
"Selamat siang, apakah benar ini rumah Bapak David Hendrawan?" tanya Aisyah.
"Kak Aliya? Kamu masih hidup?" Luisa tidak menggubris pertanyaan Aisyah, dia justru bertanya padanya.
"Maaf, saya Aisyah buka Aliya. Apa benar anda Nyonya Luisa Hendrawan?" Aisyah bertanya lagi dengan beda pertanyaan, dia terlihat seperti orang bodoh tidak ada yang memperhatikan pertanyaannya.
Tiba-tiba Carissa menyeruak memyingkirkan Luisa dan Asiyah yang berdiri tepat di tengah pintu saling berhadapan, dia langsung memeluk lengan Anand.
"Anand, akhirnya kamu datang sendiri ke rumah orang tua ku. Mari masuk, sayang. Aku kenalkan dengan nenek tersayangku," ujar Carissa sambil memeluk hangat lengan Anand.
Aisyah yang tidak siap akan gerakan Carissa kakinya mundur dua langkah dan badannya sedikit oleng hampir jatuh terpelanting ke belakang. Dengan sigap tangan kekar Anand meraih tubuh ramping itu dalam dekapannya, pose Anand tangan kanan merengkuh pinggang Aisyah, memeluknya sedangkan lengan kirinya di peluk Carissa.
Pemandangan ini membuat David tidak percaya, mengapa harus dua keturunan Hendrawan menyukai pria yang sama.
"Oh, hai Tuan Anand. Mari silahkan masuk!" ajak David dengan suara lirih.
Anand melangkah memasuki rumah Hendrawan yang bernuansa klasik itu dengan tetap memeluk tubuh Aisyah.
''Bang, lepasin tangannya!" bisik Aisyah pada Anand yang hanya di dengar oleh Anand.
Bukannya melepas tetapi makin merapatkan badannya pada badan Aisyah bahkan hidung Anand bisa mencium aroma rambut panjang Aisyah.
"Abaang, issh ...." ujar Aisyah makin keki lalu mencubit pinggang Anand. Namun, Anand tidak merespon cubitan Aisyah.
Mereka akhirnya sampai di ruang keluarga, di sana telah berkumpul semua anggota keluarga Hendrawan, juga tampak Alira Hendrawan yang masih terlihat lemas.
Aisyah maju mendekati Alira, duduk bersimpuh di kaki Alira. Aisyah menitikkan air mata tanda dia sangat terharu akan pertemuan ini.
"Nek, ini Aisyah Hendrawan binti Kardiman. Maafkan Aisyah jika ada salah selama ini," ujar Aisyah dengan mencium punggung tangan Alira.
Pandangan Alira terlihat kosong tanpa tujuan, hanya memandang wajah Aisyah. Alira ingin sekali berucap tapi bibirnya susah di gerakkan akibat jantungnya bergerak cepat dan kejadian tadi pagi saat dia terjatuh dari kursi.
Tangan Alira mengusap lembut rambut panjang Aisyah tanpa permisi air mata keluar dari pipi putih yang mulai keriput. Jemari Alira menyusuri tiap indera Aisyah, mulai dari mata, hidung, dan bibir semua di sentuh oleh Alira.
Air mata tidak bisa berhenti mengalir, pandangan pun tidak bisa berpindah. Hanya terfokus pada Aisyah, tangan Alira tidak bisa berhenti menyusuri tiap elemen di wajah cantik itu.
Perlahan bibir Alira terbuka, seperti ingin bicara. Aisyah tampak tersenyum, memberi semangat pada neneknya.
"Ayo, Nek. Bicaralah! Keluarkan semua yang ada di hatimu, Aisyah akan mendengarkan dengan baik," ucap Aisyah dengan mengusap lembut telapak tangan Alira.
__ADS_1
"Aa--aaisyaah." sebuah kata pertama keluar dari bibir Alira.
Aisyah terpana mendengar namanya di sebut oleh Alira, dia tersenyum terus menyemangati Alira agar mengeluarkan suaranya.
"Ayo, Nek. Bicaralah!"
"Aisyah, apakah kamu menjual diri untuk bertahan hidup?" tanya Alira dengan susah payah mengucapkan kata demi kata.
Aisyah terkejut akan pertanyaan neneknya, meskipun selama ini Aisyah berada dalam keadaan sulit tidak pernah sekalipun dalam prinsip hidupnya dia hrus menjual diri untuk keperluan sehari-hari.
"Aisyah tidak pernah ada niat ke sana, Nek. Aisyah selalu bekerja keran untuk penuhi hidup Aisyah yang sandiri. Nenek mendengar berita ini dari siapa?" ucap Aisyah panjang lebar.
