
Bab 17 Terdampar di Pantai Plengkung, Banyuwangi.
Anand remaja terus berenang mengikuti arus ombak, terkadang ombak datang setinggi enam meter membuat Anand berlomba dengan ombak bagaimana dia menyeimbangkan badannya agar tidak terbawa arus ombak. Perjuangan Anand melawan ombak sungguh membuatnya hampir putus asa. Lambat laun tampak adanya daratan membuatnya semakin semangat.
Semalaman Anand berenang melawan ombak hingga menjelang pagi penglihatannya menangkap adanya daratan, segera dia mempercepat gerakannya agar secepatnya sampai pantai.
Tenaganya tersisa sedikit, Anand akhirnya mengikuti ke mana ombak membawanya.
Tubuh yang penuh luka memar, dingin dan terpendam pasir pantai terlihat mengenaskan.
Aisyah yang saat itu sedang menikmati udara pagi di pantai untuk menghilangkan rasa sedihnya karena di tinggal kedua orang tuanya merasa kakinya terantuk sesuatu. Pandangan Ais mengarah ke bawah kakinya, dia melihat ada sepasang kaki yang menyembul dari pasir pantai.
Di keruknya pasir yang menutupi hampir setengah badan, yang tampak hanya wajah seorang remaja pria sampai pinggang. Ais berlari memcari bantuan untuk mengangkat tubuh remaja itu.
"Tolong!" Nafas Ais terlihat ngos-ngosan karena berlari mencari bantuan, akhirnya dia bertemu tetangganya.
"Paman, tolong bantu Ais, ya?" ucap Ais kecil.
"Loh, kok Neng Ais ke pantai sendiri, mana simbok?" kata paman itu dengan pandangan menyapu sekitar berharap bertemu simbok, tapi terlintas wajah kecewa ternyata tak ada simbok di sekitar Ais.
"Ada apa, Neng, apa yang bisa paman bantu untukmu?" lanjut paman itu.
"Paman, di sana ada pemuda yang masih belia terdampar dalam keadaan terpendam pasir sebagian tubuhnya. Tolong bantu aku menolongnya! Bawa saja ke pondok rumah simbok ya, paman!" jalas Ais kecil dengan nada rendah penuh santun.
"Baiklah, Neng. Mari tunjukkan di mana temoat ramaja pria itu!" ucap paman dengan menggandeng tangan mungil Ais.
Mereka berjalan menyusuri pantai hingga menemukan sosok remaja itu. Dibersihkan semua pasir yang menutupi sebagian badan dan kaki remaja itu, dibaliknya badan itu hingga tampak wajah yang membiru, badan penuh memar akibat gesekan air laut juga batu karang dan serangan ikan di laut.
Ais menganga melihat keadaan remaja itu, di sentuhnya perlahan wajah yang penuh memar, 'pasti ini sangat sakit, ya,' batin Ais lirih ikut merasakan nyeri.
"Bagaimana ini, Neng? Tampaknya masih hidup ini anak." papar paman itu.
"Gak apa paman, bawa saja ke pondok kami. Yang dekat pantai ini," kata Ais lirih.
__ADS_1
Di bopong badan remaja itu menuju pondok Ais yang terlihat kokoh dari bangunan lain di sekitarnya.
"Ada apa ini, Karso, siapa anak lelaki ini?" tanya simbok tergesa untuk membantu Paman itu.
"Saya sendiri tidak tahu siapa anak ini, mbok. Eneng tadi yang menemukan tertutup pasir pantai. Kelihatannya sudah dari semalam dia terdampar," jelas Paman Karso.
Simbok membimbing anak remaja itu memasuki kamar tamu yang sudah di siapkan Ais di bantu paman Karso.
Sebulan sudah Anand di rawat oleh simbok dan Ais, keadaannya sudah pulih total.
"Bagaimana, Bang, apakah Abang akan kembali ke Surabaya?" tanya Ais pada Anand.
