiklah, saya yang akan mengawali pembicaraan ini," Serinita berdiri dan membungkuk memberi hormat pada Alatas selaku tertua di situ.
"Nama saya Serenita lowrens, lahir di Jerman dari seorang wanita bernama Erwina Kardiman. Saya ke sini membawa misi dari bunda untuk menemui kerabat saya," lanjut Serenita.
"Apakah kamu yakin jika kami ada hubungan dengan kerabatmu?" tanya Lukas .
Serenita hanya tersenyum memandang Lukas, kemudian tangan Serenita dengan lembut menyibak rambut panjangnya ke depan dan dia berbalik badan.
Tampak bulu halus sepanjang leher putih tapi bila dicermati lebih detail ada warna hitam tepat di bawah tengkuknya.
__ADS_1