
Setelah beberapa hari Xavi dan Mikasa menyusuri perjalanan menuju Kerajaan Hailink. Mereka tiba juga di gerbang masuk Kerajaan Hailink. Seperti dil kerajaan lainnya. Selalu ada pemeriksaan.
" Hem, kau berasal dari Kerajaan Arcane ya? Sebuah Kerajaan besar. Ada apa kiranya kau datang ke kecil ini? " Seorang petugas penerimaan orang yang keluar masuk kerajaan bertanya kepada Xavi.
" Aku hanya seorang petualang yang sedang singgah di sini untuk beristirahat dan menikmati suasana yang berbeda karena baru saja menyelesaikan sebuah quest. " Xavi menanggapinya seperti seorang petualang yang sedang singgah.
" Oh, baiklah. Aku bukannya ingin tahu urusanmu. Tapi, yah ini memang pekerjaan yang membosankan. Aku juga dulu ingin menjadi petualang tapi, karena kemampuanku tidak cukup hebat jadinya aku memilih pekerjaan ini. Oh iya, kalau kau butuh sesutu atau sedang tersesat bisa kau mencari tempat ini. Aku akan selalu ada disini untuk orang luar yang kadang tersesat. Baiklah, selanjutnya. " Pemeriksaan yang singkat dari petugas pemeriksaan.
Xavi lalu masuk ke Kerajaan Hailink dan dia tidak menemui sebuah hal yang mencurigakan. Lalu dia berkeliling untuk mencari penginapan.
Saat Xavi sedang berjalan di kerumunan banyak orang. Ada seorang yang berlari dengan cepat. Sepertinya dia habis mencuri sesuatu dan dikejar oleh petugas yang sedang berpatroli.
" Hem, hari yang sehat untuk berlari di pagi hari ya. " Xavi menghadang pencuri itu.
Dalam hati pencuri itu bingung dan segera mengeluarkan pedang kecil yang dia bawa, diarahkan kepada Xavi supaya dia menyingkir.
" Hai, kalau kau tidak ingin terluka, minggir dari hadapanku. " Teriak pencuri itu kepada Xavi.
Xavi diam saja dan saat ayunan pedang itu mengarah padanya. Dia langsung menarik tangan pencuri itu. Lalu, diplintir dan ditumbangkan dengan cepat sampai pencuri itu terkunci dan tidak bisa bergerak.
Lalu, petugas mendatangi pencuri yang telah dibekuk oleh Xavi tersebut.
" Oh, terimakasih atas bantuannya. Belakangan ini banyak sekali kasus pencurian disini. Sekali lagi terimakasih. " Salah satu petugas itu merasa berhutang budi pada Xavi.
" Hem, tidak apa-apa. Lagian dia sendiri yang mendatangiku. Aku cuma sedikit memutar tangannya tadi. " Xavi yang tidak mau terlalu dipuji karena hal tersebut segera melanjutkan pencarian tempat singgahnya.
__ADS_1
Xavi melihat sebuah penginapan yang cukup bersih menurutnya dari penampilan luarnya.
" Hei, Mikasa. Bagaimana kalau kita masuk kesini saja! " Xavi mengajak Mikasa yang juga mengikuti Xavi sebagai seorang pengawal baginya.
" Jika Tuan Xavi ingin menginap disitu maka aku akan ikut dengan keinginan Tuan Xavi. " Mikasa yang merupakan pengawal ya ikut saja lah dengan tuannya.
Saat masuk dan Xavi mendapatkan salam hangat dari seorang gadis yang menjadi resepsionis di penginapan ini.
" Selamat datang Tuan, ada yang bisa kami bantu. Kami menyediakan kamar untuk beristirahat. Dan tolong duduk di ruang tunggu sampai kami siapkan dulu jamuan untuk Tuan. " Gadis itu mempersilahkan Xavi untuk menunggu kamarnya dipersiapkan.
" Hem, sepertinya ini tempat yang nyaman ya. Oh iya namamu siapa? " Xavi berkenalan dengan resepsionis tersebut.
" Oh, heheh. Terimakasih untuk pujian Tuan untuk tempat ini. Namaku Bila. Dan ini Tuan, ada sedikit cemilan untuk mengisi waktu menunggu anda. " Bila memberikan sepiring kue untuk Xavi dan Mikasa.
" Maaf Tuan, aku juga bukan orang yang terlalu tahu tentang kerajaan ini. Maaf aku tidak bisa menjawab pertanyaan Anda. " Bila menyembunyikan sesuatu dari sikapnya yang demikian. Lalu Bila memberikan kunci kamar kepada Xavi dan mengantarkan Xavi kemarnya. Lalu Bila kembali ke lobi penginapan.
