Reinkarnasi Bos Mafia Ke Dunia Sihir

Reinkarnasi Bos Mafia Ke Dunia Sihir
Kemarahan Xavi Karena Saudaranya Merasa Tidak Nyaman Dengan Mereka Semua


__ADS_3

Semenjak Xavi dan Vani pindah ke Ibukota Arifu waktu itu. Kini usia mereka sudah genap Sepuluh Tahun, Dan semakin dewasa mereka maka semakin bisa bersikap dewasa. Tapi, tidak dengan Xavi.


" Hihihi, mereka pasti terkejut saat pulang nanti. Huahaha, rencana mandi bersama karena telah terguyur hujan deras akan segera dimulai. " Xavi mempersiapkan sihir elemen angin dan air yang dikombinasikannya.


Vani dan Ruby yang dalam perjalanan pulang dari pusat kota untuk membeli bahan makanan yang telah habis baru saja akan sampai rumah.


" Baiklah, ini saatnya. Mereka sudah dekat dan akan kuaktifkan sihir cuaca ini." Setelah membuat langit menjadi berawan hitam dan akhirnya hujan pun turun.


Sementara itu Vani dan Ruby yang berada diluar sedang berjalan dan melihat langit yang sepertinya akan turun hujan.


" Oh, sepertinya akan hujan. Sihir es. " Vani membuat sebuah payung dari air hujan yang dibekukannya.


Dalam rumah Xavi mengintip. " Ah, gagal. Hei kau sedang apa cid? "


Cid yang sedang berguling-guling. " Hah, kenapa tuan? Aku sedang bersiap untuk mandi bersama. "


" Kau tahu rencanaku gagal lagi. " Xavi terlihat frustasi.


" Hah, ternyata gagal lagi ya? Hah ... seperti biasanya selalu gagal. Jadi, tuan Xavi tidak usah terlalu terlihat frustasi begitu. " Cid mengingatkan kalau Xavi memang sering gagal untuk rencananya terhadap Vani dan Ruby.


Akhirnya Ruby dan Vani sampai dirumah. " Oh, hai Xavi. Kau sedang apa? "


" Oh, aku sedang menunggu kalian kembali dari berbelanja saja. " Xavi yang kemudian kembali ke kamarnya.


" Xavi kenapa? " Ruby bertanya ke Vani.


" Entahlah, dia orangnya memang aneh begitu kan. " Vani yang menganggap semua seperti biasa saja.


Xavi yang melihat kearah keluar jendela tiba-tiba dikagetkan dengan kehadiran Mikasa.


" Selamat sore tuan Xavi. Aku datang untuk melaporkan hasil penjualan kita di restoran tuan. " Mikasa yang merupakan prajurit bayangan memang tidak biasa memakai pintu depan.

__ADS_1


" Hei, kau kenapa selalu mengagetkanku dengan melewati jendela? " Xavi terliahat sedikit kesal.


" Oh maaf tuan. Karena memang aku tidak biasa memakai jalur pintu depan. " Mikasa kemudian memberikan selembaran hasil penjualan di minggu ini.


" Hem, seperinya lumayan seperti biasanya. Oh iya, aku mungkin akan sibuk, jadi tolong restoran akan kuserahkan kendalanya padamu seperti biasanya. Jadi, mungkin kau akan mengurisi beberapa hal yang tidak biasa kau kerjakan. Ini aku sudah memberikan daftarnya untuk di pelajari dan dipahami. " Xavi menyerahkan daftar tugas yang harus dikerjakan oleh Mikasa.


" Baiklah tuan Xavi. Aku akan kembali dulu. " Sama seperti saat dia datang. Mikasa keluar dari jendela kamar Xavi.


" Aku akan tidur saja malam ini. Karena besok akan ada ujian di Akademi sihir. Aku ingin menyegarkan pikiranku dulu. " Xavi pun tidur.


Pagi disaat sang mentari mulai menampakkan diri. Xavi dan Vani yang berada di Akademi sihir sedang bersiap untuk melakukan ujian praktek sihir.


" Hem, Vani. Bisa kau beritahu apa yang akan dilakukan di ujian praktek ini? " Xavi bertanya karena dia tidur saat dijelaskan oleh gurunya.


" Kau ini, kau kemarin tidak memperhatikan lagi kan? " Vani sedikit jengkel.


" Hehehe, aku kan mengantuk kemarin. " Xavi hanya tersenyum.


Lalu, guru yang mengajar kali ini adalah Iyanero menjelaskan lagi tentang ujian praktek yang akan dilakukan nantinya.


" Hem, jadi tidak ada batas dalam pengumpulan item tersebut. Jadi, mungkin bagi mereka yang memiliki uang banyak pasti akan lebih memilih untuk membelinya ketimbang mencari dengan susah payah. " Xavi diam dan berfikir.


