
Bab 18 Cafe XX
Anand yang sendiri di handang oleh empat orang brandal di daerah sepi orang, dengan gerakan gesit di tangkis Anand dengan tangan kosong.
Brak bug bug
Tendangan Anand mengenai lengan lawan, belum sempat Anand berdiri di sambut sebuah sapuan kaki lawan menyerang kakinya. Angin yang membawa gerakan lawan telah terbaca oleh Anand dengan lincah di hentakkan kaki kanannya sebagai pijakan dia untuk melompat ke atas.
Lawan pun ikut gerakan Anand melompat ke atas tapi saat badan lawan hampir mendekat tiba-tiba pukulan keras dari Anand menghantam rahangnya dan jatuh ke tanah dengan diiringi suara retaknya beberapa tulang punggung disertai semburan darah segar dari mulutnya.
"Biadap, kau ...!" ucap pria kurus emosi setelah melihat keadaan kawannya, dia langsung menyerang Anand membabi buta.
Hal ini di manfaatkan Anand untuk membiarkan tenaga si kurus terkuras tuntas hingga terdapat ruang serang yang terbuka, dengan segera Anand melayangkan tendangan salto dan pukulan hampir bersamaan bertubi-tubi mengenai tulang rusuk kiri dan rahang kanan lawan.
Akibatnya si kurus mengalami patah tiga ruas tulang rusuk dan gigi yang lepas sebanyak empat buah, darah mengucur dari bibirnya.
Melihat dua kawannya yang tak berdaya segera si hitam mengeluarkan belatinya, berlari membawa belati mengarah ke perut Anand.
Melihat hal itu, Anand melepas jaket kulitnya dan menaikan kemejanya sebatas lengan dengan gerakan apik tangan si hitam terbelit jaket kulit Anand. Si hitam melonggo tak percaya akan gerakan itu, 'bagaimana bisa secepat itu,' batin si hitam.
Diputar jaket yang membelit tangan si hitam hingga mencekik lehernya, "katakan?" ucap dengan lantang.
"A-aku sendiri ...." balas si hitam terbata.
"Bohong, kau ingin mati?" di tekan jaket kulit itu hingga lidah si hitam hampir keluar.
Sungguh mengerikan seorang Anand bila sudah keluar aura pembunuhnya. Setelah tidak ada pergerakan, maka dilemparkan begitu saja tubuh si hitam oleh Anand ke arah sisa kawanan si hitam.
"Aahk, ampun, jangan kau bunuh aku. Aku bukan teman mereka," ucap pemuda itu.
"Apa yang kamu lakukan, heh?" tanya Anand dengan suara lantang.
Pemuda yang tersisa sangat ketakutan melihat Anand yang berjalan mendekatinya, tidak terasa celana yang dia pakai telah basah akibat air kencingnya sendiri.
"Katakan, siapa dibalik ini semua?" ucap Anand dengan suara lebih keras.
"A-aku tidak tahu, Tuan. Bang Zilan si Hitam yang tiba-tiba mengajakku dengan iming-iming uang tiga ratus ribu bila rencana ini berhasil," papar pemuda itu.
Anand memandang lekat pemuda itu, terlihat kejujuran dalam sinar matanya. Perlahan Anand menurunkan emosinya, telapak tangannya mengusap wajah lelahnya dan merapikan kembali rambut yang berantakan akibat perkelahian tersebut.
"Baiklah, kali ini kau, aku maafkan. Namun jika lain kali aku melihatmu, maka larilah selagi kau bisa sebelum nyawamu melayang. Paham! Tunggu siapa namamu bocah?" kata Anand dengan tegas dan aura dingin.
"Te--terimakasih, Tuan. Nama ku - Rafli. Anak Pak Sodiq dari kampung Rambutan," kata Rafli dengan suara bergetar.
Setelah menyebutkan nama lengkap dengan ayah dan kampungnya, Rafli langsung balik kanan menaiki motor zeroxnya dengan brutal melesat pergi tanpa menghiraukan tiga mayat rekannya tadi.
