
Bab 14 Terungkap 2
"Kau sudah pulang, Aisyah Kardiman?" tanya sebuah suara yang sangat di kenal Aisyah, dialah Robert bos kedai yang sekarang menjadi adek sepupunya.
"Ba--bapak Robert?" ucap Aisyah terbata-bata, dia sangat paham siapa Robert ini.
Sebelum Aisyah pulang ke Banyuwangi kakek telah menceritakan semua tentang dendam keluarga Wahono hingga neneknya meregang nyawa. 'kau harus berhati-hati Ai' batin Aisyah.
"Tidak perlu sungkan seperti itu,Ai. Bukankah kita sodara sekarang, panggil saja namaku?!" kata Robert dengan nada sinis, kemudian pandangannya tertuju pada wanita di sebelah Aisyah.
"Siapa wanita ini, Ai?" tanya Robert sambil melangkah ke sofa dan duduk bersilang kaki.
"Dia kakak angkatku, Nia Usman," balas Ais datar.
Mendengar nama terakhir yang disebutkan Ais, Robert mengernyitkan kening dan memijat pelan. Dia berusaha mengingat nama Usman. Tiba-tiba terukir senyum tipis di bibirnya menandakan ingatannya kembali.
"Usman, sepertinya aku mulai mengerti. Baiklah Ai, aku tinggal dulu. Masih ada keperluan yang harus aku selesaikan, tinggallah di sini dahulu sampai kau sembuh. Sampai jumpa," usai berkata panjang lebar Robert pergi menyisakan dua wanita dalam keadaan diam terpaku.
Ais tampak melamun, mengingat nama Usman sepertinya pernah mendengar nama itu saat bersama kakek. 'Apakah mungkin jika asisten kakek adalah orang terdekat Nia?aku harus memastikan hal ini!' batin Ais.
"Nia, apa hubunganmu dengan pak Usman orang kepercayaan kakek?"
Nia terdiam terpaku, 'apakah harus adek ungkap, kak' batin Nia. 'Sanggupkah Nona menanggung semua rahasia keluarga yang tersimpan rapat, kakak bantulah adekmu ini!'
"Nia, jangan terlalu menyimpan rahasia ini sendiri, ayolah!" pinta Ais mendesak Nia dengan menggoyangkan lengannya.
"Ai, aku dan pak Usman adalah kakak sepupu. Dia adalah cucu tertua simbok dari anak pertamanya, sahabat dari paman Edward ayah kamu. Sedangkan kedua orang tuaku sudah meninggal saat menyelamatkan nyonya Laura, jadi aku di besarkan oleh pak Usman juga simbok. Keluarga kami hanya tersisa kami bertiga," papar Nia dengan suara lirih.
Ais meneteskan air mata saat mendengar cerita Nia yang lebih menyedihkan dari kisah hidupnya.
"Maafkan aku yang telah membuka lukamu, Nia." kata Ais sambil memeluk erat sahabat sekaligus kakaknya.
"Tidak mengapa, Ai. Mungkin sudah waktunya kamu tahu mengenai hal ini," ucap Nia.
__ADS_1
Aisyah termenung, mencoba memahami kisah sahabatnya sejak kecil. Tiba-tiba dia teringat masa kecilnya dulu saat Nia pertama kali berkunjung ke rumahnya di Banyuwangi, Nia sosok anak yang pendiam cenderung dingin.
"Apakah saat dulu pertama kali kita bertemu, kadua orang tuamu sudah meninggal?" tanya Ais lirih.
"Iya, setahun setelah ayah dan ibu meninggal saya di titipkan kakak pada simbok yang menjaga keluarga Paman Edward. Keberadaan keluarga kalian hanya kakak yang tahu," jelas Nia, pandangannya tertuju pada ruang baca di depannya.
"Mari, Ai, ikut aku ke ruang baca kakek!" setelah berucap Nia berdiri, di raihnya tangan Ais digandeng memasuki ruang baca kakek.
Nia berhenti di lukisan seorang lelaki yang terlihat senja, "ini lukisan kakek saat aku masih usia 5 tahun, sebelum ke Banyuwangi. Saat itu kamu belum lahir, Ai," kenang Nia.
