
Bab 13 Rahasia terungkap
Sementara di rumah sakit, seorang kakek tertidur di atas bangsal ruang rawat mewah di temani seorang pria tampan, cucunya Anand Alatas.
'Ada apa denganmu, Kek' batin Anand penuh tanya, memandang wajah sang kakek yang berubah-ubah dalam tidurnya.
"uuggh," lenguh Alatas, perlahan matanya terbuka, menatap wajah tampan cucu lelakinya. Senyum terukir di bibir lelaki tua.
"Kakek," lirih Anand. Diraih tangan tua kakek dan dibawanya dalam dekapan kemudian diciumi penuh rindu.
"Apa yang kakek rasakan, sebelah mana yang sakit, kek?" tanya Anand beruntun, menandakan rasa khawatir akan keadaan kakeknya.
Melihat wajah cucunya, lelaki tua itu hanya tersenyum, tangannya terangkat meraih kepala sang cucu mengusap lembut pucuk kepalanya dan berkata, "kakek sudah sehat, ingin melihatmu bersama gadis itu."
"Gadis mana yang kakek maksud?" ujar Anand dengan suara rendah.
"Cucu Kardiman," jawab Kakek lirih.
Kardiman, nama yang cukup familiar di telinga Anand. Namun dia lupa siapa itu Kardiman, bertanyalah dia, " Kardiman, siapakah orang itu, Kek?"
"Akan aku ceritakan semua malam ini, dengarkan baik-baik! Setelahnya cari gadis itu! Mungkin sekarang sudah menjelma menjadi wanita yang cantik, persis seperti neneknya."
Flasback 25 tahun lalu
Di rumah sakit Mutiara Harapan, dua orang sahabat bertemu setelah terpisah lima tahun lamanya.
"Kardiman."
"Alatas."
Ucap keduanya bersamaan.
"Kau duluan!" kata Alatas.
"Apa kabarmu sobat?" tanya Kardiman,menghampiri Alatas dan memeluknya sebentar kemudian di ajaknya memasuki ruangan pribadinya.
"Sedang apa kamu berkunjung di rumah sakitku?" lanjut Kardiman setelah mereka duduk di sofa dalam ruang kerja Kardiman.
"Pertama kabarku dan keluarga dalam keadaan baik, bahkan saat ini aku akan menjadi seorang kakek," jelas Alatas terpancar rona bahagia di wajah senjanya.
Kardiman mendengarkan penjelasan Alatas penuh senyum, karena dia pun juga akan menjadi seorang kakek.
"Ini sudah takdir, kita dalam posisi yang sama," ucap Kardiman.
"Maksudmu! Kamu juga akan menjadi kakek? Oh Tuhan, takdirMu sungguh indah," kata Alatas.
"Kita harus berbesan, tapi aku bimbang akan hal itu!" kata Kardiman dengan tatapan hampa.
Alatas memandang sahabatnya itu, dia paham ada sesuatu yang di sembunyikan Kardiman dan itu pasti masalah serius.
__ADS_1
"Ada apa, ceritalah!" pinta Alatas.
"Anakku menikah dengan keluarga Hendrawan, namun dia menyamar sebagai pemuda miskin sekarang menantuku itu sudah melahirkan dan dia tidak mengetahui bahwa aku ayah mertuanya yang telah membantu proses kelahiran anaknya."
Kardiman berhenti sesaat, dia menghela nafas perlahan mengeluarkan segala resah di hati.
"Lanjutkan!"
"Dalam keluarga Hendrawan ada orang yang sangat membenci menantuku dan berniat membunuh calon cucuku, maka dari itu Edward membawa Alya jauh ke luar kota. Baru kemarin aku bertemu dengan mereka tapi anakku melarangku untuk membuka identitasnya, jadi aku bungkam dan bimbang," Kardiman terdiam sebentar, kembali menghirup udara melonggarkan kepedihan yang dirasakan.
"Aku titip cucuku padamu, kehadirannya banyak mengundang masalah. Aku, tidak mau kehilangan yang kedua kali. Sudah cukup bagiku, kepergian Laura membawa luka yang dalam," imbuh Kardiman lalu beranjak berjalan ke arah lukisan wanita cantik keturunan Turki.
Alatas hanya bergeming mendengarkan penjelasan sahabatnya, sejenak dia berdiri meregangkan ototnya, kemudian berkata, "apakah perebutan masih berlangsung?"
"Iya, karena itulah Edward sembunyi dari keluarga besarku. Wohono, masih menginginkan nyawanya," jawab Kardiman
"Masih bernafsu rupanya dia, bukankah dia telah berhasil membunuh Laura?"
Kardiman diam, bibirnya terkatup rapat. Dia tenggelam dalam kenangan bersama wanita cantik yang ada dalam lukisan, diraba perlahan lukisan itu penuh rindu.
"Andai kamu masih ada, pasti bahagia mendapat cucu yang cantik seperti yang kamu inginkan, my love," imbuhnya dengan suara lirih.
Alatas mendekati sahabatnya itu, menepuk pundak sahabatnya itu, "sudahlah sobat," ucap Alatas.
"Dia sangat cantik, mirip Laura. Jika suatu hari nanti kamu menjumpai gadis dengan tato kepala harimau menunduk, dialah cucu perempuanku, anak Edward," papar Kardiman.