Melihat kepergian Rafli seperti di buru hantu, Anand tersenyum. Kemudian dia merogoh saku jaketnya, mengambil ponselnya untuk menhubungi Lukas.
[Hallo, Bos,]
[Bereskan sisa pertempuranku arah jam 9 dari jalan Kaswari, secepatnya dan cari tahu lebih detail masalah ini!]
__ADS_1
[Segera, Bos, Cafe XX sudah saya reservasi tempat untuk Anda.]
Setelah mendengar jawaban pasti dari Lukas, Anand melajukan motor semoxnya menuju jalan Merbabu, Cafe XX.
Sementara Aisyah setelah mendapat telepon dari pujaannya langsung bersiap diri, memilih baju yang akan dia pakai. Mematut di cermin sudah pas atau belum, di depan cermin Aisyah tersenyum sendiri membayangkan perjumpaan dengan Anand.
Selesai berberes Aisyah turun ke lantai satu, berpesan pada bibi agar tidak usah membuatkan dia makan malam karena dia akan makan malam bersama Anand.
Aisyah malajukan motor snopynya dengan kecepatan sedang, suasana menjelang sore cukup padat lancar jadi hanya dengan waktu tiga puluh menit dia telah sampai Cafe XX.
"Selamat sore, Mbak. Sudah pesan tempatkah?" tanya pelayan dengan ramah.
"Atas nama Tuan Anand, apa beliau sudah pesan tempat?" ucap Aisyah balik bertanya.
"Ough, dengan Tuan Anand. Mari saya antar ke meja pesenan beliau, Mbak!" kata pelayan Cafe XX ramah.
Aisyah melangkah mengikuti arahan pelayan menuju meja yang telah di reservasi Anand.
Aisyah duduk menghadap air tejun buatan yang tampak alami, senyumnya mengembang saat melihat meja reservasi Anand untuknya, 'Bang, kamu sungguh pandai memilih tempat,' gumam Aisyah lirih.
Sebuah motor zerox hitam memasuki parkiran Cafe XX, setelah parkir sesuai tempatnya Anand melangkah masuk dan langsung menuju meja reservasinya.
Dari pintu masuk Anand sudah dapat melihat bahwa Aisyah telah datang lebih dulu, bibirnya mengulas senyum dan sebelah tangannya bergerak cepat memetik setangkai bunga anggrek bulan yang berjuntai tiang yangbdi lewatinya.
"Selamat sore, Nona cantik. Kupersembahkan bunga ini untukmu, Jingga," ucap Anand dengan pose jongkok dan membungkuk mempersembahkan bunga itu.
Aisyah membungkam bibirnya melihat sikap Anand padanya, "Aa-bang," ucap Aisyah sedikit malu dan manja.
Menerima perlakuan yang halus seperti ini membuat Aisyah tersenyum malu.
"Sehat Abang, bagaimana denganmu bang?" balas Aisyah.
"Abang sangat merundukanmu, Jingga,"
"Mengapa Abang masih memanggilku Jingga? Ini bukan di kampungku lho," kata Aisyah sedikit protes dengan bibir cemberut mambuat Anand ingin ******* bibir itu.
"Aku lebih senang memanggilmu dengan Jingga, Ai. Jangan membuatku ingin melahapmu yaa!" ucap Anand membuat Aisyah bergidik ngeri.
Mereka bicara dan bercanda berdua tanpa melihat waktu, hingga malam akhirnya Anand mengambil keputusan untuk makan malam di Cafe sekalian.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat keakraban keduanya, kaki yang jenjang dengan sepatu berhak tinggi melangkah mendekati meja Anand.
"Seperti inikah kelakuan seorang Anand Alatas? Meninggalkan tunangannya demi perempuan lain?" ucap Carissa dengan nada sedikit tinggi.
Mendengar suara yang familiar Anand menoleh untuk memastikan pendengarannya, "apa urusan Anda, Nona?"
"Tuan Anand Alatas, apa anda lupa, akulah tunanganmu bukan wanita ini!" decit Carissa dengan pandangan sinis ke arah Aisyah.
