
Di luar ruangan Raja Foyer, Famaris sedang melakukan sebauh penyadapan dan sekarang dia sedang menyelidiki apa yang sebenarnya direncakan Perdana Menteri pada Xavi.
" Ohoho, anakku memang bisa diandalkan. Dia membuat kesalahannya menjadi sebuah peluang bagi keberhasilan rencana ini. Baiklah, aku akan biarkan dia mengurus yang itu. Aku akan mengurus bagian lainnya saja. " Faramis meninggalkan ruangan Raja Foyer dimana Xavi juga kemudian meninggalkan ruangan tersebut.
Lalu Xavi diberi kamar sendiri di istana kerajaan karena dia kini menjadi seorang pembimbing para orang isekai disini. Kegiatannya mungkin akan dilakukan mulai besok pagi.
Disuatu tempat dimana Vani dan Ruby sedang menginap.
" Hei tuan putri. Aku lapar. " Cid yang merasa kalau sekarang sudah waktunya makan.
" Hem, sepertinya tidak ada makanan yang dihidangkan disini untuk anjing peliharaan. " Vani membuat Cid kecewa.
Lalu Cid berubah menjadi wujud Xavi. " Ehehehe, kalau aku memakai wujud tuan Xavi bagaimana? Aku dapat makanan kan? "
" Hem, baiklah. Kalau kau memakai wujud itu, kau juga harus ikut membayar tagihan penginapan nanti. " Betapa kejamnya Vani yang meminta patungan penyewaan tempat tinggal pada hewan peliharaan.
Lalu, Ruby datang ke kamar mereka dan membawa beberapa bungkus makanan. " Hei Cid. Ini makan! Kau akan kelaparan nanti kalau sama Vani terus. "
" Ehehe, terimakasih Tante Ruby. " Cid memakan bungkusan makanan yang dibawa Ruby.
" Hei, aku juga mau tante Ruby. " Vani juga meminta jatah.
" Ini untukmu. " Ruby memberikan sebungkus juga untuk Vani.
Mereka makan bersama di kamar penginapan itu sambil membahas sesuatu. " Hei, bagaimana kita akan menemukan Bocah itu? "
" Entahlah, Tapi Xavi biasanya akan baik-baik saja. Tidak perlu cemaskan dia. Kita kesini cuma memastikan kalau dia baik-baik saja kan? " Sambil mengunyah makanannya, Vani membahas tentang Xavi.
" Kau benar, dia memang anak yang cukup lihai dalam menghadapi sesuatu. Tapi, aku penasaran dengan orang yang berada di sampingnya kali ini. " Ruby berhenti makan sejenak dan berfikir.
" Bukankah dia Mikasa yang seorang prajurit bayangan kerajaan Arcane? " Vani hanya mengetahui kalau Xavi bersama Mikasa.
" Maksudku bukan Mikasa. Tapi, satu orang lagi. " Ruby kembali memakan makanannya.
" Ho, dia membawa teman lagi ternyata ya? Aku tidak tahu itu. " Pembahasan yang tidak menghasilkan apapun ini akhirnya cuma membuat mereka kenyang.
__ADS_1
Keesokan harinya dimana Xavi yang sekarang sudah resmi menjadi seorang pengawas dari orang-orang isekai yang baru datang dari dunia mereka belum lama ini.
Stelan dari Xavi yang mengubah penampilannya menjadi lebih terlihat keren ini dengan memakai pakaian yang tidak lagi seperti seorang prajurit. Dia tetap memakai stail celana pendek yang lebih nyantui tentunya. Dan kaos oblong yang dia sukai. Tapi, ternyata tampilannya lebih seperti seorang glandangan dan bukan seperti seorang yang akan mengawasi orang-orang dari dunia lain tersebut.
" Hah, ini lebih baik daripada baju zirah yang kupakai kemarin
" Xavi bersiap masuk kedalam ruangan yang berisi orang-orang isekai disana.
Xavi yang masuk sebagai karakter sebagai seorang pengawas dan sebagai guru mungkin ini memilih untuk menyembunyikan wajah aslinya dengan sihir perubahan yang memungkinkannya untuk merubah wajahnya.
Di pintu kelas baru Xavi mengetuk pintu sebagai formalitas.
...[ Tok-tok-tok. ]...
...[ Kriek ... . ]...
Pintu dibuka dan semua orang didalam terdiam melihat siapa yang masuk.
" Oh hai, semuanya. Perkenalkan. Namaku Adalah Xavi. Jadi, untuk untuk sekarang dan seterusnya. Akun akan mengurus kalian sebagai pengawas sekaligus pengajar disini. " Meski dia menyembunyikan muka aslinya. Tapi, tidak dengan namanya.
...[ Pok, Suuueeett ... . ]...
Sambil menarik dari dahi lalu turun kebawah sampai mukanya. Faramis berkata dalam hati. " Dasar anak tidak berguna. Kenapa kau malah memberitahukan nama aslimu saat menyamar? "
Faramis yang tidak habis pikir kenapa Xavi tidak menyembunyikan namanya saat berada di posisi menyamar itu lalu pergi dan mengurus urusan lain dari rencana mereka.
