Rasa Masa Lalu

Rasa Masa Lalu
Bab 7 Jodohku


__ADS_3

Bab 7 Jodohku


SINGAPURA


Di sinilah sekarang Aisyah berada, di negeri Singa, sudah seminggu melakukan perawatan wajahnya akibat penculikan itu.


'Bang, Ais di sini, apakah kamu tau?' batin Aisyah. Jujur dia sangat merindukan Anand, menantikan perjumpaan dengannya selama ini, hampir putus asa.


"Apa kabar, Ai?" ucap Nia pelan, perlahan melangkah mendekati Aisyah dan duduk di sampingnya.


"Bagaimana jadwalku, Nia, kapan itu?" ucap Aisyah seakan sudah lelah menanti, dia ingin segera pulang ke tanah air untuk menjumpai kekasihnya.


Nia terdiam pandangi sahabatnya itu, wanita yang dulu terlihat anggun, sederhana, tinggi 160, kulit kuning langsat mulus dengan rambut hitam panjang bergelombang menambah kecantikan natural yang di milikinya. Kini seakan layu hilang semangat.


"Sabar ya Ai, tunggu senin depan, 2 hari lagi jadwalmu turun. Siap-siap ya," jelas Nia.


"Apakah Abang Anand dapat mengenaliku dengan wajah baru itu, Nia?" tanyanya lagi, masih ragukan hasil akhir nanti.


"Bila cinta bicara, mau ganti seribu wajah pun lelaki sejati pasti bisa mengenali wanitanya, Ai, jangan khawatir ikuti prosedurnya saja!" kata Nia


Ais mengangguk tanpa berucap, hanya menatap ruang kosong sekosong hatinya, merindukan sangat rindu akan lelakinya.


INDONESIA


Sementara di tanah air Anand di sibukkan urusan kantor yang padat. Setumpuk file ada di meja kerjanya, tiba-tiba pintu ruangannya terbuka, Carissa masuk tanpa permisi di ikuti sekertaris Anand.


"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa mencegahnya masuk," desis sekertaris


"Tinggalkan dan teruskan pekerjaan kamu!" perintah Anand


Mendengar perintah tuannya, segera sekertaris itu keluar menuju meja kerjanya dan kembali berkutat dengan laptopnya.


"Apa yang kamu inginkan?" tanya Anand masih di posisi yang sama menghadap layar laptopnya.


"Bukankah kamu sudah sepakat untuk temani aku membeli cincin nikah kita? Hari ini," decak Cariss dengan muka yang dibuat kesel akan Anand.


Carissa harus bersabar dan mencoba mendekati Anand dengan cara halus agar semua tujuannya tercapai.

__ADS_1


"Ough, maaf aku lagi banyak kerjaan, kamu pergi ditemani Lukas saja, bagaimana?" balas Anand yang tetap pada laptopnya, tak sedikit pun matanya memandang Cariss.


Melihat tingkah Anand membuat Carissa semakin gila, "huhft, keterlaluan kamu Anand!" bentak Cariss, kemudian melangkah keluar meninggalkan Anand.


Tanpa bicara, Cariss keluar dari ruangan Anand. Berjalan dengan menghentakan kaki menandakan kekesalan hatinya. Sampai pintu, di bukanya dengan kasar dan dibantingnya pintu itu untuk meluapkan emosinya.


Anand terbengong melihat tingkah tunangannya itu , 'kok bisa mama kenal wanita rubah itu?' batinnya. Sungguh sial hidupnya bila harus mendampingi wanita seperti itu.


Tok tok tok


"Masuk," ucap Anand


Pintu terbuka, masuklah wanita paruh baya berhijab yang masih terlihat cantik memakai gamis biru muda tampak segar. Tanpa terucap kata, dia langsung duduk di sofa dalam ruangan itu.


"Ma-mama!" kejut Anand, setelah itu dia meninggalkan mejanya dan melangkah mendekati sang mama. Mencium punggung tangan mamanya penuh takzim.


"Mengapa tanpa kabar, Ma?" tanyanya.


Ternyata yang memasuki ruangan kerja Anand adalah Ibu yang mengandung dirinya.


"Haruskah seorang ibu mengatur jadwal untuk menemui anaknya?" ucap sang ibu.


"Minum apa, Mah?" tanya Anand lembut, hanya bersama sang ibu dia bisa bersikap lembut.


