Rasa Masa Lalu

Rasa Masa Lalu
Bab 37 Preman


__ADS_3

Aisyah hanya tersenyum menanggapi cerita bibinya, "iya, Bi. Aisyah tidak apa-apa. Semoga Carissa segera menentukan pilihannya."


"Kamu, memang anak baik Aisyah. Terimakasih," ujar Luisa.


Kembali mereka saling berbincang hangat, Aisyah sangat bahagia karena kehadirannya bisa di terima dengan baik oleh keluarga Hendrawan. Karena sudah malam, Aisyah berpamitan untuk pulang.


"Nenek, Paman dan Bibi, Aisyah pamit pulang. Hari sudah malam," pamit Aisyah dengan senyum masih di bibirnya.


"Apakah kamu tidak ingin menginap, Aisyah?" tanya Alira, neneknya.


"Maafkan, Aisyah, Nenek. Banyak sekali yang masih harus Aisyah selesaikan, jadi malam ini saya tidak bisa menginap," jelas Aisyah.


Aisyah memeluk Alira sebagai ungkapan sayangnya dan mencium punggung tangan sang nenek, berganti paman dan bibinya.


"Abang, mari kita pulang," ajak Aisyah pada Anand.


"Tunggu! Bukankah kamu orang yang di jodohkan dengan Carissa? Ada hubungan apa kamu dengan cucuku, Aisyah?" tanya Alira.


Anand kembali duduk di sofa dekat dengan Alira, menjelaskan posisinya selama ini. Anand sengat hati-hati dalam berkata, dia tidak mau salah ucap yang bisa membuat Alira sakit hati dan marah padanya.


Aisyah dan Anand akhirnya berpamitan pulang kembali ke rumah Kardiman. Jalanan tampak lenggang dan sepi, di daerah yang gelap dan sepi terdapat gerombolan preman yang menghadang perjalanan mereka yang kebetulan naik motor zerox putih.


"Berhenti!" teriak preman itu lantang.


Anand langsung menarik rem depan motornya hingga Aisyah menempel di tubuhnya membuat Anand merinding merasakan sensasinya.


"Eh, maafkah Aisyah, Bang!" ucap Aisyah merasa malu, lalu bergerak mundur menjauhi tubuh Anand.


"Tidak apa-apa, sebaiknya kita turun dulu. Kita lihat apa mau mereka!" balas Anand sambil melepas helm lalu meletakkan di jok montor maticnya.


Serupa dengan Anand, Aisyah melepas helmnya dan di gantungkan sisi kiri jok itu.


"Apa urusan kalian, berani menghentikan motor kami? Apa kalian tidak takut mati, berurusan dengan Alatas, heh?" ujar Anand tegas.


"Mau Alatas kek, Supardi lah, kami tidak peduli. Serahkan harta kalian yang berharga, sekarang juga!!"


Anand hanya tersenyum, kepalanya menggeleng dengan senyum sinis dan dingin.


"Ais, bisakah kamu beladiri?" tanya Anand dengan suara lirih.


"Dikit, Bang," jawab Aisyah pelan.


"Jika mereka mulai maju kita lawan, mengerti?"


Aisyah menganggukan kepalanya tanda dia mengerti. Anand bersiap diri jika para preman itu menyerang mereka, lengan kemejanya sudah di singkap sampai siku. Kini dia bersandar di sisi motor matic itu dengan tangan masuk dalam saku celananya.


"Bagaimana? Tidak jadi kalian bergerak?" ejek Anand saat melihat keheningan dari para preman.


"Sialan, serbuu!!!"


Semua preman yang berjumlah enam orang segera bergerak maju ke depan. Aisyah menghadapi dua orang preman bertubuh gempal sedangkan Anand melawan empat orang preman.


"Sialan kau perempuan tidak tahu diri! Hadapi aku, si jaga kunfu!" ujar pria bertubuh gelap dengan menunjukan kuda-kuda ala china.


Aisyah hanya tersenyum sinis, bibir tipisnya mengundang lawan untuk maju.


