Rasa Masa Lalu

Rasa Masa Lalu
Bab 23 Kamar 22


__ADS_3

Bab 23 Kamar 22


Di dalam keramaian Lukas yang terpisah dengan Anand berjumpa dengan Alin, mereka berdua terlibat perbincangan yang serius membahas berbagai masalah yang sering muncul akhir-akhir ini.


Merasa ada getaran di saku jasnya, Lukas segera mengambil ponselnya dan melihat ada panggilan dari Tuan Besar,


[Hallo, Tuan!]


[Siapkan sebuah kamar dengan ranjang terpisah, air dingin dan obat penawar. Sepertinya ini ada konspirasi.]


[Baik,Tuan.]


Panggilan di tutup oleh Alatas, Lukas terdiam sejenak memikirkan sebuah konspirasi, 'apa maksud dari kata konspirasi ini ya?' gumam lirih Lukas.


Alin sekilas mendengar kata konspirasi jadi ingat akan keadaan nonanya yang sendiri dalam acara itu.


"Konspirasi apa, Bang?" tanya Alin penasaran akan ucapan Lukas.


"Sepertinya kita harus bergerak cepat, Al. Tolong kamu atur ruangan khusus dengan fasilitas dua tempat tidur dan air dingin juga obat penawar, segera Al. Aku akan cari Anand, jika sudah selesai cepat kabari aku!" jelas Lukas dan segera melangkah meninggalkan Alin yang bengong.


Terdengar suara gelas jatuh membuat Alin tersadar dan langsung melangkah meninggalkan tempat tersebut untuk menyiapkan apa yang diucapkan Lukas.


Dalam waktu satu jam, Alin sudah selesai menyiapkan semuanya. Dia menghubungi Lukas lewat ponselnya melalui aplikasi hijau.


[Ping.]


[Iya, apa semua sudah siap?]


[Sudah, Kak.]


[Kerja bagus, bantu aku cari Anand, ini ada konspirasi penjebakan terhadapnya.]


[Saya melihatnya, arah jam sembilan dari posisi kaka sekarang. Abang Anand sedang berada dalam pengaruh alkohol berjalan mendekat arah Kakak, di belakangnya ada wanita ular itu.]

__ADS_1


[Kamu coba alihkan wanita itu, aku akan membawa Anand ke kamar dua puluh dua.]


Setelah mengirim chat itu, Lukas segera bertindak menyiapkan alibi agar Anand bisa dibawanya.


Di tempat lain, Carissa menghubungi anak buahnya agar membawa Anand ke kamar tiga ratus lima puluh enam yang sudah di siapkannya.


Setelah mendapat perintah tersebut, anak buah Carissa datang untuk membawa Anand pergi dari tempat gelap itu. Pengawal itu membopong tubuh Anand melewati Lukas yang telah siap menanti dengan alibi yang sudah di siapkan.


Sementara Alin mendekati Carissa dengan membawa minuman yang sudah di campur obat perangsang, dia menyamar sebagai pelayan.


"Nona, silahkan di minum jus lemon segar ini. Baik untuk kesehatan anda!" ucap Alin dengan nada lembut.


Carissa yang merasa tubuhnya mulai tidak nyaman segera menyambar minuman yang ditawarkan Alin padanya, meminum hingga habis kemudian berkata, "terimakasih, pergilah."


"Mari, saya antar ke kamar anda, Nona. Tolong sebutkan nomer kamar anda?" kata Alin dengan suara lirih.


"Tolong bawa aku ke kamar tiga ratus lima puluh enam lantai dua!" jawab Carissa dengan suara gemetar akibat pengaruh alkohol dan obat perangsang bersamaan.


Alin langsung membawa Carissa sesuai petunjuk yang terucap dari bibirnya, baru menginjakkan kaki dilantai dua ponsel Alin bergetar menandakan ada panggilan masuk.


[Alin, tolong bantu aku. Ada yang tidak beres dengan tubuhku!]


[Maaf, Nona, saya lagi menjalankan tugas dari Bang Anand di lantai dua. Jika Nona masih mampu berjalan datang saja ke kamar dua puluh dua lantai dasar, di sana nanti Nona bisa menemui Abang dan kak Lukas. Semoga mereka bisa membantumu.]


Setelah menjawab teleponnya, Alin mematikan sambungan secara sepihak dan kembali menuntun Carissa menuju kamarnya.


Setelah mengantar Carissa ke dalam kamarnya, Alin menutup pintu dan meninggalkan lantai dua menuju ke lantai dasar berharap bisa menjumpai Nonanya.


