
Bab 9 Kenangan
Ketika semua masuk Ais langsung berdiri menjauh memberi ruang pada dokter untuk memeriksa ibunya. Dipandanginya wajah ibu yang melahirkan tampak putih pucat seakan sudah tidak ada aliran darah. Aisyah kecil mulai mengerti mengapa tangan ibunya terjatuh sendiri saat di gemgemnya.
"Maaf Adek, ibu telah pergi" kata dokter.
Aisyah termangu seakan tak percaya, ibu yang sangat dia sayangi pergi meninggalkan dirinya. Barusan masih dipeluknya, diciumnya bahkan berkata padanya tapi sekarang, 'Tuhan, lakon apa yang aku jalani ini?' batinnya perih.
Segera dibersihkan air matanya, 'aku harus kuat, harus jadi seperti yang di inginkan ibu, harus! Harus Ai!' batin Aisyah menyemangati diri sendiri. Aisyah tidak ingin membuat ayah, ibunya kecewa, dia berjanji akan selalu berjuang untuk hidupnya dan memperjuangkan apa yang sudah di jalankan kedua orangtuanya.
Semua telah berlalu hanya menyisakan kenangan yang tak mungkin lupa, di sini sekarang Aisyah, di meja operasi.
Siap melakukan operasi wajah yang rusak akibat siraman air keras, hanya diam mengikuti instruksi dokter ahli. Tubuhnya sudah mulai disuntik anti rasa jadi tidak merasakan sakit saat proses operasi itu.
Opersi berjalan lancar, Aisyah telah di pindahkan di ruang perawatan di temani Nia, sahabat terbaiknya.
"Ha--haus," ucap Ais pelan.
"Ai, kau sudah sadar, alhamdulillah ya Robb. Ini minum dulu, Ai!" kata Nia pelan sambil menyodorkan segelas air untuk Ais.
Setelah selesai minum, Nia pamit untuk memanggil dokter agar segera melakukan pengecekan terhadap kondisi Ais.
Dokter masuk, mendekati Aisyah dan bertanya, "apakah ada yang di keluhkan pasca operasi anda, Nona?"
"Tidak," jawab Aisyah.
"Bagus, jaga jangan tersentuh air selama 3 hari, selanjutnya di hari ke 3 itu kita buka perbannya" jelas dokter sambil memberesi alat kedokterannya.
Mendengarnya Aisyah merasa lega penantiannya akirnya sampai juga, yang membuat dia bimbang akankah wajahnya berubah jadi orang lain. Akankah kekasih hatinya bisa mengenalinya.
"Ai, kok melamun?" tanya Nia
"Ah, tidak, tidak ada kok," balas Ais tergagap.
__ADS_1
"Jangan dibawa serius ya, nyantai jalani saja pada akirnya kalian pasti bersatu juga kok," jelas Nia dengan suara lirih.
Hari yang di tunggu telah tiba, berdua duduk berdampingan di ranjang pesakitan. Terlihat bagai saudara kembar. Hari ini hari akan di buka perban di wajah Ais. Keduanya bersiap diri, 'akankah wajah ini ada perubahan, hingga abang tak mengenaliku?' batin Aisyah bergolak.
"Ai, sepulang dari sini, apa rencana selanjutnya?" tanya Nia.
"Entah, belum mikir ke sana. Yang pasti aku kangen Abang, apa benar kemarin itu yang menolongku bukan Abang?" lirih Ais sendu.
Mendengar apa yang di keluhkan Ais, Nia merasa bersalah. Namun dia juga jalankan pesan Anand agar jangan ungkap kehadirannya saat itu.
"Sebenarnya ..." Nia ragu-ragu untuk membuka mulutnya, jemarinya saling bertaut terlihat bingung bagaimana dia harus menjelaskan
"Ayolah Nia, ungkapkan saja. Jangan berbelit seperti itu, kau tak pandai bohong," sela Ais
Didesak terus menerus akirnya Nia ungkap semua kejadian saat penculikan Ais, dari mulai awal pencarian hingga seseorang itu datang membantunya. Tak sempat sebut namanya Ais sudah membungkam mulutnya. Pikirannya menerawang membayangkan wajah yang di rindu.
"A-abangkah," bergetar bibirnya dalam mengucapkan sebuah nama penuh rindu.
