
Bab 28 Ponsel
Prank
Ponsel yang di pegang Carissa terjatuh dan ambyar, sungguh tak pernah terbayang dalam benak hatinya bahwa Robert akan berbuat seperti itu.
Carissa memang tidak ada cinta untuk Robert tapi semua kekacauan yang terjadi akibat ulahnya juga, pikirannya melayang satu tahun yang lalu awal berjumpa dengannya.
Satu tahun yang lalu
"Carissa, kamu harus menikah dengan Anand Alatas. Keturunan langsung dari Alatas group!" ucap David, papahnya.
"Tidak, Pak! Carissa tidak kenal dan tidak ada rasa dengan Alatas, yang Carisaa mau pria tegap, gagah dan tajir juga tampan. Alatas hanya pria cacat," balas Carissa dengan nada kesal.
Berita yang beredar dalam dunia bisnis, Anand Alatas pengusaha yang memiliki cacat tubuhnya. Menurut pandangan Carissa, lelaki macam itu tidak pantas memdampinginya jadi membuat dia tidak berminat untuk melanjutkan pertunangan itu.
Untuk menghilangkan rasa penat dan kesalnya, Carissa pergi ke club malam. Di sanalah dia bertemu Robert, mereka berdua asyik menikmati malam dengan fasilitas yang ada di sana.
Dentuman musik membuat keduanya melantai bersama, bau asap rokok dan alkohol memenuhi ruangan. Lama-kelamaan Carissa merasakan pusing dan badan terasa melayang hingga dia jatuh dalam pelukan Robert.
"Ihh, dasat pemula, barus sejam saja sudah tepar. Akan aku ajari kamu tentang dunia malam yang indah dan nikmat, gadis cantik," ucap Robert dengan senyum sinis.
Dipandanginya tubuh Carissa, putih, tinggi dan sintal, "kau haris jadi miliku," imbuh Robert.
Robert memapah tubuh lemas Carissa mendudukkan di sofa pojok ruangan itu. Di tepuknya pipi putih milik Carissa pelan sampai Carissa sadar dan membuka matanya.
"Di mana, aku? Robert, kamu masih di sini? Oh, syukurlah. Bisa antar aku pulang, ini sudah sangat malam," kata Carissa setelah melihat Robert.
"Baik, mari aku antar kamu pulang, Carissa!" balas Robert.
Robert menuntun Carissa menuju mobil yang sudah siap di lobi club, di bukakan pintu depan untuk Carissa sementar Robert menempati kursi sopir. Mobil mulai berjalan mengantarkan Carissa ke rumahnya.
Bulan berganti bulan akhirnya keduanya semakin dekat hingga suatu malam terjadilah hal yang membuat Carissa ketagihan selalu meminta lebih pada Robert.
"Carissa, aku serius bersamamu jalani semua hingga ke jenjang pernikahan. Menikahlah denganku, Carissa Hendrawan!" ucap Robert.
"Iya, aku mau," balas Carissa mantap.
"Tunggu hari itu tiba, sayang,"
__ADS_1
Kembali ke masa kini
'Sekarang, apa ini? Apakah tujuanmu seperti itu, setelah kau reguk maduku?' batin Carissa.
Tok tok tok
Terdengar ketukan pintu, Carissa gegas membuka pintu dengan menarik gagangnya dan terlihat senyum Robert sambil membawa kantung obat yang di perlukan untuknya.
"Ini obat yang di resepkan dokter untukmu dan bayi kita, sayang," ucap Robert sambil mengelus lembut perut Carissa yang mulai buncit.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata menatap tajam ke arah keduanya, mata itu mengeluarkan aura kemarahan akan sikap keduanya.
"Apa-apaan ini, Carissa. Jelaskan siapa laki-laki ini!" ujar David dengan lantang.
"Papah, kenalkan ini Robert Kardiman, anak dari Wahono Kardiman, ayah dari janin yang Carissa kandung," jelas Carissa.
Plak plak plak
Tamparan keras mendarat di pipi Robert sebanyak tiga kali, "tidak saya sangka ternyata anda seorang bad boy, sungguh berani melewati batas. Sebagai laki-laki sejati, Anda harus bertanggung jawab!" ujar David.
"Sudahlah, Pah. Carissa tidak apa-apa, sebaiknya kita pulang dan kamu! Jangan harap bisa menyentuh saya lagi, ingat itu!" ucap Carissa penuh penekanan di kata menyentuh.
