Rasa Masa Lalu

Rasa Masa Lalu
Bab 23 Kamar 356


__ADS_3

Bab 23 Hotel Kamar 356


Tok tok tok


Suara ketukan pintu kamar membuat Aisyah terbangun dari mimpinya, dia menyeret kakinya menuju pintu dan membukanya.


"Ada apa, Bi?" tanyanya sambil mengucek mata agar hilang sisa kantuknya.


"Ini ada undangan buat Tuan Kardiman, sebulan yang lalu sebelum Tuan meninggal," jelas bibi.


Di raihnya kartu undangan itu dan dibaca, tangan Aisyah bergetar hebat saat matanya menangkap nama Anand Alatas di sana. Perlahan dia berangsur angsur duduk di sofa dekat pintu kamarnya.


"Kenapa, Non," bibi meraih undangan itu dan membaca, betapa terkejutnya dia saat membaca nama yang tertera di undangan itu.


"Maafkan, bibi, Non. Sungguh bibi tidak bermaksud seperti ini, bibi tidak tahu," imbuh bibi dengan suara lirih.


"Tidak apa-apa, Bi. Aisyah kuat kok, sesuai pesan kakek Aisyah harus hadir agar bisa menjumpai kakek Alatas," jelas Aisyah.


Waktu makin dekat acara pertunangan itu, Aisyah segera bebenah diri. Menyiapkan semua kado yang akan di bawanya juga pakaian yang pantas untuknya.


Pakaian yang dipilihnya adalah gaun malam hitam sepanjang kakinya dengan leher V, menonjolkan lehernya yang jenjang dan putih. Aisyah tampil dengan percaya diri, pakaian yang pas di tubuh rampingnya berhiaskan kalung berlian putih, sepatu berhak tinggi dengan tatanan rambut yang tergerai indah, sungguh pandangan yang indah.


Hotel Seraton, tempat berlangsungnya acara pertunangan Anand dan Carissa terlihat sangat ramai. Terlihat para pembisnis tua dan muda menghadiri acara itu. Anand yang datang di damping Lukas, tampak santai cenderung tidak perduli.


"Bos, bagaimana jika Aisyah juga datang penuhi undangan kakek bulan lalu?" tanya Lukas.


"Biarkan, ini memang rencana Kakek saat Kakek Kardiman masih di rawat, sebelum meninggal," jelas Anand.


Semua tamu telah datang, hingga acara di mulai Aisyah belum juga tampak. Anand mulai resah, melihat Anand resah Carissa datang menghampiri dengan membawa dua gelas minuman berwarna merah.


"Anand, ini saya ambilkan minum. Minumlah dulu agar kamu lebih tenang," ucap Carissa sambil menyodorkan gelas berisi air merah.


Tanpa sadar tangan Anand meraih gelas itu dan meminumnya sekali teguk, setelah gelas kosong pandangan Anand tertuju di gelas itu.


"Minuman apa tadi, Cariss?" tanya Anand yang mulai merasakan ketidaknyamanan dalam tubuhnya.

__ADS_1


"Hanya minuman berkadar rendah alkohol," jawab Cariss santai sambil bergelayut manja di lengan Anand.


"Bagaimana, mau minum lagi, saayaangku?" imbuh Carissa dengan suara lembut tepat di telinga Anand di sertai hembusan nafas hangat nan menggoda.


"Uuggh," terdengar sedikit lenguhan keluar dari bibir Anand saat Carissa menghembuskan nafas hangatnya.


Anand tidak biasa meminum minuman beralkohol sehingga baru minum satu gelas sudah merasa tidak nyaman dalam tubuhnya.


"Mari Anand sayang, kita nikmati malam ini," ucap Carissa sambil menuangkan minuman merah lagi pada gelas Anand.


Carissa sekarang mengerti kelemahan Anand ada pada minuman berakohol, oleh karena itu dia makin banyak memberi Anand minuman tersebut hingga Anand mabuk.


Setelah habis tiga gelas minuman berakohol, wajah Anand tampak memerah. Bibir dan tangannya sudah sulit terkendali.


"Ais, sayang kemarilah, temani abang!" celoteh Anand tanpa sadar, tangannya pun sudah mulai tidak terkontrol.


Melihat tingkah Anand seperti itu, Carissa tersenyum. Dituntunnya Anand ke daerah yang sedikit gelap, agar Carissa lebih leluasa menguasai tubuh Anand.