" Hei, Tuan. Bukankah gadis tadi menyembunyikan sesuatu saat di tanya tadi? " Mikasa juga menyadari sikap Bila tadi.
" Hahaha, tentu saja. Ada sesuatu yang dia sembunyikan. Tapi, dia pasti punya alasan sendiri karena ingin menyembunyikan itu. Lagian, kalau dia berterusterang kepada setiap pelanggannya. Maka akan ada sebuah kekhawatiran pada pelanggannya disini dan memutuskan untuk segera pergi dari kerajaan ini. Jadi, wajar saja kalau dia menyembunyikan keadaan sebenarnya dari kerajaan ini. Yah, jadi kita akan menyelidikinya sendiri saja. " Xavi yang tiba-tiba reflek melempar sebuah pisau yang ada di belakangnya kearah jendela dan terbukalah jendelan itu.
" Hem, jadi kau menyadari keberadaanku ya. Baiklah, aku tidak akan menyembunyikannya lagi. " Seorang bertopeng itu muncul dari balik jendela yang ada balkonnya di baliknya.
" Siapa kau sebenarnya. Aku sudah tahu kalau kau mengikutiku dari Kerajaan Arcane sampai sini. Lalu, apa tujuanmu? " Xavi mengintrogasi orang yang memakai topeng tersebut.
Dari awal Xavi dan Mikasa memang sudah menyadari saat diikuti oleh orang tersebut. Tapi, mereka memilih diam dan pada akhirnya Xavi merasa sedikit terganggu karena dibuntuti terus.
__ADS_1
" Hei, apa kau melupakanku? Kau memang anak yang nakal. Tapi, cobalah untuk mengingat Ayahmu sendiri. " Orang bertopeng itu membuka topengnya. Dan alangkah kagetnya Xavi melihat wajah dibalik topeng tersebut.
Karena Xavi sekarang sedang menyamar sebagai petualang. Dia berpura-pura untuk tidak mengenal ayahnya.
" Aku tidak mengenalmu. " Kata-kata Xavi membuat Faramis syok.
" Hah, kau melupakan sosok ayahmu ini? Dasar. Hahaha, sudahlah Xavi. Kau pikir penyamaranmu itu bisa membuatku terkecoh. Kau kan sendiri yang memperlajarinya dari buku yang kutulis. Jadi, aku tahu itu kau. " Faramis membuat Xavi menyerah dan kemudian kembali ke wujudnya.
" Baiklah Ayah, apa yang ayah lakukan? Kenapa mengikutiku? Hem, ini tidak menjadi menarik kan karena ada bimbingan orang tua nantinya. " Xavi cemberut karena dia berfikir bakal dilarang-larang oleh ayahnya nanti karena dia berada dibawah pengawasannya.
" Hahaha, ayolah. Aku tahu kau merindukanku kan? Lagian kau sendiri sudah besar. Jadi, aku tidak perlu mengawasimu lagi. Tapi, aku sebagai seorang ayah juga mengkhawatirkanmu. Meski banyak hal yang sudah kau lalui dan aku sendiri tahu tentang pencapaianmu. Tapi, untuk kali ini akan berbeda dari petualanganmu yang sebelumnya. Kau tahu kan musuhmu saat ini apa? " Faramis mengingatkan Xavi bahwa musuhnya kali ini bukanlah hal main-main yang bisa di remehkan begitu saja.
" Baiklah, aku akan mendengarkanmu untuk kali ini. " Xavi akhirnya mengalah.
" Hahaha, tapi, ayo kita makan dulu. Ayah sudah lapar. Oh iya Mikasa. Kau sudah membantu Xavi kan di restorannya. Jadi, kau bisa memasak sesuatu kan? " Faramis meminta Mikasa untuk memasak.
" Hah, apa Tuan Faramis tahu kita sedang tidak dirumah sekarang ini. " Mikasa mencoba mengingatkan Faramis.
" Oh iya, aku lupa. Hem, bagaimana kalau kita makan hidangan di penginapan ini saja. " Faramis menggandeng Xavi dan Mikasa untuk keluar mencari makanan.
" Hah, andai ibu disini pasti akan lebih baik. " Xavi sedikit mengeluh.
" Hei, jangan begitu Xavi. Aku juga tidak kalah dari ibumu. Ayo kita cari makanan. " Mereka akhirnya keruang makan untuk makan.
Lalu, apa yang membuat Faramis sampai sebegitu khawatirnya kepada Xavi. Memang, musuh Xavi kali ini bukanlah musuh yang bisa diremehkan. Seorang summoner atau orang yang di panggil dari dunia lain bisa saja menjadi musuh Xavi kali ini. Atau malah orang yang mengendalikan orang-orang panggilan itu adalah musuh Xavi. Faramis tahu kalau dia juga harus ikut campur untuk kali ini.
__ADS_1