
Bab 19 Kecelakaan Lukas
Setelah menerima telepon dari Anand, Lukas mempersiapkan diri, dia masuk kamar mandi untuk cuci muka agar terlihat segar sehabis tertidur di sofa. Lukas mengambil ponselnya untuk memesan taksi online, setelah selesai dia turun ke lobi apartemen untuk menunggu taksi itu datang.
Saat Lukas sampai di lobi, taksi yang dia pesan telah sampai dan Lukas pun segera memasukinya.
"Ke Cafe XX, Pak!"
"Baik," balas sopir taksi.
Taksi pun meluncur ke arah tujuan yang di sebut oleh Lukas, jalanan lumayan padat tapi tidak ada kemancetan. Akhirnya Lukas sampai di depan Cafe XX, membayar taksi sesuai tarif perjalanannya kemudian menghampiri penjaga parkir di posnya.
"Pak, maaf saya mau mengambil motor majikan saya atas nama Aisyah Kardiman."
"Dengan Bapak Lukas Adiprawirya?" balas penjaga parkir.
Lukas membenarkan pertanyaan penjaga itu dan menunjukan kartu identitas dirinya, penjaga itu memberikan kunci juga STNK atas nama Aisyah Kardiman.
"Terimakasih batuannya, Pak," ucap Lukas ramah.
Setelah membawa kunci motor, Lukas mencari letak motor itu di parkir, 'si Anand tadi memberitahukan jenis motor apa ya,' batin Lukas sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
'Ough, iya motor snopy putih, nah ini dia motornya.' imbuhnya berbicara sendiri dengan suara sangat lirih.
Lukas melajukan motornya perlahan, jalanan sedikit sepi, jam sudah menunjukan pukul sembilan malam. Sudah setengah perjalanan tiba-tiba ada seekor kucing hitam melintas di depan, Lukas segera menarik rem depan tapi motor itu masih melaju.
Dengan tergesa Lukas membanting setirnya ke kiri agar tidak menabrak kucing itu. Namun naas bagi Lukas, lolos dari kucing dari arah belakang melaju sebuah sedan merah metalik dengan kecepatan tinggi menghantam motor yang di kendarainya.
Lukas terlempar sejauh dua meter, saat itu sekitar terlihat sepi hanya ada Lukas dan pengemudi sedan. Pengemudi sedan keluar untuk melihat kejadian yang baru menimpanya akibat kecerobohannya.
"Maaf, Pak. Bagaimana keadaan bapak, mari saya bantu bawa ke rumah sakit terdekat!" kata pengemudi sedan itu.
" Saya, uuhhg ao, sepertinya ada yang retak salah satu tulang saya. Rem motor itu seperti blong, jadi saya tidak bisa menggunakan saat genting seperti ini," jelas Lukas dengan nada sedikit kesal.
Saat Lukas menjelaskan keadaannya, seorang pria paruh baya keluar dari kursi penumpang sedan itu.
"Baiklah, mari saya antar anda ke rumah sakit terdekat. Mengenai motor anda biarkan sopir saya yang mengurusnya, bagaimana Pak ...." kata pria.
"Dengan Lukas."
__ADS_1
Akhirnya Lukas dibantu sopir pria itu masuk ke mobil sedan bagian penumpang karena ada yang tidak nyaman bagian punggungnya.
"Terimakasih, Pak," ucap Lukas pada sopir itu.
Setelah dirasa duduk Lukas sudah nyaman, pintu penumpang ditutup perlahan oleh sang sopir. Kemudian sopir itu mempersilahkan majikannya untuk duduk dikursinya sebagai sopir menggantikannya mengantar Lukas ke rumah sakit terdekat.
"Silahkan berangkat, Tuan. Saya akan membawa motor ini ke bengkel langganan kita, setelah semua selesai, saya akan menyusul Tuan ke rumah sakit terdekat," jelas sopir itu.
"Baik, Hadi. Begitu lebih baik, jangan lupa minta total pembayaran perbaikan motor itu!" ucap pria tua.
Setelah semua selesai dibahas maka mobil itu meluncur ke Rumah Sakit Pelita Harapan.
"Maafkan sopir saya yang ceroboh Pak Lukas, hingga anda harus mengalami kecelakaan seperti ini."
"Saya juga salah, saya tidak tahu jika rem itu blong karena saya hanya di suruh mengambil motor itu oleh atasan saya."
"Sepertinya motor itu disabotase oleh orang lain, hal ini perlu tindak lanjut. Apakah perlu saya bantu anda, Pak Lukas?"
