
Bab 30 Saudara kembar Edward
Bibi menghirup nafas panjang dan dalam setelah menyelesaikan ceritanya, semua menanti kelanjutanya tapi bibi hanya diam.
"Bi, bagaimana kelanjutannya?" tanya Anand penasaran.
"Maaf, hanya itu yang saya ketahui. Selanjutnya tanyakan simbok yang merawat Nyonya Laura," balas bibi.
Begitu selesai bibi bercerita, semua pandangan tertuju pada Aisyah. Aisyah hanya tersenyum kikuk sambil memutar bola matanya.
"Maafkan saya, saya sendiri juga tidak mengetahui akan hal itu. Kemarin saat Kakek masih ada, beliau sempat cerita perihal kematian nenek dan sakit yang di deritanya," jalas Aisyah lalu mengambil nafas panjang.
"Menurut kakek, nenek meninggal karena seringnya di suntik obat penenang dosis rendah tiap satu bulan dua kali tanpa sepengetahuan kakek. Dan kakek di kasih serbuk penghancur otot oleh orang suruhan Wahono, hanya itu yang sempat kakek ungkap," papar Aisyah.
Anand mendengar cerita Aisyah, emosinya naik tangannya menggenggam hingga memutih.
"Sungguh biadap Wahono," ujar Hasyim, "bagaimana dengan calon istriku yang nama belakangnya juga Kardiman?"
"Bawa sini calon istrimu lain hari, kita cocokan dengan Aisyah. Bagaimana?" tawar Alatas pada Hasyim.
"Baiknya sekarang saja, Kek. Mumpung dia masih di Surabaya, karena besok dia akan terbang kembali ke Jerman," jelas Hasyim.
Alatas termenung, dahinya mengerut mengingat akan kata Jerman. Bibirnya mengulas senyum.
"Jerman? Bukankah itu asal negara Nyonya Laura, Tuan?" tanya bibi dengan pandangannya tertuju pada Alatas.
"Kau benar, Bik. Itu negara asal Laura Lowrens, mungkin anak perempuan Kardiman di sembunyikan di Jerman," kata Alatas.
Aisyah hanya diam tanpa membuka suara, sebagai pendengar saja. Dia teringat akan pesan simbok sebelum berangkat ke Surabaya untuk kuliah dulu. Simbok mengijinkan Aisyah untuk menempuh bangku kuliah jika namanya bukan Kardiman, melainkan nama bundanya, Hendrawan.
"Jadi seperti ini ya, Kek, asal muasal semua derita yang simbok sembunyikan selama ini? Selama ini simbok sembunyi hanya untuk Aisyah saja," ujar Aisyah dengan suara lirih dan tidak berdaya.
"Anda sangat mirip dengan Nyonya Laura Lowrens, dengan rambut yang hitam lurus dan tebal bahkan hidung juga mata anda. Bagai pinang di belah dua," puji bibi pada Aisyah.
"Jika kalian semua melihat calon istri Hasyim, mungkin akan lebih tergoda. Jika di sandingkan dengan Aisyah mereka berdua seperti saudara kembar, yang membedakan hanya warna rambutnya," jelas Lukas.
__ADS_1
Alatas mendengarkan semua penjelasan Lukas dan Hasyim membuat dia semakin yakin bila Serenita dan Aisyah masih sepupu. Dia kembali mengutak atik komputer lamanya yang sudah lama tidak dibuka, di carinya sebuah file tentang foto keluarga.
"Ini cobe kalian lihat foto lama kami saat di Jerman mengunjungi keluarga Laura Lowrens!" ucap Alatas sambil memutar layar komputernya.
Semua mata memandang pada layar itu, tiba-tiba Lukas berdiri mengambil sesuatu pada tas kerjanya. Disiapkan alat proyektor kecil hasil rancangannya lalu di sambungkan dengan komputer lama Alatas.
"Nah, kalau gini kan lebih jelas. Bagus juga ide kamu, brada," kata Hasyim menimpali tindakan Lukas.
"Perhatikan dengan seksama, apakah diantara yang hadir saat itu ada yang kalian kenal?" tanya Alatas.
Ketiga sahabat yang sudah pernah berkunjung ke rumah Serenita memandang satu per satu wajah lama itu, tiba-tiba Lukas berteriak.
"Tunggu, Kek, perlambat yang adegan dansa. Sepertinya wajah itu pernah aku lihat," kata Lukas.
Alatas memudar perlahan adegan dansa di suatu ruangan dalam acara keluarga Laura di Jerman.
"Nah, itu, Kek. Berhenti di situ, bukankah wanita yang memakai gaun malam merah maroon itu seperti neneknya Serenita? Hasyim, perhatikanlah!" kata Lukas dengan pandangan tertuju pada Hasyim.
