
" Uoh ... jadi ini ya Akademi Sihir itu? Mereka sedang melakukan apa? Oh mereka sedang melakukan praktek penggunaan Sihir serangan. " Xavi yang melihat keluar jendela kereta yang dia tumpangi.
"Baiklah, sekarang giliranmu Arline. Harap hati-hati dengan kapasitas sihirmu. Ingat terakhir kali kamu praktek sihir dan ya sudahlah. Semoga kau bisa mengendalikannya kali ini. " Seorang Guru dan pengawas praktek sihir sedang menguji para murid Akademi Sihir yang merupakan tingkat setara sekolah menengah atas.
Arline salah satu murid yang merupakan siswa dari Akademi Sihir sedang merapalkan Sihir tembakan api. Untuk praktek mengenai target lingkaran bulat yang berjarak lima meter.
...[ Blash ... brell ... ]...
Sebuah tembakan api dilontarkan oleh Arline. Memang tepat sasaran. Tapi, sedikit lebih kuat dari dugaan Arline. Tembakan itu melesat keatas dan menukik kearah kereta yang ditumpangi Xavi dan yang lain.
Xavi langsung keluar dari kereta kuda dan meloncat. " Sihir penghalang Sihir , Aktifasi. "
Xavi langsung membuat penghalang Sihir dan menghentikan tembakan Arline yang mengarah ke kereta kuda.
" Huf, hampir saja tadi. " Xavi mengelap dahinya.
Semua orang di Akademi Sihir yang sedang melakukan praktek kaget. " Siapa anak kecil itu? Kenapa dia bisa menggunakan penghalang Sihir? bukankah itu terlalu rumit untuk anak sekecil dia. Bahkan untuk siswa setara menengah atas belum tentu bisa menguasai."
Seorang guru yang sedang melakukan praktek kaget dan Arline langsung berlari keluar. " Ah, apa kau tidak apa-apa? "
" Tenang saja, aku baik-baik saja. Dan apakah kau yang menembakkannya tadi. Itu Sihir yang hebat dan kuat. Tapi, sepertinya kau belum bisa mengendalikan tekanan manamu yang besar. " Xavi langsung mengomentari Arline yang merupakan siswa menengah atas itu.
" Iya, maaf. Ah, itu seragam Akademi kan? Jadi kamu bersekolah disini? " Arline penasaran.
Xavi memegang janggutnya. " Em ... mungkin secara resmi aku belum masuk kesini. Karena ini adalah hari pertamaku kesekolah ini. Dan apakah kamu tahu tempat anak seusiaku di Akademi ini? "
" Hah, tidak kusangka kamu memang anak sekecil itu? Berapa umurmu sekarang? " Arline kembali bertanya.
" Sekitar empat setengah mungkin hampir lima tahun, oh iya kalau kau tidak keberatan. Aku bisa mengajarimu bagaimana cara mengendalikan mana dan tekanan manamu yang besar. Dan akan kucontohkan.Ah, apakah itu tempat untuk prakteknya? Ayo kesana! " Xavi berlari menuju tempat praktek Sihir.
" Eh, tunggu dulu! " Arline mengejarnya.
" Eh, siapa anak kecil ini? " Semua terkejut melihat Xavi berdiri di tempat praktek sihir.
" Baiklah, kau perhatikan apa yang aku lakukan. Untuk mengontrol sihir yang punya. Kau harus merasakannya. " Xavi menerangkan kepada Arline.
__ADS_1
Arline tidak begitu mengerti. " Maksudmu dengan merasakannya itu apa? "
" Akan kucontohkan, seperti ada aliran air yang mengalir mengelilingimu dan kau sebagai pusat dari air itu. Kau bisa merasakan itu dan bentuk air itu sebagai satu kumpulan yang padat siap dilontarkan. " Xavi mempraktekkan dengan tembakan api.
... [ Blash ... Brell ... ]...
" Aku akan mencobanya. Pertama rasakan mana itu sebagai aliran air. Ah, terlalu besar aliran airnya. " Arline kesusahan mengendalikan.
" Tidak apa-apa, mereka adalah mana milikmu. Mereka tidak akan membuatmu celaka, yang perlu kau lakukan adalah merasakannya dan lebih tenanglah! " Xavi yang membimbing Arline dan mana Arline perlahan stabil meski tekanan mananya besar tapi, Arline menembakkan dengan apa yang dia mau sekarang.
... [ Blash ... Brell ... . ]...
" Hah, aku berhasil. Terimakasih, eh aku belum tahu namamu adik kecil? " Arline yang jongkok dan bertanya kepada Xavi.
" Oh, namaku Xavi. Dan namamu? " Xavi balik dengan mengulurkan tangan.
" Aku Arline, salam kenal ya Xavi. " Arline tersenyum.
Dalam hati Xavi. " Uoh ... Kakak cantik yang imut ini mau berkenalan denganku hanya karena aku membantunya sedikit. Huehehe. Apa aku bisa minta pelukan sebentar tidak ya? Huehehe. " Seketika sebuah tinju mendarat diatas kepala Xavi.
