Rasa Masa Lalu

Rasa Masa Lalu
Bab 21 Banyuwangi


__ADS_3

Bab 21 Banyuwangi


Nia hanya tersenyum dalam menanggapi pertanyaan neneknya, dia melangkah meninggalkan nenek. Baru beberapa langkah, Nia berhenti dan berbalik badan. Pandangannya tertuju pada Alin.


"Al, sudah selesai tugasmu hari ini. Istirahatlah, aku akan bergerak sendiri, selanjutnya kamu bantu Anton dan Rian menangani perkebunan, dan tambak yang sebentar lagi akan panen," papar Nia


"Baik, Kak," balas Alin


Alin segera melangkah keluar setelah pamit pada simbok, dia mengendarai mobilnya menuju pesisir hutan di mana markas jingga berada.


Perjalanan dari rumah Aisyah untuk sampai ke markas Jingga membutuhkan waktu dua jam, Alin melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Setelah sampai Alin masuk ke gedung tua markas jingga.


"Rian, di mana Pembelot itu?" tanya Alin pada Rian temannya dalam markas.


"Masih di ruang eksekusi kak." balas Rian santai.


Alin melangkahkan kaki menuju ruang yang di maksud, dibukanya pintu, melangkahkan kaki mendekati Adit, -- pembelot.


"Bagaimana, apakah kamu sudah ingat?" tanya Alin dengan tegas dan penekanan pada kata ingat.


"Saya benar-benar tidak tahu siapa Wahono, awalnya saya hanya orang biasa kemudian enam bulan yang lalu ada pria yang menawari saya pekerjaan ini dengan di iming-iming uang."


Adit diam sejenak menghirup nafas panjang, matanya menatap Alin sendu. Wajahnya kembali menunduk, jemarinya saling bertaut. Tampak gelisah dalam setiap gerakannya.


"Pria asing itu mengaku bernama Sopian, datang ke kota ini atas perintah Robert pemilik kedai kopi di Surabaya. Sopian sendiri bekerja langsung di bawah Tuan Wahono, Robert ini adalah anak dari Tuan Wahono. Itu yang saya tahu, Mbak," lanjut Adit dengan nada pasrah.


Alin mendengarkan semua keterangan Adit penuh seksama kemudian dia melangkah ke meja mengambilkan segelas air untuk Adit.


"Minumlah dulu, kamu pasti haus!" ucap Alin.


"Terimakasih."


Adit mengambil gelas berisi air putih dari tangan Alin dan meminumnya hingga tandas tak tersisa.


"Sekarang apa rencanamu?" tanya Alin.


"Saya ingin terbebas dari beban dosa ini, Mbak. Apa yang harus saya lakukan?" tanya Adit merasa bingung harus mengambil keputusan bagaimana.


Alin terdiam, berfikir sejenak apa yang baik untuk Adit.


"Apa kamu benar-benar ingin insaf? Jika niatmu seperti itu, maka bekerjalah di perkebunan kami lagi. Rawatlah tumbuhan yang keracunan menjadi seperti semula, itu penawaran dari kami. Bagaimana?"


Adit tersenyum dan langsung sujud sukur atas hikmah yang indah, kata maaf dari Alin juga ditariknya dia untuk bekerja lagi meski penuh tantangan.


****


Surabaya


"Pah, kapan acara pertunangan Carissa di umumkan?" tanya Luisa, ibu Carissa.


"Hari Minggu besok, Mah," balas David, ayah Carissa.

__ADS_1


Luisa tersenyum bahagia, sebentar lagi dia mempunyai besan orang kaya nomer satu di Indinesia. Sungguh fantastik.


"Cariss, turunlah!" teriak Luisa.


Mendengar suara mamah, Carissa segera turun untuk penuhi panggilannya.


"Iya, Mah, ada apa kok panggil Carissa?" tanya Carissa.


"Kita ke mall buat beli baju di acaramu Hari Minggu nanti," ajak Luisa.


"Asyik, siap, Mah. Carissa bersiap dulu."


Setelah berkata Carissa melangkah kembali ke kamarnya, membolak-balik baju. Pandangan jatuh pada sebuah gaun sabrina selutut berwarna merah menyala.


Setelah selesai Carissa turun kembali ke ruang keluarga menemui Luisa, mamahnya.


"Mah, ayo berangkat. Carissa sudah siap."


"Pah, mamah dan Carissa berangkat dulu ke mall, buat belanja persiapan acara Carissa."


Luisa mencium punggung tangan suaminya dan mengecup singkat bibir David, kemudian menggandeng tangan anaknya yang telah dulu mencium punggung tangan David.


Mereka berdua bagai kakak beradik. Luisa tidak mau kalah dengan anaknya, dia berpenampilan layaknya wanita muda. Usia boleh senja tapi penampilan tetap nomer satu, itu pedoman Luisa jadi tidak heran jika wajahnya masih terlihat segar dan cantik.


