Rasa Masa Lalu

Rasa Masa Lalu
Bab 15 Abang


__ADS_3

Bab 15 Abang


Mereka kembali ke ruang kerja kakek dan menyimpan senjatanya di tempat aman. Kemudian Aisyah memberikan file berisi bukti kejahatan Paman Wahono selama ini, bukti yang memberatkan hukuman Wahono nanti.


"Ini beberapa bukti yang dikumpulkan Pak Usman, tolong bantu aku, bersihkan tanpa jejak!" ucap Ais dengan memberikan berkas dalam map biru.


"Baik. Tapi besok aku pulang ke Banyuwangi terlebih dahulu karena masih ada yang harus dituntaskan di sana, Ai," kata Nia sambil memberesi meja kerja.


Aisyah hanya memandang Nia dan menganggukkan kepalanya tanda dia setuju, kemudian dia ikut memberesi meja yang berserakan penuh dengan file.


"Untuk kasus penculikan diri kamu kemarin,Ai, semua dipegang Abang. Jadi aku tidak tahu menahu soal penyelesaiannya," jelas Nia tentang kasus penculikan Aisyah.


"Iya, aku tidak mempermasalahkan soal siapa yang menanganinya. Yang aku ingin hanya segera berjumpa dengan Abang, karena aku sangat rindu."


Setelah semua beres dan bersih, mereka keluar dari ruang baca tersebut. Aisyah masuk kamarnya untuk membaringkan tubuh lelahnya, 'bang, Ais kangen,' batin Aisyah. Sesaat kemudian Aisyah terlelap, tidur akibat kelelahan dalam perjalanan pulang ke tanah air.


Di balkon kamar Aisyah terlihat bayangan hitam seperti sosok lelaki tegap, tinggi 180 . Perlahan pintu yang terhubung dengan balkon terbuka. Sesosok tubuh tegap memasuki kamar Aisyah, sedang yang punya kamar tidak menyadari kehadirannya.


Lelaki itu menyentuh semua indra yang ada di wajah Aisyah, dia sangat mengaguminya, "sungguh indah ciptaanMu, Tuhan. Sabar ya Adeknya abang, tunggu sebentar lagi kita akan bertemu" gumam lelaki itu lirih.


Setelah mengecup lembut kening wanitanya, Anand melangkah keluar dari kamar itu lewat jalan tadi dia masuk.


Mendapat sentuhan lembut, Aisyah terbangun seakan nyata tapi aroma yang tertinggal sangat dia hafal, 'mungkinkah abang datang?' batin Aisyah.


Ciuman itu sungguh nyata, disentuhnya lagi bekas kecup hangat di keningnya senyum malu terukir di bibirnya. Kemudian pandangan matanya tertuju pada notes di atas nakas samping tempat tidurnya. Diraih dan dibacanya:


Jaga dirimu, cantik.


Bahaya makin mendekati


Sampai jumpa saat senja di ujung pantai


Black jing


Aisyah meletakkan kembali notes itu di tempat semula, pandangannya teralih pada setangkai bunga anggrek bulan yang terlihat indah, diraih dan dicium. 'Harum dan indah cintamu Abang, seindah bunga anggrek' batin Aisyah.

__ADS_1


Setelah puas memandang wanitanya, Anand turun dari balkon kamar Aisyah yang terletak di lantai dua dengan sekali lompat sudah sampai di bawah. Mobil hitam yang sudah dimodifikasi menjadi mobil siap tempur telah menanti Anand di samping rumah Aisyah.


Anand duduk di kursi sopir, dia sengaja sendiri tanpa kawalan. Perlahan mobil itu berjalan menuju ke sebuah villa, Anand bertujuan untuk menjumpai Alatas, kakeknya.


Di jalanan sepi tampak di kaca sepion mobilnya di ikuti pengendara bermotor belalang tempur sejumlah empat orang.


Anand menarik gas, menambah kecepatan mobilnya. Penguntit terus menempel mobil Anand, mereka ada yang mulai berani menyentuh mobil hitam.


Saat mendapati ruang yang cukup, Anand melakukan manuver pada mobilnya di tikungan tajam membuat salah satu penguntit terpental. Kemudian Anand keluar dari mobilnya.


"Atas dasar apa kalian mengikutiku?" ucap Anand datar.


"Jangan banyak omong, jauhi wanita itu jika ingin nyawamu selamat!"


"Kalau aku tidak mau, apa yang kalian mau lakukan?"


