
Bab 33 Serenia
Semua mata memandang leher jenjang Serenita, tepatnya di tengah tengkuk yang halus.
"Itu, ada seperti tato hitam, apakah sengaja atau bawaan lahir?" tanya Nia lalu berdiri untuk memastikan penglihatannya.
Serenita tetap berdiri dengan memegang rambut panjangnya dan sedikit menunduk agar Nia bisa melihat jelas tengkuknya, karena tinggi Nia hanya 170cm sedangkan Serena 175cm.
"Ini, mengapa gambarnya sama dengan punyaku, siapa sebenarnya kamu? Tunggu."
Nia melangkah masuk dalam rumah menuju kamar pribadinya, sampai dalam kamar dia mengambil album dan membawanya ke teras belakang rumah tempat semua berkumpul untuk menunjukkan album lama.
"Ini ada album lama, lihatlah! Apakah kamu mengenal salah satu sosok dalam foto itu?" ujar Nia sambil menyodorkan album lama pada Serenita.
Serenita menerima album lama dan membukanya satu per satu, saat membuka halaman lima matanya melotot, "bagaimana foto lama ini ada di kamu? Foto itu hilang saat aku usia 10 tahun," ucapnya.
"Jadi kamu anak kecil itu, yang memakai baju pink?" tanya Nia.
Tap tap tap
Terdengar langkah kaki mendekat, muncul sosok Usman Ali dengan membawa beberapa berkas. Usman melangkah mendekati Aisyah dan berkata, "Nona, ini berkas yang tertinggal."
Aisyah menerima berkas yang di berikan Usman Ali, dibuka perlahan tiap lembarnya. Pandangannya tertuju pada Nia dan Serenita bergantian.
"Kalian berdua memiliki kesamaan identik, Kak Nia, tolong singkap rambut Kakak perlihatkan tengkuk Kakak!"
Nia menuruti perintah Aisyah, saat Aisyah mendekat kepalanya di tundukkan agar Aisyah bisa melihat tengkuknya.
"Kak, ini ada tanda yang sama dengan punyaku. Sesuai berkas ini, di sini tertulis bahwa cucu Kakek Kardiman memiliki tanda harimau menunduk. Berarti Kakak berdua adalah cucu kakek," papar Aisyah.
"Benar apa yang Nona Aisyah ucapkan. Sebenarnya Nia bernama Serenia Lowrens, mengapa mengambil nama Lowrens karena Bunda kalian ingin identitasnya tidak di ketahui oleh Wahono." Akhirnya Usman Ali angkat bicara sesuai fakta yang dia ketahui.
Semua semakin tidak mengerti pola pikir seorang Kardiman, mengapa bisa tercecer cucu perempuannya. Apa alasan Kardiman berbuat seperti itu.
"Berarti sekarang mulai jelas indentitas kalian bertiga, saya bertanya padamu, Serenita. Apakah orangtuamu saat ini masih hidup?" ujar Alatas.
__ADS_1
"Papi, Mami telah meninggal dalam perjalanan bisnis ke Eropa karena kecelakaan pesawat. Namun, mami sempat memberi tahu saya akan keberadaan kerabat saya di sini, Indonesia," papar Serenita.
Alatas terus mencari informasi tentang keluarga Serenita yang berada di Jerman. Semua di tanyakan agar lebih jelas identitas ketiga cucu perempuan sahabatnya yang tidak di ketahuinya.
"Jika Aisyah, saya sudah yakin dia cucu Kardiman tapi jika kalian berdua Serenita dan Serenia, saya masih ragu. Seingat saya, Laura hanya melahirkan seorang anak lelaki," papar Alatas.
"Tidak, Tuan. Saat terakhir memeriksakan kehamilan, Nyonya Laura di nyatakan hamil kembar identik tapi berbeda kelamin," jelas bibi
"Benar, saat itu Nyonya sangat mengkhawatirkan bayinya yang perempuan. Beliau takut jika ketahuan keluarga besar Kardiman, bayi perempuan itu pasti akan di bunuh," sambung Simbok.
"Hasyim, kamu kan seorang dokter. Coba lakukan tes dna ketiga gadis kalian itu, pastikan lebih akurat. Itu nanti yang akan jadi bukti semua kelak di kemudian hari," papar Alatas.
Hasyim mengangguk menyetujui usul Alatas, hari sudah malam semua merasa harus di sudahi dan beristirahat dalam kamar masing-masing yang sudah di sediakan tuan rumah.
"Sebentar, Ai!" tiba-tiba Anand meraih tangan Aisyah dan menariknya dalam pangkuannya.