"Teh lemon rendah gula ya!" pesen sang ibu.


Tanpa jawaban Anand sudah tau, segera dia menuju dapur kecil di ruangan itu untuk membuatkan apa yang di inginkan ibunya.


"Ini Mah, diminum!" ucap Anand saat memberikan cangkir teh untuk ibu.


"Hem," lirih ibu, setelah meminum tehnya.


Setelah meminum teh itu sedikit, cangkir teh diletakkan di meja. Pandangannya beralih pada putra semata wayangnya.


"Bagaimana acara untuk pernikahanmu, Nak?" tanya ibu.


"Anand, sudah tak berminat bahas pernikahan itu," cicit Anand.

__ADS_1


Setelahnya Anand berdiri, berjalan menuju meja kerjanya, kembali berkutat dengan laptopnya membiarkan ibunya sendiri di sofa.


"Anand, kakekmu sudah tua, saat itu berjanji pada mendiang sahabatnya untuk berbesan," jelas ibu sambil pandangannya menerawang seakan kembali ke masa lalu saat ayahnya berjanji pada sahabatnya.


"Kenapa harus saya, Mah?" tanya Anand.


Sang Ibu terdiam, kemudian menghampiri anak kesayangannya. Mengecup lembut kening Anand, di belainya rambut anak kesayangannya. Setelah di rasa cukup dia kembali duduk di sofa.


"Kamu harus tau, Nak, ceritanya sangat panjang," lirih ibu, kemudian dia menceritakan sekilas tentang perjodohan dua keluarga yang saling sepakat.


Kakek Anand, saat itu hanya memiliki 1 anak perempuan dan sahabatnya juga perempuan maka perjodohan itu berlanjut ke cucu. Anand adalah cucu laki-laki satu-satunya dalam keluarga besar Alatas jadi dia yang memikul janji sang kakek. Begitu juga sahabat kakek hanya memiliki cucu perempuan, jadi tidak ada salahnya jika mereka di jodohkan sejak dini.


Sementara dari pihak sahabat kakek, tidak ada pewaris yang sah. Terpaksa di ambil dari cucu angkat dari anak angkat sahabat kakek, Carissa Hendrawan merupakan cucu angkat dari Hendrawan dari anak angkatnya yang bernama David Hendrawan.


Anand mendengarkan cerita dari sang Ibu seksama, mulai mengerti alurnya.


"Kemana perginya pewaris yang sah, Mah?" tanya Anand.


"Dari informan papahmu, anak perempuan pak Hendrawan menikah dengan pria desa dan pergi menghilang tanpa jejak, terakhir terdengar kabar mereka meninggal bersamaan dalam kecelakaan," cerita sang ibu.


"Sejak saat itu pak Hendrawan mulai sakit-sakitan sampai meninggal dan belum pernah melihat anak, mantu dan cucunya." lanjut ibu


Anand terdiam mendengarkan cerita ibu, 'mungkinkah Ais ... ' batinnya bicara, membayangkan sosok Ais jodohnya dari kecil. Seulas senyum tampak di bibirnya yang ****.


Anand mengingat kejadian 10 tahun lalu saat dia mengalami penculikan, saat itu usianya 15 tahun. Dia di culik dalam keadaan tertidur dan di buang di tengah laut, saat terbangun tubuhnya hampir tenggelam ke dasar untung dia segera sadar dan berusaha naik ke permukaan. Anand kecil berhasil berenang sampai pantai dan pingsan. Saat tersadar dari pingsannya, Anand melihat wajah nan cantik merawat luka akibat benturan dengan karang. Kecantikan wajah Ais membuat dia rindu dan tersenyum penuh arti.


Melihat anaknya tersenyum, dia ikut senyum. Kemudian berdiri mendekati anaknya untuk pamit pulang kembali ke rumah sakit temani sang ayah.


"Anand, mama pulang kembali ke rumah sakit, usahakan datang melihat kakekmu!" pamit ibu


"Baik, Mah. Lepas kerja Anand segera liat kakek," lirihnya.


Setelah sang ibu keluar, Anand menghubungi Lukas untuk memberikan tugas baru.


[Lukas, ada tugas baru untukmu. Segera datang keruanganku!]


[Segera, Tuan.]

__ADS_1


Setelah menjawab dan menutup panggilan itu Lukas melangkah meninggalkan ruangannya untuk memenuhi panggilan sang big bos.


__ADS_2