
Sebuah pancaran cahaya dari langit menembak dari atas dan menimpa Faramis dengan kekuatan yang hebat.
......[ Brell ... . ]......
Tidak cuma satu serangan. Tapi berkali-kali sampai tempat Faramis berdiri hancur lebur seperti telah tertimpa meteor.
Sebuah debu yang perlahan hilang diterpa oleh angin memperlihatkan Faramis yang bercucuran darah masih berdiri tegak tanda bahwa dia tidak menyerah sama sekali.
" Jika pemimpin itu menyerah dengan mudah, maka anak buahnya juga akan dihancurkan. Aku tidak akan menyerah sampai aku bisa melenyapkanmu dari dunia ini. " Faramis mengacungkan pedangnya kepada Arden.
" Tidak mungkin dia bisa berhan dari seranganku tadi. Ini ada yang salah. Belum pernah ada yang tersisa sebelumnya saat aku sudah menyerang dengan mode ini. " Arden terheran dengan keadaan Faramis meski banyak luka dan darah yang bercucuran, tapi Faramis masih berdiri tegak.
hembusan angin perlahan mulai kencang, dan berpusat kearah Faramis, Perlahan angin yang mengitari Faramis berubah menjadi angin hitam yang dipenuhi mana hitam, pertarungan antara kegelapan dan cahaya telah dimulai. tapi benarkah cahaya akan menerangi kegelapan ataukah cahaya akan ditelan oleh kegelapan.
" Dia masih memiliki mana yang sebesar ini, bahkan setelah dia menerima seranganku tadi. Aku tidak peduli, akan kuserang sampai kau hancur lebur bersama keteguhanmu itu. " Arden mengangkat pedangnya dan sinar yang memancar bertubi-tubi menghantam Faramis.
...[ Brell - brell - brell ... . ]...
Sebuah hembusan hitam meloncat keudara dan Faramis yang sedang dalam kondisi siap menyerang menghantam Arden dengan pedangnya. Pedang Faramis di selimuti oleh mana hitam yang sangat pekat dan angin kegelapan yang mencekam.
...[ Bruell ... . ]...
Arden menepis serangan Faramis dengan perisainya. Semakin tertekan kebawah dan kebawah. Arden mencoba melawan dengan menekan Faramis keatas.
" Hiya ... ah ... aku tidak akan kalah darimu ... . " Arden sekuat tenaga menekan Faramis keatas.
Faramis sedikit demi sedikit terdorong keatas. Dan Faramis hanya melihat Arden dan kemudian luapan mana hitam yang mengelilingi Faramis semakin pekat dan kembali menekan Arden kebawah.
...[ Bruell ... . ]...
Perisai Arden hancur oleh tebasan Faramis.
...[ Sruet ... . ]...
__ADS_1
Begitu pula dengan badan Arden yang terkena serangan Faramis secara langsung menembus zirah Arden dan memotongnya.
Arden kalah dalam duel melawan Faramis dan Faramis berdiri di hadapan Arden yang telah tergeletak tak berdaya.
Dengan sihir pengeras suara Faramis mengumumkan keadaan yang terjadi sekarang ini. " Hoe, kalian semua bangsa Vender. Pemimpin kalian Raja Algard telah terbunuh oleh pasukan bayanganku. Dan kini panglima perang kalian telah kukalahkan. Jika kalian masih ingin melanjutkan perang ini? Aku yang akan menghadapi kalian sendiri. Sini maju jika mau setor nyawa sekarang juga! "
Dengan lantang Faramis menyuarakan kemenangan Kerajaan Arcane dalam perang ini. Dan membuat prajurit Vender yang tersisa kembali ke Kerajaannya.
" Faramis, terimakasih untuk semuanya ... dan untuk kalian semua, terimakasih. Kalau tidak ada kalian semua pasti Kerajaan Arcane sudah hancur, huhu. " Marsa menangis terharu.
Faramis yang penuh luka pun kembali kebarisan belakang dan tersungkur jatuh.
" Faramis ... . " Silvana berlari dan mencoba mengobati luka Farmis.
Dua minggu berlalu sejak saat kemenangan Kerajaan Arcane atas invasi dari Kerajaan Vender.
