
Esok hari setelah Xavi memutuskan untuk menemui kakeknya. Raja kerajaan Arcane Geraldo.
" Oh, cucuku sedang mengunjungiku setelah sekian lama tidak kesini. Ah, bagaimana kabarmu Xavi. Apakah kamu sehat? Dan dimana adikmu Vani? " Xavi yang merupakan anak dari Marsa dan Faramis. Meski Vani merupakan anak dari Silvana dan Faramis tapi, Geraldo tidak membedakan mereka dalam memberi kasih sayang.
Dengan pelukan yang erat dan membuat Xavi pengap Geraldo memberikan sebuah kecupan gemas kepada cucunya satu ini. " Oh, apa yang membuatmu datang kesini? "
" Sebenarnya aku ada satu permintaan Kakek. Tapi, tolong lepaskan dulu pelukanmu, akun kesulitan bernafas. " Xavi akhirnya dilepaakan.
" Baik Xavi, aku sebagai kakekmu. Pasti akan mengabulkan keinginan cucunya. " Geraldo memegang dadanya sambil menggenggam tangannya.
" Begini kakek, apakah aku bisa memiliki tanah di sekitar sini? " Xavi memberikan sebuah peta kerajaan Arcane.
" Hem, kamu kan masih kecil. Kenapa kau mau tanah? Bukankah itu adalah hal yang cukup mengejutkan? "
" Ah, kakek. Apa tidak bisa? " Xavi merengek.
" Bukannya tidak bisa. Tapi, kamu belum cukup umur Xavi. " Geraldo mencoba menerangkan pada Xavi.
" Baiklah kakek, kalau aku belum cukup umur. Bagaimana kalau itu kakek berikan kepada Ayah? " Xavi masih mencoba menawar.
" Hem, kau masih bersikeras tentang itu ya. Baiklah, aku akan memberikan izin tanah kosong itu pada Faramis. " Geraldo menyetujuinya.
" Tapi, bolehkah aku yang memegang surat tanahnya? " Xavi meminta dengan imut.
" Hah, baiklah. Lalu apa yang akan kau lakukan dengan itu? " Geraldo penasaran.
" Hem, untuk sekarang. Aku tidak mau memberitahukan kepada siapapun. Jadi maaf kakek. " Xavi memeluk kakeknya.
" Baiklah-baiklah. Kalau itu maumu. Lagian bakal dibuat apa tanah seluas itu oleh anak kecil sepertimu. Akan aku urus izin itu. Lagian itu tanah yang tidak berpemilik. " Geraldo mengajak Xavi keruang kerjanya.
Setelah urusan dengan kakeknya selesai. Xavi langsung kembali. Tapi dia tidak langsung kembali ke penginapan. Dia memantau Cid yang sedang menyamar menjadi dirinya.
" Hem, kelihatannya Cid benar-benar bisa memerankan peranku. Dengan beberapa perbekalan dariku itu mungkin sudah cukup untuk membuatnya menjadi penyihir di Akademi Sihir. Aku jadi sedikit kangen dengan suasana Akademi Sihir. Apa aku berkunjung dulu ke sana ya. " Xavi mengubah dirinya kewujud aslinya.
__ADS_1
Cid diminta bertukar posisi dengan Xavi. Dia masuk ke kelas dan menyapa Vani. " Hei, wanita cantik dan imut. Apa harimu menyenangkan? "
" Oh, kau Xavi. Kemana Cid? " Vani sudah tahu bahwa selama ini Cid menyamar menjadi Xavi.
" Hueh, Cid? Ah, kau tahu ya ternyata. Huehehe. " Xavi menjadi malu.
" Hem, kau kira bisa membodohi adikmu ini. Lagian aku lebih senang kalau bersama Cid dibandingkan denganmu. " Vani memasang wajah yang sedikit mengesalkan.
" Hah, aku tahu kemampuannya juga hebat. Tidak heran jika penyamaran Cid bisa diketahui olehnya. Atau mungkin bahkan Vani lebih hebat dariku. Entahlah, Tapi dia tetap adikku yang gemesin. " Xavi tersenyum sendiri.
" Hem, kau sedang memikirkan hal mesum apa lagi sampai tertawa-tawa sendiri. " Vani mengacaukan lamunan Xavi.
" Heh, apakah pandangan semuanya terhadapku memang seperti itu? Aku harus memikirkan cara untuk membersihkan namaku. " Xavi bergumam dalam hati.
Saat jam istirahat selesai dan ada kakak kelas yang sedang mencari perhatian kepada Vani. " Hei, cantik. Boleh minta waktunya sebentar? "
" Hem ... . " Xavi memasang wajah yang menakutkan kepada kakak kelas itu.
