
"Siapa anak perempuan ini, Mbok?" tanya Nia dengan suara bergetar.
"Dia ... dia adalah saudara kembar kamu, Nduk. Maafkan simbokmu ini, ya?" balas simbok dengan air mata mengalir pelan.
Nia langsung menghambur memeluk simbok, bukannya Nia marah akan rahasia yang disimpan simbok selama ini tetapi karena kenyataan yang membuatnya merasa sangat bersyukur karena di rawat olehnya.
"Terimakasih, Mbok. Nia sangat, sangat bersyukur bisa bersama simbok selama ini, Nia tahu pasti betapa berharganya nyawa ini," jelas Nia sambil memeluk simbok.
"Percayalah, bukan maksud orangtuamu membuang dirimu tapi lebih pada sembunyikan keturunan dari para penjilat dan penjahat," jelas simbok dengan mengusap lembut kepala Nia penuh rasa sayang.
"Aisyah yang tidak pernah merasakan kasih sayang kakek dan neneknya yang lebih merasa tersisih, Nduk," ucap simbok.
Mereka terdiam cukup lama, masing-masing memikirkan apa yang terjadi jika rahasia terbongkar semua. Akankah Wahono bertindak gegabah.
"Mbok, terus nama ibuku siapa? Saudaraku juga siapa?" tanya Nia lirih.
"Erwina Lowrens, mengapa pakai nama Lowrens? Itu dikarenakan mami kamu hidup di Jerman, itulah mengapa kamu sangat dimanja Nyonya Laura saat itu," jalas Simbok.
Nia mengangguk membenarkan peristiwa di mana dia bersama nyonya Lowrens, begitu dimanja. Masa yang sangat indah, kenangan bersama nenek.
"Apa bunda dan ayah Usman mengetahui hal ini, Mbok?" tanya Nia tentang orang tua angkatnya.
"Mereka anak dan mantu simbok, Nak. Mereka sangat menyayangimu, apalagi Usman Ali yang sekarang jadi asisten Tuan Besar Kardiman. Meskipun dia kakak angkat tapi dia sangat menyanyangimu," papar simbok.
Mendengar nama Usman Ali membuat Nia ingat akan tugas yang di embannya dari Aisyah. Segera dia bangkit dari duduknya mengambil berkas berisi kejahatan Wahono.
"Mbok, saya mau ke Surabaya bersama yang lain. Untuk pekerjaan di sini akan di urus warga sekitar sebagai penghasilan, hasil penjualannya bagi sama rata, seperti itu pesan Aisyah," ujar Nia
"Simbok ikut kemana kalian pergi, Nduk," ujar simbok.
"Baiklah, mari bersiap diri karena semua urusan di sini telah saya selesaikan jadi sebaiknya kita segera ke Surabaya," jelas Nia.
Setelah berkata seperti itu, Nia bersama simbok berbenah diri di kamar masing-masing mengepak barang yang di perlukan. Lama Nia dalam kamarnya mengulang kembali kenangan indah masa kecilnya saat bersama Nyonya Laura, 'ternyata nyonya adalah nenek sesungguhnya untukku,' batin Nia.
Sebuah ketukan pintu membuyarkan lamunannya, gegas Nia berdiri menuju pintu untuk membukanya
"Nenek, masuk!" ajaknya.
"Mulai hari ini jangan panggil nenek ya, Neng. Sekarang posisi kita berbeda," jelas simbok.
"Tidak ada perubahan dalam diri Nia dan Aisyah, nenek tetap nenek kita mulai dulu hingga nanti," jelas Nia.
__ADS_1
Nia berdiri menyiapkan barang yang akan di bawanya ke Surabaya sebelum semua terbongkar, simbok ikut membantu mengemasi semua yang di perlukan Nia,
"Nia, sudah selesai, Nek. Bagaimana dengan bawaan nenek selama di Surabaya? Sudah siapkah?" tanya Nia dengan nada rendah.
"Simbok tidak perlu bawa banyak, Neng. Cukup beberapa baju saja. Semua sudah terpenuhi di sana," balas Simbok.
"Kalau begitu, mari kita berangkat sekarang mumpung masih pagi!" ajak Nia pada neneknya.
Mereka berjalan bersama menuju mobil yang sudah terpakir di depan pintu, di sana berdiri Rian rekan Nia.
"Kak, bener nih tanpa saya kawal ke Surabaya nya?" tanya Rian.
"Tidak perlu, sudah ada Alex. Kamu pegang semua di sini, jika nanti aku butuh kalian pasti segera aku kabari," jelas Nia.
"Baik, Kak. Selamat jalan, moga sampai tujuan tanpa ada aral rintang. Jaga keselamatan bos kita, Kak Alex!" ujar Rian.
"Pastilah, bro. Udah ya, bye," balas Alex.