Pria gelap itu, berlari menerjang Aisyah, tendangan kaki kirinya mampu dipatahkan Aisyah dengan tendangan berputar bagai kincir. Pria itu meringis merasakan ngilu pada tulang keringnya.

__ADS_1


"Bagaimana? Nikmati saja sakitmu, jika perlu segera pergi jangan ganggu kami!" ucap Aisyah tegas.


"Sialan," umpat pria itu.


Dengan gerakan lincah dan cepat tanpa perhitungan pria itu melayangkan tinjunya ke arah pelipis Aisyah. Sebelum tinju itu sampai pada pelipisnya, Aisyah sudah menelengkan kepalanya lalu menangkap kepalan tangan itu dan ditarik ke belakang tubuh gempal pria hitam itu.


Tangan pria itu ditahan Aisyah lalu tangan Aisyah yang satunya meninju pelipis pria gempal itu, darah segar menyembur dari bibir pria itu.


"Sial, gadis sialan. Kamu buat emosiku naik, sekarang terimalah, ini."


Sebuah tendangan dan pukulan bertubi-tubi datang pada Aisyah bergantian dari teman si gempal. Aisyah bergerak reflek melepaskan kunciannya pada si gempal untuk menangkis gerakan preman itu.


Sementara, si gempal terlepas dari kunciannya Aisyah jatuh tersungkur dengan muka menghadap ke aspal jalan.


Debam bug


"Ugh, sialan, bangsat. Wanita sundal." Berbagai umpatan keluar dari mulut si gempal dengan sedikit menyemburkan sisa darah dari mulutnya.


Beda dengan Anand, dia cukup berkelit kesana-kemari tanpa membalas tiap gerakan musuh menunggu celah yang terbuka baru layangkan pukulan yang mematikan.


Trik ini membuat Anand mampu menjatuhkan dua lawannya hanya hitungan menit, kini lawan Anand sisa dua orang.


"Ba*gs**, sialan." Teriak pria bertato di lengannya saat dadanya kena tenjangan kaki kanan Anand.


Dari empat lawannya, hanya sisa pria bertato ini. Yang lain sudah terkapar di aspal oleh Anand. Ada yang menderita memar di sekujur tubuhnya juga ada yang patah tulang rusuknya.


Anand hanya tersenyum simpul manggapi umpatan pria itu. Pandangannya tertuju pada pertarungam Aisyah, tampak di matanya Aisyah masih mampu menghadapi preman cap kacang.


"Baiklah, aku sudah capek bermain dengan kalian. Pilih tuntas atau pergi tinggalkan tempat ini. Mumpung aku lagu baik hati?" ujar Anand sambil menurunkan lengan bajunya tanda dia sudah siap mengakhiri lawannya.


Para preman saling pandang satu sama lainnya, sepakat menganggukan kepalanya dan semua auto bergerak maju merangsek ke arah Anand. Anand yang sudah bisa menebak jalan pikiran para preman gegas menarik tangan Aisyah untuk mendekat padanya.


Bug bug krak


Aahhh huek


Terdengar teriakan silih berganti dari para preman, lalu salah satu dari mereka berkata menyerah.


"Baiklah, Tuan. Saya menyerah, mengaku kalah. Silahkan dilanjut perjalanan, Anda," ujar si gempal, sepertinya dialah pimpinan preman itu.


"Hanya segini kemampuan kalian? Sudah terlambat ...." Ucapan Anand belum selesai sudah dipotong oleh Aisyah.


"Bang, sudahlah. Kita tinggalkan saja mereka, bukankah mereka sudah mengaku kalah dan menyerah?" decih Aisyah sambil merengkuh lengan Anand dan mengusapnya pelan.


Pandangan Anand bersirobok dengan tatapan lembut Aisyah sehingga emosi Anand langsung menurun perlahan.


"Berterimakasihlah pada istriku, jika bukan karena dia kalian pasti hancur tinggal nama," jelas Anand.


Tangan Aisyah langsung mencubit pinggang Anand gemas, sedang Anand hanya diam menatap tajam para preman itu tanpa merasa bersalah akan ucapannya.


