
Bab 10 Kenangan
Ketika semua masuk Aisyah langsung berdiri menjauh memberi ruang pada dokter untuk memeriksa ibunya. Dokter mengeluarkan alat pengejut jantung, bersama seorang suster, sang dokter memulai aba-aba.
"Mari, Sus, detaknya sangat lemah. Kita berjuang, satu, dua, tiga!"
Dug dug
Tit tit
"Kita coba satu kali lagi, satu, dua, tiga!"
Tit tiiiiitt
Kepala sang dokter menggeleng menandakan pasien sudah tidak bisa di tolong lagi, dengan terpaksa dan wajah bersedih dokter itu mensejajarkan tubuhnya setinggi Aisyah kecil. Berkata dengan nada halus dan lirih agar bisa di terima Aisyah kecil.
"Maaf Adek, ibu telah pergi" kata dokter.
Aisyah termangu seakan tak percaya, ibu yang sangat dia sayangi pergi meninggalkan dirinya. Barusan masih dipeluknya, diciumnya sekarang, 'Tuhan, lakon apa yang aku jalani ini?' batinnya perih.
Segera dibersihkan air matanya, 'aku harus kuat, harus jadi seperti yang di inginkan ibu, harus! Harus Ai!' batin Aisyah menyemangati diri sendiri.
Semua telah berlalu hanya menyisakan kenangan yang tak mungkin lupa, di sini sekarang Aisyah, di meja operasi.
Siap melakukan operasi wajah yang rusak akibat siraman air keras, hanya diam mengikuti instruksi dokter ahli.
'Ayah, ibu bantu Aisyah menjalani semua coba dan derita ini, bantu Aisyah menatap kembali masa depan. Tuhan, bantulah hambamu ini,' batin Aisyah.
Opersi berjalan lancar, Aisyah telah di pindahkan di ruang perawatan di temani Nia, sahabat terbaiknya.
"Ha--haus," ucap Aisyah pelan.
"Ai, kau sudah sadar, alhamdulillah ya Robb. Ini minum dulu, Ai!" kata Nia pelan sambil menyodorkan segelas air untuk Aisyah.
Setelah selesai minum, Nia pamit untuk memanggil dokter agar segera melakukan pengecekan terhadap kondisi Aisyah.
__ADS_1
Dokter masuk, mendekati Aisyah dan bertanya, "apakah ada yang di keluhkan pasca operasi anda, Nona?"
"Tidak," jawab Aisyah.
"Bagus, jaga jangan tersentuh air selama 3 hari, selanjutnya di hari ke 3 itu kita buka perbannya" jelas dokter.
Mendengarnya Aisyah merasa lega penantiannya sampai juga, yang membuat dia bimbang akankah wajahnya berubah jadi orang lain. Membayangkan penantian yang lama akankah ada ujungnya, Aisyah hanya mampu berharap yang terbaik dari hasil penantiannya.
"Ai, kok melamun?" tanya Nia
"Ah, tidak, tidak ada kok," balas Ais tergagap.
"Jangan dibawa serius ya, nyantai jalaninya pada akirnya kalian pasti bersatu juga kok," jelas Nia.
Hari yang di tunggu telah tiba, Aisyah dan Nia duduk berdampingan di ranjang pesakitan. Terlihat bagai saudara kembar. Hari ini hari akan di buka perban di wajah Aisyah. Keduanya bersiap diri, 'akankah wajah ini ada perubahan, hingga abang tak mengenaliku?' batin Aisyah bergolak.
"Ai, sepulang dari sini, apa rencana selanjutnya?" tanya Nia.
"Entah, belum mikir ke sana. Yang pasti aku kangen Abang, apa benar kemarin itu yang menolongku bukan Abang?" lirih Aisyah sendu.
Mendengar apa yang di keluhkan Aisyah, Nia merasa bersalah. Namun dia sudah berjanji menjalankan pesan Anand agar jangan ungkap kehadirannya saat itu.
"Ayolah Nia, ungkapkan saja. Jangan berbelit seperti itu, kau tak pandai berbohong," sela Aisyah.
Didesak terus menerus akirnya Nia ungkap semua kejadian saat penculikan Aisyah, dari mulai awal pencarian hingga seseorang itu datang membantunya. Tak sempat sebut namanya Aisyah sudah membungkam mulutnya. Pikirannya menerawang membayangkan wajah yang di rindu.
