Reinkarnasi Bos Mafia Ke Dunia Sihir

Reinkarnasi Bos Mafia Ke Dunia Sihir
Ketika Cid Menjadi Sangat Berguna


__ADS_3

Dalam perjalanan yang panjang menuju Kerajaan Hailink ini. Xavi ditemani Mikasa untuk pergi kesana. Tapi, diperjalanan mereka sedang dibuntuti oleh seseorang yang bisa diukur dari mananya, dia bukan orang biasa.


" Heh, Mikasa. Apa dia masih mengikuti kita? " Xavi berjalan seperti biasa sambil tetap waspada.


" Hem, aku rasa aku tahu siapa dia. Tapi, cukup mengesalkan karena kita harus dibuntuti oleh orang seperti itu. " Mikasa merasa kesal.


Lalu, dijalan mereka mendapati beberapa orang yang sedikit mencurigakan di jalanan.


Salah seorang mendekati Xavi dan Mikasa. " Hei, sepertinya kalian bukan orang sini ya? Jadi, aku akan memberi kalian sedikit kelonggaran dengan memberikan barang-barang yang kalian bawa. "


Sepertinya Xavi dan Mikasa sedang dirampok dengan cara yang sedikit berbeda karena sebuah totalitas kesopanan yang disuguhkan perampok tersebut. Tapi, mau bagaimanapun soapannya mereka. Itu tetaplah sebuah perampokan yang tidak bisa membuat Xavi tinggal diam.


Dengan sebuah tekanan mana intimidasi dari Xavi. Mereka semua langsung terdiam dan ada juga yang merakan tekanan mental yang teramat berat dalam dirinya.


Sebuah serangan mental yang dilancarkan Xavi memang tidak beniat untuk membunuh mereka. Itu hanya sebuah intimidasi yang akan melemahkan mental orang supaya takut kepada sipengguna jurus ini.


Dibalik semak-semak. " Hoh, dia bertambah kuat sejak pertama kali dia pergi. "


Sesorang yang memakai topeng itu seprtinya mengenal Xavi. Tapi, Xavi sendiri lupa dia itu siapa.


Sementara itu di rumah Xavi. Cid yang berubah menjadi Xavi bertemu dengan Vani. Langsung saja lirikan Vani melirik tajam kearah Cid.


" Hei, dimana Xavi? " Vani langsung bertanya kepada inti dari rasa penasarannya.


" Ehehe, Tuan Xavi sedang pergi entah kemana. Katanya dia sedang menyelidiki sebuah tekanan mana aneh yang baru-baru ini muncul. " Cid menceritakan Xavi dengan tujuannya tentang menyelidiki hal yang janggal yang Xavi rasakan.


Lalu, dari pintu belakang, Ruby yang muncul tiba-tiba mengagetkan Cid dan Vani. " Oh, jadi anak itu pergi lagi ya. Entah kenapa dia selalu pergi terus. "


" Eh, tante Ruby. Maksudnya siapa ya? " Vani mencoba bersikap bodoh karena tidak mau Ruby tahu kalau Xavi sebenarnya sedang pergi.

__ADS_1


" Oh iya, tante Ruby. Ini Aku kan disini. " Cid mencoba meyakinkan Ruby.


" Hei, kau pikir aku tidak bisa membedakan penyamaranmu Cid? Kalian masih terlalu muda untuk menipuku ya? " Ruby yang sebenarnya tahu kalau selama ini Xavi sering pergi dan Cid sebagai penggantinya.


" Ahahaha, tante Ruby suka bercanda. Iya kan Cid, eh maksudku Xavi. " Vani malah keceplosan juga. Membuat ini semakin jelas.


" Hahaha, kalian memang hebat. Bisa menipu di usia kalian yang masih muda. tapi, kalian tidak akan bisa menipuku. Aku merasa kalau ini adalah hal yang cukup berbahaya untuk Xavi. Jadi, aku akan mengikutinya. " Ruby mengambil pakaiannya dikamar.


Dalam hati Vani. " Hah, ternyata dia cukup membodohi kita dengan pura tidak tahu. Tapi, aku juga harus ikut. Karena mau bagaimanapun Xavi adalah saudaraku. Aku tidak mau dia dapat masalah karena tingkahnya yang sok jagoan. "


Lalu Vani menunggu Ruby keluar. Sebuah pakaian yang sudah lama tidak dikenakan Ruby dengan stelan baju hitam dan jubah merah bercorak putih membuat Ruby kelihatan menawan sebagai seorang wanita yang membawa sebauh sabit besar di punggungnya.