Mobil berjalan meninggalkan rumah Aisyah yang berada di pesisir Pantai Plengkung, Banyuwangi. Sampai kota Banyuwangi ponsel Nia bergetar menandakan ada panggilan masuk. Dilihatnya nama pemanggil yang tertera di layar, ternyata Aisyah menghubunginya. Segera di angkatnya panggilan itu.
[Hallo, Ai?]
[Jadi, saat ini sudah sampai kota Banyuwangi. Simbok dan Alex yang temani perjalananku, Ai.]
[Iya, hati-hati di jalan. Jika nanti sudah sampai Surabaya, datangi langsung alamat yang sudah saya serlok. Kami menunggu kakak di sana.]
Setelah memberi informasi, panggilan di tutup Aisyah tanpa pamit terlebih dahulu. Nia memerika riwayat chat Aisyah, membaca serlok yang di kirim padanya.
"Ooh, ternyata mereka berada di rumah Tuan Alatas. Alex, jika nanti sudah sampai Surabaya langsung menuju rumah Tuan Alatas. Kita di tunggu di sana," jelas Nia.
Alex hanya menganggukan kepala tanda mengerti akan ucapan Nia. Mobil berjalan dengan kecepatan sedang, lalu lintas berjalan normal. Perjalanan dari Banyuwangi hingga Surabaya menempuh waktu lima jam, mobil yang di bawa Alex memasuki kawasan industri melaju santai menuju arah ringroad(jalan baru).
"Kak, sampai sini saya kurang paham. Lupa-lupa ingat," ujar Alex.
"Lurus saja dulu, jalan mendekati kampus negeri baru kita belok. Di sana ada papan bertuliskan Mansion Tulip, itu tempatnya," jelas Nia.
Alex kembali melajukan mobilnya, hingga menjumpai belokan sebelum kampus negeri. Mobil membelok dan mengarah jalan menuju Mansion Tulip.
"Kak, nomer berapa mansion Tuan Alatas?" tanya Alex begitu mobilnya memasuki daerah Mansion.
"Paling ujung dan megah, lokasi menghadap pantai jawa."
__ADS_1
Nia masih dengan laptop dipangkuannya, dia mengerjakan laporan tentang Wahono dan pergerakannya yang signifikan.
"Apa ini? Mengapa begitu cepat hal ini di lakukannya?" ujar Nia geram melihat laporan para bawahannya yang membuntuti Wahono.
"Apa yang terjadi, Neng? Jangan emosi seperti itu, tidak baik buat kesehatan otak," jelas simbok.
Nia memandang simbok dengan senyum simpul hanya sesaat, kemudian kembali berkutat dengan laptop hingga konsentrasinya buyar akibat ajakan Alex untuk keluar dari mobil.
"Kak, sudah sampai. Tidak inginkah kakak turun?" tanya Alex dengan nada sedikit keras.
"Oh, maaf, baiklah mari kita keluar," ajak Nia pada yang lain.
Ketiganya sudah di sambut oleh Aisyah di beranda rumah Alatas. Melihat simbok, Aisyah langsung menghambur memeluknya.
"Simbook, Aisyah kangen banget. Apa kabarnya?"
"Simbok, sehat," balas simbok.
"Apa kabarmu, Ijah?" tanya Bik Sumi
Sesaat mata simbok bersitatap tegang dengan Bik Sumi, terkejut, seakan dunia berputar kembali di masa lalu saat keduanya masih muda.
"Suummi, ini bener kamu?" tanya Simbok
"Benar, aku sumi. Rekan kerja dulu," balas bibi.
"Ajak masuk dulu semuanya, Ai. Nanti kita bicarakan di dalam tentang rahasia ini," ajak Anand.
Semua mengangguk setuju dan masuk dalam rumah satu per satu, bibi dan simbok langsung berjalan menuju dapur untuk menyiapkan minum juga cemilan agar nyaman membahas hal yang penting. Di dapur bibi sangat penasaran tentang kehidupan sahabatnya kala muda dulu.
"Bagaimana hidupmu selama ini, Ijah?" tanya bibi.
"Selama ini aman terkendali tapi sejak Non Ais dewasa mereka mulai menyerang kami. Berbagai cara di lakukan, apalagi sejak kematian Aden Edward," papar simbok.
"Dulu sempat aku dengar jika Den Anand terdampar di Pantai Plengkung, apa itu daerah kalian?"
"Benar, di sana Non Aisyah menemukan tubuh Aden," ucap simbok.
Maka mulailah simbok bercerita tantang perjalanan Anand dan Aisyah selama kurang lebih tiga bulan. Ucap janji keduanya pun simbok ceritakan, Pantai Plengkung tempat mereka mengukir janji setia sehidup semati.
"Takdir tidak akan ke mana, jika keduanya berjodoh pasti akan bersatu," ucap bibi dengan suara lirih.
__ADS_1