Sementara Aisyah yang masih berada di lorong bersama Tuan Alatas hanya bisa tersenyum kecut mendapati dirinya tanpa Alin. Pandangannya mulai kabur dan tubuhnya sudah tidak mampu lagi untuk menahan gejolak jiwanya, Aisyah berkata dengan suara bergetar dan mendesah, "kakek, tolong Aisyah. Kasihanilah Ais, Kek!"


Tubuh Aisyah sudah bermandikan keringat hingga pakaiannya menempel lekat di tubuhnya memperlihatkan lekuk tubuh yang indah, membuat siapa saja yang memandang tergiur ingin menyentuhnya.


Alatas menyadari akan hal itu, maka di lepasnya jas miliknya kemudian di kenakan pada Aisyah dan menuntunnya menuju lantai dasar di mana Anand berada.

__ADS_1


Alin, Aisyah dan Alatas keluar bersamaan dari lift yang berbeda, mereka saling pandang seakan penuh tanya.


"Tuan, biarkan saya membawa Nona Aisyah untuk pulang ke rumah. Saya akan merawat nona di rumah," jelas Alin.


" Sebaiknya kita bawa dulu ke kamar dua puluh dua agar keadaannya cepat pulih," balas Alatas.


Akhirnya mereka membawa Aisyah menuju kamar dua puluh dua, di mana di sana sudah ada Anand dan Lukas.


Alatas langsung membuka pintu kamar itu, terlihat Lukas sedang duduk di sofa sendiri tanpa adanya Anand.


"Tuan, ada apa ini? Mengapa Nona berkeringat seperti ini, hingga tubuhnya gemetar?" tanya Lukas.


"Apakah obat penawar yang aku pesan tadi sudah siap? Berikan obat itu pada Alin, agar segera di rawat Aisyah olehnya!" jelas Alatas dengan nada tegas.


Segera Lukas menyiapkan penawar itu dalam gelas yang tersedia kemudian menyodorkan pada Alin.


"Nona, bertahanlah. Minumlah ini, setelahnya mari kita masuk kamar mandi," ucap Alin sambil menyerahkan segelas air putih yang sudah di campur penawar.


Aisyah langsung meminum air dalam gelas itu hingga habis, namun belum bisa redakan gemuruh dalam tubuhnya. Akhirnya Aisyah berlari masuk kamar mandi sambil melempar jas yang di pakainya, baru sampai pintu Aisyah merobek gaun malam bagian atasnya hingga tampak punggung nan putih mulus.


Melihat kelakuan Aisyah buru-buru Alin berdiri di belakang Aisyah agar punggungnya tidak dilihat Lukas, sedangkan Alatas sudah berbalik badan hendak keluar dari kamar tersebut.


"Tahan Nona Aisyah dulu, Al. Anand masih ada di dalam kamar mandi. Aku keluar dulu menyusul Tuan Alatas dan mengusut masalah ini," jelas Lukas kemudian melangkah keluar untuk menyusul Alatas.


"Baaanng, buka pintunya! Ais, sudah tidak tahan, panas banget tubuh ini. Tolong, Aisy, Baanng!" teriak Aisyah sambil menggedor pintu sembarangan.


Alin yang berada di sisi Aisyah tidak tega melihatnya, tubuh Aisyah sudah hampir telanjang menyisakan dalaman tapi Aisyah masih merasa kepanasan.


Sementara di dalam kamar mandi keadaan Anand tak jauh berbeda dengan Aisyah, dia selalu mengguyur tubuhnya dengan air es yang sudah di siapkan Alin sesuai arahan Lukas. Berharap bisa mendinginkan suhu tubuhnya, selama satu jam akhirnya suhu tubuhnya kembali normal.


Perlahan pintu kamar mandi di bukanya, matanya melotot melihat tubuh polos Aisyah di depan mata. Tanpa malu Aisyah mendekap tubuh Anand dan mendesah nikmat saat kulitnya bersentuhan langsung dengan kulit Anand.


Mendapat perlakuan dari Aisyah seperti itu, junior Anand yang tadinya tertidur kini bangun lagi. Perlahan Anand melepas pelukan dari wanitanya.

__ADS_1


"Tolong Ais, Bang!" ucap Aisyah dengan suara manja dan mendesah.


Melihat adegan itu, Alin langsung balik badan dan berjalan meninggalkan kedua majikannya itu.


__ADS_2