Rasa Masa Lalu

Rasa Masa Lalu
Bab 11 Wahono


__ADS_3

Bab 11 Wahono


Di sudut kota Sidoarjo, tepatnya sebuah rumah yang lumayan mewah, seorang lelaki setengah baya sedang berbincang dengan putranya.


"Bagaimana kelanjutan langkahmu, nak?" tanya Wahono pada Robert putranya.


"Sampai detik ini aku sudah yakin bahwa Aisyah Hendrawan adalah anak dari Paman Edward, Ayah. Namun ibunya Aisyah ini yang membuat saya semakin bingung, mengapa nama belakangnya Hendrawan?" papar Robert.


Mereka berdua terdiam, jari jemari Robert terus bergerak menekan tuts demi tuts hingga akhirnya matanya terbelalak sempurna mendapati artikel yang lama.


"Ayah, lihatlah ini," kemudian Robert mengeser laptopnya menghadap ayahnya.


"Apa ini? Mengapa kita bisa salah sasaran," cicit Wahono.


Robert menghela nafas seakan tak percaya, bahwa Aisyah adalah cucu kandung Hendrawan sedangkan Carissa adalah cucu akibat hubungan gelap Hendrawan. Sungguh salah perhitungan.


"Nasi sudah jadi bubur ayah dan Carissa saat ini sedang mengandung benihku. Biarkan aku melanjutkan hidupku bersamanya dan harta mendiang Handrawan," papar Robert pasrah.


"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusanmu, lanjutkan misimu untuk mendapatkan hak itu. Sekarang fokusmu pada keluarga Hendrawan, biar ayah yang menuntaskan dendam ini pada Alatas Pamanmu," ucap Wahono mantap.


Pembicaraan keduanya berakhir dengan tujuan terbelah menjadi dua kubu, Robert dengan target harta warisan Hendrawan sedangkan ayahnya kekuasan mutlak dari keluarga Alatas.


Sementara di sebuah rumah keluarga Hendrawan, semua anggota berkumpul. Tiba-tiba Carissa berlari ke arah closet di ruang makan.


Carissa merasakan mual, kepengen muntah makanya dia berlari ke arah kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya hingga terasa pahit di lidah.


Luisa menghampiri putrinya dan memijat lembut tengkuknya sambil berkata, " ada apa denganmu Cariss?"


"Mungkin hanya masuk angin saja, mah, anak kita kelihatan sangat lelah," balas David


Mendengar jawaban ayahnya, Carissa mengangguk membenarkan. Namun Luisa masih bergeming, menatapi wajah putrinya yang tampak layu bukan karena kelelahan. Ada sesuatu yang di sembunyikan darinya, Luisa percaya akan penglihatannya dan perkiraannya tidak pernah meleset.


"Cariss, kau harus jujur dengan mama!" decih Luisa


"Cariss tidak apa-apa, mah. Nanti bila sudah waktunya akan Cariss jelaskan. Sementara ini biarkan Cariss urus sendiri," cicit Carissa.

__ADS_1


Setelah berasa enakan, Carissa melangkah meninggalkan kedua orang tuanya menuju kamarnya. Dalam kamar Carissa melihat kalender kapan terakhir dy datang bulan, matanya terbelalak sempurna kala mendapati sudah sebulan ini dy tidak datang bulan sejak malam itu.


'Mengapa aku bisa ceroboh seperti ini' batinnya, kemudian tangannya merogoh laci tempat Cariss menyimpan semua alat kontrasepsinya dan mengambil sebuah alat tes peck dan melangkah masuk kamar mandi.


Carissa memang ikut pergaulan bebas, tiap alat kontrasepsi sia miliki dengan tujuan agar tidak terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.


Setelah semua selesai maka di masukkan alat itu dalam wadah penuh urinnya, 'tunggu beberapa menit, Cariss,' gumam Cariss. Hatinya mulai berdebar, tangan dan kakinya bergetar mendapati hasil tes peck itu.


Segera dia keluar dari kamar mandi dan mencari ponselnya untuk menghubungi Robert dan membicarakan masalah kehamilannya.


[Hallo!]suara dari sebrang


[Kita harus ketemu hari ini.]


[Di mana sayang, apa kamu sudah merindukanku?]


Robert mencoba bercanda dengan Carissa, karena memang dia sangat rindu dengan permainannya.


[Lebih dari itu, ini masalah serius, Robert. Aku tidak main-main.]