"Ah, iya. Kamu benar Lukas, itu Nenek Lowrens. Neneknya Serenita," jawab Hasyim.
"Fix, mereka adalah saudara kamu, Ai," kata Anand sambil memegang tangan Aisyah membawanya dalam pelukan.
"Apakah semua ini benar adanya, aku memiliki saudara? Oh, Tuhan takdirMu begitu indah," ujar Aisyah merasa terharu dan tanpa terasa air mata keluar dengan sendirinya.
"Sekarang sudah dipastikan jika antara Serenita dan Aisyah adalah sepupu, maka segeralah kalian atur jadwal pertemuan mereka. Jangan sampai hal ini terendus oleh Wahono," kata Alatas.
Semua yang hadir menganggukan kepalanya tanda setuju.
****
Banyuwangi
Simbok berjalan keluar dari dapur mencari keberadaan Nia, cucunya. Dia merasa ada sesuatu yang harus segera di bahas dengan cucunya itu, sesuatu hal penting yang selama ini dia simpan rapat.
'Mungkin ini sudah waktunya, seperti yang di inginkan Nyonya Laura. Rahasia ini harus segera di bongkar sebelum Tuan kedua Wahono mengetahuinya,' gumam Simbok.
__ADS_1
"Nniaa!" teriak simbok
Nia yang berada dalam ruang kerjanya terjengkit saat mendengar teriakan neneknya, tidak biasanya sang nenek berteriak seperti itu. Segera dia bangkit dari duduknya berjalan menghampiri simbok yang menunggunya di depan pintu ruang kerja.
"Iya, Nek. Ada yang bisa, Nia bantu?" tanya Nia cengengesan.
"Nenek harus bicara padamu tentang Nona Aisyah," ucap nenek serius.
Nia menuntun neneknya masuk ke ruang kerjanya, mereka duduk bersama di sofa yang tersedia.
"Katakan pada nia, Nek. Mengapa Nenek berteriak seperti tadi?" tanya Nia dengan suara rendah.
"Sepertinya sudah waktunya rahasia ini kamu ketahui, Nak. Ini tentang Aisyah, kamu dan keluarga kalian," ucap nenek dengan suara lirih.
"Rahasia? Apalagi yang dirahasiakan olehmu, Nek?"
Simbok menghela nafas panjang mengumpulkan keberanian dan ingatannya tantang semua rahasia keluarga Kardiman yang penuh liku.
"Selama Nia di Surabaya kemarin walau hanya beberapa hari, Aisyah sudah membuka sedikit rahasia keluarganya padaku, Nek," jelas Nia pada Neneknya.
"Rahasia apa saja yang sudah di ketahui Non Aisyah? Ceritakanlah!" balas simbok.
"Aisyah sudah bertemu dengan Kakek Kardiman dan ruang rahasia kakek, rahasia tentang nama belakangku juga sudah aku ungkapkan padanya," jawab Nia.
"Itu, hanya sebagian kecil dari rahasia itu, Nduk. Ada yang lebih besar lagi yang mana kamu pasti akan terkejut mendengar kenyataan yang ada," papar simbok.
Pelahan wanita tua itu berjalan menuju rak buku, diambilnya salah satu buku yang bersampul kuning dan berdebu. Dibawanya buku itu dan kembali duduk di sofa.
"Ini, bukalah! Di dalamnya ada beberapa foto keluarga yang bisa menjelaskan tentang siapa dirimu dan Aisyah," ujar simbok.
Nia menerima buku kuning pemberian neneknya yang ternyata sebuah album keluarga yang sudah puluhan tahun usianya. Nia membersihkan sampul buku yang penuh debu itu dengan sebuah tisu.
"Album kenangan di Jerman tahun dua ribu, ini berarti dibuat dua puluh dua tahun yang lalu donk, Nek?" ujar Nia dengan nada lirih setelah membaca judul album itu.
"Bener, itu di buat saat usiamu empat tahun di Jerman. Saat itu Nyonya Laura beserta Tuan pergi ke Jerman untuk melepas kangen pada putrinya juga cucu perempuannya yang bernama Serenita," ucap simbok, air mata keluar melewati pipi yang mulai keriput.
__ADS_1
"Mengapa menangis, Nek? Ceritakan saja semuanya, biar hati nenek lega," kata Nia sambil mengusap air mata neneknya.
Tangan Nia membuka album itu satu persatu, saat membuka halaman kelima tangannya bergetar, matanya terbelalak sempurna dan bibirnya berucap lirih, "siapa gadis cantik berbaju pink ini, sungguh mirip sekali?"