Reinkarnasi Bos Mafia Ke Dunia Sihir

Reinkarnasi Bos Mafia Ke Dunia Sihir
Lelah Boleh Nyerah Jangan!


__ADS_3

Disebuah media dengan pengidentifikasian otomatis hanya dengan menaruh tangan, akan muncul sederet informasi tentang kemampuan dan skill yang dipunya.


" Hem, begini ya? " Xavi menaruh tangannya diatas sebuah papan kecil yang berada di bawah papan besar di depannya.


Kemudian keluar sederet kemampuan yang dimiliki Xavi dengan terperinci.


" Hah, ini tidak mungkin. Tidak mungkin rusak kan papan pengidenrifikasiannya? Kamu memiliki skill yang sangat banyak sekali dan kamu bisa menggunakan semua elemen sihir. Tunggu sebentar! Aku akan kembali lagi dan memanggil Kepala Guid." Guin segera ke atas untuk memanggil Kepala Guild.


Setelah lima menit Kepala Guild dan Guin kembali ke ruangan Xavi berada. " Namamu Xavi ya? Perkenalkan Namaku adalah Gosei. Sepertinya kita sedikit mengalami masalah pengidentifikasian atau memang itu adalah kemampuanmu yang sebenarnya? "


" Salam kenal Pak Gosei. Entahlah, apakah papan ini pernah mengalami kesalahan? " Xavi bertanya kepada Gosei.


" Tidak, papan ini belum pernah salah menilai kemampuan seseorang meskipun dia memiliki kemampuan untuk menyembunyikan kemampuannya. Meski kau adalah petualang pemula, baiklah. Aku akan mengujimu sendiri untuk lebih tahu kebenaran dari datamu itu. Sudah lama aku tidak menarik pedangku. " Gosei meminta Xavi untuk adu tanding dengannya.


" Ada satu pertanyaan. " Xavi melihat kearah Gosei.


" Apa itu anak muda? " Gosei menanggapinya dengan serius.


" Adu tanding itu akan di adakan didepan umum kan? Aku tidak mau itu. Bisa kau berikan aku sebuah privasi tersensiri! " Xavi meminta syarat atas tanding yang akan dilakukan.


" Kau benar-benar tahu apa yang ada dipikiranku. Lalu apa kau tidak masalah jika harus memulai dari peringkat terendah seorang petualang? Jika kemampuanmu berada diatas rata-rata. " Gosei menanyakan hal yang menurutnya penting.


" Ah, aku tidak keberatan tentang itu, lagian aku juga ingin memulai semuanya dari awal. " Xavi merasa itu hal yang wajar.


" Baiklah, ikuti aku! Aku punya ruangan khusus untukku mengasah kemampuan. Mungkin itu akan cocok sebagai tempat untuk mengujimu. Guin akan menajadi jurinya. Jadi dia ikut bersama kita. " Mereka bertiga pergi keruangan di Guild yang merupakan ruangan yang terhubung di suatu tempat.


" Oh, sepertinya ini bukan berada di Guild ya? " Xavi menyadarinya.


" Kau cepat menyadari hal seperti itu meski baru pertama kali masuk kesini. Baiklah kita mulai. " Gosei membuka bajunya dan terlihat otot kekar yang dia miliki.


Sebuah senjata berupa pedang yang merupakan senjata utama Gosei di keluarkan dari sebuah sarung pedang. Pedang kesatria yang memiliki ketebalan dan daya hancur maksimal ini sedang dipegang oleh orang tua berotot ini.


Sebuah serangan tiba-tiba mendarat tepat diatas kepala Xavi.


...[ Brell ... . ]...


" Apa dia langsung hancur dengan serangan barusan? " Guin penasaran dengan keadaan Xavi.


Tiba-tiba dari belakang Guin ada sesuatu yang membuatnya geli.

__ADS_1


...[ fuuukh ... . ]...


" Hiyah ... ada hantu disini ... . " Guin ketakutan.


" Huehehe. " Xavi yang dari belakang meniup kuping Guin dan membuatnya kegelian.


Tentangan mendarat dimuka Xavi dan membuatnya terpental.


...[ Suet - brell ... . ]...


" Kau bisa menghindari seranganku, tapi kenapa kau terkena tendangan Guin? Sepertinya kau lemah terhadap wanita. Aku tidak peduli tentang itu. Karena kita sekarang sedang bertanding dan tidak akan ada kompensasi mengenai itu. "


Gosei merapalkan sihir serangan dengan elemen petir. Menyambar dengan kuat kearah Xavi.