Setelah terungkap semua, kedua sahabat itu berpelukan melepas penat di hati dan berpisah. Alatas meninggalkan ruangan itu menyisakan Kardiman sendiri dalam ruangannya.
Flasback off
"Seperti itulah Anand sejarahnya, mengapa kamu harus menikah dengan cucu Hendrawan," kata Alatas di akhir ceritanya.
"Siapa nama cucunya Bapak Kardiman, kek?" tanya Anand.
"Saat itu belum diberi nama dan Kardiman juga sempat menghilang lima tahun, setelah lima tahun kami berjumpa dia cerita bahwa dia kehilangan kontak dengan Edward," jelas Alatas.
Anand terdiam, memikirkan cerita kakek dan mamanya. Dua cerita yang hampir menyambung, otaknya berputar mencari celah dari kedua cerita itu. Diambil ponsel dalam saku kanan jasnya.
"Maaf, kek, Anand melakukan panggilan dulu sebentar untuk menggali informasi tentang ini," ijin Anand.
"Silahkan, Nak," jawab kakek.
Anand berjalan menuju sofa dalam ruangan itu dan memulai panggilannya.
[Hallo!] suara dari sebrang
[Lukas, sudah dapat informasi tentang motif penculikan Ais?]
[Sudah,]
__ADS_1
Lukas menjelaskan semua tentang motif penculikan Ais, semua di dalangi oleh Carissa dengan motif cemburu akan Aisyah. Mengapa selalu Aisyah yang jadi prioritas utama seorang Anand padahal dia adalah tunangan Anand.
Saat itu juga, Lukas menjelaskan mengenai keluarga Aisyah, dalam penyelidikannya keluarga Hendrawan memiliki anak angkat yang sebenarnya anak kandung Hendrawan dengan selingkuhannya bernama David Hendrawan. Dari David inilah lahir Carissa Hendrawan, sedangkan anak kandung Hendrawan sendiri bernama Alya Hendrawan.
Alya sendiri sejak menikah dengan pemuda yang tidak jelas asal usulnya itu pergi meninggalkan keluarga besarnya, dengan alasan keselamatan anak yang di kandungnya. Pemuda itu bernama Edward Kardiman.
Kedua orang tua Aisyah telah meninggal di saat usianya 10tahun di karenakan kecelakaan. Sebab kecelakaan itu karena rem yang blong, adanya indikasi pemutusan kabel rem. Untuk saksi saat itu tidak ada. Jadi kasus kecelakaan itu di tutup atas ijin Aisyah.
[Cukup, terimakasih informasinya. Tolong semua berkas info itu kirim ke emailku!]
Perintah Anand pada Lukas.
[Baik, Tuan.]
Selesai melakukan panggilan Anand kembali menuju pembaringan kakek,
"Kakek, berbahagialah sekarang sampai nanti karena aku sudah menemukan jejak calon cucu mantu," jelas Anand.
Bibir tua itu mengulas senyum, menepuk tangan Anand dan berkata, "terimakasih, jaga gadis itu!"
"Baik,"
****
Di kediaman keluarga Kardiman, tampak Aisyah dan Nia sedang sarapan pagi.
"Ais, bisakah kamu jelaskan semua ini?"
"Bukankah semua sudah jelas adanya dalam berkas itu, say," jawab Aisyah.
"Aku ingin tahu lebih jelas mengenai perjumpaanmu dengan kakek, ceritakanlah Ai!" pinta Nia.
Aisyah memandang Nia sesaat, kemudian menghela nafas panjang dan mulailah dia bercerita awal mula bertemu kakeknya.
"Saat itu aku masih kerja di kedai kopi milik pak Robert, di sana ada pengunjung yang bernama Kardiman. Aku mengenalnya akibat kecerobohanku dan kamu tahu, Nia? Dia adalah paman bos di mana aku kerja," papar Aisyah.
"What?(apa?), terus--terus?" kejar Nia makin penasaran akan cerita Aisyah.
"Setelah aku menyebutkan namaku, paman bosku langsung berlalu pergi tanpa sepatah kata pun. Hari berikutnya, dia selalu berkunjung ke kedai itu. Hanya sekedar minum kopi tubruk buatanku selama satu bulan," Aisyah menghela nafas sesak di dada mengingat pertemuannya dengan kakek.
Ais berharap akan selalu ada di dekat kakeknya saat-saat terakhir dalam hidupnya. Namun Tuhan berkehendak lain, sesaat setelah wisuda sang kakek meninggal akibat bahagia berlebih.
Tak terasa air mata mengalir dengan deras di pipi putih Aisyah.
"Mengapa kamu menangis, Ai?" tanya Nia dengan suara lirih sambil menghapus jejak tangis sahabat yang sudah di anggapnya adek.
"Setelah aku selesai wisuda, masih di ruang itu, kakek mengalami serangan jantung dan meninggal."
Nia membungkam mulutnya dengan sebelah tangan, tangan satunya merengkuh Aisyah dalam pelukannya.
__ADS_1
"Ai ... mengapa kamu pendam sendiri derita ini? Mengapa , Ai? Bukankah aku sudah kau anggap sebagai kakak? Berbagilah!?" di peluknya Aisyah sangat erat dan mereka menangis bersama hingga terdengar langkah kaki mendekat.