"Aaah!" Teriak Aisyah begitu tangannya di tarik Anand, membuat yang lain membalikkan badannya.
"Hai, belum muhrim ya!" teriak Hasyim.
"Jangam bikin nangis hati jomblo ini, Bos!" ucap Lukas.
Gerakan Aisyah makin membuat Anand tidak nyaman, dia berbisik pada telinga Aisyah, "jangan kamu coba bangunkan singa yang sudah tidur puluhan tahun, sayang!"
"Aabang, apaan sih!" ucap Aisyah malu.
"Iih, malu tuh, merah gitu mukanya?" goda Nia dengan sedikit lantang.
Mereka semua tertawa bersama tanpa hiraukan wajah Aisyah yang merah padam karena malu campur marah.
"Sayang, jangan bergerak, diamlah. Abang masih sangat rindu aroma ini. Biarkan abang peluk kamu seperti ini, sebentar lagi," ujar Anand tepat di belakang telinga Aisyah.
Aisyah yang merasakan hebusan nafas Anand membuat bulu kuduknya berdiri. Merinding nikmat, hingga dia seperti mau buang air kecil.
"Abang, ough. Sudah ya, Aisyah tidak sanggup. Maaf," setelah berkata seperti itu, Aisyah berlari ke dalam masuk kamarnya menguncinya dari dalam.
__ADS_1
Anand yang di tinggal sendiri oleh semuanya hanya tersenyum, melihat cantiknya wanita idaman membuatnya tidak berdaya.
****
Sementara di rumah Wahono, Robert tampak mengulik komputernya dengan serius. Hingga Wahono masuk pun dia tidak menyadarinya.
"Boy, bagaimana? Apakah sudah menemukan titik terang dari semua masalah ini?" tanya Wahono pada anaknya, Robert.
"Belum, Pah. Masih abu-abu. Tapi untuk Aisyah, dia sudah pasti cucu Kardiman. Anak dari Edward tapi untuk wanita yang mirip Bibi Laura masih abu-abu, Pah," jelas Robert.
"Apa dulu Edwart memiliki kembaran ya, Boy?" tanya Wahono pada anaknya.
Robert ikut berfikir mencari celah akan perkiraan dari papahnya, dia tersenyum membayangkan jika perkiraan itu benar. Robert akan mencari bukti akurat melalui tes dna.
"Bagaimana jika kita tes dna, Pah?" usul Robert.
"Iya usul yang bagus segerakan itu!"
"Baik, Pah. Besok Robert akan mulai bergerak," balas Robert.
Mereka terlibat pembicaraan yang serius membuat keduanya makin tenggelam dakam beberapa rencana untuk penjebakan bahkan pembunuhan ahli waris dari Kardiman.
"Pah, bagaimana jika kita menggunakan jasa penembak jitu?" usul Robert tiba-tiba setelah semua jalan yang pernah di cobanya gagal.
"Tidak perlu, karena papah sudah pernah menyewa penembak jitu tetap gagal. Bahkan senjata kaliber milik Kardiman yang aku ambil telah dikuasai Anand," jelas Wahono.
Semua rencana hampir menemui jalan buntu di akhir cerita, keduanya membahas sampai larut malam.
"Sudah malam, Pah. Sebaiknya kita tidur dulu, besok kita jalankan rencana awal. Mencari kepastian akan wanita yang menginap di hotel kita," ucap Robert.
"Baiklah, Boy. Mari kita istirahat. Met malam," balas Wahono lalu berdiri dan melangkah meninggalkan Robert yang masih duduk dalam ruang kerjanya.
Wahono masuk dalam kamarnya, pandangannya tertuju pada sebuah foto wanita muda yang kecantikannya membuat dia tergila-gila.
"Laura Lowrens, seharusnya kamu milikku sayang! Jika mau menikah denganku, semua kekacauan ini tidak akan terjadi pada keluargamu. Kamu yang membuatku gila," ujar Wahono berbicara pada sebuah foto wanita muda yang sangat cantik.
__ADS_1
"Tapi aku masih bisa mereguk madumu hingga tuntas, sesaat sebelum kamu meregang nyawa. Ha ha ha." tawa Wahono memgelegar hingga kamar mandi, di sana dia menuntaskan hasratnya yang tiba-tiba naik hanya sekedar mengingat pergumulan terakhirnya dengan Laura.
"Aahh, kamu sudah lama jadi mayat tapi mengapa begiti nikmatnya rasa ini, Llaauura?" teriak wahono saat pelepasan yang dia rasakan.