Rasa Masa Lalu

Rasa Masa Lalu
Bab 14 abang


__ADS_3

Bab 14 Abang


Mereka kembali ke ruang kerja kakek dan menyimpan senjatanya di tempat aman. Kemudian Ais memberikan file berisi bukti kejahatan Paman Wahono


"Ini beberapa bukti yang dikumpulkan Pak Usman, tolong bantu aku, bersihkan tanpa jejak!" ucap Ais dengan memberikan berkas dalam map biru.


"Baik. Tapi besok aku pulang ke Banyuwangi terlebih dahulu karena masih ada yang harus dituntaskan di sana, Ai," kata Nia sambil memberesi meja kerja.


Ais hanya memandang Nia dan menganggukkan kepalanya tanda dia setuju, kemudian dia ikut memberesi meja yang berserakan penuh dengan file.


"Untuk kasus penculikan diri kamu kemarin,Ai, semua dipegang Abang. Jadi aku tidak tahu menahu soal penyelesaiannya," jelas Nia tentang kasus penculikan Ais.


"Iya, aku tidak mempermasalahkan soal siapa yang menanganinya. Yang aku ingin hanya segera berjumpa dengan Abang, karena aku sangat rindu."


Setelah semua beres dan bersih, mereka keluar dari ruang baca tersebut. Ais masuk kamarnya untuk membaringkan tubuh lelahnya, 'bang, Ais kangen,' batin Ais.


Terlihat bayangan hitam di luar jendela kamar Ais, perlahan pintu yang terhubung dengan balkon terbuka. Sesosok tubuh tegap memasuki kamar Ais, sedang yang punya kamar lagi tidur lelap.


Disentuhnya setiap inci wajah Ais, lelaki itu sangat mengaguminya, "sungguh indah ciptaanMu, Tuhan. Sabar ya Adeknya abang, tunggu sebentar lagi kita akan bertemu" gumam lelaki itu lirih.


Setelah mengecup lembut kening wanitanya, Anand melangkah keluar dari kamar itu lewat jalan tadi dia masuk.


Mendapat sentuhan lembut, Ais terbangun seakan nyata tapi aroma yang tertinggal sangat dia hafal, 'mungkinkah abang datang?' batin Ais.


Ciuman itu sungguh nyata, disentuhnya lagi bekas kecup hangat di keningnya sepintas terlihat senyum di bibirnya. Kemudian pandangan matanya tertuju pada notes di atas nakas samping tempat tidurnya. Diraih dan dibacanya:

__ADS_1


Jaga dirimu, cantik.


Bahaya makin mendekati


Sampai jumpa saat senja di ujung pantai


Black jing


Aisyah meletakkan kembali notes itu di tempat semula, pandangannya teralih pada setangkai bunga anggrek bulan yang terlihat indah, diraih dan dicium. 'Harum dan indah cintamu Abang, seindah bunga anggrek' batin Ais.


Setelah puas memandang wanitanya, Anand turun dari balkon kamar Ais yang terletak di lantai dua dengan sekali lompat sudah sampai di bawah. Mobil hitam yang sudah dimodifikasi menjadi mobil siap tempur telah menanti Anand di samping rumah Ais.


Anand duduk di kursi sopir, dia sengaja sendiri tanpa kawalan. Perlahan mobil itu berjalan menuju ke sebuah villa, Anand bertujuan untuk menjumpai Alatas, kakeknya.


Di jalanan sepi tampak di kaca sepion mobilnya di ikuti pengendara bermotor belalang tempur sejumlah empat orang.


Saat mendapati ruang yang cukup, Anand melakukan manuver pada mobilnya di tikungan tajam membuat salah satu penguntit terpental. Kemudian Anand keluar dari mobilnya.


"Atas dasar apa kalian mengikutiku?" ucap Anand datar.


"Jangan banyak omong, jauhi wanita itu jika ingin nyawamu selamat!"


"Kalau aku tidak mau, apa yang kalian mau lakukan?"


"Maka, tamatlah riwayatmu,"

__ADS_1


Selesai berkata orang itu menyerang Anand dengan tangan kosong. Kakinya menendang ke arah dada Anand tapi Anand menghindar ke kiri dari arah kiri masuk sebuah pukulan tepat di rahang kirinya. Untung Anand memiliki indera yang tajam sehingga pukulan itu tidak menyentuh wajahnya, Anand berkelit dan melakukan lompatan sambil kakinya menendang ke arah lawan. Masuk tepat sasaran, tendangan itu mengenai pelipis lawannya.


Anand berdiri diam, digulungnya lengan kemeja putih miliknya sampai siku, menandakan dia siap bertarung. Penguntit tak mau ketinggalan mereka merangsek maju tanpa ampun, tendangan dan pukulan silih berganti menghiasi tanah sepi. Lambat laun penguntit yang berjumlah empat orang itu tampak terdesak bahkan salah satunya ada yang muntah darah akibat pukulan Anand tepat mengenai ulu hati.


Anand bertarung tanpa henti tak tampak lelah sedikitpun, hentakan tangannya mampu melumpuhkan lawan. Diraihnya kepala penguntit, aura dingin terpancar dari tubuh Anand membuat pria itu makin tercekat.


"Katakan!"


Pria itu hanya diam tanpa berucap, bibirnya terkatup rapat hanya getar tubuhnya yang terasa, hingga tak kuasa air hangat mengalir mengenai ujung sepatu Anand.


"Cepat, katakan!" kembali suara lantang Anand mengema mengalahkan deru angin, benar-benar menguar aura pembunuh dalam diri seorang Anand.


Pria itu terbata mengucap satu persatu huruf yang dia hapal. Namun belum semua huruf terungkap tiba-tuba ....


Sing jleb!


Sebuah peluru masuk tembus otak pria itu, untung Anand berhasil menghindar lajunya peluru itu yang di tujukan pada pria itu.


Dilemparnya tubuh tak bernyawa itu bagai barang tak berguna, Anand melangkah memasuki mobilnya dan meluncur.


Tangannya terulur meraih ponsel dan menghubungi Lukas.


[Hallo, Tuan!]


[Lukas, tolong bersihkan lokasi di jalan XX!]

__ADS_1


[Baik, Tuan.]


__ADS_2