Aisyah yang merasa pernah melihat wajah Carissa hanya mengulas senyum tipis selanjutnya pandangannya kembali ke piring di depannya, tangannya sudah asyik menyuap menu yang terhidang tanpa perdulikan keduanya.
Anand yang malihat sikap Aisyah hanya tersenyum tipis sambil geleng kepala, sungguh wanitanya bagaikan gunung es tak tersentuh.
__ADS_1
"Aku lagi amnesia, pergilah kau tidak diperlukan di sini! Mbak, tolong usir wanita ini!" kata Anand cuek dan meminta tolong pelayan untuk mengisir Carissa.
Carissa sangat tersinggung akan ucapan dan perlakuan Anand saat itu, dia pergi dengan wajang kesal, "kau akan menanggung semua maluku malam ini wanita rubah, ingat itu!"
Setelah mengancam Carissa pergi dari Cafe tersebut dan selera makannya sudah hilang. Sampai tempat parkir dia melihat motor snopy berjejer dengan zerox hitam milik Anand, 'ini, ini pasti motor milik si rubah betina itu. Nah mungkin sedikit pelajaran untukmu, nikmati sensasi bermotor tanpa kendali rubah!'
Sementara di dalam Cafe, Anand terlihat berbincang serius masalah keluarga Aisyah dari ibunya. Aisyah mendengarkan semua informasi penting tetsebut.
"Jadi aku dan wanita tadi itu masih ada hubungan darah, seperti itu ya, Bang?" tanya Aisyah dengan suara lirih.
"Iya benar, Ai. Kalian satu ayah beda ibu. Apa kamu tidak ingat wajah pamanmu, Ai?" tanya Anand.
"Ingat-ingat lupa," balas Aisyah santai, seakan tidak mempengaruhi jalan hidupnya.
Kembali Anand menggelengkan kepala atas respon Aisyah yang sangat santai. Sungguh wanita ini benar-benar tidak perduli.
"Ai, coba datangilah keluarga pamanmu itu. Kita lihat bagaimana reaksi mereka saat kamu memasukinya!"
Aisyah diam berfikir, bagaimana cara dia memulai hubungan yang sudah lama dia lupa. Bahkan sentuhan sang nenek pun dia lupa. 'Tuhan, lakon apa yang Engkau beri untukku.' batin Aisyah.
"Baiklah, Bang, akan aku pertimbangkan usulmu ini. Sekarang sudah malam, baiknya aku pulang dulu." pamit Aisyah pada Anand.
Anand berdiri menarik kursi Aisyah kebelakang memberi jalan untuk wanitanya agar leluasa berdiri, setelah Aisyah berdiri di peluknya tubuh nan ramping itu dan di cium hangat ujung kepala Aisyah penuh cinta.
"Mari, Ai, abang antar sampai rumah tapi kita boncengan ya. Maukan?" tawar Anand dengan nada rendah sambil berjalan menuju tempat parkir.
Aisyah memandang motor kesayangannya, menimbang saran Anand. Akhirnya dia memutuskan pulang dengan di antar Anand berboncengan motor zerox hitamnya.
"Motor Ais, bagaimana nanti, Bang?"
"Nanti biar Lukas yang membawanya pulang, sebentar aku hubungi Lukas tentang ini," jalas Anand.
"Itu lebih baik, Bang."
Anand mengambil ponselnya untuk menghubungi Lukad dan memberitahukan masalah ini.
[Hallo!]
[Lukas, tolong urus motor Aisyah di parkiran Cafe XX nanti minta saja kunci di pos!]
[Baik, Tuan.]
Setelah hubungan terputus, Anand segera menstater si zerox miliknya dan memakaikan helm untuk Aisyah.
"Sudah siap, mari Ai, naiklah aku bantu!" kata Anand dengan suara lirih.
"Sebentar Bang,"
Aisyah membenarkan tas yang dibawanya, setelah siap dia naik ke motor zerox dengan bantuan tangan Anand.
"Nah, sudah siap. Mari jalan, Bang!"
__ADS_1
Motor itu mulai meninggalkan tempat parkir Cafe XX perlahan.