
Suasana kelas anak-anak yang hanya diisi oleh sebuah permainan membuat Xavi bosan. " hoah ... kenapa begini sekali kehidupanku. Membosankan sekali. "
" Hoe, nikmatilah masa kecilmu! " Vani sedang bermain dengan segumpal mainan slime.
...[ Pluk. ]...
" Huah ... Benda berlendir apa ini? hem, akan kubalas kau Vani. Hoe, tunggu! Jangan lari kau ya! " Xavi mengejar Vani yang berlari.
Keduanya akhirnya keluar ruangan dan berlarian di sepanjang Akademi. Vani menaiki tangga dan pergi keatas.
Sayang sekali tidak ada jalan lain selain tangga itu disana. " Huehehe. Sekarang kau mau kemana? "
" Ah, aku tidak bisa lari lagi. Maafkan aku tuan, aku akan melakukan apapun. " Vani bertekuk lutut.
" Hoahahaha. Sekarang kau harus melakukan apa yang kumau! " Xavi memasang wajah yang mengintimidasi.
Vani melirik kearah Xavi dengan tatapan angkuh. " Kheh, dasar laki-laki bodoh. "
Vani membuat sihir es yang membekukan kaki Xavi. " hueh, apa ini? Kakiku membeku. Jangan-jangan kau yang melakukannya? Dasar wanita licik. "
" Huwlek ... . " Vani berlari dan memasang muka mengejek ke Xavi.
" Baiklah, ini tidak terlalu sulit untukku. Sihir penguatan. " Xavi mengangkat kakinya.
...[ Kreteg - pyar ... . ]...
" Tapi, membuatnya menang dalam sebuah permainan dan senyumannya adalah arti bahagia tersendiri bagiku. " Xavi berjalan kepinggir.
Xavi melihat Akademi dari atas tingkat ruangan Akademi. Menyaksikan bagaimana aktifitas di Akademi ini. Tapi saat yang bersamaan ada sebuah masalah muncul. Dia melihat disitu pojok belakang Akademi, Arline yang merupakan kenalan Xavi sedang berada dalam masalah, sepertinya itu adalah ulah dari para murid tingkat tinggi yang berada di posisi lebih tinggi dari murid menengah atas. Mereka bertiga sedang memojokkan Arline.
" Arline, tidak akan kubiarkan siapapun menyentuhmu. " Xavi bergegas menembakkan tembakan api sebagai peringatan karena tidak langsung kena mereka.
" Apa-apaan ini? Beraninya kau melawanku. Kau tidak tahu siapa aku? " Seperti yang terlihat dia adalah pemimpin dari cecunguk ini.
__ADS_1
Tanpa menghiraukannya, Xavi menghampiri Arline dan bertanya. " Arline, kau tidak apa-apa? Apa mereka manyakitimu? Baiklah, akan kuurus sebentar. "
" Hai, kau anak kecil berani sekali mengganggu kami, dan merebut mangsa kami. Kau akan membayar dengan pantas untuk itu. Tembakan api beruntun." Tembakan api yang dipakai adalah tembakan api beruntun yang di tembakkan tanpa henti sampai penggunanya memberhentikannya.
" Oh tidak Xavi ... . " Arline berteriak mengkhawatirkan nasib Xavi.
Xavi hanya diam dan tidak terluka sedikitpun. Kemudian muncul sebuah penghalang sihir dari balik debu-debu yang beterbangan akibat serangan tadi.
" Em, sepertinya aku tidak perlu repot-repot untuk mengotori tanganku menghadapi kalian. Baiklah, sihir pemanggil. Keluarlah Cid, gigit mereka yang menyakiti Arline! " Xavi membuat sihir pemanggil untuk memanggil Cid.
Cid Mengerang kepada mereka yang dianggap musuh Xavi.
" Gerrrm ... . "
" Hah, seekor Wolf hitam. Hewan panggilan level tinggi dengan kepintarannya. Aku harus kabur dari sini. " Segera Cid menyergab mereka dan melumpuhkan mereka pada kaki. Dan tidak bisa lari lebih jauh lagi.
" Oh, Cid. Kenapa kau kelihatan lebih besar? Dan juga, apakah kau mengalami evolusi? Kemarin sepertinya belum terjadi. Ya sudahlah. Yang penting kau bertambah kuat. Lalu sekarang kita akan apakan mereka yang telah melakukan hal yang membuatku marah. " Xavi membuat mereka semua ketakutan dengan tekanan mana yang dikeluarkannya. Xavi memiliki tekanan mana yang cukup besar yang dia sembunyikan dan bisa kapan saja dilepaskan entah hanya untuk mengintimidasi lawan yang memiliki tekanan mana kecil.
