Rasa Masa Lalu

Rasa Masa Lalu
bab 38 Tambak Udang


__ADS_3

[Sudahkah kalian selidiki hal apa penyebabnya? Cek cctvnya, Anton!]


Anton menceritakan detail keseluruhan dari kejadian di tambak udang pada Aisyah, semua hal yang terjadi di tambak melalui cctv juga diceritakan pada Aisyah. Yang membuat Anton merasa ragu untuk bertindak adalah pelakunya.


[Baiklah, tunggu pagi. Saya akan ke Banyuwangi. Siapkan segalanya hubungi Alin!]


Setelah berkata Aisyah menutup panggilan itu secara sepihak. Anand yang ada di sampingnya memandang tajam pada Aisyah.


Seakan mata itu meminta penjelasan apa yang terjadi.


"Tambak diracun orang, Bang. Kemungkinan ini orang dekat jadi Anton tidak mau gegabah bertindak tanpa arahan dariku," papar Aisyah.


"Baiklah, mari segera kita pulang dan berkemas untuk ke Banyuwangi. Saya antar kamu pulang agar kejadian yang lalu tidak terulang, Ai!" jelas Anand panjang lebar.


Aisyah mengangguk setuju, dan melangkah mengikuti Anand menuju motor maticnya terpakir. Setelah semua siap, motor itu melaju menuju hunian mewah.


"Sudah sampai, Ai. Abang langsung pulang, ya. Nanti Abang jemput jam enam pagi bersama Lukas juga Nia," jelas Anand.


"Baik, Bang. Hati-hati," balas Aisyah.


****


Banyuwangi


"Bagaimana, Bang. Apa kata Nona?"


"Sementara kita urus udang yang keracunan ini dulu dan di bersihkan airnya. Selanjutnya mengenai pelaku biar Nona saja yang mengurusnya karena itu bukan ranah kita," jelas Anton pada rekannya.


"Iya, Bang. Budi paham maksud dari Abang. Karena ini menyangkut sodara, segera saya bersihkan tambak yang diracuni orang," balas Budi.


Bersama yang lain, Budi bergerak cepat agar racun tidak menyebar ke mana-mana. Mereka memilah udang yang sehat dan yang teracuni pestisida.


Tambak telah berhasilndi bersihkan oleh para pekerja hingga menjelang pagi, air juga sudah di ganti. Udang yang sehat di bagikan pada warga sekitar untuk bahan terasi.


"Bagaimana, sudah selesai semuakah, Budi?" tanya Anton.


"Sudah, Bang. Apakah tidak masalah jika udangnya kita bagi pada warga?" balas Budi.


"Tidak apa-apa. Justru pada wargalah pertama kali udang dibagikan, baru sisanya kita jual ke kota," jelas Anton.


Pekerjaan telah beres samua, Budi dan Anton gegas pergi dari tambak untuk membersihkan rumah induk bakal Aisyah tinggal sementara di Banyuwangi.


Menjelang sore, sebuah mobil hitam kokoh memasuki halaman rumah induk. Anton gegas menyambut Aisyah dan kawan-kawan.


"Selamat datang kembali di rumah induk!"

__ADS_1


"Terimakasih," balas Aisyah lalu membawa kopernya masuk ke dalam bersama yang lain.


Anton membongkar bagasi membawa barang yang lainnya bersama Budi, kemudian membawa semua barang masuk dalam rumah di letakkan pada tempatnya.


"Mau minum apa, Mbak dan Aden semua?" tanya Budi.


"Tidak usah repot, Budi. Makasih, ya sudah bantu Anton di tambak," ucap Aisyah lembut.


"Iya, Mbak, sama-sama."


Nia masuk sambil membawa baki isi jus mangga dan beberapa cemilan buat santai mereka sehabis perjalanan jauh.


"Ini dia, calon istri idaman. Suami lelah langsung buatkan minum, jus mangga lagi. Mantaplah," canda Lukas dan sukses mendapat lemparan bantal dari Nia.


Lukas berhasil menangkap lemparan Nia sambil tertawa. Nia tidak peduli akan sikap Lukas, dia cemberut.


"Anak gadis enggak boleh cemberut gitu, nanti jauh dari jodoh," ujar Lukas.


"Iih, emang aku saja yang jomblo. Situ jomblo akut, wle," ejek Nia sambil menjulurkan lidahnya sedikit.


Aisyah dan Anand hanya saling pandang menyingkapi pertengkaran kecil kedua sahabat itu.


"Jangan saling ejek gitu, nanti kalian berjodoh lho," kata Aisyah.


"Iih, ogahlah," jawab Nia lantang.


"O ya, Anton laporkan semua mengenai kasus semalam!" kata Anand.