Lukas terdiam mencerna tiap kata pria tua itu, 'sepertinya orang ini bukan sembarangan dia seperti mempunyai pengaruh yang kuat.' batinnya.
"Sepertinya semua harus sepengetahuan majikan saya, Tuan. Maaf saya hubungi atasan dulu,"
[Hallo, Bos!]
[Bagaimana Lukas, sudahkah kamu mengambil motor Aisyah?]
[Maaf, bos. Aku mengalami kecelakaan karena motor non Aisyah remnya blong. Saat ini aku lagi di Rumah Sakit Pelita Harapan di bantu sama Bapak ....]
Anand yang kebetulan masih di rumah Aisyah mendengar Lukas kecelakaan langsung teriak spontan,
[Kecelakaan!!! Bagaimana keadaanmu?]
Aisyah yang mendengar kata yang di teriakan Anand dari dapur segera menuju ruang tamu menemui Anand, gelas yang berisi jus untuk Anand di taruhnya lagi di meja makan. Dia berlari ke Anand begitu terdengar kata kecelakaan.
" Ss-ssiapa yang kecelakaan, Bang?" suara Aisyah bergetar saat pengucapan kata kecelakaan, dia seakan trauma akan kata itu.
Anand hanya membalas dengan isyarat satu jarinya di letakan di bibirnya menandakan Aisyah harus diam sebentar, maka Aisyah pun terdiam. 'Mungkin lebih baik aku kembali ke dapur untuk mengambil jus yang kutinggal tadi,' batinnya, kemudian Aisyah kembali ke dapur dan mengambil gelas yang berisi jus. Namun Aisyah tidak kembali tapi duduk termenung di kursi makan.
[Baiklah, Lukas tunggulah, sebentar lagi aku susul,]
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu, Anand mematikan sambungan teleponnya dan melangkah mendekati Aisyah yang lagi duduk di meja makan terlihat melamun.
"Hai, Ai, hallooo!!" sapa Anand dengan nada sedikit tinggi karena Aisyah tampak bengong melamun.
"Eeh, ii-iya Bang, ada apa?" balas Aisyah gelagapan akan panggilan Anand.
"Di minum dulu, Bang, jusnya!" imbuhnya setelah menguasai dirinya kembali ke mode santai.
Anand meraih gelas jus alpulat buatan Aisyah sampai habis, kemudian menjelaskan siapa yang melakukan panggilan bersamanya tadi.
"Bagaimana bisa rem motorku blong, Bang? Dari rumah hingga Cafe XX tadi sepeda motor itu lancar dan baik-baik saja," jelas Aisyah.
"Hal ini nanti akan Abang selidiki lagi, Ai. Sekarang aku harus segera ke Rumah Sakit Pelita Harapan untuk mengurus keperluan Lukas," papar Anand dengan nada rendah.
"Ais, ikut ya, Bang?" pinta Aisyah dengan memasang muka manis agar di luluskan permintaannya.
Anand hanya tersenyum simpul dengan menggelengkan kepala tanda dia tidak di ijinkan Anand untuk ikut bersamanya.
"Sudah malam, Ai. Di rumah saja ya, nanti begitu sampai dan tahu pasti keadaan Lukas, kamu saya kabari. Ya!" jelas Anand dengan suara lembut.
"Huft, baik," balas Aisyah dengan cemberut.
Melihat wajah Aisyah seperti itu membuat Anand gemes, dicubitnya pipi nan gempil itu gemes.
"Abang, iih," keluh Aisyah dengan suara sedikit manja.
"Sudah ya, cantiknya abang, jangan cemberut jelek lho," ucap Anand lembut,
"Abang, pulang dulu, mau ke rumah sakit lihat keadaan Lukas. Hati-hati di rumah sendiri!" lanjut Anand,
Setelah berkata Anand melangkahkan kaki keluar dari rumah besar Kardiman, mangendarai motor zeroxnya menuju Rumah Sakit Pelita Harapan.
Jalanan lumayan sepi hingga Anand cepat sampai di rumah sakit di mana Lukas berada. Anand menuju meja resepsionis untuk menanyakan keberadaan Lukas.
"Korban kecelakaan atas nama Lukas Adiprawirya, berada di ruang apa?" tanya Anand dengan suara dinginnya.
"Oh, itu masih di tangani dokter, Pak. Tadi di bawa oleh Bapak Kapolres Budiman, sekarang beliau juga ada dalam ruangan itu," jelas penjaga resepsionis.
"Kapolres Budiman ....
__ADS_1