Carissa duduk di pangkuan Anand, mencium bibir yang selama ini menggodanya hingga dia puas. Anand yang berada di bawah pengaruh alkohol tidak sadar akan kelakuannya. Tangannya sudah berjalan ke mana-mana, hingga gaun yang dipakai Carissa sedikit terbuka.


Sementara dipintu masuk tampak wanita berjalan dengan mengenakan gaun malam, tampak anggun. Hampir semua mata memandangnya hingga membuat kaum hawa iri, paras yang rupawan dengan senyum yang selalu menghiasi bibirnya menambah nilai kecantikan alami.


Robert yang juga datang ke acara tersebut saat melihat Aisyah, berjalan menghampiri mantan karyawannya di kedai kopi.


"Hallo, Aisyah, apa kabar?" kata Robert ramah.


"Pak Robert, rupanya anda juga di undang. Baik, kabarku saat ini baik," balas Aisyah.


Mereka terlihat berbincang lama dan akrab, hingga seorang pelayan menyodorkan minuman untuk mereka berdua.


"Silahkan di minum, Tuan dan Nona!"


"Terimakasih," balas mereka bersamaan.


Setelah memberikan minuman pada kedua tamu, pelayan itu langsung menghilang dari kerumunan tamu yang hadir.

__ADS_1


Robert yang sudah minum minuman berakohol merasa biasa saja tidak mempengaruhi suhu badannya, sedangkan Aisyah yan non alkohol merasa sedikit pusing. Di dalam gelas Aisyah, minuman itu di tambahi bubuk perangsang hingga tubuhnya terasa panas meski udara sekitar dingin.


"Aisyah, ada apa denganmu?" tanya Robert yang melihat Aisyah gelisah dalam setiap geraknya.


"Pak Robert, maaf saya harus ke toilet sebentar. Permisi," ucap Aisyah langsung melangkah pergi tanpa menunggu balasan dari Robert.


Aisyah segera melangkahkan kakinya menuju toilet dengan tangannya merogoh ponsel menghubungi seseorang. Namun saat di lari tanpa sengaja tubuhnya menabrak sosok pria.


"Maaf, maaf saya tidak melihat sekitar!" ucap Aisyah dengan menundukkan kepala menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah.


"Aisyah!" sebuah suara yang pernah di dengar keluar dari orang yang di tabraknya.


Kepala Aisyah perlahan terangkat, bibirnya mengulas senyum saat mengetahui siapa pemilik suara itu.


"Tuan Alatas?"


"Iya, saya Alatas dan jangan panggil saya dengan sebutan Tuan, panggil saja kakek. Itu lebih baik," jelas Alatas dengan suara lirih dan tegas.


"Ada apa denganmu, mengapa memerah sekali wajahmu?" tanya Alatas.


"Saya tidak tahu, Kakek. Sesaat setelah saya meminum minuman itu, kapala saya terasa pusing dan suhu tubuh saya meningkat terasa panas," jelas Aisyah dengan suara gemetar menahan gejolak dalam tubuhnya.


Mendengar penuturan Aisyah, Alatas merogoh ponselnya untuk menghubungi seseorang yang di rasa tepat untuk itu. Orang yang dihubungi segera menyiapkan sesuatu untuk Aisyah, setelah siap orang kepercayaan Alatas segera menghubunginya.


"Tuan, semua sudah siap di kamar dua puluh dua. Sesuai pesanan anda," kata orang di seberang.


"Terimakasih, selanjutnya cari Anand sebelum terjadi sesuatu. Firasatku ini konspirasi," setelah berkata Alatas mematikan panggilan itu secara sepihak.


Pandangannya tertuju pada Aisyah, dia merasa kasian akan nasib cucu sahabatnya bila nanti jatuh di tangan yang salah.


Aisyah makin tidak tahan akan kondisi tubuhnya, diraihnya ponsel dan menghubungi Alin yang kebetulan ada di Surabaya.


"Alin, kamu ada di mana?"


"Maaf, Nona saya lagi bersama Kak Lukas, ini lagi membawa Abang Anand ke suatu tempat yang telah di instruksikan Tuan Alatas," jelas Alin.

__ADS_1


Mendengar keterangan Alin, pandangan Aisyah tertuju pada Alatas. Alatas yang di pandang Aisyah pun hanya tersenyum.


__ADS_2