Anton menceritakan semua hal tentang tambak pada Aisyah, Nia, Lukas dan Anand mulai dari awal hingga akhir. Bahkan peristiwa pembagian udang yang masih layak di konsumsi. Semua diceritakan dengan detail dan rinci.


"Mengapa begitu tega, Paman Wahono pada kita, ya Kak Nia?" ujar Aisyah.


"Entahlah, Ai. Aku pun juga enggak paham, apa sebab semua ini," balas Aisyah.


"Iya sudah, biarkan saja. Nanti juga akan jera sendiri," timpal Aisyah lagi.


Akhirnya mereka mengobrol santai dalam suasana penuh suka tidak menyadari badai akan datang menghampiri mereka. Nia duduk termenung, pikirannya masih menerawang maksud Wahono menghancurkan tambak milik pamannya saudara kembar ibunya, ayah Aisyah.


Dalam benak Nia, 'ini bisa juga peringatan awal dari kejadian yang lebih besar nantinya,' Nia merasakan bahaya beaar mengancam hidup sepupunya, dia harus membantu bagaimana pun caranya.


"Hai, Kak Nia. Jangan bengong, makan yook!" ajak Aisyah membuyarkan lamunan Nia.


"Oh, ya. Makanlah dulu kalian, aku mandi dulu. Lengket tubuhku." Nia gegas berdiri menuju kamar pribadinya tanpa menoleh lagi.


Semua yang ada memandang Nia heran, hanya Anton yang terlihat senyum sinis.

__ADS_1


"Mengapa Nia seperti itu, ya?" ucap Lukas penuh tanya.


"Jika sudah begitu, Kakakku satu itu pasti mencium bahaya yang besar suatu saat nanti. Itu pengalaman saya selama bekerja dengannya," papar Anton.


"Bisa jadi, karena saya juga merasakan hal yang sama," timpal Lukas.


Anand dan Aisyah hanya diam, mereka berdua hanya saling lirik memberi kode pribadi agar saling berhati-hati. Semua pasti ada jalannya, hanya kita pandai membaca situasi yang ada.


"Untuk kaum adam, kamar kalian berada di sisi kiri, ya. Berbagi yang adil dalam menentukan kamar kalian. Nanti kita kumpul lagi saat makan malam jam tujuh," jelas Aisyah sebagai tuan rumah.


Sesuai arahan Aisyah maka secara teratur kaum adam memasuki kamar masing-masing tanpa berebut. Setelah semua masuk hanya menyisakan Anand yang hanya berdiri di samping Aisyah.


"Abang, kok masih di sini? Tidak istirahatkah?" tanya Aisyah.


"Saya ingin bersamamu, tidur di sampingmu," canda Anand.


"Iih, ogah. Bye," ucap Aisyah sambil berlari kecil meninggalkan Anand yang tertawa melihat tingkah gadisnya.


Sementara di pinggir Hutan Purwo dekat pesisir Pantai Plengkung tepatnya di sebuah gedung tua, Wahono dan Robert sedang membicarakan hasil dari racun pestisida yang di sebar tanpa sepengetahuan penjaga tambak udang milik Aisyah.


"Bagaimana hasil penyebaran petisida kemarin, Boy?" tanya Wahono pada anaknya, Ribert.


"Berjalan dengan baik, Pah. Sekarang mereka sudah berada di rumah induk," balas Robert.


"Untuk selanjutnya kita harus mempersiapkan segalanya lebih matang, Boy. Agar mereka bisa segera runtuh!" ujar Wahono.


Kedua ayah dan anak itu membuat rencana untuk menghancurkan semua keturunan Kardiman. Kali ini Robert lebih hati-hati dalam usaha penjebakan semua keturunan Kardiman. Apalagi informasi tentang sepupu Aisyah sudah sampai di telinga Robert.


"Pah, Asiyah Kardiman memiliki sepupu yang tinggal di Jerman dari saudara kembar Edward Kardiman," jelas Robert.


"Apa informasi itu sudah akurat?" tanya Wahono.


"Iya, Pah," balas Robert.


Informasi terbaru telah di dapat, maka kedua pria itu kembali menyusun rencana penculikan yang ditujukan pada cucu Kardiman.


****


Jerman


"Hello, grandma," sapa Serenita saat melihat neneknya sedang duduk santai di teras rumah.


"Serenita! Sudah sampai kamu, Sayang," balas nenek.


"Lihatlah saya, Nek. Cantikkah?" ujar Serenita berputar menunjukkan pakaian khas Jawa yang dikenakan saat itu.

__ADS_1


Pandangan neneknya tertuju pada Serenita, "indah dan cantik, Sayang. Apakah sudah bertemu dengan sodara kamu di Indonesia?"


__ADS_2