
Ban 27 Pingsan
Brak! Brak
"Carissaaa ...."
Melihat Carissa tergolek tak berdaya di dalam bak mandi Robert berlari segera mengambil jubah mandi, dipakaikan pada Carissa kemudian di bawa masuk dalam kamar.
Perlahan di baringkan tubuh Carissa yang tampak pucat, disentuhnya dahi dan leher Carissa, 'ternyata demam, kamu kenapa?' batin Robert.
Robert mengambil ponselnya, mencari kontak dokter pribadinya, Dokter Harioko. Panggilan pun tersambung,
[Hallo, dengan dokter Harioko di sini, ada yang bisa saya bantu, Tuan?]
[Dok, tolong datang ke Hotel Seraton kamar tiga ratus lima puluh enam,]
[Baik, Tuan, mohon tunggu sebentar. Saya segera meluncur,]
Sambungan terputus, Robert menyiapkan kompresan untuk Carissa. Hanya ada gayung mandi maka itu yang digunakan Robert, diisi dengan air hangat dan handuk kecil yang tersedia. Setelah semua siap maka di ketakkan handuk hangat itu pada dahi Carissa. Begitu berulang dilakukan Robert pada Carissa.
Tok tok tok
Dalam waktu satu jam terdengar ketukan pintu tiga kali, Robert beranjak membuka pintu yang ternyata Dokter Harioko telah tiba.
"Di mana pasien saya, Tuan?" tanya Harioko.
"Di ranjang, Dok," balas Robert.
Dokter Harioko langsung menuju tempat di mana Carissa terbaring, diperiksanya dengan teliti tubuh Carissa.
"Dia sedang hamil?" tanya Harioko.
"Benar, Dok," balas Robert.
"Jaga kandungannya, jangan sampai kelelahan. Jangan terlalu keras malakukan hubungan intim, seperti ini akibatnya," jelas Harioko.
Robert hanya mengangguk, kemudian mengantar Dokter Harioko ke depan.
"Ini resep vitamin dan beberapa obat untuk janinnya, segera di tebus agar segera pulih," ucap Harioko.
"Baik, Dok, terimakasih," balas Robert.
Setelah mengantar dokter, Robert kembali masuk kamarnya untuk mengambil dompet sekaligus kunci mobilnya. Dia meninggalkan secarik kertas dan menulis sebuah pesan di sana.
Untuk cintaku
Carissa jika kamu bangun aku tidak ada, jangan cari aku karena aku keluar ke apotik untuk menebus obat buatmu.
Tunggu aku, jangan kemana-mana.
Kasihmu
__ADS_1
Robert.
Noted itu di letakkan di sebelah ranjang di bawah lampu tidur, Robert berharap Carissa melihat kertas itu dan membacanya.
Robert turun ke loby hotel, tampak keluar masuk pelanggan hotel. Hotel Seraton sangat diminati beberapa turis dalam dan luar negeri.
Bruk!
"Maaf, saya tidak melihat sekitar. Sekali lagi maafkan saya, Tuan," kata Robert.
"Ah, iya, saya tidak apa-apa. Tunggu, bukankah anda Robert Kardiman? Pengusaha muda sukses?" tanya pria itu yang tidak lain adalah David Hendrawan.
"Maaf, Tuan, saya tergesa untuk ke apotik buat nebus obat. Permisi," ujar Robert dan berlalu pergi meninggalkan David.
David termangu menatap kepergian Robert, matanya tidak lepas dari sosok itu, 'begitu gagah dan tampan sangat cocok dengan Carissa,' gumamnya lirih.
David tidak menyadari bila di sampingnya sudah ada Luisa berdiri sambil memandangnya penuh heran.
"Sedang melihat siapa, Pah, kok tampak serius?" tanya Luisa.
"Tadi bapak bertabrakan dengan pengusaha muda berbakat dan tampan, Bu. Robert Kardiman, semoga dia jadi mantu kita, Bu," jelas David.
Luisa tersenyum mendengar cerita suaminya, 'Papah, belum tahu saja jika dialah ayah dari janin yang dikandung anak kita. Carissa,' batin Luisa.
"Sudah, Pah, mari kita cari di mana Carissa berada. Kasian anak itu," ajak Luisa pada suaminya, David Hendrawan.
"Oh, iya, mari," ajak David kemudian digandengnya tangan sang istri.
Mereka berjalan menyusuri lorong menuju lift, masuk dan menekan lantai yang di tuju di mana Carissa berada.
Perlahan Carissa bengun, mengeser badarnya ke belakang untuk bersandar di dinding. Pandangannya tertuju pada meja samping ranjang di mana Robert meletakkan secarik kertas, diraihnya kertas itu dan dibacanya.
'Obat untukku, memangnya aku sakit apa hingga harus minum obat?' gumam Carissa.
'Aneh, baiklah aku tunggu saja untuk penjelasannya,' lanjutnya.
Diletakkan kembali kertas yang berisi pesan itu pada tempatnya, kemudian Carissa berdiri mengambil paper bag yang ada di meja sofa. Pandangannya tertuju pada sepiring nasi goreng dengan toping kesukaannya juga ada jus lemon sangan menggugah selera makannya.