"Terimakasih, Nyonya." Terdengar ucapan terimakasih serentak dari para preman sambil membungkukkan badan mereka.


Selanjutnya para preman pergi meninggalkan Anand dan Aisyah di tempat gelap. Aisyah merapatkan tubuhnya pada lengan Anand, dia merasakan hawa dingin.


"Dingin ya, Ai?" ucap Anand sambil mengenakan jaketnya pada tubuh mungil Aisyah.


"Makasih, Bang." Begitu jaket itu terpasang di tubuhnya dengan senyum manis.

__ADS_1


"Jangan senyum seperti itu, Jingga. Black enggak akan sanggup menahan pesonamu, Sayang," goda Anand pada Aisyah dengan panggilan jingga.


Aisyah makin lebar senyumnya melihat tingkah Anand, dia merasa geli malihatnya.


"Abang, iih. Malu," kata Aisyah.


"Ayo, kita lanjut perjalanan ini. Didepan masih banyak yang harus kita hadapi," jelas Anand.


Aisyah naik di jok belakang motor zeroxnya yang dikendarai Anand. Motor melaju perlahan menyusuri jalanan sepi menuju hunian mewah milik Kardiman.


Saat lampu lalu lintas merah telepon Aisyah berdering menandakan adanya panggilan masuk, Aisyah memberi kode pada Anand agar menepikan motornya terlebih dahulu untuk dia mengangkat panggilan itu.


"Bang, menepi bentar ya! Ais, lagi ada telepon masuk, nih!" ujar Aisyah.


Begitu lampu hijau Anand mencari tempat yang pas buat Aisyah menerima panggilan itu.


"Nih udah berhenti, silahkan di angkay panggilan itu, Ai!"


"Iya, Bang," balas Aisyah.


Keduanya melangkah pada bangku yang tersedia di trotoar pinggir jalan, Aisyah mengeluarkan ponsel.


"Jjiaah, sudah mati, Bang," ucap Aisyah tanpa sadar akan kalimatnya.


"Eh, sapa yang meninggal, Ai?" tanya balik Anand dengan nada sedikit tinggi.


Aisyah nyengir menatap Anand, menggaruk rambut serba salah.


"He he, maafkan Aisyah, Bang. Yang meninggal enggak ada hanya sambungan teleponnya terputus sebelum Ais angkat," jelas Aisyah sambil mengangkat tangannya dua jarinya membentuk simbol piss ala pemuda berdamai.


Melihat tingkah gadisnya membuat Anand gemas, ganti dia menjahili Aisyah.


"Ais, lihat ke belakang itu ada apa yaa!"


"Apa, Bang?" tanya Aisyah.


"Itu! Kok senyum gitu, hii!" Ucap Anand sambil bergidik pura-pura takut.


Aisyah langsung melompat dari duduknya berlari spontan ke belakang Anand dengan menyembunyikan kepalanya di punggung Anand. Anand terkekeh melihat sikap gadisnya yang penakut.


"Abang, iih. Dasar!" umpat Aisyah manja.


"Sudah, hubungi balik, jangan seperti ini terus. Nanti minta jatah lho!" balas Anand dengan mengedipkan sebelah matanya pada Aisyah.


Aisyah hanya cemberut, bibir mengerucut lalu menjulurkan lidahnya dengan mata melotot. Mengejek Anand.


"Sudah, segera hubungi lagi!"


Belum juga mengambil ponselnya lagi sudah terdengar nada panggilan lagu dari group Dewa19, kangen. Anand yang mendengarnya mengukir senyum.


[Hallo,]


Sapa dari seberang, suara pria yang Aisyah hafal.


[Iya, ada hal apa hingga kamu hubungi aku malam begini, Anton?]


[Maaf, Mbak. Tambak udang hancur, semua udang mati mengapung seperti keracunan.]

__ADS_1


[Sudahkah kalian selidiki hal apa penyebannya? Cek cctvnya, Anton!]


__ADS_2