Lalu Iyanero menjelaskan lagi. " Kalian buatlah kelompok untuk tugas ini. Sedikitnya kalian buatlah dalam kelompok tersebut dengan dua orang didalamnya. "


" Hem, mungkin aku sudah mendapatkan kelompok. Vani pasti akan menjadi kelompokku. Heh, ternyata dia malah lebih populer dari perkiraanku. " Xavi melihat Vani yang dikerumuni oleh banyak anak laki-laki yang ingin satu kelompok dengannya.


Semntara itu Vani yang terlihat sibuk dengan fansnya terlihat kualahan. " Ehehehe, tunggu dulu! Tunggu dulu. Aku tidak bisa menjadi satu kelompok dengan kalian semua. "


serentak para fans Vani menjawab. " Aku ingin satu kelompok denganmu Vani ... . "


Lalu Vani berlari ke Xavi. Dan bersembunyi dibaliknya.

__ADS_1


" Hei, Xavi. kau buakankah saudara dengan Vani. jadi, kau menyingkirlah. Kau tidak boleh satu kelompok dengan Vani. " Salah seorang fans Vani membuat Xavi terlihat kesal.


Xavi melihat kearah Vani dan terlihat Vani menggeleng-gelengkan kepalanya, tanda dia tidak mau dengan pemaksaan ini. Xavi tambah jengkel dengan mereka yang membuat Vani memperlihatkan sisi kewanitaannya. Sebelumnya, Vani tidak pernah meminta tolong kepada Xavi meski dia saudaranya. Vani selalu menampilkan sosok yang kuat dan tidak membutuhkan Xavi. Tapi, sekarang Vani terlihat berbeda.


" Hei, kalian jika ingin merebut Vani dariku. Silahkan saja kalau kalian ingin mengadu sihir denganku. Maksudku, kalian semua. " Xavi terlihat marah untuk Vani.


Tiba-tiba guru mereka menghampiri. Iyanero menengahi pertengkaran mereka.


" Hei, ada apa ini? Kalian ini sedang memperebutkan apa? " Iyanero tidak terlalu membuat suasana menjadi membaik.


" Hei, Pak Iyanero. Apakah aku bisa mengadakan latih tanding sekarang juga. Dalam peraturan di Akademi Sihir ini jika ada sebuah konflik diantara beberapa pihak, maka jika tidak bisa diselesaikan dengan musyawarah. Mereka diijinkan untuk latih tanding. Apa kata-kataku menyalahi aturan? " Xavi menantang para murid yang mengejar Vani.


" Hei, itu kan ... . " Sebelum Iyanero menyelesaikan kata-katanya, sudah disauti oleh para murid tadi.


" Kami menerima tantanganmu Xavi. " salah satu dari murid itu maju dan menantang balik Xavi.


" Hah, ini menajadi hal yang rumit sekarang. Baiklah, aku akan jadi penengah jikalau nanti ada sesuatu yang membahayakan. " Iyanero menyetujui latih tanding ini.


Mereka semua berkumpul di sebuah lapangan terbuka di sebelah akademi.


Xavi sudah diperingatkan oleh Iyanero supaya tidak menganggap ini enteng. Karena dia harus melawan dua belas orang siswa. Tapi, Xavi tidak gentar dengan niatnya.


" Hem, pak Iyanero. Aku akan menunjukkan padamu tidak akan perlu waktu lama. Lagian, ini hanya untuk membuat mereka menyerah saja kan? " Xavi tetap berdiri diatas niatnya yang tadi.


Lalu latih tanding antara Xavi dan keduabelas murid tadi dimulai.


" Hei, Xavi. Kudengar kau hebat. Tapi, kau terlalu tidak waras dalam hal ini. Kau mencoba melawan kami berduabelas sendirian. Kalau aku jadi kamu pasti sudah menyerah tanpa harus repot-repot kalah disini. " Aspha, seorang murid yang menantang Xavi tadi menyuruh Xavi menyerah saja.


" Hahaha, jika kalian hanya akan bicara omong kosong. Disini bukanlah tempatnya. " Xavi memancing Aspha yang terlihat berhasil membuatnya kesal.


" Baiklah, jika itu yang kau inginkan. " Aspha mundur untuk bergabung dengan yang lainnya.

__ADS_1


Mereka langsung membuat formasi dengan Xavi sebagai pusatnya. Ini lebih seperti sebuah pengeroyokan ketimbang dengan latih tanding. Tapi, Xavi yang terlihat tenang dan tidak terlalu memikirkan hal tersebut besikap biasa saja.


Vani terlihat khawatir dengan Xavi. Lalu, Xavi melihat kearah Vani dan tersenyum. Seolah-olah dia ingin berkata. " Tenang saja, serahkan saja semua padaku. "


__ADS_2