"Iya, Adek cantik, jingganya abang," kata Anand dengan mengoda Ais.
Tampak memerah pipi gembul Ais kecil menambah kecantikan wajah polosnya membuat Anand tersenyum penuh arti.
"Ais, bolehkah abang panggil dengan sebutan Jingga?"
Anand remaja sangat menyukai suasana pantai saat senja, semburat jingganya terlihat sangat cantik seperti wajah Ais saat merona malu. Oleh karena itu di panggilnya Ais dengan nama Jingga.
Mendengar penjelasan Anand, wajah Ais makin merona merah hingga tak terasa tangan mereka bertaut tanpa ada yang meminta duluan. Naluri mereka saling menyatu dalam kata dan pikiran.
Makin hari hubungan pertemanan Anand dan Aisyah semakin akrab bagai kakak adik, hingga tiba waktunya Anand harus kembali ke kota Pahlawan, Surabaya.
"Abang kembali dulu ke Surabaya ya, Jingga! Jaga dirimu di sini dan baik-baiklah bersama simbok. Jika sudah waktunya senja aku akan menemuimu," janji Anand.
"Baik, Abang. Senja Plengkung selalu menantimu, berhati-hatilah!" balas Ais.
Setelah berpamitan dengan Ais, Anand melangkah menuju dapur untuk menjumpai simbok.
"Mbok, Abang pamit pulang ke Surabaya, mohon maaf jika ada salah di diri ini pada simbok. Abang sudah membuat simbok kerepotan ngurus Abang yang terluka. Terimakasih," papar Anand dengan nada rendah.
"Abang ini tidak membuat simbok repot justeru simbok senang abang bisa di sini temani cucu simbok selama kakaknya pergi sekolah di luar kota," papar simbok
__ADS_1
Setelah Anand berpamitan pada Aisyah dan simbok, dia memandang jauh arah perkebunan.
"Ais, jika kamu sudah dewasa kelak, Abang mohon jaga pekebunan ini dan pasanglah cctv di tiap sudut. Agar kamu mudah melihat situasi sekitarnya," ucap Anand.
Kembali masa sekarang.
"Den, jangan melamun itu kopi keburu dingin, lho!" kata bibi membuat Anand sadar dari lamunan panjang masa lalunya.
"Eh, iya bi," ucap Anand.
Segera di habiskan kopi di hadapannya, setalah itu Anand melangkah menuju garasi mengeluarkan motor siluman hitam miliknya yang telah di kengkapi senjata rahasia di perbagai sudut.
Setelah siap Anand meluncurkan sepedanya ke jalanan sepi ibukota. Berhenti di taman yang tersedia tempat duduk, berhenti sejenak untuk menghubungi Aisyah.
[Hallo!]
[Iya, Bang,]
[Bisakah temui aku di cafe xx di jalan Merbabu satu jam ke depan, Ai?]
Aisyah yang menerima telepon masih terbengong akan identitas penelepon, 'apa aku tidak salah dengar, ini abang Anand lho,' batinnya.
[Bisa, sangat bisa Bang,]
[By,]
Selesai melakukan panggilan Anand bersiap untuk meluncur ke lokasi yang dijanjikannya pada Aisyah. Di tengah perjalanan di tempat sepi, Anand di buntuti motor zerox merah.
Terjadi kejar-kejaran yang sangat seru, tapi Anand mempercepat laju kendaraannya hingga sampai tikungan dia malakukan manuver balik arah dengan mengangkat kaki, tangan pada setirnya dan badan terangkat mengarah pada salah satu lawannya.
Gerakannya sungguh indah membuat lawannya terpelanting dari motor jatuh bergulingan di tanah saling tumpang tindih, sesaat kemudian mereka bangkit dan menyerang Anand.
"Seraaang!" ucap salah satu lawan Anand dengan lantang.
__ADS_1