
Bab 29 Sahabat
Ha ha ha
Tawa Lukas keluar sepontan tanpa disaring hingga Aisyah menoleh dan terpana.
"Kenapa, Ai. Seperti melihat hantu saja kamu itu," ujar Lukas.
"Itu tadi kakak yang tawa?" tanya Aisyah dengan muka heran.
"Bukan, Ai, setan," balas Lukas sewot.
"Berarti kakak setan, donk. Iih, ngeri," ejek Aisyah sambil senyum
Mereka tertawa bersama melihat muka Lukas yang cemberut di katain Aisyah sebagai setan. Anand kembali menautkan jemarinya pada tangan Aisyah dibawanya duduk di sisi sofa yang kosong.
"Duuh, mesranya yang lagi kasmaran. Duduk saja berdua, gandengan pula. Makin merana nih yang jomblo," celoteh Lukas.
"Maaf maaf saja yaa, Aku tidak jomblo. Tunggu undangan minggu depan," balas Hasyim.
"Siapa?" tanya Anand singkat.
Hasyim berjalan mendekati meja di mana dia menaruh tas kerjanya di sana. Dia mengambil dua kertas undangan warna gold terang kemudian menyerahkan pada kedua sahabatnya.
"Ini, bacalah!" ujar Hasyim dengan menyerahkan undangan itu pada Lukas.
Lukas yang menerima undangan itu penasaran, di buka dan dibaca dengan suara lantang, "Hasyim Prayoga dengan Serenita Kardiman, wah lancar rupanya ya sama dokter cantik. Selamat, Sobat."
"Tunggu, Kak. Kok dengan Serenita Kardiman, apa ada hubungan dengan nama Kakek?" tanya Aisyah.
Semua yang hadir di situ terdiam dengan pertanyaan Aisyah, mereka baru menyadari nama belakang Serenita. Dulu mereka tidak begitu memperhatikan semua ini, ternyata setelah kenal Aisyah dengan nama belakang yang sama mereka merenung.
Dalam keadaan hening, tiba-tiba terdengar suara ponsel Anand menandakan ada chat masuk. Inti chat itu memberi perintah untuk Anand agar datang ke mansion tulip bersama Aisyah.
"Sudahlah jangan banyak membuat perkiraan, mari kalian semua ikit aku ke mansion tulip. Di sana sudah ada Kakek Alatas, kita minta penjelasan beliau," ujar Anand.
Mendengar ajakan Anand semua berdiri mempersiapkan barang bawaannya masing-masing, setelah semua selesai bersama keluar dari hotel Seraton.
"Hasyim, kamu bawa mobil? Biar Alin dan Lukas ikut bersama mobilmu sedangkan Aisyah bersamaku!" ucap Anand tegas.
"Oke, Bos," jawab Lukas bersamaan dengan Hasyim.
Mereka masuk mobil masing-masing dan meluncur menuju arah mansion tulip beriringan. Dalam waktu hanya satu jam mereka telah sampai mansion, gegas semua berjalan menuju ruang kerja Alatas.
Tok tok tok
__ADS_1
Bibi yang sudah menunggu kedatangan majikan mudanya segera membukakan pintu. Menyambut tamunya dengan senyuman khasnya yang tidak pernah pudar.
"Mari, semuanya sudah ditunggu Tuan Besar di ruang kerjanya!"ujar bibi sambil mengantar mereka sesuai arahan Alatas.
"Silahkan masuk!" imbuh bibi setelah pintu ruang kerja Alatas dia buka.
Mereka masuk bergantian, menyapa Alatas hampir bersamaan. Aisyah tampak bengong melihat wajah Alatas yang tidak terlihat tua.
"Duduklah kalian semua, ada yang harus kalian ketahui mengenai kekacauan ini semua," ucap Alatas.
Kelima pemuda dan pemudi mengambil tempat duduk yang sudah tersedia dalam ruangan itu. Bibi masuk dengan membawa minuman dan juga cemilan. Saat akan keluar, bibi di tahan oleh Alatas.
"Jangan keluar dulu kamu bi, jelaskan semua pada mereka!" perintah Alatas pada sang bibi.
"Tapi Tuan, saya tidak berhak atas itu semua. Saya hanya seorang pelayan," balas bibi itu.
Alatas berdiri, bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekati bibi. Dirangkulnya pundak bibi dan menuntunnya pada kursi kosong untuknya duduk.
"Mulailah, ceritakan semua yang kamu ketahui!" ujar Alatas tegas membuat bibi terjengkit tidak berdaya.
Dengan terpaksa bibi itu memulai cerita yang dia ketahui. Di ketahuinya dua puluh delapan tahun yang lalu, nyonya mudanya Lily sedang hamil muda. Saat itu bersamaan dengan istri sahabat Tuan Alatas yaitu Nyonya Laura Lowrens. Keduanya tampak bahagia, apalagi Nyonya Laura diprediksi akan melahirkan kembar.