"Iya Ai, Abang datang ikut menyelamatkanmu. Bahkan Abanglah yang membawamu ke Rumah Sakit Harapan Bunda." papar Nia, pandangannya menerawang mengingat kejadian yang lalu.
Namun Nia mendengar apa yang terucap lirih itu hingga bibirnya mengulas senyum, hanya senyum simpul yang indah.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang melihat keakraban itu sejak mula. Hanya memandang dari jauh tanpa ada niat ganggu atau pun mendekat.
Setelah puas memandang lelaki itu pergi meninggalkan lorong bangsal Ais, sayang saat berbalik dia menabrak seorang suster yang kebetulan lewat.
Bruk ...
Lelaki itu hanya diam bergeming, kedua tangannya masih dalam saku celana panjang yang membungkus kaki jenjang, berjalan meninggalkan suster itu.
'Huft dia yang nabrak kok, untung hanya melihat tapi pandangannya horor juga' batin suster itu, kemudian melangkah melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Pintu ruangan Aisyah terbuka, masuklah suster untuk melakukan tugas rutinnya.
__ADS_1
"Maaf Nona, apakah tadi ada pengunjung pria tampan ke ruangan Anda?" tanyanya.
"Tidak, ada apa, Sus?" tanya Nia.
Suster itu sesaat diam, jemarinya bertaut seakan bingung akan keadaan yang dia alami di lorong.
"Saat di lorong saya melihat seorang lelaki tampan tapi dingin sedang melihat ruang rawat Anda melalui celah yang terbuka. Namun saat dia berbalik badan, bertabrakkan dengan saya tanpa bicara berlalu begitu saja," papar suster.
Penjelasan suster membuat Ais terdiam memikirkan siapa sosok itu, bibirnya tersenyum. Dia mengerti akan sosok itu siapa, semangatnya kembali.
'Pasti abang datang melihat perkembangan Ais di sini,' batin Aisyah sambil mengulas senyum indah di bibirnya nan ranum.
"Iss senyum sendiri lagi anak ini!" cicit Nia sambil menyentil kening Ais pelan, "kapan perban di wajah sodaraku ini di buka, Sus?" tanya Nia pada sang suster.
"Setelah saya periksa, kemungkinan nanti sore perban bisa di buka, baik saya permisi masih ada kerjaan lain!" balas suster tersebut dan berlalu pergi.
Hari semakin sore, Aisyah duduk sandar dinding menunggu dokter untuk membuka perban yang membalut sebagian wajahnya. Terdengar langkah kaki mendekat.
"Sore Nona, sudah siapkah?" tanya dokter itu.
"Sudah Dok, silahkan dimulai!" balas Aisyah
Perlahan sang dokter membuka perban di wajah Aisyah, sedikit demi sedikit perban terlepas dari wajahnya.
Kening yang bersih mulai tampak, mata yang terpejam dengan bulu yang panjang, hidung yang mancung. Kemudian bibir tipis memerah ranum, sungguh pemandangan yang indah, sudah terlihat jelas, perlahan mata terbuka sesuai arahan dokter. Sungguh indah ciptaan Tuhan, pahatan sempurna.
Nia membungkam bibirnya yang terbuka, sungguh menakjubkan. Begitu indah, perempuan saja bisa terpana apalagi seorang pria dewasa. Sahabatnya seperti bulan purnama, sempurna, sungguh indah.
"Nia, Dok di mana kalian. Apa yang terjadi, ada apa dengan mataku? Kok gelap." decit Ais meraba semua tempat di sekitarnya.
Sosok lelaki di luar ruangan termangu melihat hasil operasi itu, apakah retinanya tidak berfungsi? Lelaki itu diam, matanya menatap tajam ke arah ruangan di mana Aisyah berada. Tatapannya bersiribok dengan mata Aisyah, senyum tipis terukir di bibirnya.
Dalam hati lelaki itu merasa puas akan hasil akhor operasi wanitany tergolong sukses tanpa ada kendala apapun, wajah wanitanya kembali seperti sediakala saat bersamanya dulu.
__ADS_1
Salut akan perjuangan wanitanya, Anand bersembunyi di tempat sekitar. ingin memberi kejutan pada sang pujaan hati.