
Di suatu malam yang sunyi di desa Arcyd, Faramis sedang berada di perpustakaannya.
" Hem, banyak bukuku yang menghilang. Apakah di sekitar sini ada yang memakan buku-buku ini? " Faramis sedang memikirkan berbagai kemungkinan yang terjadi dengan buku-bukanya yang menghilang.
Faramis melihat dan mengamati buku apa saja yang menghilang dari rak bukunya. " Hem, buku sihir, buku menu makanan dan beberapa buku lagi yang aku lupa buku apa itu. "
Dari belakang ada Silvana yang menghampiri Faramis. " Ada apa sayang? Terlihat sedang bingung."
" Oh, ini bukuku banyak yang hilang, apa kau tahu tentang itu? "
Silvana sedang mengingat sesuatu. " Hem, sepertinya Xavi sering sekali aku pergoki disini. Dan terakhir kali aku melihatnya, dia membawa beberapa buku. "
" Oh, aku tidak memikirkan kemungkinan anakku sendiri yang mengambil bukunya. Tapi aku masih mencurigai tikus yang lihai dengan kecerdasan diatas rata-rata yang mengambil dan mempraktekkan sihir yang aku tulis. " Fantasi Faramis tentang tikus yang berlebihan.
" Ho ... . " Silvana yang tak habis pikir kenapa Faramis bisa menuduh tikus itu.
Esok hari telah tiba. Si Rembulan malam berganti sift dengan sang Surya penghangat semesta.
Xavi melihat tempat yang akan dijadikannya sebagai tempat makan miliknya. " Hah, tempat macam apa ini? Dari lokasinya memang bagus. Tapi, tidak dengan keadaan tempatnya. Rumput disini apakah mereka telah membentuk sebuah kerajaan perumputan atau semacamnya? Sampai atappun ada rumputnya yang menjulang. Ini lebih kelihatan seperti sebuah anjing raksasa dengan poni yang menutupi wajahnya. "
Xavi dan Sela membutuhkan waktu hampir dua jam untuk membereskan rerumputan itu. Meski dengan sihir, Xavi masih kesulitan dengan celah-celah yang harus dia bersihkan.
" Hah, selesai juga. Sekarang tinggal kita perbarui sedikit. " Xavi mengunakan sihir untuk melapisi dinding yang bolong dan retak-retak.
" tapi untuk pengecatan dan lain-lain mungkin aku membutuhkan pasukan. Hem, Mikasa mungkin bisa membantuku. Dia dimana ya? tidak seperti biasanya dia tidak di sekitarku." Xavi menggunakan sihir deteksi untuk melihat keberadaan Mikasa tapi ternyata tidak ada di sekitarnya.
__ADS_1
Sementara itu.
" Jadi kamu adalah prajurit yang disuruh oleh Ayah untuk mengawasiku dah Xavi. Hem, apa kamu sebelumnya bersama Xavi terus. Sekarang kamu bisa santai dan nikmati saja pemandian air hangat ini. Laki-laki itu adalah orang yang kasar dan tidak mengerti apa itu keindahan. Mereka hanya memikirkan otot mereka tanpa melihat estetika yang kita para wanita pahami." Vani yang mandi di kolam air hangat bersama Mikasa.
" Anu, apakah kolam ini buatan Tuan Putri? " Mikasa sedikit kaget dengan pemandian yang ada di belakang rumah yang dibuat Vani.
" Iya, aku memanfaatkan sihir untuk membuat kolam ini. Dan entah apa yang dilakukan Xavi dengan sihir yang dia pelajari. " Vani menutup mata dan merasakan betapa nyamannya mandi air hangat di pagi hari.
" Mungkin saya tidak bisa memberitahukan Tuan Muda Xavi sedang apa. Tapi, sepertinya dia selalu mengandalkanku disaat tertentu. Dan anda juga bisa mengandalkanku untuk hal yang tidak anda pahami. Tolong jangan sungkan. " Mikasa yang memang dilatih sejak kecil menjadi prajurit yang serba bisa adalah merupakan keunggulannya.
" Ah, aku bukanlah Xavi. Aku bisa mengerjakan apa yang kumau sendiri. Tapi, meskipun agak sepi tanpa dia. Dan dia hanya meninggalkan Cid bersamaku. Aku benci Xavi. " Vani dengan wajah yang cemberut tapi masih kelihatan imut.
