
Bab 13 Terungkap 2
Nia terdiam terpaku, 'apakah harus adek ungkap, kak' batin Nia. 'Sanggupkah Nona menanggung semua rahasia keluarga yang tersimpan rapat, kakak bantulah adekmu ini!'
"Nia, jangan terlalu menyimpan rahasia ini sendiri, ayolah!" pinta Ais mendesak Nia dengan menggoyangkan lengannya.
Melihat wajah Aisyah, Nia gak sanggup untuk bungkam. Setelah menghirup udara panjang untuk mengisi rongga dadanya, Nia mulai bercerita.
"Ai, aku dan pak Usman adalah kakak sepupu. Dia adalah cucu tertua simbok dari anak pertamanya, sahabat dari paman Edward ayah kamu. Sedangkan kedua orang tuaku sudah meninggal saat menyelamatkan nyonya Laura, jadi aku di besarkan oleh pak Usman juga simbok. Keluarga kami hanya tersisa kami bertiga," papar Nia dengan suara lirih.
"Kau pasti bertanya, mengapa? Karena aku pun baru mengetahuinya saat kamu pergi ke Surabaya meneruskan sekolahmu. Dan ketahuilah bahwa yang membiayai sebagian uang kuliahmu adalah hasil kebun dan tambak yang di olah simbok," lanjut Nia dengan suara lirih dengan air mata yang perlahan mengalir di pipi mulusnya.
Aisyah meneteskan air mata saat mendengar cerita Nia yang lebih menyedihkan dari kisah hidupnya.
"Maafkan aku yang telah membuka lukamu, Nia." kata Ais sambil memeluk erat sahabat sekaligus kakaknya.
"Tidak mengapa, Ai. Mungkin sudah waktunya kamu tahu mengenai hal ini," ucap Nia.
Aisyah termenung, mencoba memahami kisah sahabatnya sejak kecil. Tiba-tiba dia teringat masa kecilnya dulu saat Nia pertama kali berkunjung ke rumahnya di Banyuwangi, Nia sosok anak yang pendiam cenderung dingin.
Bahkan dengannya pun Nia tetap tertutup hingga Aisyah menangis merengek minta manjat pohonlah Nia baru mau berbicara dengannya.
"Apakah saat dulu pertama kali kita bertemu, kadua orang tuamu sudah meninggal?" tanya Ais lirih.
"Iya, setahun setelah ayah dan ibu meninggal saya di titipkan kakak pada simbok yang menjaga keluarga Paman Edward. Keberadaan keluarga kalian hanya kakak yang tahu," jelas Nia, pandangannya tertuju pada ruang baca di depannya.
"Mari, Ai, ikut aku ke ruang baca kakek!" setelah berucap Nia berdiri, di raihnya tangan Ais digandeng memasuki ruang baca kakek.
Nia berhenti di lukisan seorang lelaki yang terlihat senja, "ini lukisan kakek saat aku masih usia 5 tahun, sebelum ke Banyuwangi. Saat itu kamu belum lahir, Ai," kenang Nia.
Kemudian dia berjalan lagi dan berhenti di lukisan wanita bergaun putih dengan memakai jarit khas orang jawa, terlihat anggun, "ini Nini Laura Lowrens, nini yang sangat mencintai keluarga. Yang ini paman Edward saat remaja," jelas Nia dengan suara bergetar, tiba-tiba menangis sesenggukan dan terduduk lemas di lantai.
__ADS_1
Teringat betapa dia saat kecil di manja oleh nini Laura Lowrens, Nia kecil sangat enerjik, pemberani, pandai bersiasat dan sedikit licik.
Ais, melangkah merengkuh sahabatnya dan mengusap lembut punggung Nia, Nia bersandar di lengan Ais hingga tenang hatinya.
"Sudah jangan di lanjutkan jika hal itu membuka lukamu," ucap Ais bijak.
"Baiklah, Ai. Eh, hampir lupa. Mengenai keracunan di perkebunan itu, Alin sudah mendapat informasi siapa dalangnya," jelas Nia.
"Keren kerja kalian, cepat dan akurat ya," puji Ais sambil acungkan ibu jarinya.