... [ Duezz ... . ]...
" Eh tidak apa-apa, aku malah terbantu dengan pengetahuannya. Sekarang dia apakah tidak sadarkan diri? " Arline memeluk Xavi yang pura-pura pingsan.
" Dia hanya pura-pura pingsan. Coba aku cek. Hiyah ... . " Vani memancingnya dengan pura-pura mau meninju Xavi.
" Ah, tidak-tidak. Jangan pukul aku! Eh, maaf Arline atas ketidak sopananku! " Xavi segera bangkit dan meminta maaf.
" Hehehe, kamu lucu ya Xavi. Dan sebagai ucapan terimakasihku. " Arline mengecup dahi Xavi.
... [ Kecup.]...
" Hueh ... kenapa? kenapa aku. " Xavi kaget.
" Tidak apa-apa kan? Aku hanya berterimakasih untuk yang tadi. " Arline membalas kekagetan Xavi dengan senyuman.
__ADS_1
" Hehehe, tidak apa-apa kok. Tapi, kalau mau menambahi juga tidak apa-apa. Hueh ... kenapa aku kamu tarik-tarik Vani? " Xavi ditarik Vani untuk segera keruangan kepala Akademi.
Karena sebagai siswa baru mereka berdua harus melaporkan kedatangan mereka ke Akademi dengan kepala Akademi.
Sementara itu Ruby sedang mengobrol dengan guru praktek Arline.
" Jadi, kau ini adalah wali mereka? " Guru itu bertanya.
" Iya, kedua orang tua mereka menitipkannya kepadaku. Jadi mereka nanti akan bersekolah di Akademi ini. Jadi, mohon bimbingannya ya! " Ruby melontarkan senyuman manis.
" Siapa sebenarnya mereka berdua? Dan kau sendiri sebenarnya siapa? Aku tahu kau sedang menyembunyikan tekanan mana yang cukup untuk mengalahkan seekor monster. Kau menyembunyikannya karena kau peduli dengan siswaku yang mungkin terganggu dengan tekanan mana sebesar itu. Dan apakah kau yang mengajari mereka berdua juga? " Guru itu bertanya dengan memasang muka waspada.
" Tenang saja, tidak perlu memasang muka yang begitu. Aku hanya orang biasa, dan mereka jujur saja, aku tidak mengajari mereka apapun. Mereka tumbuh dengan sendirinya diluar dugaanku. " Ruby kembali melontarkan senyuman manisnya.
Membuat Guru itu agak tersipu malu karena melihat senyum manis Ruby. " Ah, tapi untuk anak seusia itu. Membuat Sihir penghalang dan melontarkan tembakan api itu sudah membuatku kaget. Maaf untuk ketidak sopananaku. Aku harus kembali mengajar para muridku. Sampai jumpa lagi! "
Ruby tersenyum dan berkata dalam hati. " Oh, ternyata ada yang tahu aku sedang menyembunyikan tekanan manaku. hihihi. Tidak apa lah. Dia bisa dipercaya kelihatannya. "
Ruby kemudian mengikuti Xavi dan Vani keruangan Kepala Academi.
... [ Tok - tok - tok. ]...
Sebuah ketukakan di sudut papan kayu yang membentang menutupi ruangan kepala sekolah sebagai penghubung ruangan kepala Akademi dengan para muridnya.
" Masuklah! " Suara Kepala Akademi yang menyuruh mereka masuk kedalam ruangan.
Dibukalah gerbang yang menghubungan dua dimensi antara ruangan Kepala Akademi dengan dunia Muridnya.
" Selamat pagi pak, Aku kesini selaku sebagai Wali dari Xavi dan Vani yang mengantarkan mereka untuk bersekolah di Akademi ini. " Ruby yang sedikit cakap sebagai seorang wali murid.
" Oh, jadi kalian anak-anak itu. Aku tahu orangtua kalian itu siapa, menjadi kehormatan jika kalian memilih untuk belajar sihir disini. Dan mengenai permintaan orangtua kalian untuk menyembunyikan identitas asli kalian mungkin aku bisa menjaga rahasia itu. Karena dari semua orang di Akademi, hanya aku yang mengetahui itu. " Kepala Akademi mempersilahkan duduk dan setelah limabelas menit berlalu. Mereka bertiga keluar dari ruangan kepala Akademi.
" Sekarang adalah hari pertama kalian. Jadi, aku akan mengantar kalian keruangan belajar kalian. " Ruby menggandeng kedua anak tersebut.
" Apakah aku bisa satu ruangan dengan Arline? " Xavi bertanya tentang suatu hal yang diluar nalar.
__ADS_1
" Itu tidak bisa Xavi. Kau masih kecil dan Arline sudah setingkat menengah atas. Kau tidak bisa satu ruangan dengannya. " Ruby mencoba menerangkan bahwa itu mustahil.
" Ah, tidak bisa ya." Xavi sedikit kecewa, tapi dia tidak putus asa dan sedang memikirkan sebuah cara.