...[ Jedder ... . ]...


Tempat yang tidak ada angin lewat dan semua menjadi berbau gosong dengan sambaran petir Gosei.


" Oh, kau bisa memakai sihir penghalang ya. Baiklah, sepertinya aku harus mengalahkanmu dengan serangan langsung. " Gosei melesat.


... [ Cring - brell - cring - cring. ]...


Sebuah serangan terakhir sebelum mengakhiri tanding ini.


Gosei masih berdiri meski dengan luka tebas di tubuhnya. Xavi tidak terluka tapi dia kehabisan tenaga dan terjatuh. Dengan ini Gosei menang atas latih tanding dengan Xavi.


" Kalau bukan karena Staminaku. Mungkin aku yang akan kalah, dari teknik dan semuanya. Dia lebih unggul dariku. " Gosei meminta Guin membawa Xavi untuk pemulihan.


Setelah setengah jam Xavi pinsan. Akhirnya dia terbangun. Tangannya tidak sengaja memegang sesuatu komponen yang kenyal entah apa itu, seperti sebuah kelembutan dan suatu yang kenyal menjadi satu. Saat Xavi membuka mata. " Ah, apa ini ya? Hueh, maaf Guin? Aku tidak sengaja. "


" Xavi nakal ya ternyata. " Guin memalingkan wajahnya yang memerah.


" Ah ... itu bukan hal yang disengaja ... . "Xavi salah tingkah karena ketidak sengajaan dan sebuah kelembutan yang sedikit kenyal.


" Xavi? Mau lagi? " Guin menatap dengan tatapan yang menawan.


" Ah, tidak-tidak. Eh, apa boleh? " Xavi dengan penuh harap.


... [ Duak. ]...

__ADS_1


Kepala Xavi benjol di pukul Guin. " Mana mungkin boleh, malu tahu aku. "


Guin merubah ekspresinya menjadi marah.


" Hah, padahal aku sudah berharap. " Xavi menghela nafas.


" Heerrmm ... . " Guin menatap Xavi dengan menahan udara didalam pipinya yang membuatnya imut sekali.


" Hehehe, bakalan banyak benjolan di kepalaku pasti nantinya. " Sambil mengelus benjolan di kepalanya.


" Kau sudah bangun nak? Aku mengakuimu sebagai seorang petualang yang hebat. Tapi sayang sekali kau harus memulai semuanya dari tingkat G. Ini kartu petualangmu! " Gosei menyerahkan kartu petualang kepada Xavi.


Xavi sepertinya ingin lansung kembali karena dia lelah hari ini. " Hah, aku kembali dulu lah. "


Sambil berjalan di jalanan kota dan sedikit menikmati suasana kota. Dia membawa sebuah jajanan yang dia beli ditepi jalan. " Hem, jajanan bulat yang ditusuk ini rasanya enak sekali, apalagi dengan penambahan saus yang pedas, Huah. "


Tiba-tiba Mikasa menghampiri Xavi. " Apa semuanya lancar tuan? "


" Oh iya semuanya lancar. Dan aku sudah memiliki identitas petualang. Sekarang aku mau keliling jalanan kota ini dulu. Aku punya sedikit tugas untukmu! " Xavi memberikan sebuah tugas kepada Mikasa.


Saat Xavi berjalan di sebuah lorong dia melihat sebuah ada beberapa preman yang sedang memalak seorang gadis.


" Hoe, cantik ... ayo berikan sini uangmu dan bermain sebentar dengan kami. " Seorang preman yang tidak sadar ada Xavi.


" Oh, permisi. Aku mau lewat. " Xavi melintas diantara gadis itu dan para preman.


" Hueh, siapa dia bos? Berani sekali dia. " Anak buah preman itu heran melihat Xavi.


" Hoe kau, sudah bosan kau menghirup udara didunia ini hah? " Dialog yang biasa diucapkan preman muncul.


" Oh, iya. Apa kamu ingin ikut aku? " Xavi menunjuk kearah gadis itu.


Gadis itu merasa bingung. Dan tidak menjawab.


" Aku tidak akan seperti mereka yang begitu, kalau tidak mau ya sudah, aku tidak memaksa kok. Selamat tinggal. " Xavi melangkahkan kakinya.


" Tunggu! Tolong aku! " Gadis itu berteriak kepada Xavi.


Dengan sekejap Xavi hilang dari pandangan semua orang.

__ADS_1


... [ Gubrak - gubrak - gubrak. ]...


__ADS_2