Aisyah melangkah ke meja kerja kakeknya, membuka laci dan menemukan map yang berisi semua arsip kecurangan dan keculasan Wahono. Nia menghampiri meja kerja itu dan duduk di depan Ais.
"Ini beberapa bukti yang telah dikumpulkan Pak Usman, tolong bantu aku agar semua bersih tanpa jejak!" pinta Aisyah dengan menyerahkan arsip itu.
"Hal ini memang misiku, Ai," ucap Nia dengan nada lirih, kemudian dia menekuni map itu. Semua file di teliti.
"Ini sangat rumit dan saling berhubungan, kita harus mencari benang merahnya agar masalah cepat selesai, Ai!" imbuh Nia setelah melihat semua file.
"Ais! Kau---bagaimana kamu tau tombol itu?" tanya Nia dengan meta membulat sempurna.
Sungguh ajaib bagi Nia, Aisyah yang baru 3 bulan hidup bersama kakek sudah hafak tata letak ruang rahasia keluarga. Sedangkan Nia dari kecil hanya mampu menghafal ilmu bela diri yang di ajarkan kakek dan nini.
"Tidak penting aku tahu dari mana, masuklah!" ajak Ais dengan suara tegas kemudian melangkah masuk ruang itu.
Mata Nia terbuka lebar menyaksikan semua benda yang ada dalam ruang itu, sungguh menggiurkan. Kalau dulu saat dia kecil belum di ijinkan kakek untuk memegang senjata tapi sekarang dia sudah pandai membidik lawan tepat sasaran.
"Milik siapa semua ini, Ai?" kata Nia dengan suara lirih memegang senapan idamannya.
"Milik kakek saat muda dulu, apa kamu minat?" tanya Ais sambil membuka almari dan mengeluarkan sebuah Revolver dan mengarahkan ke muka Nia.
Melihat hal itu Nia mundur beberapa langkah, tangannya mengambil sebilah samurai khas jepang dan ujungnya telah menyentuh leher Ais yang putih mulus. Bergerak sedikit pasti tergores
__ADS_1
"Aah! Ternyata pergerakanmu cukup cepat Kak," ucap Ais dengan suara agak lemah.
"Jangan remehkan kemampuanku adek cantik, kamu masih di bawahku dalam hal ilmu pedang dan bela diri."
"Huft! Baik, bagaimana tawaranku tadi kak?" kata Ais mengingatkan tawarannya tadi.
Nia diam, kakinya melangkah menyusuri sepanjang deretan senjata yang tertata sesuai fungsinya hingga di berhenti di satu titik yang membuatnya terpesona.
Sebuah belati yang tak lazim bentuk dan ukirannya membuat Nia sangat terlena, perlahan tangannya terulur mengambil belati itu .
"Belati itu milik siapa kak?" tanya Aisyah.
"Ini belati sejarah awal bertemunya kakek dan nini, belati ini ada pasangannya dan dia bisa memilih siapa yang layak menjadi rekan kerjanya," papar Nia.
"Ini sangat indah Ais, milik siapa belati ini?" tanya Nia tanpa mengalihkan pandangan matanya pada belati tersebut.
Ais mendekati Nia, tangannya menyentuh belati yang dipegang Nia. Tampak hitam permukaannya tapi ujungnya mengkilat nyala tampak tajam. Di pegang Ais belati itu kemudian dilemparnya sekuat tenaga menuju sasaran botol minuman keran dengan jarak enam meter.
Cetas! Cess!
Prok prok!
"Hebat, belajar di mana Ai?"
"Sekedar insting, naluri yang membawaku seperti itu. Tapi tunggu, belati itu ...." ucap Ais terhenti saat belati itu masih mengeluarkan suara nnggiinng hingga menimbulkan angin berputas di atas pecahan botol.
"Belati ini telah menemukan tuannya, Ai. Rawat dan gunakan dalam keadaan terdesak, mungkin ada jodoh denganmu." papar Nia.
"Tapi aku inginkan glock 18 ini, kekuatanya menakutkan, apa dipadukan mungkin bisa sepasang,"
"Begitu lebih baik," kata Nia setuju.
__ADS_1
Setelah di rasa cukup memilih senjata andalan mereka keluar dari ruang rahasia tersebut.