" Untuk saat ini. Kita berdiri disini untuk memperingati kemenangan kita atas perang yang kemarin. Saya dan segenap para pahlawan perang turut berduka cita atas korban dalam perang tersebut. Tapi kita memiliki para pahlawan yang menyelamatkan kita semua dari marabahaya itu. Dan pemimpin dari keberhasilan kita itu adalah seorang yang sangat hebat. Terimakasih untuk jasa dari Faramis yang merupakan Pahlawan Kerajaan Arcane. Dan sesuai janjiku, saya Geraldo selaku Raja dari Kerajaan Arcane akan menikahkan putri saya yang bernama Marsa dengan Pahlawan Kerajaan Arcane yaitu Faramis. Dan, "
Silvana menghampiri Farmis dan memeluknya. Dan membuat semua orang kaget. Tapi tidak dengan Marsa. Dia dengan santainya memegang tangan Silvana dan Faramis.
" Silvana, aku tidak keberatan kalau berbagi Faramis denganmu. " Marsa tersenyum.
" Uwoe, ini apa-apaan? Bukankah poligami itu kurang baik? " Faramis kehingungan dengan sikap kedua orang didepannya.
" Apa kamu tidak apa-apa jika berbagi denganku? " Silvana bertanya kepada Marsa yang tersenyum dengan tulus.
" Ah, mereka tidak mendengarkanku. " Faramis merundukkan kepalanya.
Raja Geraldo jadi bingung melihat pemandangan seperti ini. " Jadi, bagaimana kelanjutannya? Aku sedikit bingung dengan situasi yang seperti ini. "
Marsa berjalan menghampiri Raja Geraldo, ayahnya. " Tentu saja Ayahku, aku dan Silvana akan berbagi untuk seterusnya. Bagaimana? Apakah ayah menyetujuinya? "
Raja Geraldo menyentuh janggutnya. " Iya, sepertinya tidak ada yang salah tentang poligami atau bahasa yang lagi trending sekarang adalah Harem. Iya, selagi mereka setuju dengan pembagian. Jadi aku setuju-setuju saja. "
__ADS_1
" Apa tidak ada yang mau mendengarkan pendapatku? " Faramis memurungkan dirinya karena tidak ada yang mau mendengarkannya.
Pernikahan merekapun berjalan lancar dan pesta meriah sekali di Istana Kerajaan.
Faramis yang hanya duduk saja diacara pesta karena tidak ada yang mendengarkan pendapatnya dan dia terlihat hanya diam dan tidak berbuat apa-apa. Pasrah dengan keadaan.
Dalam hati Faramis bergumam. " Hah, kenapa tidak ada orang yang mau mendengarkan pendapatku. "
Morgan menghampiri Faramis yang duduk, sambil menepuk pundak Faramis, Morgan tersenyum. " Kau hebat sekali kawan. "
" Apa kau sedang mempermalukanku? Kau tidak lihat. Mereka berdua bahkan tidak mendengarkan pendapatku. Lalu, ya sudahlah. "
" Kau tahu kan, meski mereka tidak mendengarkanmu. Tapi kau tahu kan, laki-laki lebih berkuasa disaat tertentu. Jadi, tenangkan pikiranmu." Morgan mencoba menghibur Faramis.
" Kau benar sekali Morgan. Hihihi, kita sebagai laki-laki harus menunjukkan kekuasaan kita pada waktu yang tepat. " Faramis mulai bisa tersenyum. Meski senyumnya penuh dengan rencana yang sedikit tidak ngotak.
Yah, begitulah malam pesta berakhir meriah tanpa ada lagi yang murung.
Mentari pagi menyinari jendela ruang kamar Faramis. Dan membuatnya terbangun karena silau. " Huh, kenapa dadaku berat sekali? Kenapa Marsa dan Silvana tidur bersamaku? Em ... "
Faramis masih bingung dan tidak tahu apa yang terjadi. Dia masih setengah bangun dan belum sadar.
"Oh, selamat pagi sayang! Apa kau tidur dengan nyenyak? " Silvana terbangun dan mengecup pipi Faramis, begitu pula Marsa yang terbangun.
" Lalu, kenapa kalian tidur bersamaku? " Faramis yang masih setengah sadar bertanya.
" Jadi, kau lupa dengan semalam? " Marsa memasang wajah jengkel.
" Iya, Marsa. Sepertinya kita perlu memberi sedikit pukulan pada kepalanya supaya dia sadar dari tidurnya. " Silvana juga memasang wajah yang jengkel.
... [ Gubrak - klotak - gludug - glugug - prak. ]...
Faramis jongkok dipojokan dengan beberapa benjolan dikepalanya. " Ah, sekarang aku ingat kalau mereka berdua adalah istriku. Tapi cara mereka menyadarkanku dari bangun tidur ini sedikit mengerikan, bisa-bisa setiap pagi aku harus mengalami KDRT seperti ini hanya untuk menyadarkan aku yang belum sepenuhnya bangun. "
__ADS_1