" Ehehehe. " Mikasa tidak tau harus ngomong apa.
" Maaf atas keterlambatan saya Tuan muda. " Mikasa kembali membawa beberapa anak buahnya.
" Oh, tidak apa-apa. Lagian kau kan juga punya tugas untuk mengawasi Vani juga. Entah kenapa kau malah lebih sering bersamaku? " Xavi bertanya heran.
" Oh, karena aku. memutuskannya untuk lebih sering bersama Tuan Muda Xavi. Karena Tuan putri Vani sudah bersama Ruby, Aku tahu kekuatan Ruby karena kita pernah menjadi satu tim dibawah komando Ayah anda. " Mikasa menjelaskan kenapa dia lebih sering bersama dengan Xavi ketimbang Vani.
" Oh, iya juga. Tante Ruby kalau sedang marah itu mengerikan sekali. Hihi, aku tidak mau membayangkannya. Ah, sudah. Kita bahas lagi ke inti pembahasan. Aku meminta bantuan kalian untuk menecat tempat ini supaya menjadi tempat yang nyaman untuk makan. Hem, Tentang warna nanti aku yang menentukan. " Setelah dua jam pengerjaan manual, semua telah selesai. Dan siap buka besok.
" Huah, tidak kusangka ini cukup melelahkan. Tapi, aku puas dengan kerja kerasku ini. Hem-hem-hem. " dengan melingkarkan lengannya di pinggang. Sela menatap tempat yang akan menjadi sebuah testoran itu.
Sekarang saatnya promosi. Xavi mempromosikan restoran barunya melalui tempat yang ramai. Melalui selebaran yang dia tempelkan. Lalu dengan cepat juga Mikasa membuat promosi itu terdengar oleh hampir Setengah populasi orang yang ada di Kerajaan Arcane.
__ADS_1
Sementara itu. Di istana Kerajaan Arcane.
" Hem, ada restoran baru yang menunya sungguh tidak biasa. Daging naga tanah. Bagaimana ya rasanya. Katanya disini menjamin kelembutan rasa yang belum pernah kamu rasakan. Wow, aku akan mencobanya, ini hidangan yang belum tentu ada di Kerajaan Arcane kalau bukan disini. " Geraldo Raja Arcane yang penasaran akan mencoba makan di restoran cucunya sendiri. Meski dia tidak tahu kalau itu milik cucunya.
Pagi, Sang mentari terbangun dari mimpi semalam. Sebuah seragam dengan warna hitam putih menempel di setiap pegawai restoran Xavi. Satu jam lagi peresmian pembukaan restoran. Tapi lebih banyak orang yang mengantri dari prediksi Xavi.
" Hari ini mungkin kita akan sibuk sekali. Tapi, ayo semangat kalian para prajurit bayangan, eh. Sekarang kalian menjadi pelayan restoran. Jadi, Ayo semangat juang para buruh harian lepas! " Xavi dengan ini resmi membuka Restorannya.
Warga Arcane yang mendengar dan melihat selebaran Xavi tentang Restoran yang dia dirikan pun berdatangan.
"Wah, ini memang tidak semengerikan yang kubayangkan. Memakan daging naga tanah ternyata selezat ini. " Seorang pelanggan yang merasa puas dengan menu yang Xavi sajikan.
Sementara itu. " Ah, aku pesan satu untuk dibungkus! "
Banyak yang tidak kebagian tempat duduk dan memilih untuk dibungkus dan dimakan dirumah.
Dari luar yang hiruk pikuk karena ramai, datanglah sebuah keheningan dan barisan yang semula berantakan menjadi rapi dan seolah memberi jalan untuk seseorang.
Raja Kerajaan Arcane datang untuk mencicipi hidangan yang disajikan di restoran Xavi.
" Wow, jadi ini tempatnya ya. Cukup nyaman. Dan tolong pelayan! Bisakah aku memesan makanan? " Geraldo memesan makanan.
Lalu Xavi yang menghampirinya. " Maaf Tuan Raja Geraldo. Anda harus menunggu seperti yang lain. Maaf jika kata-kataku salah. "
Semua orang tercengang saat mendengar Xavi mengucapkan itu.
__ADS_1