
...[ **Slash ... . ]...
...[ Brell** ... . ]...
Sabit yang dipenuhi tekanan mana yang melengkung diayunkan tepat mengenai sihir penghalang Cobold dan hancur seketika. Tombak yang dipakai Cobold patah dan bekas sayatan sabit Ruby yang membuka lapisan tipis pembungkus yang menyelimuti tubuh terbelah dan mengalirlah sebuah aliran merah pada tubuh Cobold.
Dengan sigap Typo berlari dan menggunakan sihir penyembuhan pada Cobold. " Bos, kau tidak apa-apa? Aku akan segera menyembuhkanmu. Tenang saja Bos! "
Typo adalah tangan kanan Cobold sejak dari dulu. Mereka bercita-cita menjadi bandit yang melegenda dan menjadi penjarah yang ulung suatu hari nanti. Tapi sekarang semua sia-sia. Kekuatan mereka tidak sebanding dengan Ruby disaat mereka ingin menjarah rumah Faramis.
" Hah, baiklah sembuhkan saja dia. Karena akan merepotkan jika aku membawanya ke penjara dengan keadaan begitu. " Ruby menerima tali yang di bawa Vani dari dalam gudang.
Ruby membereskan semua bandit yang ada di halaman rumah Faramis. Mereka semua diikat dan di taruh di ruang tengah. Dan Ruby mengintrogasi mereka. Memastikan bahwa mereka benar ingin menjarah rumah Faramis.
Ruby berjaga sampai pagi untuk mengawasi bandit-bandit itu agar tidak kabur. Dia merasa sebagai tebusan atas kelalaiannya karena tidak bisa dibangunkan oleh Xavi dan Vani saat keadaan darurat.
Sebuah pancaran cahaya hangat yang menyelinap melewati celah dedaunan yang diselimuti oleh embun yang melekat, membuka lemaharan hari yang berganti dari chapter kemarin ke chapter selanjutnya. Para bandit yang lelah karena misi penjarahan mereka gagal pun tertidur pulas duduk melingkar dengan ikatan di setiap lengan dan kaki mereka. Ruby yang dari malam berjaga dan akhirnya tertidur di waktu subuh menjelang.
" Hoe, Vani. Kita apakan tukang tidur ini? " Xavi sedang melihat Ruby yang tertidur pulas seperti tanpa beban.
" Entahlah Xavi, bagaimana kalau kita mainin hidungnya dengan bulu ayam? " Vani mengambil kemoceng dan mencabut satu bulu ayam dari kemoceng.
" Hehehe, ayo kita beraksi. Penyerangan hidung dimulai! " Xavi memberi aba-aba penyerangan.
" Kucu - kucu - kucu. " Vani dengan nada polosnya memutar bulu ayam itu di hidung Ruby.
Dengan wajah yang sedikit merasa geli Ruby nyengir-nyengir.
" Ha-ha. " Ruby hanya bereaksi sedikit.
__ADS_1
" Bisa berikan itu padaku Vani? " Bulu itu diberikan kepada Xavi.
Xavi mengambil ancang-ancang. " Hiyah ... . "
Sebuah kibasan bulu ayam dengan perbandingan putaran seribu kali per detik dilancarkan oleh Xavi.
" Hacih. " Ruby perlahan membuka matanya.
" Oh, selalat pagi semua. Hoah ... " Ruby dengan kantung mata yang tebal pun bangun.
...[ Tos. ]...
" Iyee ... kita berhasil vani. Misi pembasmian monster tidur yang tukang tidur dan sulit dibangunkan akhirnya berhasil. Selamat atas keberhasilanmu nona muda. Aku akan memberimu gelar sebagai pahlawan penggelitik yang melegenda. Dan untuk diriku sendiri, adalah pahlawan kebangkitan yang membangkitkan monster tidur ini. hiyeah ... " Xavi berlagak seolah sebagai pahalawan dan sebagai seorang Raja.
" Ouh, monster tidur ini tidak terima karena dibangunkan dan sekarang monster tidur ini sedang lapar, akan kumakan kalian! guarrrrmmm ... . " Ruby menangkap Vani.
" Ah, Vani. Jangan dengan kekasihku. Aku akan menyerah! Tolong lepaskan dia. Aku mohon. " Xavi berperan sangat menghayati.
" Baiklah, monster tidur. Jika itu keputusanmu. Kau akan menerima kemarahan seorang pahlawan ini. Jadi siapkan mentalmu! " Xavi mengambil sebuah kemoceng.
