
Bab 20 Rumah Sakit Pelita Harapan
"Kapolres Budiman .... Baik saya tunggu di sini," kata Anand kemudian dia melangkah ke ruang tunggu. Namun belum juga duduk ponselnya berbunyi.
[Lukas!]
[Bos, saya sudah di ruang paviliun Mawar nomer dua puluh dua]
Setelah mendapatkan info dari Lukas, sambungan telepon di putus secara sepihak oleh Anand. Dia selanjutnya melangkahkan kaki menuju ruang seperti info dari Lukas.
Tok tok tok
"Masuk," suara serak dan dalam terdengar di telinga Anand, 'sepertinya bukan Lukas, siapakah dia?' batin Anand, kemudian membuka pintu perlahan dan masuk,
Pandangannya tertuju pada sosok pria setengah baya yang masih terlihat tegap, gagah dan berwibawa.
"Perkenalkan saya Budiman, dengan siapa ...?" tanya Budiman membuka suara mendahului Anand.
"Saya Anand, Pak, bagaimana ceritanya hingga asisten saya mengalami kecelakaan ini?" tanya Anand dengan nada rendah dan penuh hormat, karena Anand tahu identitas pria di depannya.
Kemudian Budiman menjelaskan kronologi kecelakaan itu, Anand mendengarkan dengan seksama tiap kata yang terucap.
"Jika memang ini di sabotase oleh orang kira-kira siapa, apakah Bapak Anand ada musuh saat ini?" tanya Budiman dengan nada rendah.
"Tuan, mungkinkah ...." ucap Lukas sedikit meragu.
"Nanti aku akan hubungi pihak manager Cafe XX untuk minta rekaman cctv tempat parkir," lanjut Lukas.
"Sembuhkan lukamu dulu, soal ini biar di tangani Alin," ucap Anand tegas.
Setelah berkata Anand mengajak Bapak Budiman duduk di sofa yang tersedia untuk berbincang mengenai kecelakaan yang di alami Lukas.
Kapolres Budiman siap membantu proses pencarian bukti sabotase sepeda motor Aisyah, dia merasa ikut bertanggung jawab atas kecelakaan itu.
****
[Hallo, bos!]
__ADS_1
Suara dari sebrang saat Carissa melakukan panggilan terhadap anak buahnya yang telah mensabotase motor Aisyah.
[Bagaimana hasilnya?]
[Sasaran ternyata di bonceng Tuan Alatas, bos. Tapi kami mendapat info bahwa asistennya mengalami kecelakaan akibat naik motor snopy putih itu.]
[Sial, kenapa bisa seperti ini. Ya sudah biaya saya potong karena melenceng dari perkiraan.]
Selesai berbicara Carissa memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak, kemudian dia melempar ponselnya sembarangan, 'sial--sial, mengapa kau sungguh beruntung wanita rubah,' umpat Carissa dengan mengeram penuh emosi.
Carissa mengamuk hebat, lambat laun tubuhnya terasa lemas dan tertidur dalam keadaan lelah.
****
BANYUWANGI
Nia, setelah mendapatkan ijin Aisyah segera mengemasi barang-barangnya untuk pulang ke Banyuwangi. Mengusut tuntas masalah perkebunan yang tertunda, setelah semua barang selesai di kemas Nia turun ke lantai satu dengan membawa koper pribadinya.
"Selamat pagi, Ai," sapa Nia dengam nada ceria di ruang makan.
"Pagi juga,Kak Nia. Sudah siap saja ya kakakku ini. Sarapan dulu yuuk," ajak Aisyah dengan nada sedikit manja.
Mereka sangat kompak dalam hal mengerjakan sesuatu sejak kecil. Hal itu selalu diajarkan simbok, saling bantu saat suka dan duka.
"Aahh, akhirnya semua beres dan bersih. Aku langsung pamit ya, Ai?" ucap Nia sambil memeluk sahabat yang sudah di anggap sebagai adiknya sendiri.
"Titip salam buat simbok, Kak, bilang Ais kangen!" kata Aisyah.
Nia menganggukan kepalanya tanda dia setuju menyampaikan pesan itu. Taksi online yang dipesan sudah sampai depan rumah. Satpam rumah sudah memberitahukan perihal kedatangan taksi itu lewat telepon yang terhubung di rumah induk dan pos penjaga.