"A-abangkah," bergetar bibirnya dalam mengucapkan sebuah nama penuh rindu.
"Iya Ai, Abang datang ikut menyelamatkanmu. Bahkan Abanglah yang membawamu ke Rumah Sakit Harapan Bunda," papar Nia, pandangannya menerawang mengingat kejadian yang lalu.
Aisyah tersenyum getir, ada gelenyar aneh tiba-tiba muncul menjalar di lubuk sanubarinya, 'ada apa ini' gumamnya lirih hampir tak terdengar oleh Nia.
Namun Nia mendengar apa yang terucap lirih itu hingga bibirnya mengulas senyum, hanya senyum simpul yang indah.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang melihat keakraban itu sejak mula. Hanya memandang dari jauh tanpa ada niat ganggu atau pun mendekat. Lelaki itu sudah lama berdiri di sana, memandang wanitanya.
__ADS_1
Setelah puas memandang lelaki itu pergi meninggalkan lorong bangsal Aisyah, sayang saat berbalik dia menabrak seorang suster yang kebetulan lewat.
Bruk ...
Lelaki itu hanya diam bergeming, kedua tangannya masih dalam saku celana panjang yang membungkus kaki jenjang, tetap berjalan meninggalkan suster itu. Sepertinya dia tidak menabrak sesuatu pun yang menghalangi langkahnya.
'Huft dia yang nabrak kok, untung hanya melihat tapi pandangannya horor juga' batin suster itu, kemudian melangkah melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Pintu ruangan Aisyah terbuka, masuklah suster untuk melakukan tugas rutinnya.
"Maaf Nona, apakah tadi ada pengunjung pria tampan ke ruangan Anda?" tanyanya.
"Tidak, ada apa, Sus?" tanya Nia.
Suster itu sesaat diam, jemarinya bertaut seakan bingung akan keadaan yang dia alami di lorong.
"Saat di lorong saya melihat seorang lelaki tampan tapi dingin sedang melihat ruang rawat Anda melalui celah yang terbuka. Namun saat dia berbalik badan, bertabrakkan dengan saya tanpa bicara berlalu begitu saja," papar suster.
Penjelasan suster membuat Aisyah terdiam memikirkan siapa sosok itu, bibirnya tersenyum. Dia mengerti akan sosok itu siapa, semangatnya kembali.
"Iss senyum sendiri lagi anak ini!" cicit Nia sambil menyentil kening Aisyah pelan, "kapan perban di wajah sodaraku ini di buka, Sus?" tanya Nia pada sang suster.
"Setelah saya periksa, kemungkinan nanti sore perban bisa di buka, baik saya permisi masih ada kerjaan lain!" balas suster tersebut dan berlalu pergi.
Hari semakin sore, Aisyah duduk gelisah sambil bersandar di dinding menunggu dokter untuk membuka perban yang membalut sebagian wajahnya. Terdengar langkah kaki mendekat. Pintu ruang rawat Aisyah terbuka tapi tidak tertutup sempurna hingga sepasang mata terlihat di sana, ikut menyaksikan proses di bukanya perban itu.
"Sore Nona, sudah siapkah?" tanya dokter itu.
"Sudah Dok, silahkan dimulai!" balas Aisyah
Perlahan sang dokter membuka perban di wajah Aisyah, sedikit demi sedikit perban terlepas dari wajahnya.
Kening yang bersih mulai tampak, mata yang terpejam dengan bulu yang panjang, hidung yang mancung. Kemudian bibir tipis memerah ranum, sungguh pemandangan yang indah, sudah terlihat jelas, perlahan mata terbuka sesuai arahan dokter. Sungguh indah ciptaan Tuhan, pahatan sempurna.
Nia membungkam bibirnya yang terbuka, sungguh menakjubkan. Begitu indah, perempuan saja bisa terpana apalagi seorang pria dewasa. Sahabatnya seperti bulan purnama, sempurna, sungguh indah.
__ADS_1
"Nia, Dok di mana kalian. Apa yang terjadi, ada apa dengan mataku? Kok gelap." decit Ais meraba semua tempat di sekitarnya.
Sosok lelaki di luar ruangan yang ikut menyaksikan proses itu terdiam termangu melihat hasil operasi itu, apakah retinanya ....