Kemudian dia berjalan lagi dan berhenti di lukisan wanita bergaun putih dengan memakai jarit khas orang jawa, terlihat anggun, "ini Nini Laura Lowrens, nini yang sangat mencintai keluarga. Yang ini paman Edward saat remaja," jelas Nia dengan suara bergetar, tiba-tiba menangis sesenggukan dan terduduk lemas di lantai.
Ais, melangkah merengkuh sahabatnya dan mengusap lembut punggung Nia, Nia bersandar di lengan Ais hingga tenang hatinya.
"Sudah jangan di lanjutkan jika hal itu membuka lukamu," ucap Ais bijak.
"Baiklah, Ai. Eh, hampir lupa. Mengenai keracunan di perkebunan itu, Alin sudah mendapat informasi siapa dalangnya," jelas Nia.
"Keren kerja kalian, cepat dan akurat ya," puji Ais sambil acungkan ibu jarinya.
"Ini beberapa bukti yang telah dikumpulkan Pak Usman, tolong bantu aku agar semua bersih tanpa jejak!" pinta Aisyah dengan menyerahkan arsip itu.
"Hal ini memang misiku, Ai," ucap Nia dengan nada lirih, kemudian dia menekuni map itu. Semua file di teliti.
"Ini sangat rumit dan saling berhubungan, kita harus mencari benang merahnya agar masalah cepat selesai, Ai!" imbuh Nia setelah melihat semua file.
Ais hanya memandang wajah lelah di depannya dengan senyum tipis. Berjalan ke dinding tepat sebelah lukisan nenek, tangannya meraba terdapat tombol di belakang lukisan itu. Di tekan dan terbukalah suatu ruang rahasia.
"Ais! Kau---bagaimana kamu tau tombol itu?" tanya Nia dengan meta membulat sempurna.
"Tidak penting aku tahu dari mana, masuklah!" ajak Ais dengan suara tegas kemudian melangkah masuk ruang itu.
Mata Nia terbuka lebar menyaksikan semua benda yang ada dalam ruang itu, sungguh menggiurkan.
__ADS_1
"Milik siapa semua ini, Ai?" kata Nia dengan suara lirih memegang senapan idamannya.
"Milik kakek saat muda dulu, apa kamu minat?" tanya Ais sambil membuka almari dan mengeluarkan sebuah Revolver dan mengarahkan ke muka Nia.
Melihat hal itu Nia mundur beberapa langkah, tangannya mengambil sebilah samurai khas jepang dan ujungnya telah menyentuh leher Ais yang putih mulus. Bergerak sedikit pasti tergores
"Aah! Ternyata pergerakanmu cukup cepat Kak," ucap Ais dengan suara agak lemah.
"Jangan remehkan kemampuanku adek cantik, kamu masih di bawahku dalam hal ilmu pedang dan bela diri."
"Huft! Baik, bagaimana tawaranku tadi kak?" kata Ais mengingatkan tawarannya tadi.
Nia diam, kakinya melangkah menyusuri sepanjang deretan senjata yang tertata sesuai fungsinya hingga di berhenti di satu titik yang membuatnya terpesona.
Sebuah belati yang tak lazim bentuk dan ukirannya membuat Nia sangat terlena, perlahan tangannya terulur mengambil belati itu .
"Ini sangat indah Ais, milik siapa belati ini?" tanya Nia tanpa mengalihkan pandangan matanya pada belati tersebut.
Ais mendekati Nia, tangannya menyentuh belati yang dipegang Nia. Tampak hitam permukaannya tapi ujungnya mengkilat nyala tampak tajam. Di pegang Ais belati itu kemudian dilemparnya sekuat tenaga menuju sasaran botol minuman keras dengan jarak enam meter.
Cetas! Cess!
Prok prok!
"Hebat, belajar di mana Ai?"
"Sekedar insting, naluri yang membawaku seperti itu. Tapi tunggu, belati itu ...." ucap Aisyah terhenti saat belati itu masih mengeluarkan suara nnggiinng hingga menimbulkan angin berputas di atas pecahan botol.
"Belati ini telah menemukan tuannya, Ai. Rawat dan gunakan dalam keadaan terdesak, mungkin ada jodoh denganmu." papar Nia.
"Tapi aku inginkan glock 18 ini, kekuatanya menakutkan, apa dipadukan mungkin bisa sepasang,"
"Begitu lebih baik," kata Nia setuju.
__ADS_1
Setelah di rasa cukup memilih senjata andalan mereka keluar dari ruang rahasia tersebut.