" Ah, kenapa kau tahu kelemahanku? Oh, aku tidak berdaya. Monster tidur ini akan tidur kembali untuk memperkuat tenaganya. Hoah ... . " Ruby pun tidur lagi.
" Ah, tante Ruby! Sudah mulai ke klimaksnya ini. Jangan tidur lagi dong! " Xavi memasang muka kesal.
Sementara itu para bandit melihat drama yang mengharukan.
" Bos, kekasih pahlawan itu apakah akan benar-benar dimakan monster tidur? Aku akan bersedih jika dia sampai dimakan oleh monster tidur itu. Huhuhu. " Typo merasakan irama drama yang Xavi bawakan dan mengalir didalamnya.
" Bodoh, kau bisa tenangkan? Aku juga sedih jika dia dimakan monster itu. Hoahahaha." Cobold terlalu menghayati drama Xavi dan yang lain.
__ADS_1
Waktu berlalu dengan kemenangan Xavi sebagai pahlawan yang mengalahkan monster tidur itu.
" Oh, Vani. Kamu adalah satu-satunya dalam hidupku. Jadi jika ada bahaya apapun akan kuterjang walau badai menghalang aral melintang, petir menyambar dan, " tiba-tiba di sela oleh Vani.
" Lalu kenapa kau tidak datang kemarin Xavi ... ? " Dengan pandangan yang berbinar dengan rasa kecewa dimata Vani dia meminta penjelasan Xavi.
" Oh, kemarin. Maafkan aku Vani. Tapi kemarin telah terjadi sesuatu yang tidak terduga. Maafkan aku! " Xavi memegang tangan Vani.
" Apa? Apa yang terjadi Xavi? Kau tidak perlu berbohong padaku. Kau tak perlu menutupi semuanya, kau tidak perlu menanggung ini semua sendiri Xavi. Berbagilah beban itu padaku! Xavi ... . " Dengan wajah yang bersungguh-sungguh Vani menggenggam tangan Xavi dengan kedua tangannya.
" Anu, kemarin grimis. " Dengan wajah yanga berpaling Xavi tak sanggup melihat kearah Vani yang sangat mengaharapkannya.
" Grimis Xavi? Kenapa kau tidak bilang kepadaku? Aku akan rela menjadi payungmu Xavi. " Vani memegang wajah Xavi dan memegang dagunya mengarahkan pandangan mereka setara.
" Maaf, aku tidak bisa. Tidak bisa melihatmu menderita karena grimis itu Vani. Grimis itu kejam sekali. Mereka tidak berani sendiri. Mereka selalu membawa segerombolan bahkan mungkin mereka lebih banyak dari yang kau lihat. Mereka jahat Vani. " Xavi merundukkan kepalanya karena tidak mampu menahan rasa sakit Vani saat harus berhadapan dengan grimis.
Tak terduga tak terelakkan. Vani memeluk Xavi. Membuat semua penonton terharu.
" Hoahahaha. Vani ... kau terlalu lugu untuk menanggung itu. Vani ... jangan ... ! " Cobold sangat menghayati.
Kembali lagi kepada Xavi. Dia melepaskan pelukan Vani. " Maafkan aku yang membiarkanmu ... masuk kedalam hidupku ini ... maafkan aku yang harus melepasmu ... walaupun ku tak ingin ... . "
" Kenapa kamu lepaskan kau Xavi. Aku kedinginan Xavi. Kau tega Xavi. Aku salah apa? " Vani merintih menahan air mata yang dibendungnya dalam lingkup mata yang memerah.
" Maaf, aku akan musnahkan grimis itu sendiri Vani. Kau tetap disini dan jaga hatiku. Aku berjanji untuk setia. Aku tidak akan membiarkanmu pilek oleh grimis itu. Aku tak rela kau disakiti dan pilek Vani. Mengertilah Vani ! " Dengan nada lebih tinggi Xavi berbicara kepada Vani.
" Kau kasar Xavi. Aku membancimu. " Vani berpaling dan menangis.
Perlahan Xavi mendekat dan perlahan tangannya menggapai wajah Vani dari belakang dan mengusap air matanya. Mereka kembali menjadi sepasang kekasih yang saling mencintai lagi. Tamat.
__ADS_1
Drama di pagi hari yang hangat dan membawa suasana hari menjadi lebih berwarna-warni. Sangat mengisi jiwa yang kosong atas bisikan hati yang tak berujung oleh waktu.
Akhirnya pihak berwenang yang sudah dikirimi surat oleh Ruby datang dan membawa para bandit.