Di kelas Xavi yang baru masuk menjadi sorotan bagi semua orang. Ternyata disini ada banyak orang isekai. Dan dilihat dari tampilannya, mereka masih duduk di bangku SMA. Jadi, sebenarnya Xavi tidak banyak mengetahui tentang dunia orang isekai ini. Xavi hanya mendapatkan penjelasan itu dari ayahnya, Faramis yang merupakan reinkarnasi dari dunia yang sama dari orang-orang isekai tersebut.
" Baiklah, aku memberitahu kalian kalau aku adalah orang yang menangkis serangan dari bocah api yang duduk disana itu kemarin. " Xavi menunjuk orang yang telah berseteru dengannya kemarin.
" Hah? benarkah itu dia. Dia bisa menangkis serangan Edward, dia hebat juga ya. Apakah dia sekuat itu sebenarnya. " Salah seorang yang ada dikelas itu bergumam.
"Oh, jadi namamu Edward ya? Salam perkenalan kemarin cukup arogan ya. Baiklah, akun akan memberimu pelajaran tentang tata krama di duniamu saat ini. Jangan hanya karena kau memiliki kekuatan yang hebat. Kau bisa semena-mena melakukan hal tersebut. " Xavi menghampiri Edward yang duduk dan memalingkan wajahnya dari Faramis.
" Lebih dari apa yang kau katakan tentang kesopanan dan tata krama omong kosong itu. Lalu, kau sendiri yang bilang kau adalah seorang pengajar. Kenapa penampilanmu lebih terlihat seperti gelandangan dimataku? " Kata-kata dari Edward yang pedas membuat Xavi sedikit jengkel.
__ADS_1
" Oho, setidaknya aku bisa bermain bola api lebih baik dari pada kamu. " Balas Xavi kepada Edward.
" Hah? " Edward sedikit bingung.
Lalu ada seorang gadis yang mengangkat tangannya dan bertanya kepada Xavi. " Maaf, kami harus memanggilmu apa ya, Pak? Eh, karena anda terlihat masih muda. Kemungkinan anda seumuran dengan kami. Atau mungkin lebih muda. Maaf, perkenalkan. Namaku Sabila. "
" Baiklah Sabila. Kau panggil saja aku sesukamu, tapi aku lebih suka kalau kalian memanggilku kakak atau sebagainya. Ah, lebih baik kalian memanggilku dengan namaku saja. Tapi, jika kalian tidak mau tidak apa-apa. Karena itu juga bukan hal yang penting." Xavi lalu duduk disamping Sabila dan membuat muka Sabila memerah.
" Oh-oh, baiklah Xavi. " Sedikit kaku saat Sabila mengucapkan itu.
" Hem, mukamu memerah itu. Apa kau baik-baik saja Sabila? " Xavi lebih mendekat ke Sabila.
" Eh, ehehe. Bukan apa-apa kok. Jangan hiraukan itu. Aku baik-baik saja. " Sabila tersipu malu dan tidak berani melihat kearah Xavi.
Dalam hati Xavi berbisik. " Hah, apakah wajah yang kupakai merupakan seleranya? "
Xavi lalu kembali kedepan untuk mengajari beberapa hal.
" Baiklah, kalian pasti tahu tentang sihir. Dan kalian sudah mendapatkan kekuatan itu sejak kalian melintasi ruang dan waktu untuk sampai kesini. Jadi, kelihatan dari kalian masih bingung dengan cara pemakaiannya. Mungkin kebanyakan dari kalian merasa bingung dengan mantra yang diucapkan untuk mengeluarkan sihir tersebut. Tapi, karena kalian bisa mengeluarkan sihir itu tanpa rapalan kupikir begitu. Karena orang yang mengawasi kalian hanya memberitahu cara untuk menggunakan sihir dengan merapalkan mantra. Tapi, aku kali ini akan mengjarkan kalian untuk memekai sihir tanpa harus merapalkannya terlebih dulu. " Xavi kemudian membuat sebuah pusaran angin ditangannya.
" Dia hebat juga bisa memakai sihir tanpa rapalan. Jadi, kami sebagai orang isekai juga bisa melakukan itu ya? Eh, tunggu apa-apaan itu? " Salah seorang yang ada di kelas maupun semuanya terlihat kaget dengan Xavi yang mengeluarkan api juga sebagai sihirnya.
Edward yang kagetpun protes. " Hei, kenapa kau bisa menggunakan dua elemen sihir sekaligus? Bahkan kami orang-orang isekai tidak ada yang bisa menggunakan lebih dari satu elemen sihir. "
Xavi melihat kearah Edward dan berkata. " Hah? Dua elemen. Apa katamu, aku bisa menggunakan semua elemen sihir. "
Lalu Xavi menunjukkan bahwa dia bisa menggunakan semua elemen sihir yang di perlihatkan melalui pengendalian semua unsur elemen sihir di atas tangannya.
" Hah? " Semua orang kaget.
" Siapa kau sebenarnya? Kau bukanlah orang yang menjadi prajurit saja dengan kemampuanmu. " Edward sedikit curiga dengan Xavi.
" Oh, aku memang bukan prajurit biasa. Itu saja penjelasannya. " Xavi tidak memberi jawaban yang tepat dari pertanyaan Edward yang mewakili semua orang di kelas itu.
" Baiklah, ini adalah keistimewaan. Jadi, jangan protes! Hari ini kita akan ke luar untuk menguji kemampuan kalian. " Lalu semua orang keluar dari kelas menuju tempat latihan bagi mereka yang berada di belakang istana kerajaan.
__ADS_1