" Hehehe, aku cuma sedang bercanda dengan mereka kok. " Xavi tersenyum melihat reaksi Arline.
" Hah, bercanda? Bagiku tadi Xavi akan membunuh mereka semua dengan tekanan mana sebesar itu. " Dalam hati Arline bergumam.
" Oe, Arline? Kenapa bengong? " Xavi menepukkan tangan supaya Arline tersadar dari lamunannya.
" Oh, tidak apa-apa, aku akan segera kembali untuk membawa seorang guru. " Arline pergi dan Xavi mengikat Mereka semua.
" Heal ... " Xavi juga menyembuhkan luka bekas terkaman Cid barusan.
" Hah, akan menyusahkan kalau kalian dalam keadaan terluka aku serahkan kepada guru yang berwenang. " Selang beberapa saat setelah Xavi menyembuhkan mereka, seorang guru datang.
" Oh, kau lagi. Apa benar kau yang telah menghentikan mereka semua? Mereka semua berjumlah tujuh orang, dan kau menghadapinya sendiri? Kau anak misterius yang istimewa. " Guru yang sama saat praktek sihir dipanggil oleh Arline.
" Oh, aku cuma anak biasa yang kebetulan sedang gabut dan mencari sesuatu tadi. Dan bertemu dengan mereka yang sedang ingin berbuat jahat terhadap Arline. " Xavi mengelak bahwa dia tidak melakukan apapun. Itu hanya sebuah kebetulan.
__ADS_1
Xavi kembali ke kelasnya. " Hoe, kenapa kau tidak mengejarku tadi? " Vani memasang muka jengkel.
" Ah, aku lupa kalau sedang bermain denganmu tadi. Huehehe. "
" Dasar, laki-laki yang tidak bertanggung jawab, huft. " Vani memasang ekspresi marah.
" Hueh, darimana dia berlajar kata-kata itu? " Xavi kaget dan merunduk didepan Vani.
Sebuah amarah yang memuncak memancar dari raut wajah yang tidak lagi dapat dibendung. " Em, maaf Vani. "
Dengan sedikit kecanggungan Xavi meminta maaf kepada Vani.
" Baiklah, aku maafkan. " Wajah yang tersenyum itu kembali dengan hati yang diliputi perasaan ceria.
Sore pun tiba, dan waktunya pulang untuk para siswa Akademi. " Hoah, hari yang melelahkan. "
Xavi yang berekspresi dengan tidak bersemangat.
" Oh, kalian melalui hari yang panjang ya mulai dari pagi ini. " Ruby menyambut kedatangan Xavi dan Vani.
" Apanya yang kelelahan. Xavi dari tadi tidur terus dikelas. " Vani yang membantah kalau Xavi sedang belajar.
" Hueh, itu juga merupakan hal yang melelahkan. " Xavi tidak terima.
Memang setelah kejadian Arline dengan para cecunguk itu kemudian Xavi hanya tidur di kelas sampai Kelas selesai.
" Sudah-sudah, sekarang kalian apa tidak mau merasakan masakan tante Ruby? " Ruby membawa 3 piring penuh nasi putih dan masakan khas daerahnya, Jamur tiram yang di buat dengan kuah yang pedas dan menggoda setiap lidah yang mencicipinya.
" Uwow, ini makanan khas daerah tante Ruby yang rasanya Asam manis dan pedas, selera akan rasa yang disatukan oleh sebuah panci penuh dengan emosional tak tertandingi. Huah ... pedas ... . " Xavi tidak henti mengoceh saat dia merasa kepedasan.
" Huh, tidak nyeni sekali makanmu. Aku akan mencicipinya, Huah-huah-huah, ini pedas sekali. Tapi, aku tidak bisa berhenti memakannya dan terus ingin ku habiskan sekarang juga. " Vani yang berbicara tidak sesuai dengan apa yang dia cerminkan.
" Hah, dia lebih seperti kerasukan setan ketimbang aku. Sekarang aku tidak mau membuatnya marah disaat seperti ini. Aku akan pura-pura diam dan tidak melihatnya saja. " Xavi terdiam melihat tingkah Vani.
__ADS_1