[Oke, nanti aku kabari bila sudah mendapatkan tempat dan harinya.]


Setelah berkata itu Cariss memutuskan sambungan secara sepihak, sementara di pihak Robert, dia hanya tersenyum seakan sudah bisa menebak apa topik bahasannya nanti.


"Kau tidak akan bisa lepas dariku Cariss, nikmati saja hidup bersamaku," gumam Robert.


Beberapa hari kemudian di saat Robert sedang makan bersama ayahnya, ponselnya berdering akhirnya dia pamit untuk mengangkatnya.


[Temui aku malam ini jam 19.00 di cafe x di Jalan Merbabu, jangan lupa!]


[Oke, siap Tuan Putri Carissa.]


Terdengar nada tut tut, sambungan terputus, Robert tersenyum. Dia sangat senang akan berita ini, apa pun yang terjadi janin itu harus tetap tumbuh di rahim, Carissa.


"Mengapa dengan wajahmu, nak?" tanya Wahono.

__ADS_1


"Carissa mengajak ketemuan membahas sesuatu, sepertinya dia sudah menyadari jika saat ini ada benih yang tumbuh dalam rahimnya, Ayah. Sebentar lagi Ayah akan jadi seorang kakek. Berbahagialah!" ucap Robert berlalu meninggalkan ayahnya yang masih terbengong mendengar kalimat anaknya.


"Benarkah itu, Rob? Aku akan jadi kakek, oh Tuhan. Terima kasih!" ucap syukur Wahono.


Malam telah tiba, Robert melihat pantulan dirinya di cermin bibirnya bergerak, 'lihatlah ayahmu ini baby, kau pasti setampan ayah jika kelak kau lahir,' gumamnya.


Setelah semua siap, Robert turun dari lantai dua sambil bersiul tampak raut gembira di wajahnya. Dendam yang dulu di tanamnya perlahan memudar seiring rasa yang tumbuh di hatinya, apalagi saat ini benihnya sudah mulai tumbuh.


"Wah, yang mau nge-date. Jaga janin dan ibu baik-bail Rob, jangan mudah terbawa emosi."


"Siap ndan," jawab Robert.


Sementara Carissa yang datang duluan menunggu Robert penuh gelisah, duduknya tidak tenang, matanya selalu mengarah pintu masuk menanti datangnya orang yang akan menghalangi langkahnya. Tampak lelaki berjas putih dengan kancing terbuka memakai dalaman kaos putih terlihat tampan dan gagah berjalan mendekatinya.


"Maaf terlambat, say," ucap Robert saat di depan Cariss dan duduk di sampingnya setelah mencium sekilas pipi kanan Cariss.


"Aku juga baru sampai kok, aku langsung saja ya, say," setelah berkata Cariss merogoh tasnya mengambil hasil tes urinnya siang hari tadi pada Robert dan menyerahkan padanya.


Saat menerima hasil itu, Robert pura-pura termangu dan terlihat bodoh.


"Apa ini maksudnya Cariss?" menampilkan wajah bodohnya membuat Cariss makin kesel.


"Iih, itu alat tes kehamilan, aaay. Iih, apa kamu tidak mengerti?" decih Cariss kesal


Wajah oon Robert kembali terlihat, sekilas ada senyum tipis sebentar menghilang kembali menampakkan wajah oon lagi.


"Oh, terus aku harus bagaimana sayangku, cintaku Carissa Hendrawan?" ucap Robert sedikit lebay hingga membuat Cariss semakin kesel.


"Apa aku harus segera meminangmu?" lanjut Robert penuh harap.


"Aku tidak mau nikah denganmu, tunggu! Aku harus dapatkan Anand Alatas. Janin ini akan aku gunakan untuk menjebaknya, mau tidak mau kamu harus ikuti mauku. Ngerti kan say?" pinta Cariss tegas tak mau terima penolakan.


Robert terdiam, memikirkan kata Cariss, 'boleh juga pemikirannya, jadi aku tak perlu repot bikin hancur keluarga Alatas. Sabar baby jika waktunya tiba kamu pasti akan kembali pada ayahmu ini, Robert Alatas' batin Robert tersenyum sinis.


"Baiklah, aku ikuti maumu say, tapi jaga janin itu baik-baik. Aku ingin anakku lahir sempurna sehat tak kurang apa pun," ucapnya.

__ADS_1


"Deal,"


__ADS_2