Di dalam mobil, Luisa duduk di kursi depan menemani Carissa yang duduk di belakang setir. Mengendarai mobil merah metalik keluaran terbaru membuat kedua wanita itu merasa nyaman.


"Mah, kita sudah sampai. Ayo turun."


"Tenang, Mah. Aku sudah menyiapkan sesuatu semoga berhasil," balas Carissa.


Mereka keluar masuk butik dan distro yang ada di mall itu, membeli baju yang di suka hingga kedua tangannya penuh barang bawaan.


"Huft, capek. Istirahat dulu ya, Mah?"


"Kita istirahat di sana, di stand makanan siap saji saja ya, Cariss. Mamah lapar."


Mereka berdua memesan makanan siap saji ala jepang. Sambil menunggu, Carissa melakukan chat dengan anak buahnya.


[ping!]


[Iya.]


[Apa sudah kamu dapatkan barang yang saya pesan kemarin lusa?]


[Sudah, bos, siap di gunakan. Saya pesan yang dosis tinggi, pasti puas.]


[Bagus, siapkan saja tempat yang indah di hotel yang sama dengan tempat penyelenggaraan pertunanganku di umumkan oleh pihak Alatas.]


[Baik.]


Setelah selesai melakukan chat dengan anak buahnya, Carissa kembali menyantap makanan yang ada di depannya hingga habis.

__ADS_1


"Sudah, Mah, Cariss sudah selesai. Apa kita langsung pulang?" tanya Carissa.


"Mari kita langsung pulang saja, Cariss. Hari sudah sore, nanti keburu maghrib," jawab Luisa, --mamahnya.


Mereka berdua berjalan meninggalkan stand makanan siap saji, melangkah keluar menuju tempat parkir di mana mobilnya berada. Semua barang telah di masukkan bagasi mobil, kali ini Luisa yang berada di belakang setir dan Carissa duduk di samping mamahnya.


"Maafkan Cariss, Mah. Cariss sangat capek, mungkin karena kehamilan ini hingga membuat Carissa cepat lelah," papar Carissa.


"Sudahlah Cariss, mamah tidak apa-apa jika mengemudi mobil. Mamah masih sanggup kok, santai dan buat dirimu nyaman."


Perjalanan lancar tanpa ada kemancetan jadi mereka cepat sampai rumah dengan selamat, mobil memasuki garasi sebuah rumah mewah. Semua barang telah keluar dari bagasi mobil, bibi lari tergesa menghampiri nyonya rumah.


"Mari, Nyah, biar saya bantu bawa barangnya?" ucap bibi, tangannya dengan cekatan mengambil barang yang sudah keluat dari bagasi.


"Iya, Bi. Ini tolong kamu bawa barang Carissa dan letakkan saja di kamarnya. Hati-hati bawanya, bi!" kata Luisa.


"Makasih ya, Bik," kata Carissa dengan senyum.


Bibi mengangguk menaggapi ucapan Nonanya, 'neng, kamu sangat cantik bila tersenyum begitu. Semoga nasibmu seindah senyummu,' batin bibi.


Sementara di rumah besar Alatas, Anand bersama Lukas membahas acara pertunangan yang akan di adakan hari Minggu nanti.


"Bagaimana ini Lukas, lukamu akibat kecelakaan itu belum sembuh dan penyelidikan sebab kecelakaan itu belum terungkap,"


"Santai, Bos. Tulangku hanya retak, ini masalah kecil. Alin pasti bisa menemukan siapa di balik kecelakaan itu," papar Lukas.


Saat sedang asyik membahas kecelakaan dan acara pertunangan Anand dan Carissa, ponsel Anand bergetar menandakan ada panggilan masuk.


[Hallo, Abang!]


[Ada apa, Ai, kok telepon?]


[Apa abang kasih tugas ke Alin buat selidiki kasus kecelakaan yang terjadi pada Lukas kemarin lalu?]


[Iya, Ai. Bagaimana hasilnya?]


Hening tak ada suara, masing masing diam tidak berucap sampai suara detik jam terdengar di masing-masing ponsel.


[Ai,]


[Iya, Bang. Maaf aku tadi ambil minum haus, soal tugas yang abang kasih ke Alin sudah selesai nanti akan di kirim lewat email abang saja ya,]


[Ogh, baik, tak tunggu. Hati-hatilah selalu, Ai.]


Setelah berkata Anand mematikan smbungan telepon secara sepihak tanpa pedulikan perasaan Aisyah di seberang.


Cetak!


"Sialan kau Lukas!" ucap Anand kesal akan lemparan pensil yang pas mengenai ujung kepalanya.


"Kamu yang sialan, Bos. Main putus saja sambungannya, apa yang di sana tidak kecewa? Bilang selamat tinggal atau apa gitu, ini ... aish, dasar si bos!"

__ADS_1


Mendengar ucapan Lukas, Anand hanya menepuk jidatnya dan geleng kepala, 'kanapa bisa begitu ya'


__ADS_2