Vani barbalik dan pergi diikuti Xavi. Sementara Xavi mengejek Kakak kelas itu dengan wajah mengesalkan.
" Wluek ... " Dengan menjulurkan lidahnya dan menarik kantung matanya Xavi melihat kakak kelas itu.
Sambil berjalan Vani bertanya. " Jadi, apa yang kau lakukan selama ini saat Cid kau suruh menjadi dirimu? "
" Hem, itu - itu rahasia. " Dengan senyuman Xavi mengucapkan itu.
" Hah, sudahlah. Paling sesuatu yang tidak penting juga kan. " Vani mengerutkan bibirnya.
Waktu mulai berganti menurunkan layar berbintang dan bukan yang bersinar terang. Xavi pergi ke Guild petualang menemui Guin.
" Heh, kenapa malam-malam kau sampai kesini? " Guin sedikit kaget karena tidak biasanya Xavi datang malam-malam.
" Oh, apa Guild sudah tutup? " Xavi bertanya kepada Guin.
__ADS_1
" Bukan berarti kalau malam Guild tutup karena biasanya kami menerima quest lebih banyak pada malam hari. Disaat waktu luang bagi orang-orang yang sibuk di pagi hari. Lalu ada perlu apa kau datang kemari? " Guin keluar dari meja tempat dia bekerja dan menghampiri Xavi.
" Apa kau tahu tentang orang yang biasanya memantau naga tanah yang katanya dia sedang sakit sekarang? " Xavi langsung pada intinya tidak basa-basi seperti biasanya.
" Iya, aku tahu semua data para petualang. Lalu apa kau mau kuantar kerumahnya sekalian aku mau menjenguk dia. " Guin menawarkan bantuan.
Sebelum hari mulai lebih larut. Mereka berdua pergi ke rumah Kobe, Seorang petualang yang biasnya bertugas mengawasi naga tanah.
... [ Kriek ... . ]...
Suara pintu yang terdengar sangat jelas di keheningan malam rumah Kobe.
" Oh, Guin ya. Sampai repot-repot menjengukku. Lalu, siapa yang sedang bersamamu itu? Apakah dia pacarmu? " . Kobe yang mesih berbaring lemas karena sebuah luka pada perutnya akibat cakaran naga tanah yang cukup dalam.
" Hueh, pacar? Maksudmu dia. Ah, anu dia. " Guin malah menjadi sedikit gagap.
" Perkenalkan, namaku adalah Xavi. Aku adalah petualang pemula. Mohon bimbingannya! " Xavi dengan sikap sopan kepada seorang seniornya yang sewajarnya.
" Oh, kau orang yang sering dibicarakan itu ya? Kau bahkan mengalahkan naga tanah yang tidak bisa ku kalahkan, dan melukaiku sampai begini. Aku tidak lagi bisa menjadi petualang untuk beberapa waktu. Sampai lukaku sembuh. " Dengan sedikit membawa sebuah kesedihan di wajahnya Kobe mencoba tetap tegar.
" Bisa aku lihat seberapa dalam luka itu? " Xavi mendekat dan melihat luka Kobe.
Tanpa sebuah aba-aba dan tanpa sebuah persetujuan dari Kobe. Dengan sihir Penyembuhan Xavi mencoba menyembuhkan Kobe.
" Heal ... . " Sebuah rapalan mantra penyembuhan melayang diatas Kobe.
Luka Kobe perlahan langsung tertutup dan sembuh dengan cepat. " Hah, ini mustahil, kedalaman luka ini mustahil bisa disembuhkan dengan Heal biasa? Siapa sebenarnya kau ini? "
" Oh, kau terkejut dengan itu ya Kobe. Hah, sudah menjadi hal biasa kalau Xavi melakukan hal yang kelihatannya mustahil. Daripada itu, kenapa kau tidak berterimakasih kepadanya? " Guin yang menasehati Kobe karena dia tidak berterimakasih dulu malahan menanyakan banyak hal.
" Oh, maafkan aku, aku berterimakasih sekali karena kau menyembuhkanku. Kalau ada yang bisa saya lakukan untuk membayar atas pengobatanmu, akan saya lakukan. " Kobe menundukkan kepalanya karena merasa bersalah dan sekaligus berterimakasih.
" Oh, tenang saja. Aku kesini memang sedang mencarimu untuk melakukan sesuatu. Dan akan susah jika kau masih dalam keadaan yang seperti tadi." Penjelasan Xavi membuat bingung Kobe dan Guin. Lalu apa yang ingin diminta Xavi kepada Kobe?
__ADS_1