Kruk kruk kruk
Bunyi perut Carissa, ternyata perutnya lagi demo ingin segera di isi makanan.
Akhirnya Carissa tidak jadi ambil paper bag yang berisi pakaian ganti untuknya, dia lebih tertarik nasu goreng dan jus lemon itu.
Carissa makan dengan lahap, tanpa sisa hingga mulutnya bersendawa. Selama ini dia tidak pernah bersendawa tapi sejak hamil dia selalu bersendawa setelah makan kenyang, tiba-tiba terdengar suara ponsel di samping piring nasi goreng yang lain.
'Ough, ini kan ponsel Robert. Ternyata panggilan dari ayahnya, angkat atau tidak yaa?' batin Carissa setelah melihat di layar ponsel Robert.
Beberapa saat dibiarkan ponsel itu berdering, entah hingga berapa kali Carissa tidak perduli. Terdengar deringan ponsel yang lain, 'seperti suara ponselku. Di mana itu ponsel, ya?' batinnya.
Didengarnya dengan seksama suara dering ponsel itu, setelah yakin di mana letaknya segera Carissa mengambilnya dan mengangkat panggilan itu yang ternyata dari mamahnya.
__ADS_1
[Hallo, Mah!]
[Kamu di kamar nomer berapa, Nak? Ini mamah dan papa sudah berada di lantai dua,]
[Carissa ada di kamar biasanya, mah. Nomer tiga ratus lima puluh enam.]
[Baiklah, tunggu di situ ya, Nak.]
Panggilan pun ditutup oleh mamahnya Carissa, pandangan Luisa tertuju pada suaminya yang masih bengong sejak kejadian tabrakan dengan Robert Kardiman.
"Pah, ayo kita segera ke kamar yang sudah di infokan anak kita!" kata Luisa.
David berjengkit, kemudian mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan bernafas panjang menetralkan hatinya.
"Mari, Bu," balas David.
Keduanya melangkah menuju kamar tiga ratus lima puluh enam di mana Carissa berada. Sesampainya di depan kamar itu. David mengetuk pintunya.
Tok tok tok
Mendengar ketukan pintu, Carissa di dalam yang masih memakai jubah mandi sehabis sarapan berdiri, berjalan ke pintu untuk membukanya.
"Mamah, papa, bagaimana perjalanan kalian? Maafkan anakmu ini telah membuat kalian repot. Mari silahkan masuk dan duduklah," ucap Carissa.
"Carissa! Apa maksud semua ini! Ada apa ini, Carissa? Papa butuh penjelasnmu!" kata David dengan nada sedikit tinggi
Luisa mengelus perlahan lengan suaminya, berusaha memahan emosi David. Mengajaknya duduk di sofa, pandangan Luisa tertuju pada Carissa yang masih memakai jubah, hal inilah yang menyebabkan suaminya naik darah.
Dilihatnya seluruh isi kamar itu, tampak ada sisa percintaan dan aroma maskulin yang di hirup oleh Luisa. David merasakan yang sama saat mata keduanya bersirobok dan mengangguk bersama.
"Gantilah jubah itu terlebih dahulu, Carissa. Setelahnya jelaskan semua ini pada, papah!" suara tegas David mengintimidasi Carissa.
"Pah ...." ucap Luisa sambil mengusap punggung suaminya agar emosinya segera turun.
"Gantilah dengan baju yang pantas, Nak, segeralah!" kata Luisa dengan nada sedikit rendah.
Carissa segera berdiri meraih paper bag di samping sofa di mana dia berdiri, kemudian menuju kamar mandi untuk mengganti jubah mandi dengan pakaian yang sudah di siapkan Robert.
Setelah semua beres, Carissa keluar dari kamar mandi dengam tampilan yang elegan. Mata David terbelalak melihat kenyataan di postur Carissa, perutnya sudah kelihatan membuncit semakin membuat dia bertanya-tanya.
"Duduk!" ucap David dengan lantang.
"Katakan, siapa? Jika kamu jujur, papa tidak akan bertindak gegabah. Namun, jika kamu berbelit maka papah yang akan bertindak," ujar David dengan suara tertahan.
"Carissa belum siap untuk ungkap semua, Pah. Nanti ada masanya buat ungkap akan hal ini, tunggu saja, Pah. Maafkan Carissa," balas Carissa.
Setelah berkata seperti itu, terdengar dering ponsel Robert.
"Angkat saja, Cariss, mungkin penting," ucap Luisa.
Carissa ragu mengdial penggilan itu, dia merasa tidak mengenal ayah Robert. Selama ini dia berhubungan dengan Robert tanpa sepengetahuan ayahnya. Perlahan di ambilnya ponsel itu, di angkatnya penggilan itu tanpa bersuara.
__ADS_1
[Dasar, anak kurang ajar. Bagaimana usahamu menjerat gadis itu, berhasilkah kau hancurkan keluarga Hedrawan atau kau telah nikmati tubuhnya?]
Prank