Nia melangkah meninggalkan Aisyah yang masih berdiri di depan pintu, setelah sampai halaman tempat taksi berhenti Nia berhenti sejenak, dipandanginya rumah megah dan sekitarnya tempat dia dulu dibesarkan penuh kasih sayang semua penguninya tanpa terkecuali.
'Nini rumah ini masih sama seperti saat Engkau tinggalkan hanya menyisakan kenangan, aku akan selalu melindungi cucumu, Nini,' gumam Nia tanpa terasa air matanya keluar.
'Ayah, Ibu, Nia minta restumu di sana, restuilah tiap langkah anak kalian di sini. Aku harus selalu di sisimu, Aisyah. Kau satu-satunya semangatku selain simbok' lanjut Nia.
Setelah puas memandang rumah megah itu Nia memasuki taksi online, manata bawaannya dengan rapi, kemudian duduk di kursi penumpang.
__ADS_1
"Sudah,Pak, jalan ke Terminal Purabaya!"
"Baik, Mbak," balas sopir taksi.
Taksi meluncur meninggalkan kediaman Aisyah menuju terminal, perjalanan lancar tanpa kendala apapun. Nia telah sampai terminal, membayar argo taksi yang tertera di mesin setelahnya kakinya melangkah memasuki jalan khusus penumpang bus umum.
Sampailah Nia di pemberangkatan bus antar kota khusus jalur timur, Bondowoso, Jember dan Banyuwangi. Nia memilih tempat tepat di belakang sopir agar memudahkannya saat turun nanti.
Perjalanan menuju Banyuwangi memakan waktu enam jam, waktu yang lumayan lama. Diraihnya ponsel dalam saku jaket, Nia berbalas chat dengan Alin.
[Alin, bagaimana perkembangan kasus keracunan di perkebunan kemarin?]
[Aku dan Anton terus mencari jejak dalang pelaku utama, Kak. Namun buntu saat jejaknya berhenti di kedai kopi tempat Nina Aisyah bekerja. Maaf!]
[Seperti itu ya, heemm ... baik, mengenai hasil panen, bagaimana?]
Alin menjelaskan secara detail akibat dari menyebarnya hewan pengerat itu, buah yang masih bisa di selamatkan segera di panen meski belum waktunya. Buah yang sudah siap panen segera di penen sebelum hewan itu merusak yang ada.
Buang yang masih segar segera di bagi pada penduduk sekitar, buah yang setengah masak di bungkus dan dijual di luar kota. Kerugian semua mencapai dua ratus lima puluh juta. Begitu penyelesaian masalah perkebunan yang di racuni pembelot.
[Baiklah, semua sedah terjadi. Aku perjalanan pulang saat ini, nanti tolong di jemput di tempat biasa!]
[Baik, Kak. Kabari saja jika sudah dekat penurunan biasanya, agar nanti tidak lama menunggu.]
Setelah selesai penggilan di matikan, Nia memanfaatkan waktu tersisa dengan tidur dalam bus tersebut.
Akhirnya Nia sampai pada tujuannya dan Alin juga sudah meniemputnya, mereka langsung melaju pulang ke rumah Aisyah.
"Simbok, Nia sudah sampai,"
"Nia, kamu sendiri nduk, mana Aisyah?" tanya simbok.
"Aisyah masih di Surabaya, Nek. Kakek Kardiman sudah membongkar semua rahasia keluarga pada Aisyah," jelas Nia dengan suara lirih.
Simbok mendengarkan semua cerita Nia selama di Surabaya, cerita juga masalah operasi wajah Aisyah di Singapura. Nia juga berjumpa dengan Kakak sepupunya Usman, yang sekarang sudah berkeluarga dan memiliki seorang putri yang cantik berusia satu tahun.
Simbok terharu mendengar kabar cucu lelakinya yang telah berkeluarga hingga air mata keluar tanpa permisi.
__ADS_1
"Terimakasih ya Robb, karena Engkaulah sang pengatur segala, kami berlindung padaMu," ucap simbok merasa sangat bahagia dan bersyukur atas nikmat yang telah di dapatnya.
"Setelah kakakmu berkeluarga, sekarang giliranmu. Kapan itu, nduk?" imbuh simbok dengan mengelus lembut punggung tangan Nia.(nduk\=panggilan anak perempuan jawa)