" Oh, tunggu dulu tante Ruby. Aku juga akan ikut denganmu. " Pernyataan Vani kepada Ruby membuat kaget Ruby.


" Hah, memangnya kau punya senjata ya? " Disaat itu juga ada seseorang yang datang kerumah mereka.


" Oh rupanya kau Morgan. Ada apa datang kemari? " Ruby juga bingung dengan kedatangan Morgan.


" Hah, benar ternyata dia adalah laki-laki panggilan tante Ruby. " Dalam hati Vani terkejut.


" Aku kesini tidak ada urusan denganmu. Aku kesini mencari Adik dari Xavi yang bernama Vani. Oh, rupanya kau yang bernama Vani. " Morgan melihat kearah Vani yang masih bingung kenapa Morga tahu tentangnya.


" Hah, mau apa om-om ini kesini? Dan sekarang ternyata dia sedang mencariku ... . " Vani mencoba tenang meski dia sebenarnya dalam hati panik.


Lalu Morga membuka balutan dari barang dia bawa. Ternyata itu adalah sebuah senjata yang baru dia selesaikan.


" Hai Vani, ini adalah senjata untukmu. Ini adalah pesanan dari Xavi, yah memang dia baru memesannya sepertinya kemarin. Tapi, aku langsung menyelesaikannya." Morgan memberikan senjata itu pada Vani.


Sebuah senjata pedang kembar dengan lekukan yang indah. Dan cukup ringan. Sangat cocok saat Vani memegangnya.

__ADS_1


" Hah, ini senjata untukku. Ini terbuat dari tombak Wizard king kan? Aku merasakan sebuah tekanan yang hebat dari senjata ini. " Vani yang merasa ada kemistri dari pedangnya merasa sangat senang.


" Oh iya. Tolong untuk sementara jangan beritahukan kepada Xavi. Karena nanti jatah makanku akan selesai kalau dia tahu senjata itu sudah selesai, ehehehe. " Morgan memegang dan menggaruk-garuk kepalanya.


" Hem, Xavi sedang pergi. Dan tidak ada dirumah. " Vani sedikit menurunkan wajahnya.


" Iya, dan kita akan pergi menyusulnya karena anak itu bisa menyebabkan masalah nantinya jika tidak aku awasi. " Ruby dengan muka semangat membuat Morgan sedikit khawatir.


Dalam hati Morgan bergumam. " Haha, bukankan sepertinya yang akan membuat masalah adalah dia sendiri. "


" Lalu, karena Vani sudah memiliki senjata. Kau kubolehkan ikut. Dan apa kau juga akan ikut bersama kami Morgan? " Ruby yang bertanya kepada Morgan membuat Morgan sedikit bingung menjawabnya.


" Ah, anu. Sepertinya aku tidak akan ikut serta kali ini. Karena aku harus menjaga toko. Lagian Xavi sudah ada orang yang akan melindunginya nanti kalau ada apa-apa. Dan dia jauh lebih hebat dariku. Dia kemarin juga baru saja ketokoku. Jadi nanti kalian juga akan bertemu dengannya. Oh iya, aku pamit undur diri dulu. Masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan. " Lalu Morgan pergi.


" Hem, siapa kira-kira yang sedang menyusul Xavi selain kami. " Vani penasaran dengan orang yang sedang menyusul Xavi.


" Hoe Cid. Apa kau juga akan ikut? " Ruby bertanya kepada Cid yang sudah berubah bentuk kewujudnya.


" Tentu saja, aku akan ikut menyusul Tuan Xavi. " Cid bersemangat.


Lalu mereka bertiga meninggalkan rumah dan pergi menyusul Xavi.


Sebelum mereka meninggalkan Kerajaan Arcane, tepatnya di pintu gerbang kerajaan. Vani sedikit bingung tentang arah tujuannya nantinya. " Hei, tante Ruby. Lalu kita akan menuju kemana? Bukankah kita tidak diberitahu Xavi akan pergi kemana? "


" Hahaha, lalu apa gunanya kita memiliki anjing yang hebat ini. " Ruby mengelus-elus kepada Cid.


Dalam hati Cid tidak terima. " Hei, aku bukan anjing. Aku adalah serigala. "


Lalu mereka pergi untuk menyusul Xavi.

__ADS_1


__ADS_2