"Maka, tamatlah riwayatmu,"


Selesai berkata orang itu menyerang Anand dengan tangan kosong. Kakinya menendang ke arah dada Anand tapi Anand menghindar ke kiri, dari arah kiri masuk sebuah pukulan tepat di rahang kirinya. Untung Anand memiliki indera yang tajam sehingga pukulan itu tidak menyentuh wajahnya, Anand berkelit dan melakukan lompatan sambil kakinya menendang ke arah lawan.


Buk buk


Argh


Erangan lawan terdengar di telinga Anand, kemudian dari arah belakang terdengar gesekan angin deras menerjang punggungnya, secepat kilat Anand berbalik dan mundur beberapa langkah untuk menghindari tendangan itu.


Jleb! Jras!


Sebuah pisau menusuk lengan Anand, darah segar mengalir membasahi kemeja putihnya.


"Ha ha ternyata hanya segini kemampuanmu, cucu Alatas. Sebentar lagi kau, akan MATI," ucap lawan dengan congkaknya.


Anand berdiri diam, digulungnya lengan kemeja putih miliknya sampai siku, menandakan dia siap bertarung. Penguntit tak mau ketinggalan mereka merangsek maju tanpa ampun, tendangan dan pukulan silih berganti menghiasi tanah sepi.


Buk! Buk! Bak! Debam

__ADS_1


Perkelahian makin seru, Anand sendiri melawan empat orang tegap dengan luka di lengan masih mampu bergerak lincah memghindari lawan. Akirnya upaya terakhir untuk segera menuntaskan perkelahian itu, Anand melompat ke atas tubuhnya hilang di telan kegelapan malam.


Para penguntit kelabakan mencari keberadaannya, hingga dari arah atas tampak bayangan hitam meluncur tajam ke arah mereka berempat dan ....


Buk! Buk! Bak!


Jleb! Jras! Bam, debam!


Tendangan demi tendangan, pukulan bertubi-tubi di layangkan Anand pada lawan berjumlah empat orang hingga mereka terdesak bahkan salah satunya ada yang muntah darah akibat pukulan Anand tepat mengenai ulu hati.


"uhuk, sialan kau, ALATAS! Kubunuh kau, serang!" perintah lawan, mungkin dialah pemimpinnya.


Anand tidak perdulikan darah yang mengalir pada lengannya, dia harus segera menuntaskan pertarungan itu. Tanpa henti pukulan dan tendangan di layangkan Anand, hingga hentakan tangannya mampu melumpuhkan lawan. Menyisakan seorang yang masih berdiri tegak, dialah pemimpin.


"Katakan, siapakah yang membayar kalian?" tanya Anand dengan nada santai.


"Saya tidak perlu ungkap, siapa anda?" jawabnya menantang.


"Bagus, jika itu menjadi keputusanmu, maka nikmati!" ucapan Anand bagai kode untuk pria itu.


Tanpa Anand sadari ada seseorang dengan membawa senjata api membidiknya tepat di kepala, sinar merah berada di antara kedua matanya. Anand merasa dahinya sedikit panas, pandangannya melihat sekitar tampak olehnya bayangan hitam posisi di atas gedung arah jam dua belas dari posisinya berdiri.


Akirnya dengan kecepatan kilat, Anand berlari ke arah pemimpin itu, membekap tubuhnya ....


Buk! Bang!


"Katakan!" dicengkramnya kaos penguntit itu dengan pandangan membunuh, tajam.


Sinng! Dor!


Sebuah peluru dengan kecepata tinggi melintas di samping kepala Anand, dari jarak lima ratus meter dia sudah merasakan hembusan angin yang berbeda sehingga bagi Anand sangat mudah berkelit.


Pria itu hanya diam tanpa berucap, bibirnya terkatup rapat hanya getar tubuhnya yang terasa, hingga tak kuasa air hangat mengalir mengenai ujung sepatu Anand.


"Cepat, katakan!" kembali suara lantang Anand mengema mengalahkan deru angin, aura pembunuh dalam diri seorang Anand keluar seutuhnya.

__ADS_1


Pria itu merasa tertekan jiwa dan raganya, baru kali ini dia jumpai sosok yang mampu mengimbangi komplotannya. Terbata pria itu mengucap satu persatu huruf yang dia hapal. Namun belum semua huruf terungkap tiba-tiba ....


Sing! Sing! Jleb! Jleb!


__ADS_2