"Bersabarlah, tunggu emosinya reda baru kamu bisa kunjungi tempat kami," kata Luisa kemudian berlalu pergi menyusul suami dan anaknya.
Robert berjalan menutup pintu kembali setelah ketiganya keluar dari kamar itu, saat dia berjalan menuju ranjang kakinya menginjak sesuatu. Pandangannya melihat ke bawah, 'apa ini? Ponsel, ini ponselku?' ucap Robert.
Robert membungkuk mengumpulkan ponselnya yang hancur tidak berbentuk.
'Apa yang terjadi di sini?' imbuhnya
****
Mansion Tulip
Alatas memasuki ruang kerjanya, di buka laptopnya mencari file lama yang dia simpan. Dibuka dan diputar file itu yang berisi kenangan terakhir bersama keluarga sahabatnya, Kardiman.
"Man, nanti jika kamu punya cucu perempuan aku lamar buat Anand, Cucuku ini," ujar Alatas kala itu.
"Tidak bisa, Bang, si Edward saja kan belum lulus kuliahnya. Mana ada nikah muda," balas Laura ketus.
__ADS_1
"Iya ini, si Abang mau enaknya sendiri. Anand kan juga masih bayi," timpal Lily istri Alatas sambil menimang cucunya yang masih bayi.
Pembicaraan dua kepala keluarga kaya yang ingin cucunya kelak berjodoh membuat kedua istrinya berang. Alatas yang baru saja bertemu sahabatnya Kardiman merasa sangat senang hingga berniat menjodohkan cucunya kelak. Namun, anak Kardiman sudah menghilang sebelum terjadi pernikahan.
Alatas berpikir ulang akan vidio keluarga yang disimpannya itu, mengapa saat itu Edward masih menempuh pendidikan Kardiman menyetujui perjodohan cucunya kelak.
'Kejadian di rumah sakit, saat itu bukankah kelahiran cucu kita bersamaan? Terus cucu yang mana ini?' gumam Alatas dengan lirih.
'Tunggu, apakah saat itu yang di maksud Kardiman adalah Robert? Anak Wahono?' imbuhnya.
Semua kenangan akan pertemuan dengan Kardiman diingat oleh Alatas, diputar ulang di memori otaknya dan disatukan hingga membuat kesimpulan bahwa cucu itu buka Aisyah. Alatas mengambil ponselnya mengirim chat via aplikasi hijaunya pada Anand.
[Ping!]
[Iya, Kek.]
[Segera ke mansion kakek, ada yang perlu di bicarakan. Ajak Aisyah.]
Setelah memberikan perintah pada Anand, Alatas kembali berkutat dengan laptopnya.
Sementara di hotel Seraton kamar dua puluh dua di mana Anand dan Aisyah berada, masih sama mereka terdiam dan merasa canggung setelah kejadian Anand mencium Aisyah.
"Maafkan abang, sudah berani menyentuhmu tanpa seijinmu dahulu," ucap Anand.
"Tidak apa-apa, Bang. Terimakasih," balas Aisyah masih malu menatap Anand.
"Kamu sangat cantik Aisyah Kardiman, maukah menjadi istriku calon ibu dari anak-anakku?" ujar Anand tegas tidak ada keraguan dalam wajahnya.
Aisyah termangu bibirnya sedikit terbuka seakan tidak percaya dengan pendengarannya, Anand menyatakan cintanya langsung membawa ke pernikaha.
"Apakah ini tidak terlalu cepat, Abang? Aisyah belum menjumpai keluarga ibu," kata Aisyah dengan menundukan kepalanya.
Anand tersenyum, memgusap lembut pucuk kepala Aisyah. Kemudian berjalan di sofa, duduk santai menikmati kopi yang sudah dia pesan bersama sarapannya.
"Jangan dipikirkan serius dulu, mari kita keluar. Di luar masih ada yang lain!" ajak Anand.
"Yang lain? Maksud Abang?" tanya Aisyah tidak mengerti.
"Ada Lukas, Alin dan sahabatku satu lagi yang belum kamu kenal, Ai. Mari kita keluar dulu, nanti kamu akan tahu," jelas Anand lalu berdiri menunggu Aisyah berjalan mendekat.
__ADS_1
Mereka pun berjalan bergandeng tangan keluar dari kamar untuk menemui semua sahabat dari Anand juga Alin orang kepercayaan Nia.