"Selamat ya, Laura, kamu akan memiliki anak kembar. Laki-laki dan perempuan, bahagia sekali," ucap Lily dengan senyum mengembang seusai melakukan pemeriksaan rutin mereka.
"Mengapa harus seperti itu, Laura?"
Laura terdiam, betapa dia menginginkan anak perempuan yang cantik dan lucu. Sungguh ini sangat membuatnya bimbang, anak itu tidak bersalah. Mengapa takdir begitu kejam akan nasibnya, belum lahir saja harus dibuang.
Tiap anak perempuan yang lahir dari marga Kardiman harus di singkirkan, karena akan membawa akibat yang kurang baik dalam peruntungan bisnis.
"Apa mereka tidak sadar? Untung rugi bisnis hanya mereka yang menjalankan, bukan anak perempuan. Sungguh naif," ucap Lily sedih dan kecewa.
"Aku harus bagaimana?"
"Jujurlah pada suamimu, katakan yang sebenarnya, Laura," ujar Lily memberi semangat pada Laura.
Laura mengangguk, dalam hatinya berucap akan segera memberitahu suaminya nanti setibanya di rumah. Hingga tengah malam suaminya belum pulang, membuat cemas hati Laura.
"Nyonya, sebaiknya anda istirahat dalam kamar. Kasian janin yang ada dalam kandungan!" ucap simbok
"Tidak, Mbok. Aku harus menunggu Abang Diman, dia harus tahu lebih awal mengenai calon anaknya ini,"
Namun, hingga pagi menjelang Kardiman belum pulang. Laura sampai tertidur di sofa ruang tamu di temani simbok, dibangunkannya simbok yang terlelap di sampingnya.
"Mbok, bangunlah! Hari sudah pagi," ucap Laura,
__ADS_1
Laura memandang sekitar, dilihatnya keadaan masih sama seperti semalam saat dia menunggu suaminya pulang. Pintu masih terbuka lebar, cangkir kopi yang terhidang di meja juga masih utuh tidak tersentuh.
"Mbok, apakah semalam abang tidak pulang?" lanjutnya.
"Sepertinya begitu, Nyonya," balas simbok lalu berdiri membersihkan meja cangkir kopi dan piring buah yang masih utuh tidak tersentuh.
"Simbok kebelakang dulu, Nyah, mau sarapan apa?" imbuh simbok sambil memberesi yang di meja.
"Aku bebersih dulu, Mbok. Siapkan salat buah saja dan air lemon hangat!" ujar Laura singkat lalu dia melangkah ke atas melalui lift khusus untuknya.
Luara memasuki kamar pribadinya, di sentuhnya sisi ranjang yang biasa ditempati suaminya.
"Abang, di mana? Mengapa semalam tidak pulang," ucap Laura sambil memeluk bantal bekas suaminya kemarin.
Laura menghirup aroma maskulin suaminya yang tertinggal, sayup-sayup telinganya mendengar suara mobil berhenti. Tergegas dia lari keluar kamar menuruni tangga tanpa alas kaki, begitu merindukan suaminya.
Kardiman yang kebetulan baru saja membuka pintu melihat Laura berlarian menuruni tangga begitu khawatir berlari menyusul istri tercinta yang sedang hamil enam bulan.
"My love, stop jangan lari, ingat anak kita!"
Teguran halus keluar dari bibir Kardiman, membuat Laura berhenti seketiga. Namun, naas kakinya melangkah terlalu panjang sedang tubuhnya tidak seimbang alhasil Laura jatuh terguling hingga tangga terakhir.
"Aa--baang! Tolong, Laura!" teriaknya.
Kardiman langsung berlari kearah Laura terguling, tangan tidak sempat meraih tubuh sang istri. Sampai di tempat Laura, mata Kardiman melihat darah keluar dari sela kedua kaki istrinya.
"Simbook!"
Tergopoh-gopoh simbok menghampiri, Tuannya, "Nyonya, Tuan. Mengapa jadi seperti ini, ada yang bisa simbok bantukah, Tuan?"
"Siapkan kamar bersalin istriku, air hangat dan handuk bersih, Mbok. Jangan lupa tas kerjaku!" ujar Kardiman.
Segera simbok siapkan semua keperluan majikannya di kamar bersalin.
"Abang, tolong dengarkan aku!" kata Luara.
"Jangan bicara dulu, My Love. Siapkan tenagamu, sepertinya anak kita segera ingin melihat dunia," jelas Kardiman.
"Tapi, anak kita, aku mau semua, Bang!"
Kardiman tersenyum, dia tahu istrinya sangat menginginkan anak perempuan yang cantik. Kardiman pun juga inginkan hal itu tapi aturan keluarga mengharuskan pewaris laki-laki. Namun, Kardiman sudah menyiapkan semuanya tanpa Laura ketahui.
"Tananglah, My Love. Nanti aku jelaskan, sekarang kita berjuang bersama untuk anak kita, ya!" pinta Kardiman tulus.
Laura mengangguk tanda setuju akan ucapan suaminya
__ADS_1