"CARISSA, dia yang mengatakan hal ini," balas Alira denga nada pelan dan penuh penekanan.
Plak!plak! Plak
Tiga tamparan mendarat mulus di pipi putih Carissa, baru sekali ini David menampar pipi anaknya. Carissa tidak terima akan perlakuan ayahnya, dia merasa tidak bersalah.
"Papah, mengapa?" decih Carissa.
"Jaga mulutmu! Papah sudah sering ucapkan itu!" balas David lantang membuat Aisyah yang di sampingnya terjengkit.
"Maafkan Carissa, ya. Dia seperti itu karena di kuasai rasa cemburu dan haus akan perhatian," papar David
"Aisyah, kamu begitu cantik dan lembut. Ceritakanlah kisah hidupmu, Nak!" kata Luisa sambil duduk di samping Alira.
Carissa yang menonton semua itu merasa jengah, dia bangun dengan rasa penuh kemarahan, "sudahlah, jangan banyak basa-basi. Katakan saja maksud kedatanganmu ke sini, wanita sundal?"
"Jaga ucapanmu, Cariss!" suara Anand lantang dan tegas.
"Oh, kamu takut jatuh miskin?" lanjut Anand.
Carissa terdiam mendengar ucapan Anand, memang awalnya dia takut kedatangan Aisyah akan merebut segalanya yang dia punya termasuk cinta. Tapi Cariss sendiri masih bingung akan cintanya, berlabuh kepada hati yang mana.
"Jangan kamu ragu dan bimbang, Kak Carissa, aku datang hanya ingin mengunjungi nenek. Aku sudah memiliki banyak harta dan kasih sayang. Maafkan aku!" papar Carissa.
Perbincangan semakin akrab dan penuh canda, Carissa tidak tahan mendengarnya. Dia berdiri dan meninggalkan semua, berjalan masuk ke kamar pribadinya.
****
__ADS_1
Sementara di sebuah rumah mewah tapi sederhana tanpa sentuhan wanita, Robert melamun dalam kamarnya. Dia merindukan Carissa, mengingat pertempuran terakhirnya malam itu membuatnya kembali inginkan Carissa.
'Ugh, sayang aku merindukan sentuhanmu! Apa aku hubungi saja yaa, aku sudah tidak tahan,' gumam Robert.
Belum sempat Robert menelponnya tiba-tiba ada chat masuk dari Carissa. Hati Robert berdebar membaca tiap chat Carissa, rasa inginnya makin membuncah. Hanya melihat gambar diri Carissa yang terbaring dengan muka cemberut sudah membuatnya ingin bercinta.
'Ooh, Carissa, kau bagaikan candu bagiku. Tubuhmu, sentuhanmu dan aromamu buatku rindu,' gumamnya.
'Sudah terlihat membuncit perutmu, sayang. Aku ingin segera menyentuhmu saat seperti itu,' lirih Robert makin tidak tahan akan rasa itu.
Jemari Robert bergerak dengan lincah membalas tiap chat dari Carissa, hingga tanoa sadar jarinya mengirim emot bila dia rindu dan Carissa membalasnya.
[Aku juga lagi inginkan hal itu, say,]
[Oh, kamu belum tidur di jam semalam ini?]
[Aku sangat gelisah malam ini, bisakah kau redakan rasa itu?]
Robert hanya termangu akan chat kekasihnya, tidak biasanya Carissa menginginkan di sentuhnya.
[Baiklah, kapan dan di mana saya menjemput kamu, sayang?]
[Aku di rumah, nanti lewat pintu samping, ya!]
[Baik, tunggu, ya.]
Robert langsung bersiap, membersihkan diri. Setelah semua selesai, Robert turun ke bawah pamit pada papahnya.
"Pah, Robert berangkat dulu. Ada janji dengan Carissa," pamit Robert
"Hati-hati bawa mobilnya, ingat ada calon cucu papah!" ucap Robert.
Robert menganggukkan kepalanya sambil berlalu pergi meninggalkan papahnya yang lagi santai melihat berita saham.
'Semoga masih ada jodoh kamu dengan Carissa, Boy. Papah berharap akan hal itu, agar hidupmu lebih terjamin dan terurus,' gumam Wahono.
Robert membawa mobilnya dengan kecepatan sedang, senyum di bibirnya tidak pernah pudar. Dia memutar lagi romantis untuk menemani perjalanannya ke rumah Carissa.
'Carissa, aku tergila-gila padamu. Kamu adalah canduku,' lirih Robert.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan satu jam akhirnya Robert sampai di pintu samping rumah Hendrawan. Pandangannya tertuju pada sebuah mobil hitam metalik, dia merasa mengenali mobil itu.
'Sepertinya itu mobil Anand, apa yang dia lakukan di sini?' gumam Robert.